Share

-Vienas-

"Serenity, berhenti memainkan ponselmu dan cepatlah mandi. Bukankah kau mendapatkan shift pagi hari ini?" tanya seorang wanita paruh baya baru saja keluar dari ruang dapur dengan spatula yang berada di tangannya.

Sedangkan seorang wanita muda masih terlihat memainkan ponsel miliknya di ruang tamu dengan tv menyala menyiarkan cuaca hari ini.

"Hari ini aku mendapatkan shift siang, jadi Mommy santailah sedikit," jawab wanita itu tanpa mengalihkan wajahnya dari layar ponsel.

"Apa Diego akan mengantarmu?" tanya wanita paruh baya lagi.

"Mommy mengharapkan apa darinya? Mana mungkin ia mau mengantarku pergi bekerja saat tidak ada di sini," jawab Serenity sambil memutar bola matanya kesal.

Elisa menghembuskan napasnya kasar. "Lebih baik kau putuskan saja dia, pria tidak berguna seperti itu untuk apa kau pacari?" ujar wanita paruh baya itu lagi.

Elisa Arteza, ia adalah Ibu dari Serenity Arteza. Mereka hanya tinggal berdua di sebuah rumah sederhana namun begitu terasa nyaman.

"Mommy tidak perlu tahu alasanku," jawab Serenity masih fokus dengan ponsel di tangannya.

Elisa hanya menatap datar putri semata wayangnya, Serenity memang memiliki sifat yang tidak terlalu peduli dengan sekitarnya. Semenjak kematian mendiang ayahnya, sifat Serenity semakin berubah tak menentu. Terkadang hangat, terkadang dingin dan tak tersentuh.

"Cepat mandi, aku sudah menyiapkan makan siang untukmu," ujar Elisa sambil kembali ke ruang dapur.

"Ahh sial, mengapa game ini mengesalkan sekali, kisah akhirnya selalu tragis tidak seperti yang lainnya," gerutu Serenity sambil melempar ponsel miliknya ke sofa sebelah.

"Serenity!"

"Yes, Mommy," jawab Serenity cepat, ia tidak ingin melihat Ibunya keluar dan melemparkannya spatula seperti biasanya.

Wanita muda itu cepat-cepat pergi ke arah kamar untuk menyiapkan pakaian kerja miliknya. Melupakan ponselnya yang sudah pasti tidak akan hilang di atas sofa. Tiga puluh menit berlalu dan Serenity sudah siap dengan pakaian kerjanya setelah membersihkan tubuh terlebih dahulu.

Sementara Elisa sudah menyiapkan makanan di atas meja makan, melihat putrinya sudah rapih dan bersiap untuk makan siang, Elisa tersenyum dalam diam. Serenity mengangkat satu alis saat melihat senyum Ibunya, Elisa menggelen pelan lalu menyuruh Serenity makan dengan menunjuk makanan yang sudah tersaji.

"Serenity," panggil Elisa di tengah acara makan siang itu, Serenity hanya menatap Elisa sambil mengunyah makanannya.

"Kau akan menjadi wanita yang hebat, bukan?" tanya Elisa dan Serenity hanya mengangguk pelan tidak mengerti maksud pertanyaan Ibunya.

"Kau pasti bisa melewati semuanya, kau harus berjuang dan pantang menyerah. Ingat aku yang selalu mencintaimu, Serenity." Tiba-tiba saja perasaannya mulai terasa tidak nyaman.

"Ya," jawab Serenity singkat. 

Ia kembali memakan makanannya dengan perasaan khawatir, firasatnya buruk kali ini. Entah apa yang akan terjadi, jika firasatnya mulai memburuk pasti akan terjadi sesuatu yang buruk di masa yang akan datang. Firasatnya tidak pernah meleset selama ia hidup, dan semua itu sudah ia lalui dengan penuh suka dan duka.

"Mommy tidak makan?" tanya Serenity dan Elisa hanya menggeleng pelan.

"Kau tahu aku tidak bisa makan setelah memasak. Rasanya aku terlalu kenyang hanya untuk makan sedikit saja," jawab Elisa dan seperti biasa Serenity hanya memutar bola matanya.

"Mommy harus tetap makan, bagaimana jika aku sudah tidak ada? Apa Mommy tidak akan pernah makan lagi?"

"Jangan mengatakan hal menyeramkan seperti itu, Serenity," tegur Elisa.

"Ya, ya, ya. Sekarang aku sudah selesai, besok aku mendapatkan hari liburku mungkin aku akan pergi dengan Diego," jawab Serenity dan Elisa hanya mengangguk.

"Hati-hati, My Dear." Elisa mengecup kening Serenity.

"Sampai jumpa, Mommy."

***

Serenity merapikan pakaiannya, kali ini ia sengaja berdandan karena ingin berkencan dengan Diego. Jarang sekali pria itu mengajaknya pergi berkencan. Serenity tersenyum saat melihat cermin, rambut hitamnya sedikit bergelombang dengan iris hijau yang indah menghiasi wajahnya. Wajahnya yang manis menambahkan kesan sejuk saat melihatnya.

"Apa kau menunggu lama?" tanya Serenity setelah keluar dari kamarnya.

"Tidak sampai membuat kumisku tumbuh," jawab Diego sambil bangkit berdiri dengan wajah datarnya.

Pria itu memang jarang tersenyum, bahkan terlalu dingin pada dirinya sekalipun. Entah apa yang dipikirkan Diego, Serenity tidak pernah dapat menebaknya. Diego adalah pria yang cukup tampan, beriris kelam dengan rambut pirangnya yang cerah. Pria kaku yang memegang tangan wanitanya sendiri saja sangat malu.

"Memangnya kita akan pergi kemana?" tanya Serenity sambil berjalan keluar di ikuti Diego.

"Hanya membuang waktu," jawab Diego sambil meneloeh ke arah dapur.

"Mommy sedang menjaga toko sejak pagi tadi,"  jawab Serenity mengetahui jika Diego sedang mencari Ibunya.

"Baiklah, kita berangkat sekarang." jawab Diego sambil menarik lembut tangan Serenity.

Serenity dan Diego hanya mengelilingi kota dengan berjalan kaki, meski begitu itu semua sudah membuat Serenity senang. Pria itu sulit sekali diaajk untuk pergi karena terlalu sibuk dengan ponsel miliknya. Walaupun Serenity juga sibuk dengan ponsel miliknya hanya untuk memainkan game yang sedang populer saat ini di kalangan para wanita single.

"Sera," panggil Deigo.

Sera adalah nama panggilan sayang dari Diego untuknya, Serenity menoleh saat Diego menariknya untuk menyebrang. Genggaman Diego terlepas saat banyak orang yang mulai menyebrang, Serenity bahkan sedikit tersandung hingga membuat tubuhnya jatuh.

"Diego!" panggil Serenity tanpa mengetahui jika lampu sudah kembali merah dan mobil-mobil sudah mulai melaju.

Diego menoleh saat dirinya sudah berada si seberang jalan, dan pada saat itu juga Serenity mencoba bangkit tetapi ia tidak menyadari jika mobil dari arah lainnya melaju kencang ke arahnya.

Braaakkk

Tubuh Serenity terpelanting cukup jauh hingga menabrak mobil lainnya. Kejadianmengenaskan itu membuat orang-orang di sekitar langsung menjerit histeris. Dengan cepat Diego berlari menghampiri tubuh Serenity yang sudah berlumur dengan darah.

"Sera!" teriak Diego sambil mengangkat  tubuh Serenity kedalam pelukannya.

Di lihatnya tubuh Serenity sudah tidak bertenaga bahkan hanya untuk membuka mata, Diego segera memegang denyut nadi di tangan Serenity, tetapi nihil. Ia tidak mendapatkannya.

"Sera, apa aku mendengarkanku?" teriak Diego tetap dengan wajah datarnya.

Tidak ada jawaban dari Serenity, sedangkan orang-orang mulai berkumpul melihat keadaannya. Sirine mobil ambulance terdengar dari jarak jauh.

"Sera ... apa kau sudah pergi?" tanya Diego kini dengan suara lirih.

Tetap tidak ada pergerakan dari tubuh Serenity, tanpa orang-orang sekitarnya sadari, Diego tersenyum.

 "Akhirnya kau mati,"  gumam Diego sambil memeluk tubuh Serenity.

"Akhirnya aku bisa lepas darimu, Sera," lanjutnya dengan suara lirih.

Tanpa Diego sadari, jiwa Serenity berada di dekatnya terdiam dengan semua kata-kata Diego. Serenity begitu mencintai pria itu, hingga membuat pria itu terkekang olehnya. Meski tidak ada pertengkaran, ia tahu jika Diego sudah lama membencinya. 

Serenity mengepalkan kedua tangannya, wanita itu mulai mengutuk pria yang sudah menjadi kekasihnya selama tiga tahun terakhir, hingga sebuah cahaya membuatnya menoleh.

"Tidak baik mengutuk manusia yang masih hidup, atau jiwamu akan kotor dan menjadi iblis," ujar cahaya itu.

"Tapi aku-"

"Apa kau selama ini bahagia?" potongnya dan membuat Serenity mengerutkan dahi.

"Aku tidak tahu," jawabnya singkat.

"Bagaimana jika aku memberikanmu kesempatan?" tawarnya.

"Kesempatan?" Serenity membeo.

"Tuhan memerintahkanku untuk memberikan pilihan padamu. Apa kau ingin pergi ke sisi-Nya, atau kau hidup kembali dengan merubah seluruh hidupmu selama ini?"

Serenity terdiam, tetapi di kepala cantiknya mulai berputar untuk membalas dendam akan kematiannya.

"Aku memilih pilihan kedua," jawab Serenity tegas.

"Baiklah, dengan ini kau akan hidup kembali. Kau yang memilih pilihan itu sendiri dan kau harus menerimanyam," jawab cahaya itu dengan kembali bersinar terang hingga membuat kedua mata Serenity terpejam.

"Selamat menjalankan kehidupanmu yang baru, Serenity Arteza Queen."

Itulah kalimat terakhir yang Serenity dengar dari cahaya itu, semua terasa gelap dan juga dingin. Tubuhnya terasa kaku dan kedua matanya terasa berat. Saat Serenity mencoba mati-matian membuka kedua matanya, ia dapat melihat sebuah atap terbuat dari kaca. Sinar matahari mulai menerpa wajahnya, saat ia mencoba menggerakkan kedua tangannya, ia merasa sebuah sulur tumbuhan mengikat bagian tubuhnya meski tidak terlalu kencang.

Napasnya terasa tercekat lantaran suhu tubuhnya yang dingin langsung saja berubah dengan cepatnya. Tubuhnya mulai terasa ringan setelah beberapa lama berdiam diri, Serenity mencoba bangun untuk duduk dan saat itu juga ia mulai menyadari sesuatu.

"Peti mati?" Serenity mengernyit heran.

"Suaraku!" 

Serenity mulai mengedarkan pandangannya untuk mencari sebuah cermin, tetapi tanpa perlu ia menemukan cermin sekelilingnya sendiri sudah terbuat dari kaca. Dan ia dapat melihat bayangan dirinya saat ini yang tidak jauh berbeda dengan dirinya sebelum mati.

"Apa yang terjadi?"

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status