LOGIN"You can only consider yourself a good person if you can maintain it during the worst days of your life." After living a life of being sheltered, Eleonna Rielle Salvelle discovered something that her parents has kept from them. Something different from the environment they grew in. In the midst of her journey to try and set things right, her fate seems to keep pushing her to her limits that if she won't be able to suppress might lead her to the worst part of herself.
View More"Adikmu kabur dan besok adalah pernikahannya." Suara lemas sang ayah membuat Lucia merasa iba. Walaupun sejak kecil dia selalu dikucilkan dalam keluarga ini, namun dia menyayangi ayahnya lebih dari apapun karena hanya dia keluarga kandung satu-satunya.
Ayahnya telah menikah lagi dengan seorang wanita yang sudah memiliki anak yang memiliki umur satu tahun di bawahnya. Namun, hal yang baru dia ungkap setelah kematian ibunya lima belas tahun lalu membuatnya sangat kecewa pada ayahnya karena ternyata adik tirinya tersebut merupakan anak kandung ayahnya.
“Aku tak bisa mencegah Bella, dia memiliki kekasih lain yang tidak kita ketahui.”
Nyonya Lauren, wanita yang menjadi selingkuhan ayahnya dan sekarang menjadi istri dari ayahnya, mulai menangis dengan penuh kesedihan setelah mengatakan hal tersebut. Lucia sangat tahu jika itu adalah tangis palsu wanita itu.
“Batalkan saja pernikahannya, masih ada waktu sebelum besok.” Ucap Lucia dengan datar, dia sudah muak mendengar tangisan mereka selama satu jam terakhir di ruang keluarga ini. Dulunya dia dikucilkan dan tak dipedulikan oleh ayahnya sendiri, dan sekarang adik tirinya yang membuat masalah, dia yang harus ikut mencari jalan keluarnya.
“Keluarga Filbert sangat berpengaruh, bagaimana bisa kita membatalkan pernikahan ini begitu saja? Ayah kira mereka mengajukan lamaran untuk putra pewaris mereka, tapi ternyata pria itu lumpuh. Oh Tuhan, kesialan apa yang menimpa keluargaku.” Tuan Stephen terlihat sangat tertekan, hingga dia berjalan bolak-balik di depan Lucia yang tengah duduk tenang di sofa ruangan tersebut.
“Bagaimana jika Lucia saja yang menikah dengan pria itu, suamiku?” Ucap nyonya Lauren dengan sedikit semangat, seolah-olah telah menemukan ide brilian dari otaknya yang kecil tersebut.
Tuan Stephen yang mendengar itu langsung berhenti dan menatap istrinya dengan mata yang berbinar.
“Kamu benar sayang! Lucia, kamu mau kan menggantikan Bela menikah besok?!” kata Tuan Stephen, itu seakan bukan sebuah pertanyaan tapi sebuah pernyataan yang harus dilaksanakan oleh Lucia, mengingat raut wajah ayahnya yang seperti itu.
Lucia menatap ayahnya dengan dingin, dia langsung berdiri dari duduknya.
“Aku datang jauh-jauh kesini hanya untuk melihat Bela menikah, bukan melangsungkan pernikahanku sendiri dengan pria yang bahkan aku tak mengenalnya.” Ucap Lucia dengan dingin.
“Kumohon, Lucia, bantu ayah. Hidup ayah akan berakhir besok jika tak membawa pengantin, ayah juga sudah mengambil mahar dua milyar untuk pernikahan ini dan uang itu sudah habis.” Ucap Tuan Stephen dengan nada sedih dan penuh permohonan.
Lucia menghela nafasnya, dia tak berpikir dia akan berada di posisi yang cukup rumit ini.
Dia memiliki tabungan jika hanya uang sebanyak dua milyar tersebut, tapi bagaimana dia bisa mengatakan dari mana dia mendapatkan uang tersebut? Keluarganya hanya tahu jika dia bekerja serabutan di luar negeri. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, dia tahu betul bagaimana nasibnya nanti. Keluarga ini seperti lintah yang akan menghabiskan semua hasil kerjanya karena mereka tahu dia kaya, dan tentu saja dia tak akan ikhlas jika jerih payahnya akan digunakan oleh selingkuhan ayahnya tersebut.
“Itu bukan urusanku.” Ucap Lucia dengan dingin, dan dia ingin pergi dari sana.
“Kamu sangat durhaka pada ayah, Lucia! Pasti ibumu sangat kecewa, kamu telah melakukan hal jahat pada ayahmu sendiri.” Ucapan dari Tuan Stephen tersebut menghentikan langkah Lucia untuk pergi. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat.
Tuan Stephen tersenyum miring melihat itu, dia sangat tahu kelemahan putrinya adalah ibunya. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, pasti putrinya tak akan menolak lagi terhadap apa yang dia ucapkan.
“Jam berapa acara pernikahan besok?” Tanya Lucia dengan datar, tanpa membalikkan tubuhnya, menatap ayahnya yang tengah tersenyum penuh kemenangan itu.
“Jam delapan, bersiaplah lebih awal.” Ucap Tuan Stephen dengan semangat.
Lucia yang mendengar itu langsung pergi dari sana, dia sudah muak berada di tempat seperti ini. Dia akhirnya masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan keras, lalu menguncinya dari dalam. Tatapannya langsung mengarah ke foto yang cukup besar di kamarnya, itu adalah foto keluarga kecilnya sebelum semuanya rusak.
“Ma, aku merindukanmu,” ucapnya dengan pelan. Dia sangat jarang pulang ke rumah karena pekerjaannya yang padat, dan juga karena dia malas bertemu dengan ibu tirinya. Namun, kenangan tentang ibunya hanya ada di rumah ini, dan satu-satunya anggota keluarga di sini adalah ayahnya.
Lucia menghela nafas perlahan dan kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sejak kedatangannya sore tadi, dia belum sempat mandi atau pun pergi ke kamarnya sendiri.
************
Pagi tiba dengan sangat cepat, dan Lucia merasa tidak pernah membayangkan bahwa hari ini dia akan mengenakan gaun pengantin yang pas di tubuhnya.
"Anda sangat cantik, pasti calon suami Anda nanti akan terkesima saat membuka wedding veil yang Anda gunakan nanti," ucap perias yang sedang merias wajah Lucia. Wajahnya yang biasanya tanpa polesan menjadi sangat cantik dengan riasan ini. Lucia baru sadar betapa cantiknya, padahal sehari-hari dia terbiasa dengan kotoran dan bahkan bau mesiu dari pekerjaannya.
"Oh, sayang, Anda begitu cantik," ucap nyonya Lauren, ibu tirinya, dengan senyuman gembira saat melihat Lucia mengenakan gaun pengantin.
"Calon suamimu sudah datang, setelah ayahmu kesini, Anda akan pergi ke altar," kata nyonya Lauren dengan ramah.
Lucia hanya menatap wanita itu dengan wajah datar dan tidak merespons apa yang dikatakan.
Tidak lama kemudian, tuan Stephen datang untuk membawa Lucia ke altar. Langkah Lucia terasa berat. Dia tahu bahwa keputusan ini bukan tanpa alasan. Dia ingin menikahi pria yang dia cintai dan membangun keluarga yang bahagia. Namun, situasi ini jauh dari impian itu. Ayahnya sendiri yang menghancurkan semua itu, dan Lucia harus menelan pil pahitnya.
"Kamu sangat cantik, putriku," puji tuan Stephen.
Lucia hanya diam. Meskipun sebenarnya dia bisa menolak pernikahan ini, dia memikirkan nasib ayahnya dan juga ingin menghormati ibu tirinya yang ada di atas sana.
Dengan alunan musik biola dan piano yang harmonis, Lucia berjalan pelan menggandeng lengan ayahnya yang tampak cerah. Namun, di balik wedding veil yang menutupi wajahnya hingga ke dada, Lucia hanya menampilkan ekspresi wajah datar.
Ketika dia mendongakkan kepala, dia melihat seorang pria di ujung altar. Pria itu duduk dalam kursi roda, mengenakan jas pengantin yang selaras dengan gaun Lucia.
"Dia adalah calon suamimu," bisik tuan Stephen seakan tahu apa yang ada di pikiran Lucia saat ini.
Lucia mengerti mengapa adiknya kabur sehari sebelum pernikahan. Pria ini lumpuh, dan tentu akan membutuhkan perhatian ekstra. Pertama kali melihatnya, Lucia merasakan bahwa pria itu tampan, tapi juga terlihat sangat penyendiri.
Akhirnya, Lucia tiba di depan pria itu. Ayahnya menyerahkan tangannya ke tangan pria itu. Ketika tangan mereka bersentuhan, tangan pria itu terasa dingin. Mereka berdua menghadap pendeta untuk melanjutkan prosesi pernikahan.
"Mempelai pria dan wanita sudah siap?" tanya pendeta pada Lucia dan pria di sampingnya.
Lucia mengangguk singkat, dan pria itu juga melakukan hal yang sama.
Pendeta kemudian membimbing mereka untuk berdiri di tempatnya masing-masing dan mengucapkan janji suci pernikahan.
Lucia dan Dariel bergandengan tangan, mengucapkan janji suci mereka di hadapan pendeta. Meskipun mereka melakukannya, hati mereka setengah-setengah.
"Saat ini, kalian resmi menjadi suami dan istri. Silakan melakukkan ciuman di hadapan para hadirin sebagai simbol," ucap pendeta, dan Dariel menatap Lucia dengan serius.
Karena perbedaan tinggi tubuh mereka, Lucia harus sedikit menundukkan kepalanya agar bibir mereka bisa bertemu dalam ciuman singkat ini. Dia merasakan pria itu terkejut sedikit ketika wajah mereka menyatu.
Namun, ciuman mereka hanya sebentar dan kurang bermakna. Lucia berdiri tegak dan menghadap para tamu undangan. Acara pernikahan ini tidak meriah, hanya ada keluarga inti yang hadir, dan dari pihak Dariel, hanya ada dua orang saja. Lucia tahu bahwa kedua orang ini bukan orangtuanya.
"Jangan berharap keluargaku datang," suara dingin dari Dariel terdengar di samping Lucia.
Lucia menoleh padanya. Apakah pria itu mengira bahwa Lucia berharap keluarganya hadir? Lucia merasa ingin tertawa, karena pikiran pria itu sangat keliru. Bahkan, dia sama sekali tidak peduli apakah keluarganya datang atau tidak.
"Tuan, nyonya, saya akan mengantarkan Anda ke tempat tinggal kalian." Salah satu tamu undangan yang duduk sebelumnya mendekati mereka. Dia berniat untuk mendorong kursi roda yang Dariel gunakan.
"Biar aku saja," ucap Lucia dengan datar.
"Tidak perlu, nyonya. Biar saya saja."
"Aku istrinya," Lucia menjawab dengan dingin. Pria itu yang sebelumnya menolak akhirnya mundur untuk memberikan ruang kepada Lucia agar dia bisa mendorong kursi roda Dariel.
"Biarkan supir itu yang mendorongnya," ucap Dariel dengan dingin.
"Jika begitu, mengapa kamu menikahiku daripada supirmu?" ucap Lucia tanpa ekspresi, sembari mendorong kursi roda pria itu menuju ke tempat parkir.
Sesampainya di tempat mobil, ayah Lucia mendekat.
"Nak, hiduplah dengan baik bersama suamimu. Layani dia dengan baik," ucap tuan Stephen dengan lembut, berbeda dengan sikapnya sebelumnya.
"Aku tahu."
"Tuan muda, harap maklumi putriku. Dia mungkin keras kepala, jika dia melakukan kesalahan, berlakukan hukuman saja. Sekarang, dia adalah milikmu," ucap tuan Stephen seolah menyerahkan Lucia sepenuhnya, tanpa ada kemungkinan untuk kembali.
Lucia menatap ayahnya dengan tatapan dalam. Kata-katanya seolah mengisyaratkan bahwa Lucia tidak akan lagi diterima di keluarga ini, tak peduli apa yang terjadi nantinya.
"Aku akan menjaganya dengan baik," kata Dariel dengan datar.
Tuan Stephen mengangguk puas, seolah percaya sepenuhnya pada Dariel. Lucia dan Dariel masuk ke dalam mobil, dan supir Dariel membantu Dariel masuk dan menaruh kursi roda di bagasi. Lucia duduk di samping Dariel.
Mobil bergerak dengan kecepatan sedang, meninggalkan tempat pernikahan mereka.
Tidak ada obrolan di dalam mobil. Keduanya hanya diam.
"Apakah kita akan tinggal di puncak?" tanya Lucia pada Dariel, mengingat arah yang mereka tuju adalah menuju puncak.
"Untuk alasan kesehatan, tuan Dariel harus tinggal di tempat yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota," jawab bukan dari Dariel, tapi dari supir.
Lucia tidak berkomentar lagi, dia hanya diam.
Akhirnya mereka sampai di sebuah villa yang tampak usang dan terbengkalai. Rumput di halaman terlihat panjang dan tak terawat, dan debu terlihat menumpuk di sekitar.
"Kita sudah sampai, tuan dan nyonya," ucap supir, lalu ia keluar untuk mengambil kursi roda Dariel dan membantu Dariel kembali duduk di kursi roda. Dia juga mengambil dua koper milik Lucia dan Dariel.
"Karena saya masih punya urusan di kota, saya akan kembali. Selamat menikmati hari pernikahan Anda," ucap supir sebelum meninggalkan mereka.
Lucia tidak pernah membayangkan akan berakhir seperti ini. Apakah Dariel selama ini tinggal sendirian di tempat ini?
"Ayo masuk," ucap Dariel dingin, sambil mendorong kursi rodanya sendiri masuk. Lucia membawa dua koper di tangannya.
"Selamat datang di 'neraka', istriku," ucap Dariel dengan seringai jahat, tatapan dingin di wajahnya.
Focus. Focus. Focus. The word repeated in her mind. Sitting in a class without knowing what was going on, even though the girl attended the whole week, was damn hard. Being clueless about the subject's topic that was discussed in your presence but still not getting them was one thing, taking a test was even a bigger challenge. This was one of the rare moments when Eleonna regretted not actively listening or paying attention to the class. She thought she could have easily aced this one. Guess regrets really do come after deeds. The girl let out a frustrated sigh and leaned on her chair. "I shouldn't have doze off during discussions..." she murmured to herself. She stared at her empty answer sheets beside the testpapers hopelessly. There were multiple choices in it, identification, and essay. She could answer the essays, it was somehow the easiest part for her, not until it she read the direction telling her to say something about what seemed to be a complicated topic. This was o
There is always a good outcome in everything. No matter how bad your situation is, there will always be that outcome that will make you realize just how that bad situation benefit you. Just like Eleonna's decision of joining their team. She may witness how brutal life can be, she still learned how to fight for something and sacrifice, and she knows it in herself that this is not the end of it all. There is still more to this path she chose to take that meets the eye. And she had to get ready for it. Who knows what will happen next? The scent of the salt sea and night air welcome her as she closed her eyes. Her hair was swaying left and right from the harsh yet calming air. She was seating at the back of Yuan's motorcycle as the former drove. It was past eight when Eleonna decided to go home. She already bid her goodbye to the team and spent some time with them. Yuan, as usual, presented to drive her home. It's been a while since Eleonna got to a seashore. The last time she visited on
"Are you sure about this, Suzy?" Eleonna asked in a low tone, worry evident on her voice. The girl was standing in front of her locker. She was crouching to try and hide her phone that was situated on her left ear. If someone saw her, they would assume that she is hiding something. Well, that was true anyway. Eleonna is currently trying to hide her phone from her PE professor. The weather was good today so their PE professor decided to take them to the quadrangle to perform their performance tasks. Eleonna is currently on her red jogging pants and white shirt. Her hair was tied in a bun. To be honest, their activity already started, but the girl managed to find an excuse to take the call. Her professor was too busy nagging her classmates anyway so she didn't pay that much attention to her. Eleonna peeked through the door of her locker before crouching back.
Weekends are usually people's favorite. It was the day when you can rest and do the things that you didn't get to do on the weekdays because of your work or studies, but sometimes weekends are just a chance to reminisce about the things that you did for the past days.Eleonna was sitting on their couch while staring at the television. She was not watching actually, she just opened it to have a background noises while she zoon out. She had a blanket wrapped around her body while crouching at her seat. Her uncle and auntie left earlier for their "date".The girl was envy of them actually. It must be nice to have a break from work, but at the same time she misses her own family. Usually on the weekends, the Salvelle family would go out and spend their time together. Their family was an ideal for anyone. It was almost perfect, but ofcourse fate has their own way of fucking people's life up.If you are wonde
Sitting in class and watching your professor's mouth move everytime they discuss something is pretty boring, don't you think? Especially when you hate the subject. In Eleonna's case, she doesn't hate the subject nor the professor but she just wishes the time to pass by quickly.
Eleonna had her eyes fixated on the dark red haired girl in front of her. It may not seem like it, but Eleonna is the type of student who struggles to stay focused on a person talking on the front. You may be wondering how she managed to get high grades, well the answer is simple. She prefers sel
After Suzy left the scene, Eleonna and Liya went silent. The loud music from the club served as their white noise. Eleonna was still trying to figure out what the short haired girl is doing here, and how did she even got in the place? As far as she knows, minor's are not allowed in this club.
Eleonna almost forgot that she was supposed to be meeting Suzy this afternoon. Fortunately, she called her first. The girl couldn't help but to get nervous and excited at the same time. It felt like she was now close to discovering about what her sister did.She immediately bid
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews