2. Makan Malam

April tersenyum manis ketika disambut Sandra; calon ibu mertua. Sandra langsung memeluk April ketika wanita itu dan dirinya bertemu. Sandra belum pernah melihat April sebelumnya, dia hanya melihat April dari foto yang diberikan Oma Dera.

“Cantik banget mantu tante,” ucap Sandra.

“Tante juga cantik,” jawab April.

Kulit mulus April, wajah dengan riasan natural. Rambutnya sedikit berwarna kecoklatan, sama dengan bola mata yang terlihat berwarna coklat. Bibirnya tipis dengan balutan warna merah muda dari pewarna bibir. Pipinya sedikit chubby, hidungnya sangat mancung. Rambut dengan sedikit melewati bahu itu bawahnya di curlly.

“Kata Oma kamu memilih tinggal di Apartemen? Kenapa gak di rumah tante aja sih?” tanya Sandra.

Mereka kini sudah duduk di sofa yang berwarna putih tulang, Sandra menarik April untuk duduk sambil merangkaul wanita itu. Harum vanilla dari tubuh April membuat Sandra betah berdekatan dengan wanita itu. Hidungnya merasakan kenyamanan ketika menghirup harum yang kini bersampingan dengannya.

“Iya tante, April di Apartemen aja. Tidak papa kalau April mau main kesini?”

“Kamu ini. Gak papa lah, justru tante seneng kalau kamu di sini. Tinggal disini aja yah?” tawar Sandra.

April menggigit bibir bawahnya menimbang tawaran Sandra.

“Untuk sementara April tinggal di Apartemen aja tante, kalau memang April tidak nyaman di Apartemen, April bolehkan di sini?”

Sandra menghela napasnya. Sulit sekali membujuk calon menantunya ini.

“Yasudah gak papa. Kamu mau istirahat dulu? Nanti malam kita makan malam bersama, Aliga sedang keluar, Om Baskara masih dikantor.”

April mengangguk. Sandra pun memangggil pelayan untuk membantu April.

Ini sebenarnya bukan rumah, mansion yang sangat luas, tak jauh berbeda dengan rumah Omanya. Banyak pelayan juga penjaga saat menapakan kaki di gerbang tadi.

April kini berada di kamar yang luasnya hampir sama dengan kamarnya. Tak ada yang berbeda tempat tinggal Oma dengan Tante Sandra ini. Namun April merasakan kehangatan dikeluarga ini. Tante Sandra terlihat sangat ramah dan santai.

Ini pertama kalinya April bertemu dengan Tante Sandra, tapi seperti sudah bertemu sering. Tante Sandra membuat April nyaman. Dia mau tinggal disinitapi rasanya dia harus lihat dulu bagaimana reaksi Om Baskara juga Aliga. Yang paling utama adalah Aliga, laki-laki itu.

***

Para pelayan sudah mengetuk-ngetuk pintu kamar April. Saking terlelapnya tidur, April tak menyadari hari sudah menapaki malam.

Saat keluar kamar, April melihat beberapa pelayan. Mereka membungkukan badan meminta maaf jika mengangggu.

“Maaf nona, Nyonya menyuruh kami untuk memberitahu nona makan malam.”

“Iya. Saya segera kesana,” jawab April.

April segera mengganti bajunya. Tadi ia memakai baju tidur kimono setelah mandi, karena memang niatnya ingin tidur dulu.

Malam ini April mengenakan gaun saja. Jangan ada yang bilang berlebihan. Karena memang setiap hari begitu, April selalu dituntun untuk terlihat cantik oleh Omanya itu. Jadi sudah biasa. Gaun hitam selutut dengan tanpa lengan memperlihatkan kulit putih mulus lehernya yang terlihat jenjang meskipun April mungil.

“Selamat malam,” April menyambut semuanya, memberikan salam hormat dan menyapa.

Sandra tentu saja menyambutnya dengan sumringah.

“Malam April,” ucap Baskara, tersenyum melihat wanita yang akan menjadi menantunya.

Laki-laki itu sama sekali tak berniat menyapa. Meski di dalam hati dan pikirannya memuji wanita yang kini sudah duduk disampingnya.

“Aliga!” tegur Sandra karena melihat anak semata wayangnya itu terlihat sangat tak berminat untuk menyapa April.

“April.” April mengulurkan tangannya, senyum terbit diwajahnya ketika melihat langsung wajah yang ia kagumi hanya lewat foto. Lebih tampan aslinya ternyata. Rambutnya sedikit kecoklatan yang April lihat itu bukan warna rambut aslinya, matanya dengan bola mata hitam legam juga bulu mata yang sangat lentik. Alisnya benar-benar tebal. Bibirnya berwarna merah muda seperti memakai pewarna. Rahang tegasnya itu terlihat lebih tegas.

Aliga sama sekali tak menyambut salam perkenalan tangan April.

“Aliga,” balas Aliga dengan terlihat sekali sangat tak berminat. April melihat itu, bahwa Aliga sama sekali tidak tertarik dengannya.

Baskara menatap Aliga, anak itu benar-benar tak tahu tatakrama.

“April maafin Aliga yah,” ucap Sandra.

Aliga sama sekali tak peduli dan tak merasa bersalah. April hanya mengangguk. Suasana hening kembali dan Baskara mulai mengawali mempersilakan makan.

***

Makan malam selesai, Aliga lebih dulu selesai dan segera meninggalkan ruang makan. April melihatnya merasa tak enak dengan ada kehadirannya suasana hangat keluarga Adelard menjadi seperti ini.

“Aliga memang seperti itu, nanti kalau sudah kenal gak akan seperti itu kok.” Tante Sandra mencoba menjelaskan. Kalau seperti ini mana mungkin April mau tinggal disini. Ia lebih baik di Apartemen saja.

“Nanti kamu diantar pelayan untuk tahu rumah ini, supaya sudah terbiasa disini,” ucap Sandra.

April mengangguk.

“April, Om tinggal dulu, ada yang harus Om kerjakan,” ucap Baskara.

“Iya Om.”

Sebelum ke Apartemennya, April ditemani pelayan untuk tahu rumah ini.

“Apa ada tempat yang menurut kamu special di rumah ini?” tanya April.

“Saya menyukai taman yang dibelakang rumah ini Nona, taman itu terhubung ke danau.”

April terlihat tertarik.

“Bisa kita kesana?”

“Maaf Nona, ini sudah malam. Biasanya harus ramai-ramai jika malam-malam begini. Mungkin besok siang Nona bisa kesana,” jelas pelayan itu.

Sangat sayang sekali, April menjadi penasaran tempat itu.

Mereka berjalan kembali, ditemani lampu remang-remang sepanjang kolam renang. April memang tadi tertarik dengan kolam renang ini. Ada trampolin bulat, kolam renang dengan pencahayaan remang-remang memberikan kesan tersendiri. Gazebo yang menghadap kolam renang itu sangat pas sekali juga untuk bersantai sambil melihat bintang-bintang saat malam seperti ini.

“Lo bisa tinggalkan kita?” suara dingin milik Aliga membuat pelayan langsung mengiyakan dan berlalu dari sana.

April menatap Aliga. Ada apa dengan laki-laki ini.

“Ikut gue,” ajak Aliga pada April.

April sedikit tak nyaman dengan bahasa yang digunakan Aliga. Dia tidak pernah berbicara dengan bahasa itu sebelumnya. Semua orang yang berhubungan dengannya biasanya menggunakan bahasa formal. Sebegitu kakunya kah hidup April? Namun itu kenyataanya.

Di kursi yang menghadap kolam itu mereka duduk.

“Gue gak setuju dengan perjodohan ini.”

April tahu, dari saat pertama bertemu saja laki-laki itu sama sekali tak berniat baik padanya. Apalagi melaksanakan perjodohan.

“Gue suka sama orang lain. Dan gue juga yakin Lo juga sama kan?” tanya Aliga.

April menggelengkan kepalanya.

“Saya belum pernah bertemu dengan laki-laki siapapun. Terkecuali para penjaga, saudara saya ataupun client Oma yang rata-rata sudah berumur.”

Aliga kemudian menatap heran April.

“Lo hidup di zaman apa sih?” tanya Aliga heran.

“Di era sekarang,” jawab April polos.

“Lo sekolah bukan?” tanya Aliga.

April mengangguk.

“Dari kecil saya sekolah private.”

“Buruk sekali hidup Lo.”

Aliga menggeleng-gelengkan kepalanya, masih ada hidup yang seperti itu. Pantas saja cara bicara April begitu kaku.

“Terserah lah itu hidup lo dan bukan urusan gue. Tapi asal Lo tahu, gue udah suka sama orang lain, dan gue mau kita bikin kesepakatan untuk membatalkan perjodohan ini.”

Tidakkah tahu Aliga, bahwa apa yang diucapkannya membuat April lebih menyadari bahwa hidupnya dalam kekangan.

Beruntung sekali wanita itu bisa disukai Aliga. April ingin tahu sosok seperti apa yang disukai Aliga.

“Saya tidak bisa, saya tetap akan menjalankan perjodohan ini.”

“Lo gila? Lo mau hidup dengan orang yang sama sekali gak mencintai Lo?”

“Tidak masalah,” jawab April. Memang selama ini siapa yang menyayanginya? Yang peduli terhadap perasaannya. April tidak peduli akan Cinta yang dimaksud Aliga itu. Justru entah kenapa April merasa jika dia menikah dengan Aliga nanti, dia akan terbebas dari tekanan-tekanan yang dirasakannya saat ini.

“Tapi gue gak bisa hidup dengan orang yang gak gue cintai,” ucap Aliga.

April terdiam, dia bahkan tidak mengertibagaimana cinta dan mencintai. Apa harus April bertanya dulu pada Aliga? Itu tidak mungkin, akan ditertawakan seperti apa hidup memperihatinkan April oleh Aliga?

“Saya akan tetap menerima perjodohan ini. Saya tidak peduli dengan cinta-cinta yang kamu maksud.”

Sifat keras kepala April pun keluar,

“Lo egois, mementingkan diri sendiri. Apa karena lo hidup tanpa cinta?” ucap Aliga yang kemudian pergi dari hadapan April.

Setelah kepergian Aliga, tiba-tiba April meneteskan air matanya yang langsung ia usap. Hidup tanpa Cinta? Persetan dengan cinta-cinta, April bahkan tidak tahu makna dari kata itu. Yang ia tahu; perintah, larangan, aturan.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status