LOGINAnd Here It Comes #A_Pure_Vampir . . "Sometimes death isn't the end.......my death was the beginning.....and my true beginning began the day a vampire killed me...." Analise Walker has a tough everyday life. Her older sister torments her on a daily basis. Ana copes by eating and gains a lot of weight further adding fuel to her sister and classmates teasing..... One day it goes too far and Ana runs away..... Right into one of the cruelest vampires existing..... He kills her. But when she transforms into the most beautiful vampire he's ever seen he takes her prisoner... Two years later she escapes...... Follow Ana's story as she deals with life as a human, vampire and then something much much more dangerous..
View MoreTara Amora menatap dirinya di depan cermin, dia merasa masih tidak percaya jika saat ini dia mengenakan gaun pengantin. Riasannya cantik, tidak menor dan tidak mengubah wajahnya menjadi orang lain, seperti yang sudah diwanti-wanti pada perias pengantin.
“Yaaa Tuhaaan … Bahkan ini bukan gaun pengantin yang kuinginkan, bukan pesta yang kuharapkan sama sekali,” desisnya putus asa. Buket bunga di tangannya diremas dengan kuat, ada rasa nyeri yang dirasakannya menandakan di tidak sedang bermimpi.
“Oooouuuhhh … Kenapa si es batu kejam itu menyetujui pernikahannya ini? Dia bisa menolak dengan tegas karena dia laki-laki! Mama dan papa juga, yaa ampuuun … Ada apa dengan mereka sehingga tidak berpikir dua kali menikahkan putrinya dengan laki-laki yang tidak jelas pekerjaannya, penyendiri, berwajah masam daaan aku—“
“Heeeh … Kau pikir aku tidak berusaha menolak pernikahan ini? Kau pikir hanya kau saja yang merasa tersiksa? kau bukan levelku, kurcaci kecil!” seru suara laki-laki di belakang Tara yang membuatnya terlonjak kaget.
Tara berbalik dan menatap tajam Neo, Neo Qavi Malik, yang menurut mamanya Tara lelaki muda itu masih terhitung kerabat dengannya.
“Kau bilang apa, Kur-kurcaci Kecil?!” Tara mengangkat gaunnya dan menghentak-hentakkan langkahnya mendekati Neo, lalu dia menatap lelaki itu dengan mata yang membulat.
“Iya aku bilang, kurcaci kecil, apa kau tidak sadar bagaimana cara aku melihatmu sekarang ini hah?” ujar Neo yang membungkukkan sedikit tubuhnya, tinggi Tara hanya sebatas dadanya saja meskipun Neo yakin Tara mengenakan sepatu dengan hak tinggi.
“Tinggiku termasuk tinggi rata-rata, jika ada yang salah berarti kau yang terlalu jangkung!” balas Tara dengan sengit. Neo menjauhkan bahunya, dia malas ingin berdebat lagi dengan perempuan yang beberapa jam lalu menjadi istrinya.
“Dengar, aku menyayangi nenekku lebih dari apapun, meskipun akhirnya aku memenuhi permintaan konyol dan tidak masuk akalnya untuk menikahi kurcaci sepertimu. Andai aku punya pilihan lain, aku tidak sudi sekamar denganmu saat ini,” ujar Neo dengan dingin dan kejam. Tara mengeluarkan suara geramnya yang tertahan betapa memuakkannya dia bersama laki-laki yang sombong dan menghina tinggi badannya. Jika tidak ingat mamanya yang mengancam bunuh diri dan papanya yang mengancam memboikot kantor kecilnya itu dia ingin kabur sejauh-jauhnya dari negara ini. Baik Neo dan Tara sudah berusaha maksimal untuk menentang pernikahan ini tetapi sepertinya takdir yang menjodohkan mereka sehingga malam ini mereka berada di kamar pengantin mereka di sebuah hotel mewah.
Neo membuka jas yang dipakainya juga dasi serta rompi dalamnya, dia sangat lelah dengan prosesi pernikahan yang panjang seharian.
“Mau apa kau?” tanya Tara yang melihat Neo membuka pakaiannya. Neo melirik sekilas ke arah Tara yang masih memakai gaun pengantinnya.
“Aku gerah, cape mau mandi, kau tahu? Di luar sana ada setengah lusin penjaga yang diperintahkan oleh nenekku agar aku tidak kabur, jadi aku tidak bisa kemana-mana dan aku akan mandi dan tidur di sini!” seru Neo sambil terus membuka baju dan celananya. Tara memekik ketika Neo hanya mengenakan boxer dan baju dalam saja, dia berpaling sambil menutup matanya.
“Tapi aku tidak mau berbagi kamar denganmuuuu!” pekik Tara putus asa, dia juga harus membersihkan dirinya serta mengganti pakaiannya.
Saat Neo berada di kamar mandi, Tara bergegas membuka semua pakaiannya dan memakai jubah mandi. Dia pun sama dengan Neo gerah dan lelah, dirinya juga butuh membersihkan diri dan rasanya akan nikmat sekali jika bisa berendam dalam bathup kamar ini. Pelan-pelan Tara menempelkan telinganya di pintu kamar mandi, terdengar suara pancuran air serta samar suara Neo yang sepertinya sedang menelpon seseorang.
“Tolong lah Bro, aku tidak mau berada di dalam kamar ini semalaman, ayo lah ajak aku kemana saja, aku harus punya alasan bagus untuk keluar dari sini!” seru Neo yang juga putus asa atas malam pertamanya dengan perempuan yang menyebalkan baginya.
Tara menjauhkan dirinya dari pintu, dia mencebik, ingin rasanya dia mencakar pintu kamar mandi itu.
“Dia pikir dia siapaaa…? Apa dia pikir aku juga mau menghabiskan waktuku dengannya? Oohhh nasib malam pertamaku yang malang … Kenapa nasibku sial begini?” Tara ingin menangis tetapi air matanya sudah kering, habis ketika orangtuanya tetap memaksanya menikah dengan Neo.
Suara pintu kamar mandi terdengar dibuka, Neo sudah memakai baju kaos dan celana pendek, rambutnya masih basah dan digosok-gosoknya dengan handuk. Kini giliran Tara yang masuk ke kamar mandi semua perlengkapannya dibawa masuk sehingga dia tidak perlu membuka apapun di hadapan Neo. Tara bernapas lega ketika dia bisa mewujudkan keinginannya untuk berendam di dalam bathup. Sambil menikmati rendaman air hangat dan aroma wangi sabun ingatannya kembali kepada saat pertama kali Tara bertemu dengan Neo.
Saat itu ada acara besar tahunan di rumah nenek Neo, hampir semua keluarga besar hadir termasuk keluarga Tara. Dirinya masih kelas enam sekolah dasar ketika bertemu dengan Neo yang sudah masuk sekolah menengah pertama. Dari awal Neo memang sudah pendiam, tak disangka ternyata hari itu adalah hari paling bersejarah kelam dalam hidup Neo. Kabar duka datang ketika acara kumpul-kumpul yang meriah sedang berlangsung, asisten nenek Neo mengabarkan jika di tengah perjalanan menuju acara orangtua Neo mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.
Acara meriah itu berubah menjadi acara duka seketika, Neo mengamuk hebat karena tidak bisa menerima kenyataan dirinya kehilangan orangtua dalam sekejap. Neo remaja melarikan diri ke halaman belakang dan saat itu tanpa sadar Tara mengikutinya.
“Aku turut berduka atas kematian orangtuamu,” ucap Tara perlahan, dia melihat napas Neo naik turun.
“Kau siapa? Aku tidak butuh ucapan belasungkawamu, Anak kecil! Pergi kau, pergi!” usir Neo dengan kasar. Namun, kaki Tara berat untuk melangkah pergi, dia menyaksikan Neo berlutut sambil menangis, Tara kecil ikut merasakan kesedihan Neo remaja. Entah mengapa saat itu rasanya Tara ingin sekali menghibur Neo, meskipun dirinya diusir terang-terangan, Tara tetap saja mendekati Neo.
“Pergi sana! Jangan dekati akuuu…! Aku tidak butuh dikasihani oleh anak kecil seperti kamu!”Neo menepis tangan Tara yang memegang bahunya lalu mendorong Tara dengan keras. Lengan Tara tergores ranting pohon yang tajam ketika dia jatuh, lukanya cukup dalam sehingga mengeluarkan banyak darah. Semenjak itu dia jarang bertemu dengan Neo lagi dan terakhir dia mendengar kabar jika Neo melanjutkan sekolah di luar negeri.
Tara mengusap busa yang menempel di lengannya, lengan sebelah kiri dalam, dekat siku, di sana ada bekas luka sepanjang tujuh sentimeter, luka yang didapatnya ketika Neo mendorongnya, berbekas hingga sekarang.
“Kau tidak akan hidup tenang, Neo Qavi Malik!” seru Tara dengan geramnya.
..****LilyThe moment Bobby walked out the door her heart dropped. She couldn't just let him walk away from her. Lily refused to believe all their secret kissing sessions meant nothing to him."Hey wait!" she shouted jogging down the dirt driveway after Bobby. He stopped and turned to face her. "That's it. You're just leaving?" she asked angrily."Yes I am. I'm not dying for this shit. If you are smart you'd leave too" He replied casually. Lily placed her hand on her hip."What about me? About us?" She questioned steeping closer."Get real, there is no us. I mean come on the making out was ok but I only did it because my options were limited and I knew you wanted me" He arrogantly gloated. Lily slapped him hard across the face. The
Pain Of Rejection.Cassius PovBeing locked in a dark cell for two days was not something Cassius was not used to. He is a prince and princes should never be treated this way. It made him angry! More than angry but furious.How could my father do this to me ? Cassius thought.It was bad enough Ferox killed Acacia but locking him up for defending his mate was beyond unnecessary. Cassius couldn't do anything to save his mother but he would do something to save Ana."Fuck! I need to get out of this cage!" he yelled pulling on the bars for the hundredth time. It was no use. These cells were built especially to keep vampires trapped inside."I see you've settled in nicely my prince" Raven said popping up outside his prison right before his eyes.
He Is The OneAna Pov"Seb?" I say again hesitantly.The wolf stops licking and slowly nods its massive head. I slap my hand to my mouth to keep the scream in. Oh my goodness! Seb's a wolf! How did this happen? As I continue to look into his eyes I realize he doesn't look upset. His silver tail is gently wagging as he continues to patiently watch me."Can you change back?" I ask. This is such a blow to my mind that Seb is actually a werewolf! I wonder how all this happened? And when? Seb's ears perked up and he tilted his head to the side curiously. The act was so adorable I couldn't help but smile.Maybe he can't change back and is stuck this way . The thought breaks my heart and I can't help but reach out and comfort him. My hand caresses the side of his jaw. The fur is so soft I could rub it forever.
Marie PovIn a matter of seconds, everything changed. The brother I grew up with was no more...Everyone watched speechless as Seb disappeared right before their eyes. The sound he was making was anything but human. Marie thought it reminded her of a lion but deeper. So deep in fact that she could feel it in her own chest."What do you mean roar of the wolf?" She questioned Helia"I mean that your brother is very special. Just watch" The crone replied.Marie turned her attention back to Seb and her heart dropped. Seb wasn't howling anymore but growling. His eyes were beaming a bright yellow and had doubled in size. His fingernails had changed into claws and he began using them to rip off large chucks of skin off his chest. Beneath the skin was black thick fur like hair. It was the color of the night sky and so












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews