CAN'T STOP (INDONESIA)
CAN'T STOP (INDONESIA)
Author: Psychopath Tender
PROLOG

    Di tengah gelapnya ruang rahasia yang menjorok ke bawah, tersembunyi di bawah rumah besar dan berdampingan dengan tanah. Sebuah basement, atau orang-orang sering menyebutnya dengan—ruang bawah tanah. Di sanalah, gadis malang itu terkurung. Sendirian, berteman sepi.

    Ruangan dengan pencahayaan sekadarnya itu seolah menggambarkan apa yang tengah gadis itu rasakan. Dirinya terikat di sebuah ranjang, tanpa sehelai benang pun yang melekat di badan. Tubuhnya berbalut peluh. Dadanya kembang-kempis, naik turun tak beraturan. Sorot matanya kosong, hanya ada genangan air yang terlihat.

    "Kau paham kesalahanmu?" Suara berat seseorang menyapa. Dengan gerakan patah-patah, Julia menolehkan kepalanya, menatap kedatangan seorang pria dengan ekspresinya yang datar. Sorot mata pria itu ... menyeramkan. Aura dingin begitu terasa sejak kehadirannya. Seperti menusuk-nusuk setiap rongga tubuh Julia.

    Bibir pucat itu terbuka perlahan. "Apa yang ... akan ... kau lakukan padaku?" tanyanya susah payah. Sorot matanya terlihat menunjukkan ketidakberdayaan, setelah terpaksa menangis semalaman penuh.

    Sosok itu mendekat, naik ke atas tubuhnya dan mencengkeram kuat rahang sang gadis. Julia merasakan getar ketakutan itu begitu terasa di dasar hatinya. 

    "Apa yang sudah kulakukan, katamu?" Cengkeraman di wajah sang gadis Peterson mengencang. Julia bahkan bisa merasakan kuku-kuku jari si pria yang menekan permukaan kulitnya dengan kuat. Rasanya menyakitkan.

    "Harusnya aku yang bertanya sesuatu padamu." Tangan besar itu mengusap pipi Julia dengan lembut, dengan tatapan yang menyiratkan kebencian yang begitu besar. "Kau harusnya melakukan pembersihan dosa. Kalian pembunuh."

    "Ka-kami tak salah a-apa-apa ...."

    PLAK! 

    "Ah!" Sebuah tamparan mendarat di pipi halus Julia. Suaranya begitu kencang, sampai memecah kesunyian di ruangan dengan cahaya yang temaram itu.

    Sebulir cairan bening menetes begitu saja dari telaga bening sang gadis. 

    "Tak melakukan apa-apa katamu?" Nada suaranya langsung naik.

    "TAHUKAH KAU, APA YANG SUDAH KAKAKMU LAKUKAN TERHADAP KELUARGAKU, SIALAN?!"

    Dengan cepat, sosok tersebut menjangkau leher Julia, mencengkeram kuat leher sang gadis hingga gadis itu tak bisa berkutik sama sekali. Julia terbatuk-batuk, wajahnya memerah, paru-parunya kekurangan napas, lehernya terasa sakit saat pria itu mencekiknya brutal.

    "KAU JALANG! KALIAN SEMUA SIALAN!"

    Julia menangis. Dia akan mati saat itu juga ... pasti. Tapi dia tak tahu ... bahwa semuanya akan terjadi secepat ini. 

    Tiba-tiba cekikan di lehernya melonggar, tangan besar itu mulai menjauh. Julia yang lemas hati maupun pikirannya tak bisa memberikan respons apa-apa saat pria itu melepaskan ikat pinggang di celananya.

    Dan saat itu juga, jeritan penuh nelangsa terdengar, tetapi tertutupi begitu saja di ruang bawah tanah yang kedap suara.

    Julia merasa hancur, detik itu juga, saat kekasihnya—Jacob—memperkosanya dengan beringas. Meremukkan segala yang ada pada dirinya. Menghancurkan setiap impian yang telah dia buat selama ini.

    Jacob menggagahinya bagaikan orang yang kesetanan, menyesap seluruh permukaan kulitnya dan meninggalkan jejak ungu kemerahan yang tampak mengerikan.

    Memaksa masuk ke dalam dirinya yang masih sempit, dengan milik pria itu yang besar.

    Jerit tangis terdengar memekakkan telinga. Julia menangis, mengiba-iba memohon ampunan. Sebuah tamparan kencang ia terima, pipinya memerah begitu saja.

    "Kau merasa hina, benar, kan?" tanya Jacob seraya melepas ikatan yang melilit kedua tangan Julia. Lalu dia membalikkan tubuh sang gadis, dan memaksa gadis itu bersimpuh dengan bagian belakang terangkat ke arahnya. Dengan rambut terjambak, Julia kembali menjerit saat Jacob memaksakan kejantanannya masuk dari posisi belakang.

    Dirinya hancur, tak lebih dari wanita yang kehilangan harga dirinya di ranjang, akibat sebuah pemerkosaan. Dari ... lelaki yang sangat dia cintai.

    "Kau harus tahu ...." Jacob mengentakkan miliknya sekali lagi, Julia menjerit, dirinya remuk untuk sekali lagi, seluruh tubuhnya merasa sakit yang tak terperi. Terutama di bagian kewanitaannya.

    Jacob kembali melanjutkan kata-katanya, "Bahwa semua yang akan kau dapatkan nanti ... semua bermula dari satu orang terdekatmu."

    "Kau tahu siapa itu?"

    Julia dapat merasakan sesuatu mengalir di kewanitaannya, terasa begitu perih dan menyiksa.

    Jacob menarik rambut Julia kembali, memaksa gadis itu menengadahkan wajah ke arahnya. Lalu menatap tajam sang gadis Peterson. "Kakakmu," desisnya. "Kakakmu penyebab semua kegilaan ini."

    "Keluargamu ... penyebab semua kemalangan di keluargaku! Kehidupan kami hancur! Dan apa yang kau dapatkan hari ini, adalah buah atas perbuatan masa lalu orang itu."

    "AH! HENTIKAN!"

    Jacob semakin mendorong dirinya masuk. Julia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Dirinya remuk, begitu pula dengan hatinya. Kesadarannya perlahan-lahan teralihkan. Julia memejamkan kedua matanya perlahan, dan ambruk begitu saja di ranjang berseprei putih bersih.

    Cairan merah kental mengalir, menodai kasur, keluar dari kewanitaan sang gadis yang merasakan kebrutalan dari ruda paksa itu.

    Jacob hanya memandang diam dengan sorot mata yang kosong. Itu bukan dirinya. Sama sekali bukan dirinya yang Julia kenal selama ini. 

Comments (1)
goodnovel comment avatar
PsychopathTender
Awal yang menyakitkan untuk sebuah kebahagiaan~
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status