Share

-Divas-

Serenity mengedarkan pandangannya, entah mengapa ia merasa tidak asing dengan tempat di mana ia tersadar saat ini. Wanita itu mencoba turun dari peti mati dengan perlahan, saat kakinya menyentuh lantai, ia dapat merasakan cairan yang begitu dingin. Kedua matanya terbelalak saat melihat cairan apa yang mengenai jari kakinya.

"Darah?" gumamnya sambil menaikkan kembali kakinya.

Serenity mengedarkan pandangannya keseluruh lantai dan ia mendapati cairan merah kental yang memenuhi lantai. Ia kembali mengingat tempat itu dan kini ia tersadar di mana ia berada, dan cairan apa yang berada di lantai.

"Sial, ini darahku!" umpatnya sambil melompat turun dan membiarkan kedua kaki dan juga gaunnya basah karena darahnya sendiri.

Tubuh mulusnya yang berbalut gaun berwarna putih gading itu memperlihatkan sedikit belahan dadanya. Gaun modern yang ia ketahui dari mana berasal membuatnya merasa kesal.

"Menyebalkan, mengapa aku justru dikirim ke dunia game seperti ini!" gerutunya sambil melangkah mendekati pintu.

Serenity mengetahui dunia di mana ia dihidupkan kembali dengan begitu jelas. Ia kembali hidup menjadi tokoh utama dari sebuah permainan android di ponsel miliknya. Dari beribu permainan, permainan inilah yang membuatnya sedikit muak.

"Mūžīgo upuri, aku selalu muak jika memainkan game itu." gumamnya sambil mendorong pintu di hadapannya, tetapi sama sekali tidak bergerak.

Mūžīgo upuri : New Game atau pengorbana abadi, di mana dunia itu memiliki tiga puluh enam klan yang berbeda-berbeda. Demi menjaga tatanan dunia para pemimpin dua belas klan hanya bisa memiliki satu wanita yang sama. Dan di dalam permainan tersebut, tokoh utamanya adalah seorang wanita yang memiliki dua belas suami yang membenci dirinya. Berbagai cara wanita itu mencoba bertahan hidup dari siksaan para suaminya. Wanita lemah yang tidak diakui oleh kedua belas suaminya meski itulah takdir mereka.

Dengan akhirnya tokoh utama dibunuh oleh salah satu dari mereka, untuk dijadikan sebuah tumbal. Darah wanita itu memiliki kekuatan untuk hidup abadi, karena itu di akhir game itu adalah dimana sang wanita dibaringkan di sebuah peti mati dengan darahnya yang terus mengalir hingga memenuhi seluruh lantai.

"Mengapa nasibku tidak jauh berbeda dengan dunia asalku?" gumamnya kesal.

Wanita itu menggeleng keras, ia mengetahui rahasia dari tokoh utama dari game yang ia sering mainkan itu. 

"Aku tidak akan kalah!" lanjutnya sambil menjentikkan jarinya.

Tiba-tiba saja pintu tersebut hancur dengan barrier yang terlihat terpasang beberapa ratus tahun. Serenity kini mengerti, saat ini ialah yang menjadi tokoh utama dalam permainan dalam ponsel miliknya. Sang tokoh utama memiliki kekuatan tidak terbatas dibandingkan para suaminya. Dan Serenity mengetahui itu, dan kini ia berencana untuk membalas kejahatan dari kedua belas suaminya.

"Di dalam game aku tidak bisa melakukan sesukaku, karena itu memang aturan dari development. Tetapi, kini aku bisa melakukan semuanya, karena ini adalah tubuhku. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, aku akan membalas mereka!" ujar Serenity sambil melompat kegirangan.

Senyuman manisnya tersungging mengingat apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Tempat itu berada di tengah hutan abadi, memiliki barrier yang cukup kuat untuk seorang Raja. Tetapi, tidak cukup kuat untuk menahan Serenity di dalam.

"Aku akan memberikan sambutan kepada mereka yang sudah membuatku mati di peti mati itu!" gumama Serenity.

Malayang adalah hal mudah untuknya, meski dalam game ia tidak bisa melakukannya dan hanya bisa menjadi seorang tokoh utama wanita yang lemah. Entah ia harus bersyukur dengan hal ini atau tidak. Di dunia asal, kekasihnya menanti-nantikan akan kematiannya, dan di dunia lain ia bahkan disiksa dan dibunuh oleh para suaminya.

"Aku tidak akan membuat hidupku sengsara seperti dulu, kini aku bisa memiliki semuanya." 

Serenity melayang di udara sampai ia dapat melihat barrier yang melindungi seluruh hutan abadi. Serenity berpikir sejenak, apakah ia harus menghilangkan barrier itu dalam sekejap atau menghancurkannya untuk membuat keributan. Sedikit menyeringai, wanita itu memilih pilihan kedua.

Serenity merentangkan tangannya kedepan. Tidak perlu merapal sebauh mantera, karena ia sudah menajdi tokoh terkuat di dalam dunia itu.

"Hancurlah." 

Dalam beberapa saat ledakan terdengar menghancurkan sebagian barrier besar itu. Dengan cepat Serenity keluar dari barrier, karena ia tahu jika barrier itu akan kembali menutup. Kekutannya saat ini belum begitu sempurna, karena ia harus mencari sesuatu yang para suaminya itu hilangkan.

"Black heart, apa aku harus mendapatkannya?" gumamnya saat mengingat benda pusaka yang pernah dihancurkan oleh para suaminya.

"Jika tidak, mereka akan kembali membunuhku," Serenity menggelengkan kepalanya.

Ia kembali mencoba mengingat apa yang telah terjadi sampai ia harus mati dan di baringkan di peti mati dengan darahnya yang terus mengalir. Ia tahu jika darahnya untuk membuat di sekitarnya terus bertumbuh dan menjadi abadi, sehingga tempat itu tetap terawat meski tidak ada yang merawatnya.

"Dalam game itu menceritakan aku mati dan adikku menjadi Ratu selanjutnya. Berarti tubuh ini bukan milik mereka lagi, dan jika aku kembali hidup, mereka pasti akan kembali mengincar dan membunuhku untuk yang kesekian kalinya. Karena tokoh utama wanita dalam game itu adalah makhluk terkuat yang tidak teridentifikasi dari klan mana ia berasal." gumam Serenity sambil terus mengingat apa yang terjadi.

"Sial, sial, sial. Mengapa aku tidak hidup kembali ke dalam dunia game L'amour du Prince, yang jelas-jelas sang pangeran mencintai wanita sang tokoh utama. Atau I love my Seven Husband, yang ketujuh suaminya benar-benar mencintainya dan tidak pernah membuat sang tokoh utama menangis apalagi menderita. Walaupun judul game yang aku masuki adalah Mūžīgo upuri, tentang pengorbanan abadi.  Mengapa aku justru masuk ke dalam game yang bercerita tentang twelve deadly husband? Seharusnya aku melayangkan keluhan pada development yang membuat game mengesalkan ini." Serenity hampir berteriak frustasi.

"Haaa, tidak ada gunanya mengeluh seperti sekarang. Saat ini aku harus menyembunyikan diri dari mereka." Serenity menghembuskan napasnya lelah.

Dengan segera ia menghilang dan mencari kota terdekat. Di dunia itu tidak jauh berbeda dengan dunia asalnya, semua serba modern meski hanya untuk klan manusia. Para Immortal lainnya masih sedikit menjunjung tinggi budaya mereka walaupun menuju ke arah modern. 

"Saat ledakan di barrier pasti mereka sudah menyadarinya, aku harus melenyapkan hawa keberadaanku dan pergi sejauh mungkin." Serenity melayang menyusuri langit mencari kota terdekat.

"Yang Mulia Ratu," panggilan itu membuat Serenity menghentikan laju terbangnya.

"Yang Mulia, apakah ini benar-benar Anda?" suara wanita itu terdengar begitu lembut.

Serenity menoleh dan ia mengenal siapa yang berada di hadapannya. Fiore, pelayan setia sang Ratu. Akan tetapi Fiore memilih untuk mengkhianati sang Ratu karena ia muak Ratunya yang begitu lemah dan bodoh. Mengingat itu semua darah Serenity berdesir, ia tidak akan melupakan pengkhianatan siapapun dalam hidupnya.

        

Wanita bersurai pirang dengan iris mata hitam dan berpakaian ala maid itu terlihat bisa menggunakan sihir.

"Ternyata kau masih hidup," jawab Serenity dingin, Fiore sedikit terperangah karena perubahan sikap sang Ratu.

"Ya-yang Mulia, maafkan atas pengkhianatan hamba. Hamba terpaksa karena adik Anda mengancam hamba akan melenyapkan Anda untuk selamanya." jawab Fiore sambil menangis.

Jika di ingat kembali, apa yang dikatakan Fiore adalah benar. Ia sudah menamatkan game itu ratusan kali dengan berbagai cara agar tokoh utama tidak mati.  Tetapi, hingga ajalnya menjemputpun ia tidak dapat menemukan cara itu. Dan ia tahu alasan Fiore untuk mengkhianatinya, itu semua untuk melindungi dirinya agar tubuhnya tidak di hancurkan oleh adik sang tokoh utama.

"Hamba siap mendapatkan kematian atas pelakuan hamba, Yang Mulia. Hukum mati hamba dan maafkan semua kesalahan hambamu ini," ujar Fiore sambil bersujud.

Serenity ingin sekali membunuh Fiore, tetapi ini adalah kesempatan emasnya untuk lebih mengenal dunia yang ia tempati saat ini. 

"Buatkan mayat palsumu di hutan abadi, setelah itu kita akan pergi ke kota terdekat!" titah Serenity tanpa mengurangi ketegasannya.

Fiore lagi-lagi terperangah, entah apa yang terjadi dengan Tuannya setelah hidup kembali. Ia merasa jika Ratu yang berada di hadapannya saat ini adalah orang yang berbeda meski wujud mereka sama. Tetapi, Fiore justru semakin kagum dengan ketegasan sang Ratu saat ini.

"Apa yang kau lakukan? Cepat pergi atau mereka akan kembali menemukanku!" tatapan tajam Serenity membuat Fiore menunduk takut.

"Ha-hamba laksanakan, Ya-Yang Mulia," jawabnya sedikit gemetar, baru kali ini ia mendapatkan tatapan dan perkataan yang begitu dingin dari Tuannya.

Fiore menjalankan tugasnya untuk pertama kali setelah Tuannya bangkit, entah kebangkitan Tuannya merupakan anugrah atau malapetaka untuknya. Saat ini yang terpenting adalah menjalan tugasnya sebagai pelayan yang setia.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk Fiore kembali, mereka berdua segera pergi menuju kota terdekat. Mereka harus menyamar untuk menghindari pencarian jasad sang Ratu yang telah hilang dari makamnya.

"Fiore, dimana Black Heart yang disembunyikan oleh para Raja?" tanya Serenity.

Saat ini mereka sedang berada di tengah kota Elf, wajah Serenity harus memakai cadar agar tidak ada yang mengenalinya. Karena para penduduk dunia mengetahui wajahnya yang cantik di mata mereka.

"Maafkan hamba, Yang Mulia. Yang Mulia Raja sendiri tidak mengetahui kemana hilangnya benda pusaka itu. Saat benda pusaka itu hilang, Anda pun terbunuh oleh salah satu dari suami Anda," jawaban Fiore membuat Serenity mengingat betapa kesalnya ia harus mengganti ponsel miliknya karena telah terbanting tanpa sengaja akibat perlakuan para suaminya di dalam game.

"Aku benar-benar akan memutilasi mereka, lalu memberi makan para buaya lapar di jurang Algazira dengan daging mereka!" gerut Serenity membuat Fiore lagi-lagi terkejut.

Tuannya sudah menjadi wanita yang berbeda, Tuannya sebelum mati adalah wanita yang lemah lembut dan tidak pernah menggerutu atau bersikap dingin sekalipun. Aura Tuannya juga kini berbeda, jika dahulu adalah kehangatan dan keceriaan yang terpancar, kini yang terpancar adalah aura kematian dan membunuh yang begitu kuat meski tertutupi.

"Yang Mulia, apa yang terjadi saat Anda mati?" tanya Fiore tanpa tahu raut wajah Serenity yang menahan amarahnya.

"Aku mati dan kekasihku senang akan kematianku. Kau sudah puas? Berhentilah bertanya apa yang terjadi padaku saat ini!" Fiore mengerjapkan kedua matanya ia tidak mengerti mengapa sang Ratu memanggil para Raja adalah kekasihnya.

"Lalu, apa Anda memiliki tujuan setelah hidup kembali?" sepertinya Fiore tidak mendengar kata-kata terakhir Serenity.

"Tentu saja, bukankah aku kembali hidup untuk membuka takdir yang baru?" Fiore mengangguk cepat dengan senyum yang lebar. 

Ia bersumpah akan terus mengikuti sang Ratu ke manapun dengan tujuan dan takdir yang baru. Baginya, berada di sisi sang ratu adalah sebuah anugrah paling indah dalam hidupnya. Derap langkah kuda terdengar dari arah depan, Serenity langsung menarik Fiore untuk segera sembunyi di sebuah gang. Para prajurit kerajaan terlihat terburu-buru diikuti oleh sang Raja Elf dengan wajah muram.

Setelah kepergian mereka melewati para penduduk yang sedang beraktivitas, Serenity bernapas lega. Ia sedang tidak ingin bertemu para suaminya setelah kembali hidup. Atau lebih tepatnya kini mereka dalah mantan suaminya? Karena ia tahu jika adiknya menggantikan posisi Ratu saat ini.

"Sudah pasti mereka akan mengeluarkan semua prajurit tempur mereka untuk mencariku, hilangnya diriku sudah pasti membuat mereka kalang kabut. Tetapi, yang paling sulit dihindari adalah Baltarein, pemimpin para malaikat dan Roxette sang Raja Iblis. Kekuatan mereka berdua di atas rata-rata. Sudah pasti dapat menemukanku dengan mudah, aku harus menemukan cara agar mereka tidak dapat melacakku," gumam Serenity sambil berpikir.

Sedetik kemudian ia mengingat sesuatu, ia memiliki sihir yang diluar batas. Tetapi, membutuhkan Black Heart untuk membuat segel sihirnya terbuka. Saat ini ia hanya bisa menghindar dan menyamar, ia bisa menghidari semua pelacakan yang di buat kedua Raja itu.

Serenity menjentikkan jarinya dan dalam sekejap rupa merkea berdua berubah layaknya para Elf. Sementara waktu ia harus mengistirahatkan diri di kota itu, ia tahu tidak akan ada yang mencarinya di kota itu, karena mereka akan fokus pada siapa yang menghancurkan barrier makam miliknya.c

"Yang Mulia, bagaimana Anda bisa-"

"Memakai sihir?" potong Serenity dan Fiore mengangguk lemah, setahunya sang Ratu tidak bisa memakai sihir.

"Ingat baik-baik di kepalamu, Fiore. Aku bukanlah Tuanmu yang dulu, aku adalah Serenity Arteza. Tuanmu yang baru dan berhentilah membandingkan diriku yang sudah mati, kau mengerti?" Fiore mengangguk cepat, kini ia mengerti mengapa sang Ratu berubah begitu derastis.

Tuannya yang dulu, Serenity Lovazia telah mati. Dan di depannya saat ini bukanlah Tuannya yang kembali hidup. Melainkan orang lain, Serenity Arteza.

***

DMCA.com Protection Status