Share

Bab 8 Gadis yang jatuh dari pohon, Malaikat?

Aku pun mulai mengeluarkan handphone dari dalam tasku, lalu mulai menghubungi ibuku. Deringan telpon berbunyi, menunggu beberapa saat untuk terhubung yang tidak lama kemudian telponku diterima oleh seseorang yang tidak lain adalah ibuku.

“Hallo, An!”

Aku mendengar suara ibu, aku merasa senang bercampur sedih.

“Ibu, ini aku An. Aku ingin bicara dengan ibu. Apa ibu punya waktu sebentar untukku?”

“An! Syukurlah kamu baik- baik saja, dimana kamu sekarang? Ibu harap kamu tidak kembali. Jangan pernah kembali kemari An. Pergi lah sejauh- jauhnya, jangan pernah kembali An” ucap ibu dengan nada bicara senang bercampur sedih.

“Ibu, apa yang terjadi? Katakan padaku, apa yang terjadi?”

“Maafkan ibu, An? Ibu sudah tidak bisa menahannya lagi. Pergilah sejauh mungkin yang kamu bisa! Jangan khawatirkan ibu. Ibu akan baik- baik saja disini. Kamu jangan pernah kembali. Aku tidak mau kamu mengingat tentang keluarga ini lagi. Lupakan kami, An. Carilah keluargamu, carilah kehidupanmu sendiri. Kami akan baik- baik saja!” ucap ibu.

“Ibu, aku ingin menanyakan sesuatu padamu ibu. Benarkah ibu membuangku?” tanyaku padanya.

Tetapi mendadak aku tak lagi mendengar suara telepon terhubung.

“Ibu, ibu. Apa ibu masih disana? Ibu?” ucapku mulai cemas. Aku terus memanggilnya dan melihat ponselku yang tidak lagi terhubung. Perasaan cemas pun mulai menghantui diriku, aku mulai sedih dan teringat akan apa yang dikatakan oleh ibuku. Aku yakin telah terjadi sesuatu disana, hingga ibu mengatakan sesuatu seperti itu padaku.

“Ibu, apa yang terjadi disana? Aku harus mencari tahu apa yang terjadi disana, aku harus! Ibu tidak mungkin melakukan hal seperti ini padaku” ucapku.

Sisi lain, tak jauh dari tempat ini. Seorang pria sedang berjalan dengan pria lainnya. Ada empat pria sedang berjalan menuju arah pohon besar, mereka membawa senjata pedang, dan panah. Pedang dan panah mereka memiliki hiasan batu kristal yang menarik dengan cerita legenda tersendiri. Pedang dan panah itu bukan lah dua benda yang dibuat dengan mudah, semuanya mengandung hal mistis seperti kekuatan sihir.

“Ah, ya ampun! Aku benar- benar pusing, ayah dan ibu lagi- lagi mengadakan pesta yang tidak jelas!” keluhnya saudara keempat atau si sulung.

“Ya, mau bagaimana lagi. Kerajaan kita damai, sejahtera dan rakyat berkecukupan. Ayah dan ibu sangat senang, apalagi hasil panen kali ini sangat bagus kan?!” jawab saudara ke tiga.

“Ya, pesta ini pasti ditujukan untuk para dewa. Ya, apa itu masalah untuk dua adikku ini?” tanya saudara kedua.

Saudara keempat dan ketiga hanya tersenyum manis, lalu saudara keempat menjawab “Tidak kok! Aku hanya bingung, tidak adakah waktu berlatih dan sedikit bersantai? Jika terus seperti ini, apakah akan baik bagi kerajaan? Ini sepertinya pemborosan!”

“Hahaha... kenapa kalian berkata begitu? Semua pesta itu diadakan untuk menarik banyak orang, dan membuat pedagang- pedagang berdatangan. Kamu tahu apa jadinya? Akan ada banyak pendapatan bagi rakyat, dan kejahatan sedikit meningkat. Untuk itu lah ayah dan ibu meminta pengawasan di kota. Kalian mengerti kan?” ucap saudara pertama.

“Ya, tentu saja kakak! Kami mengerti, kami hanya tidak suka para gadis sedikit mendekat! Haha... tidak ada kebebasan, tapi sekarang terasa lebih bebas!” jawab saudara ketiga.

Saudara pertama, atau kakak pertama hanya tersenyum manis. Ya apa yang dikatakan adik ketiga ada benarnya, sekarang terasa lebih bebas tanpa ada gangguan.

Keempat pria itu berhenti di pohon besar, mereka semua mulai berlatih di bawah pohon besar ini.

Udara pagi yang sejuk berhembus menerpa dedaunan, ke empat pria itu tampak berlatih dengan serius. Bahkan mereka melakukan pemanasan sebelum latihan.

Sementara itu keberadaan An, ia masih berada di atas pohon sibuk dengan ponselnya. Ia terus berusaha mencari tahu keberadaan dirinya dan keadaan ibunya saat ini.

Aku terus saja memainkan ponselku tanpa henti. Aku membuka Maps untuk mencari tahu lokasiku saat ini, tetapi anehnya Maps di ponselku ini tidak berfungsi. Maps ini tidak menunjukan suatu tempat yang jelas, ia menunjukan titik keberadaanku terakhir yang tidak lain adalah di apartemen. Tetapi sekarang jelas aku tidak disana, aku berada di tempat yang aneh. Aku pun mencoba menghubungi ibuku kembali, bahkan saudariku tetapi tidak ada jawaban. Aku mengirimkan pesan, tetapi operator selalu menolak pesan yang kukirimkan. Aku mengirimkan email pada mereka, tetapi tidak dibalas dalam waktu yang dekat. Ini sangat aneh, mereka seakan- akan benar- benar telah menghapus jejak keberadaanku di keluarga itu. Dengan terpaksa aku menghubungi ayah. Aku menunggu beberapa saat agar ponselku terhubung dengannya. Aku menyadari meski ibuku telah melarang diriku menghubungi ayah, aku akan tetap menghubunginya. Aku ingin tahu apa yang telah terjadi disana.

Tidak lama kemudian, telponku terhubung. Tetapi bukan ayah yang menerima telepon itu melainkan orang lain, entah siapa tetapi dia adalah seorang pria yang tak kukenal.

“Hallo, ini siapa ya?”

“Maaf, apakah disana... ada ayahmu?”

“Oh ayahku ya? Dia sedang pergi, aku tidak tahu kemana. Dia meninggalkan ponselnya disini. Apa kamu ingin bicara dengan ibuku? Namamu siapa?”

“Aku....(menyamarkan nama) namaku Hil, aku rekan ayahmu. Aku ingin tahu apa yang dilakukannya beberapa hari ini, aku ingin tahu keadaannya, itu saja!”

“Oh ternyata kamu rekan kerja ayah ya?  Aku adalah ...( berhenti bicara karena ibunya memanggil namanya dan menanyakan dengan siapa ia bicara di telepon ini)”,

Kudengar di telpon perbincangan keduanya.

“Siapa yang menelpon?”

“Rekan kerja ayah, Ibu. Namanya Hil. Dia ingin tahu keadaan ayah sekarang!”

“Oh, benarkah? Sebaiknya kamu kembali ke kamarmu, ibu sebentar lagi akan ada tamu. Kamu tetap di kamar saja, belajar dengan rajin ya agar kelak dapat menjadi orang yang sukses?!”

“Ya Bu!” jawabnya.

Anak laki- laki ini pun bergegas pergi, aku rasa dia tidak menutup telponnya sekarang dan perempuan yang sebagai ibu dari anak ini tidak mempedulikan dengan telepon ini. Sepertinya mereka memang tidak menyadari akan telpon ini masih terhubung.

Aku tidak menutup telponnya begitu saja, aku ingin tahu apa yang terjadi disana. Tidak beberapa lama kemudian, aku kembali mendengar perbincangan seseorang dengan perempuan dari anak yang menerima telepon dariku. Handphone berdering, dan perempuan itu segera menerima telepon itu.

Denger perbincangan diantara mereka.

“Apa kamu sudah membereskan keluarga itu?” ucap perempuan dari anak laki- laki.

Tetapi aku tidak bisa mendengar apa jawaban dari penelpon itu, aku hanya mendengar apa yang dikatakan oleh perempuan dari anak laki- laki.

“Baguslah, aku sangat senang kamu sudah menyingkirkan keluarga sialan itu!”

“Benarkah? Baguslah, aku tidak sabar untuk besok melihat keluarga itu dalam berita. Kamu yakin sudah membereskan semuanya?”

“Bagus, aku percayakan semuanya padamu. Jangan bawa-bawa nama keluargaku jika polisi telah mengetahuinya, aku tidak akan segan-segan juga membawa nama keluargamu. Kamu mengerti?”

“Oh, soal bayaran. Tenang saja. Setelah aku mendapatkan seluruh harta kekayaan keluarga itu, aku akan membayarmu seperti yang telah ku janjikan padamu. Tenang saja, aku bukan seorang pengkhianat!”

Tak lama kemudian, sepertinya telpon itu telah terputus. Apa yang kudengar sungguh dapat membahayakan diriku jika diketahui mereka akan hal ini. Tetapi yang membuatku tertarik dengan perbincangan ini, keluarga manakah yang menjadi korbannya?. Aku harap ayah segera datang dan menghentikan perbuatan bejat perempuan itu.

Kudengar lagi kata- kata yang keluar dari mulut perempuan itu, “Hah, akhirnya aku berhasil menyingkirkan keluarga bodoh itu. Ya sekarang yang harus kulakukan adalah bersandiwara pada semua orang. Aku harus membuat semua ini berhasil. Xio Na, lihat kan? Aku sudah menyingkirkanmu dan keluargamu itu, lain kali jadilah pria yang baik untuk keluarga ini. Dan kamu pasti akan mengingat semua yang telah kulakukan, aku harap kamu menyukai semua ini. Hahahha....”

Aku yang mendengar ucapan perempuan itu sontak kaget, aku mulai berpikir sesuatu telah menimpa keluargaku disana. Aku berpikir perempuan ini telah membunuh keluargaku. Sontak aku langsung syok, dan menangis. Aku tidak langsung mematikan ponselku, melainkan segera menyimpan rekaman perbincangan yang kudengar lewat ponsel ini. Ponselku selalu melakukan hal otomatis saat menghubungi seseorang. Ponselku telah mengatur rekaman ini sejak awal, dan aku secepatnya menyimpan rekaman ini lalu mengakhiri komunikasi ini.

Aku tidak boleh panik dan menduga berlebihan tentang keluargaku, aku pun secepatnya meminta bantuan orang lain yang tidak lain adalah tetanggaku yang dulu, dan kini dia sudah pindah tetapi aku masih menyimpan ponselnya saat aku masih serumah dengan ibuku. Aku pun mengirimkan pesan padanya, “Pagi Bibi Mei, ini aku An. Aku baik- baik saja disini. Aku ingin meminta bantuan bibi, bisakah bibi datang ke rumah ibuku? Aku merasa ibuku dalam bahaya. Sekarang aku tidak bisa kesana, aku tidak tahu aku dimana. Ibuku memintaku untuk tidak pulang ke rumah. Bibi, jangan katakan pada siapapun jika aku telah mengirimi bibi pesan. Kumohon pada bibi untuk segera menghapus pesan ini secepatnya, dan datang lah ke rumah ibuku. Katakan padaku, apa yang telah terjadi disana.”

Comments (2)
goodnovel comment avatar
nracn
ceritanya bikin nagih,ga sabar buat baca semuanya btw kalo ada sosmed aku mau dong an~
goodnovel comment avatar
Suci Saraswati
Bagus ceritanya, semangat ya beb ?
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

DMCA.com Protection Status