LOGINFollowing the tragic yet heroin death of one of Atlanta's most cherished heroes fourteen years ago, the city has finally come to terms with the heavy loss except for a highschool teenager named Natasha Johnson who unlike her city; is not done with the past especially after she uncovers a dark secret that has been kept from her by her mother. This secret will come with yet another shocking discovery — one that will lead the fifteen year old into a completely new and an uncharted world as she grows up in her youth to become a force to reckon with alongside her friends and family but then again this discovery ends up putting the girl right into the vengeful path of an extremely dangerous enemy whose presence reeks of nothing but death and total destruction this begging the question—will Natasha have it in her to take down this adversary and finally fulfill her destiny and become the ‘Viper’ . . .?
View MoreJoko Irawan, sosok lelaki dengan perawakan tubuh sedang. Perkiraan tinggi 170 senti meter. Ditambah paras manis khas wajah lelaki Jawa. Pernikahannya telah berlangsung lima tahun dan belum dikaruniai seorang anak.
Kehidupan rumah tangga dengan segala problematika mulai dia jalani. Termasuk urusan ranjang.
“Apakah kehidupan pernikahan itu hanya bertolak ukur dari ranjang?”
Dia hanya mengangkat kedua pundaknya. Saat sebuah pertanyaan terlontar dari kawan wanita sekantornya.
“Serius ini pertanyaanku? Apa kalian para kaum lelaki, hanya memikirkan pernikahan dari urusan ranjang?” Kembali pertanyaan itu terlontar.
_oOo_
_Surabaya,2010_
Sore itu Joko Irawan diajak beberapa teman kantor untuk sekedar mencari hawa segar ala kota Surabaya. Sepakat mereka melaju ke arah jalan beraspal yang tidak seberapa lebar menuju gang yang terkenal sebagai salah satu tempat prostitusi terbesar di Asia Tenggara. Yaitu gang Dolly.
Para lelaki berbaju batik, sudah mulai sibuk dengan pekerjaan mereka mengatur lalu lintas jalan dan parkir. Mereka pun saling menawarkan rumah yang berisi wanita cantik, pada setiap mobil yang berhenti di kawasan itu.
“Maju, Bos! Stop … cakep!” ujar salah seorang lelaki berpakaian batik, memandu mobil Joko.
“Ini tempatnya?” bisik Joko yang seumur-umur baru kali ini ke gang Dolly.
“Iyo, mosok kamu enggak pernah ke sini, Jok?” sahut Yono.
Joko hanya menggeleng pelan.
“Enggak mungkin!” sahut Setyo dan dua orang temannya yang lain. Seperti kompak menyangkal ucapan Joko.
“Yo, wes kalau enggak percaya,” cetus Joko.
Tok tok tok!
Kaca mobil diketuk seorang lelaki berbatik. Joko menurunkan kaca jendela dan tersenyum.
“Opo, Cak?”
“Sudah dapat rumahnya belum, Bos?”
Sontak Joko menoleh pada Yono yang duduk sejajar dengannya di jok depan.
“Ada yang sip, enggak?” sahut Yono yang seperti nya sudah terbiasa ke tempat seperti ini.
“Buanyak, Bos. Mari aku antar Bos. Penghuninya banyak yang gress … pokoknya markotop,” ucap sang lelaki dengan mengangkat kedua jempol.
Seketika Yono berkedip , seolah memberi kode pada teman-temannya. Tak menghiraukan Joko yang tengah bergelut antara iya dan tidak.
“Ayo!” Yono menepuk bahu Joko keras.
Dia pun gelagapan. Akhirnya Joko turun mengikuti langkah Yono dan yang lain. Mengikuti sang lelaki berbaju batik.
Sampai lelaki itu berhenti di depan sebuah rumah yang terang benderang. Dengan jendela kaca yang sangat lebar. Hingga mereka yang berada di luar, bisa melihat dengan jelas. Apa saja yang ada di dalam rumah.
Pandangan mata Joko jelalatan. Saat melihat rumah yang berjejer rapi dibuat bak aquarium dengan hiasan wanita cantik di dalamnya saling duduk berjajar. Yono dan Setyo terkikik melihat tingkah Joko.
“Ini pengalaman pertama aku datang ke Dolly. Jadi enggak usah ngetawain!” seru Joko kesal.
Ucapan Joko langsung disambut gemuruh tawa Yono dan yang lain.
“Let’s go everybody!” ajak Yono pada keempat temannya. Mereka pun memasuki sebuah rumah yang tadi ditunjukkan oleh lelaki berbatik.
Saat menginjak lantai keramik rumah berwarna biru. Hati Joko langsung bergetar. Dia melirik pada Yono, Setyo dan kedua temannya yang lain. Mereka jauh terlihat tenang . Seperti bocah TK yang sedang diajak ke suatu taman bermain.
Sejenak Joko melupakan Ana yang sudah menanti di rumah. Biasanya wanita itu duduk di teras depan menunggu kedatangan sang suami. Sesaat hati Joko kembali berdesir.
“Ayok!” Setyo menarik lengan Joko yang masih terpaku di ambang pintu.
Ketika mereka masuk ke dalam. Para wanita cantik itu, mulai melambaikan tangan dan tersenyum ramah. Seolah menggoda mereka berlima. Keringat dingin semakin membasahi kening dan punggung Joko. Kedua lututnya pun ikut bergetar. Tak hanya jantung yang ikut berdebar.
Salah seorang wanita dengan senyum mengembang lebar. Langsung menyambut kedatangan mereka. Dia mengusap manja lengan Yono. Dari raut wajahnya dia berumur kisaran kepala empat.
“Mas e lagi cari yang model gimana?” ujar sang wanita berbisik.
Pakaiannya sangat minim. Hanya mengenakan gaun terusan yang sangat ketat. Bagian leher sangat rendah, seperti sengaja mempertontonkan bagian yang menonjol empuk. Rambutnya yang berwarna ungu kehitaman tergerai bebas. Sesekali dia mempermainkan rambutnya dengan senyum yang menggoda.
“Kok, pada malu-malu sih. Ada yang montok, rambut pendek, panjang, ada yang bokongnya gede. Ayo dong!”
Dia pun menarik lengan Yono untuk segera memilih. Tanpa malu Yono menunjuk seorang wanita muda kisaran dua puluhan. Lalu Setyo dan kedua teman yang lain pun memilih sesuai keinginan hati mereka.
Tinggallah Joko yang masih berdiri terpaku dengan mata melotot dan mulut terperangah. Belum pernah sebelumnya dia melihat banyak wanita cantik dan seksi seperti ini.
“Joko … woiii! Pilihen, Cuk. Jangan diam aja,” celetuk Setyo yang disambut gelak tawa teman dan para wanita itu.
Lalu Yono menghampiri Joko.
“Kamu lihat yang berbaju merah itu! Coba kamu perhatikan serius!”
Telunjuk Yono mengarah pada seorang wanita yang tengah melambaikan tangan, “Hai, Mas Joko!”
Sontak Joko menundukkan kepala. Jantungnya semakin berdegup kencang tak karuan. Apalagi harus menahan pipis sedari tadi.
“Lihatlah dulu wajahnya, Jok. Mirip istri kamu,” ujar Yono berbisik.
Sontak Joko mendongak.
“Mirip istri kamu ‘kan?” ulang Yono.
“Jancuk ! Ojo (Jangan) bawa-bawa istriku,” sentak Joko kesal.
“Sorry, Bro. Kalau kamu tak segera pilih aku tinggal. Tuh kamu lihat yang lain udah pada masuk.”
Tubuh Joko semakin gemetaran. Wajahnya pun bagai udang rebus. Menahan malu.
‘Kenapa aku juga nekat mengikuti mereka?’ Rasa penyesalan menyibak hati Joko. Dia pun terus menggaruk-garuk kepalanya.
Hanya tertinggal Yono yang masih menemani Joko. Dia memberanikan diri memperhatikan wanita berbaju merah tadi.
Joko mulai mencuri pandang sang wanita dari depan meja tamu. Memang tidak salah Yono bilang kalau wanita itu memang mirip dengan istrinya. Postur tubuh dan anatomi wajah sang wanita, memang persis. Hanya saja terdapat sebuah perbedaan yang menonjol.
‘Kenapa wanita ini terlihat lebih menarik?’
“Milih seng endi kon? Milih yang mana kamu ?” tanya Yono sambil menarik lengan Joko.
Merasa terdesak dan Joko tak tertarik pada wanita yang lain. Spontan dia menunjuk wanita bergaun merah. Rambut yang panjang hitam tergerai, langsung tersenyum padanya.
Sontak Yono terkekeh. Mungkin saat ini para wanita itu, juga mentertawakan sikap Joko yang konyol dan terlihat culun.
“Ayo, Mas. Ikuti saya!” Suaranya begitu merdu bak buluh perindu.
Joko pun masih terpaku di tempatnya berdiri. Namun wanita itu tak tinggal diam. Dia langsung menarik lengan Joko dan bergelayut manja.
Mereka berdua berjalan menuju sebuah lorong yang terdapat banyak kamar. Lalu naik ke lantai dua. Tak ada perbincangan yang terjadi. Hanya saja wanita cantik ini masih terus bergelayut di lengan Joko. Sangat pintar dia menggoda dan merayunya.
“Kenapa Mas gemeteran? Baru pertama kali ya?”
“Ehhh … iya!”
“Aku akan buat Mas Joko ketagihan mencari aku!” bisiknya lirih. Membuat dada Joko semakin berdebar-debar. “Itu kamarku, Mas! Aku jamin Mas akan ketagihan. Layanan aku sangat memuaskan.”
_II_
Hai readers. Jangan lupa tambahkan ke rak ya.
Jangan lupa juga baca cerita aku yang lain, Elegi Wanita Kedua, The Duke William ( 9 Istri ), Kuku Bu Sapto, Geishaku Karmila.
T H E Y S T O P P E D A T Natasha's place where Lucas helped her set up the new Life Cell before arriving at Carter•Labs towards the afternoon."Hello?" called Natasha at the entrance."Shouldn't there be like security for this place?" Lucas asked, still marvelling at the size of the building.A whirring sound followed the moment Natasha set foot at the entrance and a machine that looked like a large kind of gun appeared right in front of Natasha."You sure you've been here before?" Lucas asked, wanting to pull back Natasha from the entrance.A bright green beam of light then flowed out of the machine and traced down Natasha's body from head to toe.Identity confirmed. Natasha Austin-Johnson.It was an automated voice that came from the interactive consciousness installed in the
J E N N A G O T H O M E from the hospital just in time to find her daughter alighting the school bus.She grabbed her and hugged her, almost squeezing the life out of her."Mom, it was just three days!""Well, you're still my daughter and nobody's taking that away from me, so deal with it!" Jenna said comically, hugging Natasha even tighter."I missed you too, mom."Natasha was more than relieved to learn that her mother had no idea of what had happened back in New York. She would have been freaking out as if the embrace for having not seen her for less than three days wasn't enough.The beeping noise of the alarm startled Natasha after which she suddenly found herself lashing out her left hand and hitting the device to make it stop.Her face was smothered into a pillow and did not feel like getting out of be
"W E A R E S O dead!" began Cassie after she, Natasha, Lucas and Bianca got back to the museum only to find out that everyone was gone — the students, that is."Hey, why were you following us?" Cassie turned to Bianca.She gave a faked surprise expression."I don't know what you're talking about.""You...""Speaking of death," Lucas cut in, "Here comes Mr.Gilbert."The History teacher appeared from an office while walking with a security guard. His face clearly showed he was furious or was it concern and/or relief?"Where have the four of you been?""I was the one who saw them sneak out!" Bianca blurted out."Nice going, genius!" Cassie shot back, "and that's how I know you followed us!"Bianca rolled her eyes."Ok, the important thing is that all of you
N E W Y O R K C I T Y. They got there towards noon as the coach cruised through Manhattan."We're here!" said an exhilarated Cassie Richards, dragging Natasha out of the bus.Natasha took a moment, observing the scenery filled with skyscrapers with jumbo-trons and the streets lined with theaters as well as yellow taxi cabs moving to and fro on the freeways."Well, it's pretty much like Atlanta but way bigger and with taller buildings, I guess," Natasha said.They got to the entrance of the Museum of Natural History where they were lead through the reception by a guide. Lucas lagged a little behind to look at the statue erected in front of the museum which depicted a sculpture of a man riding a horse.


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.