Share

Panitia Pemilihan CR (3)

     Dari tempat duduknya, Tama melirik ke arah Raina dan Radit. Kedua sejoli itu sibuk mengobrol, kadang jelas terdengar suara tawa mereka atau pukulan manja dari Raina ke lengan Radit. Menyebalkan sekali harus menyaksikan pemandangan seperti itu, batin Tama dlam hati.

     Awalnya Tama tidak mau peduli, tapi ini sudah hampir 10 menit mereka mengacuhkan dirinya, lama kelamaan Tama jadi kesal juga, ditambah teman mereka yang lain juga belum menampakkan batang hidungnya. Dia mulai kesal karena merasa seperti nyamuk atau mungkin juga seperti kambing congek diantara sepasang "sejoli" itu, yang hari ini merasa dunia hanya milik mereka berdua saja. Seolah-olah keduanya adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Dunia sekitar tidak ada artinya, hanya mereka berdua saja.

      "Yang lain pada kemana sih? Jarkom sampai kan?" Ucap Tama, tiba-tiba dengan sengaja. Raina dan Radit berhenti mengobrol. Keduanya mengalihkan perhatian mereka pada Tama. 

      "Yasmin udah di jalan berangkat, kalau Mela rasanya udah deket" jawab Raina. 

     Sebelum turun dari mobil, Raina sempat menghubungi Yasmin dan Mela sebelum sampai kesini. Raina melirik ke arah jam tangannya, masih ada waktu sekitar 15 menit lagi dari tenggat waktu mereka berkumpul, mengapa lelaki ini sering sekali berlebihan dengan waktu, batinnya. Apa salahnya menunggu sebentar lagi tanpa mengeluh, lelaki ini selalu saja membuat rusak suasana, batin Raina lagi. 

      "Gue coba tanya Septian sama Adrian ya" ucap Radit, tanpa diminta Radit langsung mengambil ponselnya dan menghubungi dua orang teman mereka yang lain. Radit mengerti Tama sudah merasa gusar. Walau baru bertemu satu kali, Radit sudah mengerti bagaimana sifat Radit. 

      "Kan udah gue bilang kita cepat datang supaya bisa ngobrol masalah kelompok kita dulu, kenapa malah telah kaya gini" gerutu Tama. Bertambah kesal.

      Raina hanya bisa mencibir mendengar gerutu lelaki dihadapannya. Raina memperhatikan wajahnya dan ekspresi kaku lelaki itu, mengingatkan dia pada satu hal, kanebo kering. Ya, cocok sekali panggilan itu untuk lelaki dingin dan kaku seperti Tama, batin Raina.

    Tanpa sadar, Raina menjadi tertawa sendiri setelah menyamakan pria muda tampan dan pintar seperti Tama dengan sebuah kanebo kering, tapi memang terasa cocok sekali, pikir Raina berusaha menahan tawanya. Tama dan Radit sama-sama bingung saat mendengar Raina yang tiba-tiba tertawa. 

     "Eh, sori, baca chat temen gue, lucu" balas Raina cepat sembari menunjuk ke arah ponselnya. Dia pura-pura sedang membaca chat di layar ponselnya. 

     "Ehem, gue coba hubungi Yasmin ya" lanjut Raina lagi, langsung menghubungi Yasmin, dia tidak tahan menerima pandangan wajah heran dari Radit dan Tama.

     "Halo?" Sapa Yasmin, langsung menjawab panggilan Raina dideringan pertama, suaranya terdengar sangat dekat.

     "Lu dimana Yas?" Tanya Raina, dia berdiri dari duduknya, menengok ke kanan dan kiri, mencari keberadaan sahabatnya itu. 

     "Nih, gue udah liat elu, udah sampe gue" balas Yasmin, dia melambaikan tangan ke arah Raina. Di belakang Yasmin sudah ada Septian dan Adrian. 

     "Nah, tuh udah pada datang" seru Raina sambil membalas lambaian tangan ke arah Yasmin. Tama menengok ke belakang, hampir semua anggota kelompoknya sudah datang, hanya tinggal menunggu Mela saja. 

     "Untung lu cepet datang" bisik Raina saat Yasmin mengambil tempat duduk disampingnya. Hatinya lega.

     "Kenapa emang?" Tanya Yasmin, wajahnya sedikit bingung.

     "Tuh, si kanebo kering udah manyun karena takut kalian pada telat" jawab Raina, lagi-lagi dia hampir tertawa saat menyebutkan kalimat "kanebo kering". 

     "Kanebo kering? Siapa?" Balas Yasmin, bingung. Raina memberi kode dengan kedua alisnya, menunjuk ke arah Tama.

     "Siapa lagi yang cocok sama panggilan kanebo kering, si Tama lah" balas Raina, berbisik sambil menahan tawanya. 

     "Hmmm, dasar" balas Yasmin lagi. Merasa sedikit geli dengan sebutan yang baru dibuat Raina untuk ketua angkatan mereka. Walaupun sedikit kasar, tapi Yasmin juga harus setuju dengan panggilan itu. 

     "Oke, karena hampir semua ada disini, kita mulai aja" ucap Tama. Raina langsung mengangkat tangan kanannya, menginterupsi kalimat Tama.

     "Ya? Ada apa?" Tanya Tama, melirik sambil menaikkan sudut alisnya kearah Raina. Gadis ini lagi, batin Tama.

     "Jangan dulu mulai, Mela belum datang" jawab Raina dengan santai. Tama mengernyitkan keningnya. Dia heran mengapa gadis ini menyebalkan sekali. Selalu ada saja ulahnya.

    "Iya, saya tahu Mela belum datang, lalu?" Tanya Tama balik, tidak memahami maksud kalimat Raina.

    "Mela kan belum datang, dan sekarang masih ada 5 menit lebih dari waktu janjian kita bertemu, bisa buat nunggu Mela, kan? Menurut gue sih daripada lu repot-repot jelasin dua kali pas Mela datang, atau pas lu jelasin Mela malah enggak ngerti karena ketinggalan, lebih baik tunggu dia datang, bakal capek jelasin sampai dua kali, setuju enggak guys?" jelas Raina lagi. Dia malas mendengar lelaki ini mengomel lagi. Raina sengaja meminta dukungan yang lain.

    "Gue setuju sih, masih ada lima menit lagi Tam, daripada jelasin dua kali, kalau gue sih ogah" ucap Septian, setuju dengan pendapat Raina. 

   "Setuju" ucap Yasmin sambil mengangguk.

    Beruntung bagi Raina, semua mengangguk dan setuju dengan kalimatnya. Gadis itu tersenyum penuh kemenangan. Dia merasa bangga bisa mengalahkan Tama kali ini. 

     Tama menghela napas dan menghembuskan napas beberapa kali dengan pelan. Walau sebenarnya dia ingin membantah kalimat gadis menyebalkan di depannya itu, setelah dipikir-pikir, ada benarnya juga, Tama pasti merasa lebih jengkel kalau harus menjelaskan sampai dua kali, apalagi kalau ada yang tidak mengerti, bisa-bisa dia harus menjelaskan lebih dari dua kali. Selain itu, semua orang disini juga tampak setuju dengan pendapat Raina. Tapi tetap saja, bagi Tama, semua kalimat yang keluar dari bibir si gadis keras kepala ini terasa menyebalkan.

     "Oke, bener juga" balas Tama. Senyum Raina bertambah lebar, penuh kemenangan setelah Tama berbicara dan setuju pada dirinya. 

    "Akhirnya, si kanebo kering mau juga setuju dan ngalah" batin Raina dalam hati.

     "Oke kalau begitu teman-teman.., daripada nunggu garing, mending kita pesen minuman, pada haus kan guys?" Tanya Raina, melirik ke kanan dan kiri, kembali meminta dukungan rekan-rekannya.

    "Setuju!!" Seru semuanya, kecuali Tama. Sang ketua hanya bisa berdecak kesal. Sungguh anggota kelompoknya ini sangat sulit diatur dan sering tidak serius. Sepertinya hanya dia saja yang serius di kelompok ini. 

     Detik berikutnya mereka lebih sibuk untuk memesan makanan dan minuman. Raina melirik sedikit ke arah Tama, hatinya bahagia setiap melihat Tama terlihat kesal.  

__________

Halo, reader One Sided love tersayang

Mohon maaf kalau up lama sekali

Semoga tetap mendukung cerita aku ya

Kalau boleh minta sedikit waktu untuk menulis review dari cerita One Sided Love ya..

Happy reading

Comments (3)
goodnovel comment avatar
Rizka hami
@Priella Hartanto : ahahaha, iyaa, asal usul kanebo kering
goodnovel comment avatar
Riny Cartica
lanjut thor..gk sabar kelanjutannya..
goodnovel comment avatar
Priella Hartanto
author, ternyata tama memang kanebo kering sejak jaman penciptaannya haissss...abis kanebo kering terbitlah budak cinta, ahaaaayyy
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status