Chapter 2: Perkenalan Bagian 1

   Rose POV Bagian 2

  “Jaga diri baik-baik, sayang” pesan ibuku saat mobil kesayangan milik ayah sudah sampai di depan gedung sekolah.

  “Pasti, Rose sayang ayah dan ibu”

  “Ayah bakal kangen banget sama princessnya ayah” ucap ayah dengan mimik wajah sengaja mengerut sedih.

  “Hahaha, Rose akan hubungi kalian setiap hari” ucapku lalu mengecup pipi kedua orangtuaku.

   Aku melambaikan tangan pada mobil kedua orangtuaku yang melaju semakin jauh dari pandanganku, mereka tidak langsung pulang tapi seperti yang kalian tahu mereka mengantar barang-barangku ke asrama. Rumahku memang masih satu kota dengan sekolah tapi perjalanan dari rumah ke sekolah membutuhkan waktu satu jam.

   Akhirnya ayah menerima keputusanku untuk tinggal di asrama sekolah, bukan karena aku ingin membangkang tapi aku tidak tega meminta ayahku yang super sibuk mengantarkan aku ke sekolah setiap hari. Di asrama aku bisa mendapatkan banyak teman dan juga belajar hidup mandiri.

  “ROSE!” teriak seorang gadis dari arah belakang.

   Bukk.. gadis itu memelukku erat sekali. Aku sudah sangat kenal dengan pelukan sahabatku ini.

  “Aku kangen banget sama kamu Rose” pekik Victoria.

   Kenalkan Venus Victoria, sahabatku dengan segala kemewahan dan ketenaran yang ada padanya. Vic adalah anak tunggal dari mantan model dunia fashion bernama Eva Jenneth, beliau seorang model berkebangsaan Amerika Latin. Setelah mama Vic menikah dengan seorang sutradara perfilman Hollywood, mereka mendirikan sebuah perusahaan yang menaungi artis, model dan penyanyi terkenal masa kini. Oh ya, kebanyakan artis dari Jenneth Label menggunakan busana rancangan milik mama Nicky loh.

   Vic memiliki postur tubuh hampir mirip dengan mamanya yang tinggi bak seorang model. Rambutnya pirang pucat dengan warna mata biru langit yang sangat cerah. Aku beritahu, Vic sangat populer di sekolah karena selain dia murid biasa, Vic juga seorang model fashion remaja.

  “Kamu nyariin siapa?” tanyaku saat melihat Vic celingukan mencari sesuatu.

  “Pangeranku, udah datang belum Rose?”

   “Ahaha, dia sudah datang Vic”

   “Cepet Rose kita cari dimana pangeranku. Aku khawatir dia dikerubuti semut” ucapnya sambil menarik tanganku.

   Aku tertawa mendengar celotehan aneh dari mulut Vic, dia memang perempuan paling cerewet dan bawel disaat yang sama.

   “Ahahaha” tawa seorang gadis menghentikan langkah kami saat baru saja memasuki gerbang sekolah.

   Di seberang taman terdapat seorang gadis berambut oranye cerah dengan mata abu-abu sedang dikelilingi oleh beberapa murid laki-laki. Mereka membawakan tas dan buku gadis itu dengan senang hati, sedang gadis cantik disana melayani murid lainnya yang meminta tanda tangannya.

  “Well, well. masih pagi sudah dikerubutin aja sama fans” celoteh Vic membuat gadis itu menoleh.

  “Rose! Vic!” teriaknya kencang.

   Shella berlari meninggalkan gerombolan lelaki tadi dan memeluk kami erat.

  “Aduuh, kamu kemana aja Rose sebulan ini? Gak ada kabar sama sekali dari kamu, aku sedih tahu nggak!” protesnya manja.

  “Haha, aku kan sudah bilang pada kalian kalau aku akan menghabiskan liburanku dengan keluarga. Jadi aku menonaktifkan ponselku” jelasku padanya.

  “N-Nona cantik” panggil seorang lelaki dari gerombolan tadi.

  “Aah iya. Terimakasih ya sudah repot-repot bawain tas dan bukuku. Muach” Shella memberikan kiss bye pada lelaki penggemarnya tadi.

  Waa.. waaa.. teriak mereka bersahutan dari kejauhan, Shella memang pandai memberikan semangat pagi pada gerombolan penggemar setianya.

  Shella Quinn juga salah satu sahabatku di sekolah elit tempatku belajar. Shella adalah artis muda berbakat di negeri ini dan sudah meniti karirnya di Hollywood sebagai artis Disney sejak ia masih Sekolah Dasar. Orangtua Vic lah yang menauingi Shella hingga ia sukses seperti sekarang ini, tak heran jika Vic dan Shella bagai saudara kandung. Orangtua Shella sudah bercerai, kini ia tinggal bersama mamanya yang berprofesi sebagai Entrepeneur handal.

   Kini kegiatan Shella tetap padat seperti biasanya yaitu bermain peran di depan layar televisi sepulang sekolah dan memiliki jadwal penuh kejar tayang saat liburan. Di layar kaca yang ia lakoni sekarang ini, Shella berperan sebagai  anak ABG yang sedang bingung oleh benih-benih cinta di hatinya. Ia memainkan perannya dengan baik bahkan rating dramanya meroket naik, hingga membuat artis-artis baru di dalam dramanya ikut naik daun.

  “Gimana kerjaan kamu? Lancar sama artis baru itu?” tanya Vic.

  “Yaah begitulah, artis baru disandingkan sama aku. Jadi gugup kan dia” jawab Shella agak kesal.

  “Oh ya Vic, hari Sabtu depan aku ada acara makan sama kru tivi. Kamu ikut ya temani aku”

  “Dih, ogah! Pasti si om genit itu mau deketin aku ih” tolak Vic dengan mimik wajah ketakutan.

   Shella sudah tahu siapa yang dibicarakan oleh Vic, orang itu adalah sutradara dari drama Shella sekarang. Pria bertubuh gemuk itu memang sedang berusaha mendekati perusahaan milik keluarga Vic.

  “Pangeran kamu diundang, emang kamu gak mau lihat dia jadi tamu?” ucap Shella enteng, dia tahu kelemahan Vic.

  “WHAT?” teriak Vic kaget.

  “Kamu gak tau?”

   Aku hampir tertawa selepas melihat wajah kaget milik Vic, terlihat sekali dia tidak tahu soal kedatangan pangeran kesayangannya.

  “Rose, kamu tahu soal ini?” tanya Vic melolot padaku.

  “Iya, semalam dia menelponku untuk menemaninya ke pesta itu. Tapi aku tidak ingin datang jadi aku memintanya mengajak Vic saja” jawabku halus, aku berusaha tidak menyinggung perasaan Vic. Bukan karena tidak mau, akan tetapi api aku minder datang ke tempat mewah seperti itu.

  “Aah, frustasi. Pangeranku, kenapa kamu gak ngajak aku aja sih?” teriak Vic, ia memencet-mencet beberapa tombol pada ponselnya tapi entah ia kirimkan pada siapa.

  “Mama antar makan siang kamu ya sayang”

   Kami bertiga dikejutkan oleh suara melengking dari seorang wanita berumur, kalimat barusan berasal dari suara melengking di depan gerbang ekolah, seorang wanita cantik dengan gaya rambut sanggul sedang membetulkan letak dasi pada putranya. Seorang pria renta di samping mereka memegang payung untuk ibu dan anak itu.

  “Tidak perlu ma, Nico kan dapat jatah makan siang dari kantin sekolah. Mama lupa ya?” tanya lelaki itu manja.

  “Eh iya, hahaha, Ya sudah, jaga diri ya sayang. Jangan lupa pakai lip balm tiap satu jam sekali biar bibir kamu tidak kering” pesan mamanya sebelum mencium pipi anak lelakinya.

  “Mama sayang Nico”

  “Nico juga sayang mama. Bye mama” Nico melambaikan tangannya pada mobil yang melaju makin jauh.

  Nicolas Alexander, dia adalah teman sekelas kami yang paling jago memakai 7 bahasa diantaranya bahasa Inggris, Indonesia, Jepang, Cina, Perancis, Italia dan Thailand. Aku dengar dia sedang belajar bahasa Korea saat ini. Nicolas memiliki tinggi badan hampir sama dengan Nicky yaitu 174cm. Rambut Nicolas mirip dengan warna rambut mamanya, honey brown.

   Nicolas adalah putra keenam dari enam bersaudara. Semua kakaknya perempuan jadi ketika Nicolas lahir, orangtuanya sangat gembira dan begitu menyayanginya. Bisa dikatakan bahwa mereka lumayan overprotektif, mama Nicolas tidak akan sanggup melihat luka gores sedikit saja pada tubuh maupun wajah putranya.

   “Selamat pagi, Rose” sapa Nico tegas saat mendekati kami.

   “Pagi Nico” sahutku

   “Yee, cuma Rose doang ini yang di sapa? Kamu gak lihat ada tiga orang disini?” tanya Shella sewot.

   “Rose, kayaknya ada suara-suara aneh disini. Kamu gak takut?” tanya Nicolas tak sengaja kembali menaikkan nada cemprengnya.

   “Sialan, dasar anak bencong” umpat Vic kesal.

   “Kamu datang sendiri? Tumben nggak bareng Frans?” tanyaku pelan.

   “Iya, cantik. Mama lagi ingin mengantarku sampai sekolah untuk seminggu ini, kamu tahu kan mama nggak suka aku kena masuk angin kalau naik motor”

   “Well, suara cempreng khas bencong ini mendadak hilang kalau di dekat Rose” bisik Vic pelan pada Shella.

   “Aku denger ya”  Nicolas menatap tajam pada Vic dan Shella yang sedang tertawa cekikikan.

   Bruum.. brumm..

   Dua motor bermerk CBR berwarna putih dan merah datang memasuki halaman sekolah, kedatangan mereka disambut oleh teriakan kencang gadis-gadis muda di sepanjang sekolah hingga parkir motor. Kedua lelaki itu melepaskan helmnya, dan bisa dikatakan bahwa aku pun terpana melihatnya.

   “Akhirnya duo charming sudah datang” ucap Nico “Yuk Rose kita samperin mereka”

   Tangan Nicolas menggandengku lalu tanpa basa basi ia menarikku mendekat ke tempat dua lelaki charming tadi.

   “Eh bencong, tungguin! Main tarik-tarik Rose aja!” teriak Shella dan Vic bersamaan.

   Mereka berjalan cepat mengikuti langkah Nicolas. Sejujurnya jantungku berdetak sangat kencang saat ini, setelah libur semester aku tidak bertemu dengannya namun kini aku akan berbicara lagi empat mata.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status