Syukurlah Bukan Daniel

Mengandung adegan kekerasan.

Enjoy Reading.

***

Bukhhh!

Aku tersentak kaget saat merasakan perih dan asin di bibirku. Aku mengerang pelan, menyadari seseorang baru saja memukul wajahku, tanganku terasa kebas karena terikat di atas kepala dan tubuhku berada pada posisi menggantung. Aku berusaha membuka mataku tapi semua terasa gelap. Mataku ditutup entah dengan kain apa, karena baunya sangat anyir dan membuatku mual.

"Bagus. Akhirnya kamu bangun juga Pangeran."

Aku mengernyit berusaha mengenali suara itu. Tapi belum sempat aku bicara.

Bukhhh, uhukkk!

Satu pukulan keras mendarat di perut, membuatku memuntahkan semua sarapanku, rasanya sangat sesak dan secara otomatis air mataku membasahi kain penutup itu. Aku menangis, tentu saja, jangankan di pukul, di tampar saja aku tidak pernah.

"Katanya keluarga Cohza itu kuat, tapi ternyata satu pukulan saja bisa membuatmu muntah-muntah, dasar menjijikkan."

Belum cukup keterkejutanku tiba-tiba aku merasa panas di lengan atasku. Aku menjerit saat seputung rokok yang masih menyala dimatikan di atas kulitku yang terbuka.

Aku ingin bicara tapi rasa sakit di perut, pahit di mulut dan panas di lengan, membuatku hanya bisa mengerang lagi. Lalu aku mendengar suara berderit seperti pintu yang terbuka.

"Nona." Suara orang yang memukulku tadi menyapa seseorang.

"Daniel Cohza Cavendish, apa kamu baik- baik saja sayang?" Suara lembut tapi tersirat kekejaman.

Aku mengernyit, aku tahu suara ini, tapi itu tidak mungkin. Atau ... ini memang hanya latihan dan saat ini aku sedang menggantikan Daniel sebagai samsak?

"Bibi?"

Plakkkk!

Aku meringis ketika wajahku di tampar dengan keras.

Lalu tangannya mengelus bekas tamparan di pipiku.

"Aku sebenarnya tidak suka melakukan ini, tapi ini pilihanmu. Coba kamu memilih menjadi pewaris kerajaan Cavendish, aku akan menyayangimu seperti perlakuanku kepada Jack, tapi kamu malah menjadi pewaris Cohza. Asal kamu tahu, itu adalah pilihan yang salah."

Aku masih bingung dengan apa yang diucapkan bibiku kenapa benar itu bibiku, karena suaranya mirip, tapi entah kenapa ada aura kejam dan penuh dendam di setiap kata yang aku dengar.

"Sebenarnya aku bersyukur juga karena Jack yang akan menjadi Raja Cavendish. Dia itu bodoh dan gampang dimanipulasi. Aku akan menjadi orang yang paling dia percaya dan aku akan menjadikannya bonekaku."

Baiklah ini latihan atau bukan tetap saja aku tidak terima ada yang mengataiku bodoh.

"Jaga bicaramu, kamu pikir siapa yang baru saja kamu hina? Pangeran Jhonathan itu cerdas," teriakku tidak terima.

Dukhh, bugkhh, deskkk, hukkkkk!

Aku yakin sekarang yang aku muntahkan bukan makanan, tapi darahku sendiri. Apa ini bukan latihan? Karena sekarang aku merasakan sakit luar biasa di kedua kaki dan tulang rusukku yang dipukul entah dengan apa.

"Lepassss," rintihku. "Lepaskan dia."

Aku bernapas lega saat tali yang megikatku terlepas dan aku langsung ambruk memegangi perut dan kakiku yang sakit.

Duakhhh!

"Siapa yang menyuruhmu membuka itu, Bodoh?"

Aku merasakan tendangan di tubuhku saat akan membuka penutup mataku. Lalu kedua tanganku dicekal dan dipaksa duduk dengan wajah ditengadahkan.

"Ini pasti menarik, saat kamu mendapat injeksi agar tubuhnya kuat, justru kamu akan mati karena racun, ini pasti akan membuat keluarga Cavendish terpuruk.‖ Lalu, bibiku tertawa keras.

"Aku masih baik kepadamu, makanya aku memberi racun ular manga hitam, kamu akan mati dengan cepat, hanya 5 menit dan kamu sudah akan ada di surga." Bibiku tertawa lagi.

Aku merasa rahangku dicengkeram dan mulutku dipaksa membuka, lalu sebuah cairan dimasukkan dan aku dipaksa menelannya.

"Ah aku lupa, aku masih punya beberapa racun lagi, daripada dibuang, lebih baik kamu telan saja.‖ Lalu, aku dipaksa meminum entah apa lagi hingga beberapa kali.

Saat aku merasa tubuhku semakin sakit, saat itulah aku dihempaskan ke lantai dengan kasar. Lalu aku mendengar suara berderit dan langkah kaki menjauh, sepertinya mereka semua keluar.

Aku tahu tubuhku anti racun. Aku tidak akan mati hanya karena racun ular atau ratusan racun lainnya, tapi tubuhku hanya mengobati bukan mencegah. Jadi, rasa sakit akibat racun akan tetap aku alami dan itu tidaklah enak.

Aku membuka penutup mataku dan aku berada di sebuah ruangan kosong seperti penjara, di sini gelap dan dingin. Aku meringkuk menahan sakit yang mulai menyerang tubuhku, aku menangis pelan berharap Daniel dan Daddy akan segera datang menolongku. Karena sekarang aku tahu ini bukan latihan. Aku sedang diculik dan ada orang yang ingin melenyapkan kakakku entah dengan tujuan apa.

Byurrrr!

Aku gelagapan saat air sangat dingin mengguyur tubuhku. Ada dua orang tidak aku kenal langsung menarikku berdiri.

Lalu aku melihat Bibi dan Uncle Pete masuk. Tidak, aku pasti sedang berhalusinasi karena efek racun yang tadi dimasukkan ke dalam tubuhku.

"Sial, dia bukan Daniel, tapi Jhonathan," desis Bibi Pauline.

"Bagaimana bisa kita salah menculik?" Bibi

memandang tajam anak buahnya.

"Kami tidak mungkin salah Nona, dia sendiri yang masuk ke dalam mobil dan mengaku sebagai Daniel."

Bibi Pauline langsung memandangku tajam.

"Bibi, kenapa?" Aku merasa shok mengetahui bibiku dalang dari semua ini.

Bibi Pauline bersedekap, sedang Uncle Pete diam dengan tatapan kosong. "Harusnya kamu tidak bertukar tempat dengan Daniel, dan kamu masih akan menyaksikan matahari besok pagi. Asal kamu tahu saja, sebenarnya aku cukup menyukainmu, karena kamu mudah percaya dan pasti akan jadi peliharaanku yang manis. Tapi sayang, sekarang aku tetap harus membunuhmu karena kamu sudah tahu aku akan menghabisi siapa pun pewaris Cohza."

"Bibi." Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar.

"Kenapa? Apa karena Bibi ingin menguasai Save Security?"

Bibi Pauline tertawa keras. "Save Security? Well, aku tidak tertarik sama sekali dengan SS, aku menginginkan akses penuh ke laboratorium Cavendish. Jadi, aku memerlukan penerus Raja di Cavendish yang bisa aku kendalikan. Dan berkat dirimu, sekarang aku harus mulai dari awal lagi dan berganti merayu Daniel."

"Kenapa Bibi menginginkan laboratorium Cavendish?" Aku bingung, Bibi bukan dokter, dan tidak mengerti ilmu kedokteran. Untuk apa dia menginginkan laboratorium yang tidak bisa dia jalankan sendiri.

"Sekarang itu bukan lagi urusanmu, karena sekarang itu milik Daniel."

Bibi memandangku dengn sinis. "Pete, cepat habisi anak ini, waktu kita tidak banyak. Petter dan Paul sedang menuju ke sini."

Paman Pete mengngguk dan langsung menghampiriku.

Cringkkk!

Paman mengeluarkan pisau kecil dan tipis tapi aku tau itu pasti sangat tajam.

"Uncle mau apa?" tanyaku ngeri.

Crassss! Awww! Crasss! Crassss!

Aku menjerit dan memohon saat tanpa berkedip pamanku menggores setiap kulit di tubuhku hingga tidak butuh waktu lama tubuhku sudah berlumuran darah karena disayat dengan pisau. Aku tidak bisa melawan atau mengelak karena kedua tanganku dipegangi oleh anak buah bibi Pauline.

"Uncle, aku bukan Daniel. Aku Jojo, ingat? Aku Jojo Uncle, kamu sayang padaku. Aku juga menyayangimu." Aku menjerit sakit dan terus memohon agar Paman menghentikan pisaunya yang seperti merajamku. Aku sudah mengatakan aku bukan Daniel, tapi Paman Pete seolah tuli.

Dia bergerak hanya mengikuti perkataan Bibi Pauline. Dan dia terus mencabik- cabik tubuhku dengan pisau tajamnya. Dia bukan Paman yang aku kenal, dia lebih mirip monster pembunuh. Lebih sakit lagi saat aku samar-samar mendengar bibi dan kedua anak buahnya malah tertawa di setiap jeritanku.

"Pete, cukup main-mainnya, habisi dia SEKARANG."

Aku memandang paman Pete sendu, walau yang di hadapanku adalah wajahnya, tapi aku tahu dia bergerak bukan atas kemauan dirinya. Aku pasrah karena aku tahu ini saatnya, aku tahu aku akan mati di sini. Tapi satu hal yang paling aku syukuri, bukan Daniel yang ada di sini. Firasatku benar, hal buruk akan terjadi padanya, dan aku tidak menyesal sudah menggantikannya.

Lihat Kakak, aku berhasil melindungimu walau hanya satu kali. Setidaknya kamu selamat. Aku hanya berharap pengorbananku tidak membuatmu sedih.

Mommy, Daddy, Daniel, aku menyayangi  kalian. Kata terakhir yang ingin aku ucapkan tapi tidak sempat keluar dari mulutku karena saat ini aku merasakan hujaman benda tajam tepat mengenai jantungku.

Aku terbatuk dan melihat darah mengucur deras di dadaku, lalu belati itu di putar dengan sengaja agar menghentikan napasku yang sudah mulai terputus putus.

Aku mengerang untuk terakhir kalinya sebelum napasku terhenti dan aku terhempas ke lantai dengan tubuh tidak bernyawa.

***

TBC

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mandasari Raesha
?????? jack.......
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status