Suara

Enjoy Reading.

***

Aku terbangun saat mendengar suara Pak Ridwan yang akan mulai menerjang ombak bersama kapal demi mencari ikan. Saat ini masih dini hari, dan seperti bisa Emak sudah membantu menyiapkan beberapa keperluan Pak Ridwan.

Saat ini aku berada di Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lebih tepatnya di Pantai Ngrenehan dengan penduduk yang 75% berprofesi sebagai nelayan.

Mereka akan berangkat melaut sebelum fajar, dan akan kembali saat tengah hari. Lalu hasil tangkapan biasanya akan langsung dibawa ke TPI (Tempat pelelangan ikan). Ada yang langsung dijual ke penadah untuk dibawa ke luar kota,a juga yang dijual eceran atau pengunjung yang berdatangan. Selain itu ada yang dijual matang. seperti Emak Rina.

Emak memiliki warung makan di bibir Pantai Ngrengehan, biasanya hasil tangkapan Pak Ridwan, terutama ikan bawal akan dijual di warung Emak. Sedang sisanya dibawa ke TPI. Karena menu andalan di sini adalah ikan bawal + sambel ijo.

Pantai ini tidak seperti Parangtritis yang ramai akan turis, baik lokal mau pun mancanegara, di sini ada pengunjung juga, tapi hanya beberapa. Hal ini di sebabkan lokasi pantai yang memiliki jalan terjal dan belum adanya transportasi umum yang menuju ke tempat ini. Selain itu, tempat ini di kelilingi hutan dan perbukitan, pantas saja aku nyasar waktu berada di hutan dahulu.

Aku keluar dari kamar dan memandang Emak dan Bapak yang sudah sibuk.

"Kenapa bangun? Ini masih terlalu pagi Marco, sana tidur lagi." Emak menghampiriku yang keluar dari kamar. Bukannya kembali ke kamar, aku malah menarik kaos Pak Ridwan bermaksud ikut mecari ikan. Hal yang sudah lama ingin aku lakukan.

"Ada apa?" Pak Ridwan yang risih bajunya aku tarik- tarik akhirnya bertanya juga. Aku menunjuk diriku sendiri lalu menujuk kapal milikya tanda ingin ikut.

"Apa? Kamu mau ikut?" tanya Pak Ridwan memastikan.

Aku mengangguk antusias.

"Nggak boleh! Besok kamu sekolah Marco." Aku mendengkus mengabaikan. Sekarang aku memang ikut masuk sekolah, tapi pelajaran di sini terlalu mudah, aku bahkan sudah bisa mengerjakan soal milik anak SMA. Bahkan Guru dan murid yang awalnya meremehkan aku saat pertama kali masuk sekolah, sekarang jadi mengagumiku karena kecerdasan otakku.

Aku menempel ke tubuh Pak Ridwan bertanda memohon agar diizinkan ikut, tapi si Emak semakin melotot padaku, membuat Pak Ridwan salah tingkah.

"Wes lah Bu, ojo di galaki, gen aku wae seng ngomong. (Sudahlah Bu, jangan di galakin, biar aku saja yang bicara)."

"Rene melu pake disek. (Sini ikut Bapak dulu)." Aku mengikuti Pak Ridwan menjauh dari rumah.

"Marco beneran pengen ikut Bapak melaut?"

Aku mengangguk sambil tersenyum memohon.

"Boleh, tapi ada syaratnya."

Aku mendengarkan baik- baik.

"Marco boleh ikut, kalau Marco panggil aku Bapak."

Aku mengernyit bingung? Semua orang kan mikirnya aku bisu? Kenapa sekarang Pak Ridwan minta dipanggil Bapak.

Pak Ridwan duduk dan mensejajarkan wajahnya denganku. "Nggak usah bohongin Bapak le, Bapak tahu kamu nggak bisu, wong Bapak pernah denger kamu ngigo kok."

Aku melotot terkejut. Benarkah aku pernah ngigo?

Apa saja yang aku omingin?

"Nggak usah takut, kamu nggak ngelindur aneh-aneh kok, cuman nyebut nama Daniel terus, emang siapa Daniel itu?" Wajahku langsung terasa pias, Daniel, nama yang sudah beberapa bulan ini hampir aku lupakan.

Sudah hampir 2 tahun aku di sini dan tidak ada yang menjemputku, apa aku dibuang? Aku hanya ingat aku diculik dan saat bangun sudah berada di peti mati. Atau jangan-jangan penculikan itu hanya halusinasiku saja? Entahlah, semakin hari aku merasa ingatanku tentang Cavendish semakin memburam.

"Marco?"

Aku tersentak dari lamunanku.

"Ojo sedih ya, ada Bapak dan Emak di sini, jangan berpikir yang aneh- aneh. Karena Bapak dan Emak sayang sama kamu."

Sayang? Satu kata yang sudah lama tidak aku dengar, kata yang sering aku ucapkan untuk Daniel, untuk Mommy dan Daddy, serta untuk semua orang di Cavendish. Dan sekarang ada orang asing yang mau merawatku dan mengatakan menyayangiku seolah- olah aku anaknya sendiri.

"Lah, kok malah nangis?"

Aku menyentuh pipiku dan benar saja, ada air mata yang jatuh di sana. Aku menyayangi semua keluarga Cavendish, tapi sekarang aku juga menyadari aku mulai nyaman dan menyayangi Emak, Bapak, dan 4 M.

Aku maju dan memeluk Pak Ridwan erat, dan entah kenapa aku menangis sesenggukan di sana, aku menumpahkan semua kesedihanku, rasa rinduku, dan harapanku yang tidak kunjung datang.

Aku butuh sandaran dan bimbingan. Dan saat Pak Ridwan menawarkan, bolehkah aku egois dan menyambut uluran tangannya.

"Bapak," ucapku lirih akhirnya membuka suara di sela isak tangisku. Aku bisa merasakan tubuh Pak Ridwan yang menegang.

"Kamu ngomong apa le?" Pak Ridwan memandang wajahku dengan wajah terharu.

"Bapak," ucapku lagi, kali ini lebih mantap.

"Al khamdulilah ya Alloh, akhirnyaaa awakmu gelem omongan le. (Akhirnya kamu mau bicara nak)." Pak Ridwan menciumi seluruh wajahku dan memelukku erat.

Ada air mata haru di wajahnya. Aku hanya menunduk malu karena membohongi mereka selama ini. Siapa sangka aku yang saat berada di Cavendish paling banyak bicara sedang yang lain hanya mendengarkan, sekarang bisa membuat orang menangis hanya karena satu kata yang terucap.

"Uwes sedih- sedihanne. Ayo, jarene pengen melu golek iwak. (Sudah bersedihnya. Ayo, katanya mau ikut mencari ikan)."

Wajahku langsung berbinar mendengarnya, aku hapus air mata dan ingus dengan kaus yang aku pakai. Jorok? Biarin, yang penting aku senang hari ini.

"Aku ambilin jaket dulu ya, kalau mau ikut, sekalian tak izinke ke Emak biar kamu nggak dimarahi."

Aku mengangguk, lalu teringat sesuatu. Aku memegang tangan Pak Ridwan yang akan kembali masuk ke dalam rumah.

"Jangan bilang siapa- siapa kalau Marco bisa bicara," ucapku pelan. 2 Tahun tidak bicara ternyata bisa membuat lidah kaku juga, aku bahkan merasa aneh saat mengucapkan kata yang menurut Pak Ridwan lumayan panjang.

"Tole, kamu mau ngomong sama Bapak, Bapak udah seneng banget. Kapan kamu mau ngomong sama Emak, sama 4 M, sama masyarakat di sini itu semua terserah padamu, Bapak bakal jaga rahasia kalau memang kamu belum siap."

"Terima kasih Pak."

Bapak tersenyum lagi, lalu menepuk pundakku dan masuk ke dalam rumah.

Aku mengembuskan napas lega dan merasakan hati yang plong setelah menangis di pelukan Bapak tadi.

Sekarang aku sadar, selama ini aku diam karena aku sedang menahan rindu. Aku berusaha mengabaikannya, tapi semakin lama semakin besar dan membuatku mengabaikan sekitarku karena aku fokus pada kesedihanku sendiri.

Katanya rindu itu berat. Bukan.

Rindu itu seperti bisul. Sakit jika di tahan. Cenut- cenut jika di abaikan. Akan meledak jika di pertemukan.

Karena aku tidak bisa menahan, mengabaikan dan mempertemukan rasa rinduku pada Kakak dan keluargaku.

Setidaknya sekarang aku akan mengalihkan rasa rinduku pada keluarga lain yang juga menyayangiku.

Memang tidak bisa membuat bisul meledak, tapi setidaknya bisa membuat si bisul kempes dengan perlahan.

Apakaha aku menyerah? Tidak. Saat ini keluarga Cohza dan Cavendish mungkin belum menemukanku, tapi aku yakin suatu hari mereka akan menjemputku. Tapi jika itu tidak terjadi. Maka akulah yang akan mencari dan menemukan mereka.

Itulah tekadku.

***

TBC

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mandasari Raesha
semangat Marco/jack
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status