Saling Melindungi

Enjoy Reading.

***

Aku berjalan menelusuri lorong istana dengan riang, bermaksud mengajak kakakku Daniel bermain di taman, tapi saat tidak mendapati dia di mana pun, akhirnya aku bermaksud menuju kamarnya, siapa tahu dia sudah kembali dari mana pun dia pergi tadi.

Aku sengaja memilih masuk lewat pintu penghubung di kamarku yang memang langsung menembus ke kamarnya, membuka pintu sepelan mungkin agar bisa mengejutkan dirinya, aku melihat Daniel di sana sedang berbaring di ranjang, tapi tidak sendirian, ada Mommy bersamanya, karena rasa usil dan kepoku meningkat, akhirnya aku menunduk dan bersembunyi di balik rak buku, ingin tahu apa saja yang dibicarakan Mommy dan kakakku jika sedang berdua.

"Demammu sudah agak turun, tapi obat ini harus tetap dihabiskan, Mom tidak mau alergimu kambuh lagi." Perkataan Mommy membuatku mengernyit heran, Daniel demam? Kenapa tidak ada yang memberitahu aku kalau kakakku sedang sakit.

"Aku tidak apa-apa, Mom, justru aku merasa sangat tidak berguna karena jatuh sakit hanya gara-gara seekor lebah."

"Sayang, kamu baru 7 Tahun, kamu tidak bisa menjadi sekuat ayahmu."

"Tapi, Mom! Mommy, kan, tahu Jojo sangat mengandalkanku untuk bisa melindungi dirinya, dan bagaimana aku bisa menjaganya kalau aku juga lemah, masa hanya gara- gara mengambil apel dan di sengat lebah aku jatuh sakit? Itukan sama sekali tidak elite."

Mommy tertawa pelan. "Sudah, tidak apa-apa. Mom

tidak akan memberi tahu yang lain kalau kamu sakit, kok." "Terima kasih, Mommy."

"Baiklah, mommy harus pergi, kamu jaga diri dan Jojo baik- baik ya."

"Pasti Mommy."

"Mom tunggu." Aku melihat Daniel menggenggam lengan Mommy dan mencegahnya pergi.

"Ada apa lagi, Sayang?"

"Aku pernah mendengar dari Kakek, ada serum atau apa pun sebutannya yang bisa meningkatkan kekuatan tubuh manusia melebihi manusia yang lainnya. Apakah Mom mau menyuntikkannya padaku?"

Aku hampir tersedak mendengarnya dan sepertinya Mom juga. Apa- apaan dia itu, apa yang ada di otaknya sehingga mau melaukan hal berisiko sebesar itu?

"Kenapa kamu menginginkan itu, Sayang?"

"Karena aku ingin lebih kuat dari siapa pun, aku ingin bisa diandalkan, aku ingin bisa melindungi semua yang dekat denganku. Terutama Jojo."

Aku terpaku mendengarnya, sebegitu sayangkah Daniel padaku, sampai rela melakukan hal seperti itu?

"Mom harus membicarakan ini dengan Daddy-mu

dulu oke?"

Lalu setelahnya aku tidak mendengar suara apa pun selain pintu yang sudah tertutup, aku menutup mulutku dengan kedua tanganku, agar tidak mengeluarkan suara apa pun, dadaku terasa sesak. Kenapa kakakku sebegitunya menyayangiku? Rela tersengat lebah hanya demi sebuah apel yang bahkan hanya aku makan separuhnya saja, aku jadi merasa aku ini adalah Adik yang paling tidak tahu terima kasih.

Setelah waktu berjalan lumayan lama, aku beringsut dan melihat kakakku yang sepertinya sudah tertidur lelap karena efek obat yang diminum olehnya. Aku memandang wajahnya yang sama persis dengan wajahku, kami kembar, tapi kenapa dia bisa lebih dewasa daripada aku? Kenapa dia selalu dengan sabar menghadapi kenakalan dan keusilanku? Apa bedanya aku dengan dirinya? Tidak kita sama sekali tidak berbeda, bahkan detak jantung kita selalu seirama. Jika dia bisa mengorbankan dirinya untuk melindungi aku maka aku juga bisa mengorbankan diriku untuk melindunginya, walau caraku akan sangat berbeda.

Aku kembali ke kamarku dengan berjalan sepelan mungkin agar tidak terlalu mengganggu Daniel yang masih tertidur, aku membulatkan tekad dan langsung keluar dari kamar menuju ruangan kakekku, kakek yang akan selalu mendukung dan menuruti keinginanku.

***

"Kamu  yakin  ingin  melakukan  ini?"  tanya  kakekku sekali lagi seperti saat pertama kali aku mengutarakank  keinginanku dan sekarang disinilah aku berada di laboratorium khusus milik kakekku.

"Tentu saja aku yakin Kakek, kalau Daniel bisa mendapat serum penguat tubuh, kenapa aku tidak bisa mendapat serum anti racun?" Yeah, aku sudah mendapat kabar bahwa Daniel sudah menginjeksi tubuhnya dengan kekuatan Hulk, itu sebutanku untuknya sekarang. Karena memang dia jadi memiliki kekuatan fisik melebihi manusia pada umumnya, tapi tentu saja dia tidak berubah menjadi hijau dan menjadi monster. Karena dilihat dari segi mana pun tubuhnya tetap sama, hanya kekuatannya yang berbeda.

"Karena jika sekali saja kakek menyuntikkan ini ke dalam tubuhmu, maka tubuhmu tidak bisa diinjeksi lagi untuk kedua kalinya," terang kakekku. Tentu saja aku tahu itu. Aku bahkan sudah tahu apa risikonya jika tetap ingin melakukannya. tapi tekadku sudah kuat. Jika Daniel ingin bisa melindungiku secara fisik, maka akulah yang akan melindunginya dari orang-orang licik.

"Aku yakin Kakek, sangat yakin," kataku mantap. "Baiklah, kakek akan lakukan, tapi ini akan sedikit sakit. Bukan sedikit, tapi memang akan terasa sakit, dan  kamu harus bisa menahannya."

Aku mengangguk mantap, dan aku bisa melihat Kakek menghela napas pasrah. Sebenarnya sebelum mendatangi kakekku aku sudah mendatangi Mommy terlebih dahulu, tentu saja Mommy sudah pasti menolak keinginanku. Tapi saat dewasa nanti bukankah Daniel akan menjadi pewaris Cohza dan secara otomatis akulah yang menjadi Putra Mahkota di Kerajaan Cavendish.

Aku memiliki Daniel yang akan melindungiku dari serangan apa pun, tapi apa Daniel akan bisa melindungiku dari kelicikan? Dan itulah alasan yang akhirnya membuat seluruh keluarga Cavendish dan Cohza menyetujui tubuhku menerima injeksi. Tentu saja aku memilih serum penangkal racun agar tidak ada orang licik dan pendengki yang bisa membunuhku saat aku lengah, dan selain itu aku bisa makan apa pun tanpa takut mati karena makanan itu tidaklah sehat. Sekali dayung dua pulau terlampaui. Aku aman, Daniel aman dan yang penting semua makanan aman masuk ke dalam perutku. Wkwkwkwk.

Kakek membawaku ke ruangan khusus yang sangat khas rumah sakit. Serba putih. Lalu aku melihat beberapa orang masuk, termasuk Mommy. Semua memakai baju steril, dilengkapi sarung tangan dan masker. Bisa dibilang aku agak takut sekarang. Aku pikir yang namanya serum anti  racun yang akan dimasukkan ke dalam tubuhku hanya berupa suntikan seperti saat aku diimunisasi, tapi ternyata aku salah karena aku harus melalui proses panjang dan mendebarkan.

Tanganku terasa kebas, karena ada jarum infus di sana dan entah jarum apa lagi, yang jelas jumlahnya 3 di masing- masing lengan. Belum cairan entah apa yang dipaksa masuk ke dalam mulutku. Rasanya pahit dan seperti duri yang menusuk- nusuk tenggorokanku.

Awalnya aku bingung kenapa tangan dan kakiku diikat. Aku bahkan sempat melihat Mommy yang meneteskan air mata saat pertama kali menusukkan jarum sutik ke  tubuhku. Pasti Mommy merasa tidak tega karena membiarkan anakknya menjadi bahan percobaannya sendiri. Tapi aku  selalu tersenyum untuk sekadar menghibur Mommy agar tidak sedih lagi.

Lalu pelan tapi pasti, dadaku mulai terasa sesak, suhu tubuhku meningkat drastis, aku mulai merasa aneh di tubuhku, awalnya hanya seperti ada asap di seluruh wajahku, lalu berubah menjadi rasa pusing di kepala, berubah lagi menjadi mual dan yang terakhir benar-benar membuatku tidak bisa mempertahankan senyum di wajahku. Aku mulai mengerang kesakitan, awalnya pelan tapi lama-kelamaan aku menjerit memohon agar siapa pun menghentikan rasa sakit di tubuhku.

Aku bisa melihat Mommy yang sesenggukan di dalam pelukan Daddy. Aku juga bisa melihat wajah Daniel yang pucat pasi dan ikut menangis setiap aku merasa kesakitan. 

Aku tidak suka melihat Daniel sedih, aku ingin bisa melindunginya juga, aku ingin jadi Adik yang berguna untuk itu aku akan bertahan sampai titik darah penghabisanku.

Aku pikir aku sudah siap akan segalanya, tapi ternyata injeksi itu memang sangatlah sakit. Aku bahkan masih mengingat rasanya sampai sekarang. Tubuhku terasa ditusuk ribuan jarum. Aku terus mengalami rasa sakit itu selama beberapa hari hingga aku berpikir nyawaku tidak akan bertahan untuk menghadapinya. Tapi rasa sakit itu seolah menghilang setiap kali aku melihat wajah Daniel. Dialah alasanku bisa mengatasinya. Karena Dia juga mendapat injeksi dan pasti dia juga mengalami rasa sakit yang sama. Jika dia bisa bertahan, maka aku juga harus bisa.

Rasa sakit ini tidak seberapa di banding semua pengorbanan Daniel untukku. Aku akan menerima seluruh kesakitan ini demi Daniel. Dia melakukan apa pun untukku, dan aku akan lakukan apa pun untuknya. Dia boleh terus melindungiku, dan aku akan terus berusaha agar berguna untuknya.

ITULAH JANJIKU.

***

TBC 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status