LOGINCassandra Baker believes that Antonio Franches killed her parents fifteen years ago. and Cassandra will make Antonio regret it. However, Cassandra was trapped in her own plan and ended up in Antonio's bed. Can Cassandra complete her mission of revenge?
View More'Astaga! Sudah jam berapa ini? Aku bisa terlambat menghadiri wawancara kerja hari ini. Bagaimana aku akan diterima bekerja, kalau untuk menghadiri wawancara kerja saja aku sampai datang terlambat,' batin Karin.
Ia pun bergegas menuju kamar mandi, lalu mandi di bawah air pancuran. Selesai mandi Karin pun mengambil kemeja berwarna putih dan rok dengan panjang di atas lutut. Ia lalu mematut dirinya di depan cermin besar, yang ada di dalam kamarnya. Ia hanya mengenakan make up tipis dan lip tint, agar wajahnya tidak terlihat pucat.
Selesai sarapan, dengan menyandang tas kecil di pundaknya. Karin pun berjalan ke luar dari apartemennya menuju ke halte bis.
Tak lama berselang, bis yang ditunggunya datang. Karin pun duduk di dalam bis dengan perasaan yang tegang dan gugup. Hari ini ia akan menjalani wawancara, untuk lowongan sebagai sekretaris yang dilamarnya. Sesekali ia melihat jam tangannya, untuk memastikan ia tidak datang terlambat.
Begitu bis yang ditumpanginya berhenti di halte, yang letaknya tidak jauh dari perusahaan yang akan ditujunya. Rasa lega, menghinggapi hati Karin, karena ia tidak terlambat. Masih ada waktu baginya, untuk bersiap nantinya sebelum menjalani wawancara.
Ia terlalu bersemangat, dengan wawancara yang akan dijalaninya pada hari ini. Ada harapan besar, yang ia inginkan dari wawancaranya nanti. ‘Aku harus mendapatkan pekerjaan itu, karena ini bisa jadi merupakan jawaban dari masalahku selama ini,’ gumam Karin dalam hati.
Dengan terburu-buru, Karin keluar dari dalam bis dan berjalan cepat menuju gedung tempatnya akan menjalani wawancara. Sesampainya di dalam gedung tersebut Karin pun bertanya, di mana ruangan pimpinan tersebut berada.
Menurut informasi yang didapatnya ia akan menjalani wawancara langsung, dengan sang pimpinan perusahaan tersebut. Duduk di depan ruangan dengan dinding yang di car warna putih, rasa gugup itu semakin terasa.
Sebuah suara terdengar menyebut namanya dan mempersilakan kepadanya untuk masuk ke dalam ruangan, yang pintunya tertutup rapat.
"Nona Karin Arvantie?" panggil seorang wanita yang mengenakan setelan profesional. Ekspresi jutek terpasang di wajahnya, membuat jantung Karin berdegup kencang ketika dipanggil. "Giliranmu," ucapnya saat menangkap keberadaan orang yang dipanggil.
Karin pun berdiri dari kursinya dan melangkah masuk ke dalam ruangan. Bulir-bulir keringat menghiasi dahi Karin, menunjukkan jelas kegugupannya menghadapi wawancara kerja yang segera menantinya. Ini merupakan pengalaman pertama Karin menjalani wawancara pekerjaan.
Diabaikannya sorot tatapan tidak suka dari wanita itu, ia akan menghindari wanita dengan raut wajah jutek, yang dengan jelas memperlihatkan aura tidak suka kepadanya. Diketuknya pintu yang tertutup rapat di depannya dan setelah dipersilakan masuk ia pun membuka pintu tersebut.
Saat masuk ke dalam ruangan, pandangan Karin terarah pada seorang pria yang terduduk di depan sebuah meja dengan kertas menutupi wajahnya. Rambut hitam pria itu ditarik ke belakang, terlihat sangat rapi. Tubuhnya yang dibalut kemeja putih tetap kentara kekar di mata Karin, terlebih karena lengan kemeja itu digulung mencapai siku. Dengan dua kancing kemeja bagian atas yang dibuka dan memperlihatkan sedikit rambut di dadanya.
"Permisi, Pak," panggil Karin sembari berdiri di sebelah kursi yang disediakan untuknya, tidak berani duduk sebelum dipersilakan.
Mendengar suara wanita tersebut, pria di hadapan pun menurunkan kertas yang sedang dia pegang. Detik itu, juga Karin membeku. Jantungnya langsung berdetak kencang, berhadapan dengan wajah tampan.
Tatapan tajam yang diberikan netra hitam itu begitu menghanyutkan. Ditambah guratan alis tebal dan rahang tegas, wajah pria tersebut patut Karin akui sebagai pria tertampan yang pernah dia lihat secara langsung. Bahkan, bila Karin menonton televisi pun, sepertinya agak sulit menemukan pria setampan itu!
"Duduk." Suara dalam pria tersebut menggetarkan hati Karin, membuat wanita itu tanpa berpikir langsung bertindak sesuai arah. "Perkenalkan dirimu," titahnya tegas, membuat Karin entah kenapa merasa sedikit jengkel.
'Dia ... belum memperkenalkan diri, 'kan?' batin Karin.
Memang, tanpa diberi tahu, Karin sebenarnya sudah bisa menebak siapa pria di hadapannya. Pria itu tidak lain adalah Ryan Atmaja, CEO Atmaja Corp. yang sedang mencari seorang sekretaris, pekerjaan yang sedang Karin incar. Rumor mengatakan bahwa pria itu memang sangat tampan, tapi juga dingin dan kejam. Itulah alasan kenapa tidak ada sekretaris pribadi yang bertahan bekerja untuknya lebih dari tiga bulan.
Ah, Karin lupa. Tidak hanya itu, pria tersebut juga sering dikabarkan sebagai seorang playboy yang senang mempermainkan wanita.
Namun, bahkan dengan rumor dan berita-berita tentang Ryan, masih banyak wanita yang bersedia mencoba menjadi sekretaris pribadi pria tersebut. Lagi pula, bayaran dan benefit yang ditawarkan sangatlah menggiurkan!
Sebelum melamun terlalu lama, Karin pun langsung memperkenalkan dirinya, "Nama saya Karin Arvantie, saya merupakan lulusan universitas ternama di kota ini dengan predikat cumlaude."
Selagi Karin memperkenalkan dirinya, wanita itu merasa netra hitam tersebut tidak berpindah dari wajahnya. Ada sesuatu dari pandangan Ryan yang membuat darah Karin berdesir. Namun, wanita itu berusaha untuk tetap tenang dan profesional, menunjukkan sisi terbaiknya agar bisa mendapatkan posisi yang dia inginkan itu.
‘Kenapa ia terus menatapku dan membuatku menjadi resah? Apakah ada yang salah dengan penampilanku? Seharusnya tadi aku mematut diriku dahulu di dalam toilet, sebelum masuk ke dalam ruangan ini,’ gumam Karin dalam hatinya.
Selesai memperkenalkan diri, Karin terkejut dengan pertanyaan yang terlontar dari bibir Ryan. “Apakah kita pernah bertemu?" Dengan manik terpaku pada sosok Karin, Ryan menambahkan, "Wajahmu terlihat tidak asing di mataku?”
'Apa ini ... cara baru untuk merayu wanita?' batin Karin dalam hati, teringat rumor bahwa pria di depan adalah seorang playboy. Karena ditatap dengan tajam dan begitu intens oleh Ryan, dia mengepalkan tangannya untuk menahan kegugupannya. Hanya dengan sebuah senyuman tipis, wanita itu pun membalas, "Kalau kita pernah bertemu, saya rasa saya tidak akan melupakan pria seperti Anda, Pak.”
Ryan berdiri dari kursinya, mengitari meja sebelum akhirnya bersandar di sana. Dua tangan terlipat di depan dada, sebuah senyuman terlukis di bibirnya. "Pintar menyanjung," balasnya, entah itu sindiran atau pujian. "Apa yang membuatmu melamar ke perusahaanku?"
Pertanyaan Ryan membuat Karin menggigit bibir, sedikit kesulitan dengan pertanyaan yang diajukan. Namun, dengan cepat wanita itu menjawab, "Pengalaman, gaji, dan juga jenjang karir. Saya yakin Atmaja Corp. adalah tempat yang tepat untuk mendapatkan yang terbaik untuk tiga hal tersebut."
Netra Ryan terarah pada bibir Karin yang memerah karena sempat digigit. "Begitukah?" Pria itu berjalan menghampiri wanita di kursi itu, menyebabkan senyuman profesional Karin sedikit bergetar dan tubuhnya menempel pada sandaran kursi. Dengan dua tangannya mendarat di tanganan kursi Karin dan wajah hanya berjarak beberapa inci dari wajah wanita tersebut, sudut bibir Ryan pun terangkat. "Apa kamu yakin kamu kemari bukan karena diriku?"
Edward Novaries sat in his chair, his jaw clenched tight, eyes burning with madness and fury. In front of him, a group of men from various mafia organizations sat around a circular table. Some of them looked hesitant, while others stared at him with disbelief. Antonio had destroyed all his financial networks, burned his businesses to the ground.Now, he had no choice but to seek new allies. His gaze flicked to the right, where Hernando Diaz, a Colombian cartel boss, lounged lazily in his seat. Across from him sat Rafael Montenegro, head of the Spanish syndicate, arms crossed over his chest, his expression unreadable. Edward exhaled sharply before speaking.“We all have one common enemy—Antonio Franches and The Silver Thorn. If we don’t act now, he’ll take us down one by one.”Hernando scoffed.“You talk big, Edward. We all know who Antonio is and what his men are capable of. He’s not just another threat—he’s a goddamn killing machine.”“You expect us to go against a man who never fail
Inside the secret meeting room, the air was thick with tension. Dim lights cast shadows over the serious faces surrounding the massive mahogany table. Antonio’s five top agents—Marcus, Ben, Dominic, Silvio, and Luca—sat with tense expressions, ready to take orders from their leader. But tonight, there was someone different in the room. Cassandra. Normally, Antonio wouldn’t allow her to be part of meetings like this. But tonight was different. She was the only living witness to the tragic accident that took her parents' lives. Antonio wanted her here—to hear firsthand how they were going to hunt Edward Novaries down and drag him out of whatever hole he was hiding in. Cassandra sat beside Antonio, her hands clenched in her lap, trying to conceal the nervousness creeping into her. Marcus, Antonio’s most trusted man, started the discussion.“Edward keeps slipping through our fingers. We almost had him after the tanker explosion, but he got away.”Dominic took a slow sip of his coffee, his
The dark night sky was illuminated by the faint glow of city lights. The cold air was biting, but nothing could compare to the heat of tension that surrounded the scene. The sound of police sirens grew louder, inching closer with every second, signaling that Edward Novaries' time was running out. With steady breaths and an unshaken expression, Edward assessed his surroundings. A few of Antonio’s men remained in their battle-ready positions, but they knew the police would be there any moment. Antonio, injured but standing tall, clutched his throbbing arm from the previous fight. His eyes burned with fury as he stared at Edward.“You have nowhere to run, Edward.”Edward simply smirked, as if he still held control of the situation.“Antonio, Antonio… You still think this is a game you can win?”He sighed.“I’ve always been one step ahead of you.”Cassandra, standing beside Alexander, clenched her fists.“You’re a coward! All you do is hide behind your dirty tricks!”Edward turned his gaz
The sky was still gray as Cassandra and Alexander left Aunt Marrie’s house. The remnants of last night’s rain lingered on the streets, making the air cooler and damp. Trees along the road dripped with water, their leaves still wet. Cassandra sat quietly in the passenger seat, her gaze vacant as she stared out the window. Her heart was a storm of fear and determination. She was getting closer to uncovering the truth, but she also knew that each step forward brought her into more danger than she had ever imagined. Alexander, driving with sharp focus, stole occasional glances at her. He understood how heavy this journey was for Cassandra."We can stop now if you want, Cass,"Alexander said softly but firmly."This isn’t an easy road."Cassandra turned to him, her eyes burning with unshakable resolve."I’m not stopping, Alex," she said firmly."Not until I find out who killed them."Alexander studied her for a moment before sighing. He knew she wouldn’t change her mind."Alright. But prom
Cassandra stood on Aunt Marrie’s porch, staring at the dark sky with empty eyes. The night wind blew through her loose hair, but she barely felt it. Her mind was consumed by one thing—the bitter truth that her parents had never truly been free from the world they tried to leave behind. Behind her,
Alexander’s car sped down the empty road toward the small village where Aunt Marrie lived. Inside the vehicle, Cassandra sat silently, her eyes gazing out the window while her mind wandered far away. Her fingers fidgeted on her lap, restless, reflecting the chaos in her thoughts. Alexander glanced
NYPD Headquarters –The Second Shocking Package That morning, Cassandra sat at her desk, her eyes still locked onto the documents she had received days ago. The truth about her parents’ deaths lingered in her mind like an unshakable fog. Even now, she didn’t know whether to trust Antonio or the doc
New York –The City Rising from Darkness Weeks after the downfall of Leonardo’s Mafia, New York was finally beginning to rise from the ruins of chaos. Citizens who had once fled returned to the city, trying to rebuild the lives they had left behind. Destroyed offices were being renovated, businesse












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.