Chapter 3: Perkenalan Bagian 2

   “Nico” panggilku pelan.

   “Ya?”

   “Apa tidak sebaiknya kita langsung masuk kelas saja?” saranku pelan saat kami hampir sampai di parkiran motor.

   “Kamu mau ke kelas aja? Ayo deh balik!” Nicolas berbalik arah menuju kelas kami.

   “Nico!” sapaan dari suara lembut ini menghentikan langkah Nicolas.

   Seseorang berjalan dari arah parkiran sekolah mendekati kami, senyumnya mengembang sempurna saat melihatku. Jujur saja aku tidak bisa memutuskan harus tersenyum atau tetap memasang wajah tegang seperti ini. Senyumnya sungguh melelehan hatiku.

   “Pagi Rose” sapanya hangat.

   “Selamat pagi, Daniel” jawabku tersipu malu.

   Namanya Daniel Carter, dia adalah anak tunggal dari pemilik Carter’s Hospital. Ayahnya pemimpin tertinggi di rumah sakit, tentu saja Daniel sudah di gadang menjadi pewaris sejati usaha keluarganya. Daniel memiliki penampilan yang sangat menawan, mata biru tua lembut dengan rambut putih keabu-abuan penampilan yang sangat mirip dengan ayahnya.

   Daniel memiliki sifat yang sangat humble dan friendly, dia baik pada siapa saja bahkan dia sangat menghormati orang yang lebih tua darinya. Ada yang bilang sifatnya ini menurun dari kedua orangtuanya, keluarga Daniel sangat suka berdonasi di rumah panti asuhan.

   Oh ya, yang membuat dia makin keren adalah Daniel seorang kapten basket kebanggan sekolah, dia sudah membuat sekolah kami memenangkan berbagai perlombaan di setiap turnamen. Pokoknya dia keren deh!

   “Hei, morning Daniel” sapa Vic saat mendekat kearah kami.

   “Pagi Vic, Shella. Kalian tambah cantik aja setelah liburan” goda Daniel.

   “Gombal kamu, resek tau nggak!” ucap Shella kesal.

   Di belakang Daniel seorang lelaki datang mendekat kearah kami, dia memasang wajah super dinginnya. Tiba-tiba jemari Shella mencengkeram erat ujung kemeja sekolahku. Wajahnya tertunduk malu melihat lelaki berwajah dingin tadi.

   “Selamat pagi, Sam” sapaku ramah.

   Sam hanya mengangguk tanpa membalas sapaanku, hal itu membuat kami semua diam mematung dengan sikap dingin tak berubah dari Sam.

   “Jawab iya atau apa gitu kek, dasar gunung es” celoteh Vic kesal.

   Namanya Sam Axell, dia… uuh diaaa, uumm.. bagaimana ya menjelaskan dia. Aku tidak terlalu dekat dengan Sam jadi aku tidak bisa menjelaskan detail tentangnya, dia terlalu misterius diantara kami.

   Pernah suatu ketika saat kami masih kelas satu SMP tahun lalu, Vic sangat penasaran dengan semua tentang Sam, karena kami hampir tidak pernah mendengar suaranya secara langsung.

   Vic sengaja duduk di belakang bangku Daniel dan Sam, Vic mendekatkan telinganya pada mereka berdua agar ia bisa merekam suara Sam melalui ponsel. Dan lucunya Sam sama sekali tidak bersuara, setiap Daniel mengajak Sam ngobrol, lelaki itu hanya menjawabnya dengan mengangguk atau menggeleng.

   Hal itu membuat Vic dan Shella frustasi setengah mati. Sejak aku berteman dengan Sam dari awal masuk SMP, aku tidak melihatnya berbeda sama sekali. Dia memang kelewatan pendiam.

   “Daniel kok betah sahabatan sama gunung es?” ucap Vic heran kala itu.

   Sejak saat itulah teman-teman memanggil Sam dengan sebutan gunung es, ulah Vic memang ada-ada saja.

   Okay, aku akan menjelaskan sedikit apa yang kuketahui tentang Sam. Penampilan Sam tidak kalah tampan dari Daniel, dia memiliki mata berwarna biru terang mirip dengan warna mata Vic. Tapi mata Sam lebih tajam dan yah terkadang dia menunjukkan tatapan teduh. Pandangan mata yang membuat perempuan manapun terlena. Lalu rambut Sam memiliki warna agak terlalu mencolok yaitu merah pekat.

   Pekerjaan orangtua Sam tidak diketahui, berapa jumlah saudara kandungnya juga tidak diketahui. Aku pernah bertemu dengan ibunya saat hari pertama masuk sekolah SMP, ibunya sangat cantik, ramah dan kalem.

   Oh ya, duo charming sebelumnya adalah Daniel dan Sam. Semua orang memanggilnya begitu karena mereka sangat serasi sebagai seorang sahabat. Si perfect charming dan ice prince, julukan yang sangat pas bukan?

   “Kalian ngapain disana? Sebentar lagi bel masuk berbunyi, buruan masuk” teriak seorang lelaki dari depan kelas satu.

   Beberapa murid perempuan memandang kearah kami, tidak sedikit dari mereka yang masih meneriakkan nama Daniel, Sam dan Nicolas.

   “Upps, sorry pak ketua OSIS. Kami akan segera menyusul” teriak Daniel diiringi tawa khasnya.

   “Frans, tunggu” Nicolas berlari kecil mendekati langkah santai Frans, teman sebangkunya.

   Dia adalah Frans Belford, anak tunggal dari kepala sekolah ini. Bisa dikatakan kalau dia sangat jenius dan sering ditunjuk sebagai perwakilan lomba Sains antar sekolah maupun kota. Dan yah seperti yang kalian dengar barusan, Frans adalah ketua OSIS terganteng yang pernah ada.

   Penampilannya hampir mirip dengan Daniel yaitu warna rambut abu-abu putih tapi lebih terang dari Daniel, warna mata hijau terang dan sifat yang sangat gentleman. Memang sih dia sebangku dengan Nico yang memiliki sifat kewanitaan, tapi Frans sangat gentleman jauh berbeda dengan Nico. Karena Frans dan Nicolas tergolong memiliki otak encer maka fans sering menyebutnya sebagai duo genius.

   “Kita nyusul mereka ke kelas juga yuk” ajak Daniel. Aku tahu kalau Daniel dan Sam mulai sedikit takut dengan teriakan para gadis di depan kelas.

   “Iya, ayo” jawabku masih malu-malu.

   Kami bertiga berjalan di belakang Daniel dan Sam, suara teriakan gadis-gadis menyebut nama duo charming dari kelas satu sampai kelas tiga masih terdengar jelas dan nyaring. Aku memandang lekat punggung Daniel dan Sam, postur tubuh mereka hampir sama persis. Tinggi badan pun sama, tegap dan gagah dengan warna kulit putih halus melebihi seorang gadis.

   “Kau sudah sarapan?” tanya Daniel memandangku di belakangnya.

   “Iya sudah, bagaimana denganmu?”

   “Ahaha, aku hampir tidak sempat sarapan tadi pagi karena pembatu di rumah belum kembali dari kampung halamannya dan kedua orang tuaku shift malam. Tapi bunda Sam memintaku sarapan di rumahnya, ya kan Sam?”

   Sam melirikku sekilas dan mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Daniel tersenyum kembali padaku setelah mendapat respon pelit dari Sam.

   “Aiish, bisa nggak kamu keluarin suara dikit aja?” ucap Vic jengah.

   “Vic, jangan gitu dong. Nanti dia marah” ucap Shella pelan.

   “Biarin” jawab Vic acuh “Lagian ngapain juga kamu jadi sok jaim gini?”

    Shella segera menutup mulut blak-blakan Vic, Shella sedikit panik kalau Sam benar-benar mendengarnya. Tapi diluar dugaan, Sam tidak menanggapi ucapan Vic barusan, dia fokus berjaan menuju kelas tanpa menoleh ke belakang. Daniel pun sama, dia cuma tersenyum simpul mendengar sahabatnya ribut soal suara Sam.

   Tiba di kelas kami, sudah ada Nicky dan Leo yang mengisi deretan bangku kedua dari baris kedua. Daniel dan Sam duduk di bangku pertama depan Nicky dan Leo. Di deret paling pojok kiri depan yang bersebelahan dengan Daniel dan Sam dihuni oleh Nico dan Frans. Sebenarnya Nico ingin duduk di bangku ketiga di belakang Nicky dan Leo tapi dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti keinginan Frans.

   “PANGERANKUUU…!!!!!” teriak Vic kencang saat melihat lelaki idamannya.

   Vic langsung berlari dan memeluk erat leher Nicky hingga dia tercekik. Leo yang ada di sebelahnya hanya tertawa lepas melihat tingkah laku dua sahabatnya ini.

   “My perfect prince. Kamu makin ganteng banget sih, aku kangen berat sama kamu, ulu uluuu” kata Vic sambil menjewer kedua pipi Nicky gemas.

   “Eh, ulet bulu. Minggir kek, aku mau nyamperin bidadariku” kata Nicky berusaha menyingkirkan badan Vic dari atas pangkuannya.

   “Ogah.. ogah.. ogah” ejek Vic yang disambut tawa teman-teman sekelas kami, kecuali Sam.

   “Pagi Rose, kita ketemu lagi” ucap Leo mendekati aku, dia mengeluarkan sebuah mawar berwarna putih dari balik punggungnya. Semua itu tidak luput dari pandangan Daniel dan lainnya.

   “Waah, ini indah sekali Leo. Kamu dapat dari mana bunga ini?” tanyaku bahagia, Leo sangat tahu aku suka bunga mawar.

   “Sesuai namamu, aku akan bawakan bunga tercantik di dunia ini cuma buat kamu” kata Leo menggombal. Bunga mawar yang ia pegang telah berpindah ke tanganku.

   “Leo! Dasar anak cupang, beraninya kamu deketin Rose!” teriak Nicky masih berusaha menjauhkan Vic darinya.

   “Siapa cepat dia dapat, hahaha” jawab Leo menirukan ucapan Nicky tadi pagi.

   “Sudah, sudah balik ke tempatmu sana, dan kau Vic cepat cari tempat dudukmu” perintah Daniel tegas sambil menarik kerah kemeja belakang Leo agar menjauhiku.

   Tak berselang lama, seorang gadis super cantik datang dari arah pintu kelas. Gadis dengan postur setinggi model itu berjalan mendekati kami, dia meletakkan buku-buku tebal yang dibawanya dan meletakkannya diatas meja paling depan.

“Selamat pagi” sapanya ramah.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status