The Curse of Esmelth
The Curse of Esmelth
Author: Fura Ferra
Prolog

Ether Land, adalah dunia di mana manusia berdampingan dengan para Esmelth. Magia, mereka adalah orang-orang terpilih yang memiliki sihir sejak lahir. Para Magia bisa terlahir dari kalangan bangsawan atau rakyat jelata. Di samping itu, para Magia memiliki Esmelth di sisi mereka.

Esmelth adalah peri sihir, mereka tercipta dari inti sihir dalam dunia Ether Land. Wujud Esmelth sejatinya adalah cahaya dan kegelapan, tetapi mereka bisa memakai wujud layaknya manusia sesuka mereka. Para Esmelth pun memiliki kerajaan seperti para manusia, dimana para petinggi Kerajaan Esmelth hanya bisa membuat kontrak dengan para petinggi kerajaan manusia.

Sayangnya, sang Raja Esmelth hingga saat terakhir tidak memiliki kontrak dengan para Magia. Kekuatannya yang begitu besar tidak dapat membuat kontrak dengan para Magia yang memiliki mana kecil. Mana adalah energi sihir setiap yang dimiliki para Magia. Biasanya satu orang Magia hanya bisa memiliki satu Esmelth. Akan tetapi, saat ini semakin banyak yang memiliki mana besar dalam tubuh para Magia. Sehingga para Magia yang memiliki mana besar sanggup membuat kontrak dengan dua Esmelth atau lebih.

Akan tetapi, hingga kini hanya ada satu orang yang memiliki tiga Esmelth dalam usia muda. Ia adalah Putri Liviana dari Kerajaan Xeravine, sang putri memiliki tiga Esmelth yang terbilang terkuat dalam sejarah. Meski begitu, sang putri tidak dapat memiliki sang Raja Esmelth karena mana yang ia miliki tidaklah cukup untuk membuat kontrak dengan sang Raja Esmelth. Sebagai gantinya, ia mendapatkan kontrak dengan Esmelth terkuat lainnya selain sang Raja.

Beberapa ratus tahun lalu, sang Raja Esmelth mengamuk dan hampir membinasakan satu negara Kerajaan Selatan Brogthegor. Karena amukannya yang begitu dahsyat, sang Raja akhirnya disegel oleh Esmelth terkuat kedua setelah dirinya. Sang Raja pun dikutuk oleh inti sihir untuk menjadi Esmelth yang abadi. Setelah itu, tubuh sang Raja dikurung di dalam Hutan Lugia hingga saat ini. Para pengikut sang Raja pun akhirnya menyebar untuk mencari cara agar sang Raja kembali bangkit dan membalaskan dendam mereka yang mati berguguran dalam perang saat itu.

***

"Lari, Lucy!" Suara teriakan seorang gadis menggema di tengah hutan.

"Kakak!" Seorang gadis kecil berusia lima tahun berlari tak menentu.

"Kau harus selamat, Lucy. Larilah terus memasuki hutan hingga mereka tidak menemukanmu." Gadis bersurai keemasan itu menitikkan air matanya saat melihat kondisi adiknya yang saat ini penuh dengan luka.

"Tapi Kakak, aku-"

"Tolong larilah, Lucy! Aku ingin kau selamat. Suatu hari nanti aku akan kembali menemukanmu dan kita akan tinggal bersama untuk selamanya, Lucy." Air mata gadis itu mengalir semakin deras.

Gadis kecil itu hanya mengangguk, kakinya yang terluka membuat ia berjalan terpincang-pincang memasuki hutan lebih dalam, tetapi baru beberapa langkah suara derap langkah kuda terdengar membuat gadis kecil itu memaksakan kakinya untuk berlari meski ia tidak merasakan sakit sama sekali.

"Itu Putri Liviana, Putri Lucy pasti tidak jauh dari tempat ini. Cepat kalian cari dan bunuh Putri Lucy!" Suara baritone itu membuat gadis bersurai keemasan itu terdiam membeku.

"Tidak, Lucy. Pergilah sejauh mungkin!" teriak gadis itu dan tiba-tiba saja gempa dahsyat terjadi.

"Akh." Gadis kecil bernama Lucy itu terjatuh karena getaran dahsyat yang terjadi.

Para kuda dan burung merasa gelisah saat terjadinya gempa di dalam hutan itu. Terjadi keretakaan besar di tanah yang menghalau para prajurit untuk mengejar Lucy. Getaran dahsyat semakin terjadi dan saat itu juga mereka baru menyadari jika dataran mulai terbelah.

"Lucy!" teriak sang putri saat melihat sebagian dataran di depannya mulai bergeser dan menjauh.

"Sial, apa yang terjadi!" umpat sang Jendral yang ingin membunuh Lucy.

Gempa itu berhenti saat belahan pulau dimana Lucy berada telah menghilang di lautan. Putri Liviana tersenyum singkat saat merasakan adiknya sudah aman dari kejaran prajurit kerajaan.

"Putri, tidak sepantasnya Anda melindungi Putri cacat sepertinya," ujar sang Jendral membuat Liviana mengepalkan kedua tangannya.

Saat ini ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi adik tercintanya. Suatu saat nanti, jika ia sudah menjadi Ratu Kerajaan Xeravine, ia berjanji untuk membunuh mereka yang memerintahkan untuk membunuh adik dan menemukan kembali adik tersayangnya.

"Kita kembali dan bawa Putri Liviana, kuharap Yang Mulia Ratu tidak membunuh kita karena gagal membunuh Putri cacat itu," ujar sang Jendral.

"Berhenti memanggil Adikku Putri cacat, dia tetap seorang putri dan kau hanyalah berasal dari rakyat biasa!" teriak Liviana dan sang Jendral hanya menatap putri itu tajam tanpa berkata.

Pria bersurai cokelat itu langsung membalikkan tubuhnya dan kembali menaiki kuda miliknya. Tangannya mengisyaratkan untuk pergi dari tempat itu. Para prajurit hanya bisa patuh dan menuntun sang putri untuk kembali pulang ke kerajaan.

Sedangkan tempat dimana Lucy berada saat ini adalah Hutan Lugia, hutan dimana konon ada banyak monster yang tinggal selama beberapa ratus tahun di sana. Lucy mulai kembali mencoba berjalan memasuki hutan dengan tubuh penuh luka. Ia tidak tahu apa yang terjadi, getaran besar tadi membuatnya pingsan beberapa saat.

Setelah tenaganya terkuras habis, Lucy menyenderkan punggungnya ke pohon besar yang begitu rindang. Saat ini ia tidak tahu di mana ia berada, tubuhnya penuh luka, tetapi ia tidak terlalu merasakannya. Hingga ia menyadari jika ada sesuatu yang besar berdiri di hadapannya.

Makhluk yang selalu diagung-agungkan para Magia kini berdiri tegap di hadapan Lucy. Ular Naga Hitam, itulah wujud dari makhluk yang kini sedang menatap Lucy penuh dengan keheranan. Makhluk bersisik hitam dan bulu putih di kepalanya itu terlihat tertarik pada sosok Lucy.

"Pantas saja pulau ini terbelah, ternyata seorang manusia memasuki hutan terlarang ini." Suara yang begitu dingin menyapa pendengaran Lucy.

"Hei ... Bocah, apa kau mendengarku?" tanya sang Naga, Lucy tersenyum lalu menjawab sebisa mungkin.

"Sedikit." Ucapan Lucy membuat sang naga semakin mendekat dan mengamati Lucy.

"Apa kau akan mati?" tanya sang Naga setelah melihat luka di sekujur tubuh gadis kecil itu.

"Mungkin, tetapi aku tidak ingin mati," jawab Lucy lemah.

"Lalu, apa yang akan kau lakukan dengan tubuh penuh luka seperti itu? Kau akan mati jika tidak ada yang menolongmu," jawab sang naga, Lucy hanya tersenyum.

"Apa kau tidak takut melihat wujudku? Padahal kau hanyalah anak manusia berusia 5 tahun." Lucy mengangkat kepalanya hingga sang Naga dapat melihat tatapan kosong dari kedua mata sang Putri.

"Apa yang harus kutakutkan?" jawab Lucy lemah. "semua indera yang kumiliki lumpuh sejak lahir." Jawaban Lucy membuat sang naga terdiam mematung.

"Bahkan mereka mengatakan jika aku tidak bisa menjadi magia meski aku berusaha, karena mereka mengatakan jika mana membenciku. Mereka mencoba membunuhku yang merupakan aib kerajaan." Ular naga hitam itu kembali menatap lekat-lekat gadis kecil itu.

Meski tubuh gadis kecil itu adalah 5 tahun, tetapi pemikirannya cukup terbilang dewasa daripada anak seumurannya.

"Kau menyedihkan." Lucy hanya tersenyum ia sedikit mengerti tentang hidupnya meski ia masih berusia 5 tahun.

Mereka kembali terdiam, Lucy yang hampir kehilangan kesadarannya, sedangkan sang naga yang terus mengamati gadis kecil itu.

"Hei, apa kau masih sadar?" tanya sang naga sambil mengendus tubuh Lucy.

"Sedikit," jawab Lucy lemah.

"Sepertinya kau akan segera mati." Lagi-lagi Lucy hanya memberikan senyuman manis kepada naga hitam itu.

"Mungkin," jawab Lucy setenang mungkin.

"Aku tidak bisa menolongmu begitu saja," ujar sang naga sambil memundurkan kepalanya.

"Lalu, apa yang harus kulakukan?" tanya Lucy sambil mencoba menggerakkan sedikit tubuhnya.

"Jadilah pemilikku," jawab sang naga, kini Lucy mengerutkan dahinya.

"Pemilik? Apa kau Esmelth?" tanya Lucy untuk memastikan.

"Ya," jawab naga itu singkat, kini ia mengerti jika gadis di hadapannya itu tidak bisa melihat atau merasakan sesuatu di sekitarnya.

"Tetapi aku dibenci para mana yang merupakan makanan para Esmelth. Kau tidak bisa hidup menjadi Esmelthku." Jawaban Lucy membuat naga itu kembali berpikir.

Gadis di depannya itu benar-benar gadis yang pintar, hal apa saja yang sudah ia pelajari dalam usia muda seperti itu, naga hitam itu benar-benar tidak mengetahuinya.

"Aku juga tidak yakin kau bisa memilikiku, karena bahkan para Raja tidak bisa membuat kontrak denganku," jawab naga hitam itu dengan nada angkuh.

"Apa kau ingin mencobanya?" tanya Lucy meski ia yakin tidak dapat membuat kontrak dengan Esmelth di hadapannya.

"Siapa namamu?" tanya sang naga sambil mendekatkan kembali kepalanya ke arah Lucy.

"Lucy Atlanta Xeravine," jawab gadis kecil itu dan kini ia mengerti mengapa Lucy bisa sepintar itu.

"Dengan ini kau menjadi Master dari para Raja Esmelth, Lucy Atlanta Xeravine." Naga hitam itu mulai merapalkan beberapa mantra hingga tubuh Lucy bersinar.

Kraakk

Terlihat pola lingkaran sihir di kening Lucy yang mulai retak, naga hitam itu tidak yakin dengan apa yang terjadi. Ia terus merapalkan sihir hingga lingkaran sihir di kening Lucy hancur dan betapa terkejutnya saat ia melihat mana memasuki tubuh gadis kecil itu.

"Jadi, lingkaran sihir itu untuk menangkal mana?" Naga hitam itu mengerutkan dahinya saat banyaknya mana yang berkumpul di sekitar Lucy.

"Terlalu banyak untuk seorang bocah," gumam naga itu menatap tidak percaya jika ternyata gadis kecil itu dicintai oleh mana.

Lucy terlihat terkejut saat menatap naga hitam di hadapannya, senyuman lebar menghiasi wajah lusuh sang putri. Air matanya mengalir saat melihat naga hitam yang kini menatapnya heran.

"Mengapa kau menangis?" tanya sang Naga.

"Akhirnya ... aku dapat melihat dengan kedua mataku," jawaban Lucy membuat sang naga terdiam membeku.

Lingkaran sihir itu bukan saja menangkal mana, tetapi juga melumpuhkan indera yang dimiliki gadis kecil di hadapannya.

"Kau tidak takut dengan wujudku yang seperti ini?" tanya sang naga penasaran dengan reaksi gadis itu.

Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Siapa namamu?" tanya Lucy dengan senyum masih terlihat jelas.

"Berikan aku sebuah nama, maka aku akan menjadi Esmelth milikmu," jawab sang naga dan membuat Lucy semakin tersenyum lebar.

"Lucien, namamu adalah Lucien."

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status