It's Ours
It's Ours
Author: lalalandecember
[1] A SUCKER FOR MORE

"Gue masih di sini, jagain jodoh orang lain."

- Jasmine Annisya, It's Ours

🎀

Snap!

Snap!

Snap!

Snap!

"Done." Shyla mengerang, berdiri dari posisi jongkoknya. Jasmine benar-benar membuatnya bekerja mengeluarkan keringat di pagi hari yang cerah ini. Bisa dihitung berapa jarak mereka dengan sekolah saat itu. Jaraknya tidak sampai 50 meter. Dan gilanya lagi, Jasmine belum memakai seragam sekolah, hanya karena dia ingin berfoto di taman saat pagi hari.

Shyla memberikan kembali smartphone keluaran Apple milik Jasmine, smartphone keluaran terbaru. Jasmine harus selalu update dalam masalah apapun, itu sudah menjadi naluri seorang Jasmine yang sekarang menjadi instagram famous.

"Thanks, La." Jasmine tersenyum puas dan lebar, mencubit pipi Shyla lalu mengambil ponselnya dari tangan Shyla. "Lo emang yang terbaik. Yuk, kita ke sekolah. Gak mau telat, kan?"

Shyla memutar bola matanya dengan jengah. Ini bukan salahnya mereka akan telat seperti ini. Semua dilakukan demi sebuah foto yang akan diposting di instragram. Hanya itu dan kalau dipikir lagi, ini benar-benar gila.

Setelah Jasmine mengganti baju di toilet umum yang berada taman, dia menggandeng tangan Shyla. Dia menyambarnya dan mulai berjalan menuju ke sekolah yang jaraknya tidak jauh. Murid-murid ada yang berlarian menuju gerbang karena takut terlambat. Tapi, hari ini adalah hari bebas. Karena hari ini adalah class meeting. Mungkin ini adalah acara yang paling ditunggu-tunggu oleh Jasmine. Banyak alasan yang membuatnya menunggu-nunggu.

Satu, karena dia bisa melihat kakak kelas yang gantengnya tidak tertahan. Apalagi anak basket, tinggi-tinggi, badan seperti roti sobek, gagah pula. Bukankah itu impian semua cewek? Sudah pasti.

Kedua, dia bisa berfoto ria. Kakak kelas tidak akan ada yang menolaknya jika diajak untuk berfoto dan pasti banyak juga yang ingin meminta foto bersama untuk di pajang di instagram, agar selalu update.

"Pagi, Pak." Sapa Jasmine dan Shyla bersamaan dengan ceria kepada guru yang berjaga di pintu gerbang.

"Pagi." Sahut guru tersebut dengan datar.

Jasmine dan Shyla masuk ke dalam sekolah dan langsung menempati tempat duduk VIP, yang bisa melihat semua kegiatan berlangsung saat acara class meeting di mulai nanti.

Lama kelamaan, lapangan sekolah mulai terisi dengan para murid. Banyak murid yang duduk mengitari lapangan. Dan disitulah Jasmine dan Shyla berada. Barisan paling depan dan paling spot on.

"Selamat pagi semua." Ketua osis, Tyas menyapa melalui mikrofon yang ia genggam. Acara ini bergerak di bawah tangan osis dan di dukung oleh pihak sekolah. Jadi pihak sekolah hanya memantau kegiatan ini agar berjalan dengan lancar.

"Pagi." Dengan serentak semua murid menjawab. Siapa yang tidak terpesona dengan pesona ketua osis Tyas? Semua laki-laki menginginkannya dan semua perempuan ingin menjadi dirinya, kecuali Jasmine. Dia hanya ingin menjadi dirinya sendiri dan berkilau dengan usahanya sendiri.

"Ehem, ehem, enak ya pagi-pagi gini gak harus pusing belajar." Tyas memulai acara. Dia menebar senyum ke seluruh murid. Senyum ramahnya yang selalu membuat orang lain iri.

Terdengar gemuruh tawa dari barisan penonton.

"Mau langsung di mulai aja atau mau intermezo dulu?" Tanya Tyas kepada kumpulan siswa dan siswi di lapangan. Walau di pinggir lapangan ramai, di tepi lorong juga banyak diisi oleh kebanyakan siswi yang tidak mau terkena cahaya matahari langsung.

"Danny! Danny! Danny!" Suara panggilan yang tiba-tiba terdengar, memanggil nama siswa yang mereka percaya adalah siswa terlucu di SMA ini.

Tyas puas mendengar kerumunan ini bersorak untuk Danny, teman mereka. "Yaudah gak perlu berlama-lama lagi. Ini dia, Danny!" Panggil Tyas dengan bersemangat. Dia tidak mau kalah semangat dengan yang lainnya.

Sang Danny yang dieluh-eluhkan oleh seluruh murid SMA berlari kecil menuju tengah lapangan. Di jalan saat ia akan ke lapangan, Tyas sudah menyodorkan mikrofon kepada Danny dan tidak lupa memberi dia semangat. Lalu Danny menyapa 'fans'-nya yang membuat kerumunan semakin bersemangat.

"Makasih, makasih, makasih." Ucap Danny, menggerakkan tangannya untuk menyuruh kerumunan diam. "Ssttt." Dia bersiul, masih mencoba untuk membuat kerumunan berdiam. Karena dia akan memulai acaranya.

"Gini nih, ya. Kalau cewek-cewek kehausan cowok tampan disekolah." Danny menyengir, terkekeh. "Ssttt, cowok tampan ingin stand-up. Awas lo ya kalo pada gak ketawa." Ancam Danny dengan nada bergurau tentunya. Itu mendapatkan sambutan tawa dari kerumunan.

"Jadi gini, tadi malem kan gue udah nyiapin nih, buat inian, acara perdana gue. Nyiapin topik buat gue bicarain di depan lo semua, sampe gue begadang. Gue bela-belain demi tampil di sini. Biasanya mah gue gak mau tampil gratisan, tapi malah gue yang bayar!" Gelak tawa pecah, ada yang tertawa geli sampai ada yang tertawa sinis.

"Terus, pas gue sampe di sekolah. Gue lupa markir dimana tuh motor gue. Terus gue inget, kalo gue ternyata gak punya motor, bisanya cuma nebeng doang." Danny terus melakukan stand-up sampai akhirnya acara inti di mulai. Ada yang benar-benar tertawa lepas, ada juga yang dipalsukan dan ada juga yang tidak mempedulikannya sama sekali. Lalu di akhir acara, Danny meminta kerumunan untuk merapat, karena dia ingin mengambil gambar dan jadi lah foto bersama SMA Jakarta 1.

Wakil ketua osis, Akbar, mengumumkan olahraga apa saja yang akan dipertarungkan dan antara kelas mana dengan mana. Setelah Akbar selesai membacakan, dia memasukkan kertas kecil itu ke dalam saku baju. Lalu dia menatap tangannya yang sekarang sudah kosong. "Tangan gue kosong banget. Gandengan yuk?"

Akbar menatap pada satu titik, satu orang yang berada di kerumunan. Ternyata dia sedang menatap ke arah Jasmine. Bukannya Jasmine berbesar kepala, tapi dia hanya memberikannya bantuan. Dengan senang hati Jasmine berdiri dan berlari, mengambil uluran tangan Akbar. Surakan iri dan gembira menghantar mereka pergi keluar dari lapangan.

Akbar dan Jasmine hanya sebatas teman dekat tanpa hubungan yang jelas, karena mereka memang hanya sekedar teman. Akbar menjalankan hidup percintaannya sendiri, begitu juga dengan Jasmine. Jadi, mereka memang hanya sebatas teman dekat.

Jasmine sering memposting foto mereka berdua di instagram miliknya dan ada beberapa orang menyimpulkan kalau mereka memiliki hubungan yang lebih dari teman, tapi mereka juga tidak membantahnya dan juga mengkonfirmasi. Mereka hanya senang menjalankan pertemanan yang seperti ini.

"Lha, temen gue, gue tinggal sendiri." Jasmine menepuk dahinya sendiri. Dia sudah meninggalkan Shyla di lapangan seorang diri. Dan Shyla lah yang seharusnya berada di posisi Jasmine saat ini.

"Tenang, gue udah kabarin dia." Akbar mengalungkan lengannya pada leher Jasmine sambil mereka terus berjalan menuju ke kantin.

"Oke, oke." Jasmine berkata dengan senyum riang.

Jasmine dan Akbar mengambil duduk di meja kantin dengan masing-masing minuman botol di hadapan mereka. Akbar mengacak rambutnya yang sedikit berkeringat untuk mengundang angin untuk masuk ke sela-sela rambutnya. Udara panas memang bisa mempengaruhi mereka.

"Jadi, gue sama anak yang lain bikin wall of fame. Letaknya ada di samping sekolah, cari tempat yang luas. Lo pasti mau liat, gue yakin lo pasti langsung jatuh hati sama tuh benda." Akbar mengiming-iming Jasmine. Karena dia tahu kalau Jasmine lemah dengan yang namanya aesthetic dan foto. Jika kedua unsur itu dijadikan satu, itu artinya instagram Jasmine akan meledak.

"Pasti." Jasmine mengangguk, membuka tutup botol minumannya dan meneguknya langsung dari botol.

"Lo ngangguk-ngangguk kenapa?" Shyla yang baru datang langsung menimbrung. Dia mengambil duduk disebelah Jasmine. Dia merasa dia tahu apa yang akan menjadi jawaban Jasmine. Karena dirinya sudah tahu lebih dulu.

"Kita harus cek samping sekolah. Harus." Shyla mengerti.

"Wall of fame?" Jasmine memberikan tatapan terkejut.

"Lo udah tau?" Tanyanya sambil menutup botol. Dia memegangi botol yang sudah tertutup, tubuhnya sedikit bergeser, menatap Shyla. Dia tidak percaya kalau dirinya kurang update. Jasmine menggerutuki dirinya sendiri dalam hati. Dia tidak pernah tidak update, tapi sekarang itu terbukti.

"Nih orang." Shyla menunjuk Akbar dengan jari kelingking. "Gak pernah gak ngasih tau gue tentang kegiatan osis. Sebelum itu pun jadi, gue udah tau." Perjelas Shyla. Dia memberikan tatapan tajam kepada Akbar.

"Iya, tau deh gue yang punya pacar waketos." Cibir Jasmine, sekarang merasa terpinggirkan. Memang selalu begitu, di saat tidak ada Shyla, Akbar akan bersamanya. Dan di saat Shyla datang, dia terlupakan. Benar-benar teman sejati!

"Tenang. Lo bakal foto kok di wall of fame. Lo bakal suka, karena, polaroid!" Shyla menekan kata polaroid dan memberikan senyum miring kepada Jasmine.

"Argh, gak suka gue pake baju sekolah gini." Geram Jasmine. Karena dia akan mengambil banyak sekali gambar, tapi dengan seragam sekolah. Jasmine paling tidak suka.

Jasmine dengan dramatis menjatuhkan kepalanya ke atas meja di atas lengannya. Shyla dan Akbar dengan kompak terkekeh melihat Jasmine seperti orang yang tersiksa. Jasmine paling lemah dengan yang namanya berfoto dan instagram.

"Jadi, gimana kabarnya 251k pengikut instagram lo? Kalau lo kayak gini, berantakan, nanti pengikut lo berkurang, gimana?" Shyla menghantui pikiran Jasmine, yang membuat Jasmine tambah mengerang. Dia bisa gila kalau terus seperti ini.

"Gak. Gak boleh!" Dia menghentak, tidak terima dengan kenyataan itu. Itu tidak boleh terjadi. Mimpi buruk jika itu benar terjadi.

Jasmine memang sayang dengan seluruh pengikutnya di instagram, tapi Jasmine masih lebih sayang dia.

Related chapters

DMCA.com Protection Status