4. Ulang Tahun Bunda Aliga

Kini April merasa lega, karena nyatanya dia tidak bertemu banyak orang. Dia langsung ke gedung tempat tes berlangsung. Sangat sepi disini. Lorong-lorong yang apabila ada orang berjalan akan terdengar karena saking luas juga sepinya. Disini banyak sekali kamera CCtV disetiap sudutnya.

Seorang guru yang memberikan arahan untuk tes ini sedang membuka komputernya yang terhubung dengan komputer yang akan digunakan April tes. Hasilnya akan keluar langsung namun keputusan akan berlangsung selama beberapa hari. Dan April akan ke sekolah hanya untuk perkenalan tempat saja. Sekitar satu sampai tiga hari. Sampai administrasi April selesai juga pengcekan nilai siswa kelas istimewa.

Seragam sekolah memang diberikan saat memang lolos. Karena sebelumnya diadakan tes masuk sekolah ini dan sampai pada tes lanjutan.

Dua jam itu digunakan April sebaik mungkin, meski sebenarnya dia hanya menggunakan waktu satu jam untuk mengisi. Jangan tanyakan kepintaran April. Dia benar-benar jenius. Belajar sudah menjadi kebiasaanya, dan dia sangat ingat apa yang telah dipelajarinya jadi tidak membuang-buang waktu untuk belajar saat menghadapi ujian. Karena sejatinya April selalu serius saat pembelajaran materi. Jadi dia hanya cukup untuk mengulang belajar saja tanpa harus mati-matian.

Waktu ujian selesai. April diperkenankan untuk keluar kelas dan bisa meninggalka gedung. Terserah ingin pulang atau akan melihat-lihat terlebih dahulu.

Marinka menunggu di ruang tunggu gedung. Para staf tahu siapa April, tapi meski begitu sekolah ini menerapkan keadilan. Yang memang masuk kelas istimewa adalah mereka-mereka yang sesuai syarat. Bukan berarti Aliga dan Justin yang hanya karena anak dari pemilik sekolah ini.

Jadi SMU Adelard ini adalah milik Tuan Geraldin Adelard, Opa dari Aliga dan Justin. Tuan Gerald kini sudah sepuh, dan hanya berbaring di ranjang dengan dilayani. Istrinya Nyonya Hestin Gerald sudah lebih dulu meninggal dunia.

Perjodohan ini tak bukan dan tak lain adalah rencana Tuan Gerald dengan Suami Oma Dera yang sudah meninggal, yaitu kakeknya April; Opa Gugun. Mereka sudah merencanakan saat tahu anak dari Oma Dera; ibunya April; Nirina, melahirkan seorang anak perempuan. Dan Sandra seorang anak laki-laki yaitu Aliga. Sedangkan Oma Sari hanya kerabat biasa dengan Opa Gerald, Oma sari ini ibu dari Papanya April. Namun dia sangat sayang pada April. Namun sayang mereka justru tanpa mereka ketahui mengekang April.

“Nyonya Sandra menyuruh Nona untuk ke rumahnya bersama Tuan Muda Aliga,” ucap Marinka memberitahu April yang kini baru saja sampai.

April hanya mengangguk, dan dia kini sudah berada di mobil. Akan menuju gedung dimana Aliga berada, untuk menjemputnya.

Hanya beberapa menit saja menuju kesana. Cowok yang menenteng tasnya sebelah, juga raut muka yang sepertinya sedang kesal. Dia sendirian disana, dengan earphone menyumpal telinganya.

Marinka turun dari mobil.

“Selamat siang tuang,” sapa Marinka.

“Lo siapa?” tanya Aliga.

“Perkenalkan saya Marinka asisten nona April. Nyonya Sandra menyuruh saya untuk menemui Tuan muda untuk menjemput.”

Aliga memutar bola matanya malas. Dia pun masuk kedalam mobil, membuka pintu belakang. Di sana dia melihat cewek yang sedang memalingkan mukanya. Entah melihat apa. Sebenarnya Aliga sangat malas sekali. Namun apa boleh buat, ucapan Bundanya itu tidak bisa dibantah. Rajukkan Bundanya sangat sulit sekali untuk ia tolak.

“Bisa kita berangkat?” tanya Marinka.

“Hm.” Aliga hanya berdehem saja. Tak berucap apapun.

Mobil Aliga yang dibawa tadi pagi kini sudah dibawa orang suruhannya untuk di bawa pulang kerumah. Semudah itu bukan? Keluarga sultan memang seperti itu sepertinya.

Aliga sedikit heran dengan cewek yang bersebelahan dengannya. Dia hanya diam saja, bahkan sepertinya sama sekali tak beranjak dari menatap jalanan luar. Seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Apa dia sebenarnya keberatan dengan perjodohan ini?” tanya Aliga dalam pikirnnya.

Jika memang iya, Ia akan berencana supaya April meloloskan rencana penggagalan perjodohan ini.

***

Ruangan luas dengan bercat putih, terdapat meja besar juga makanan terhidang disana. Di pintu itu terdapat dua penjaga. Para pelayan berdiri untuk menyiapkan apa yang dibutuhkan. Ini sudah bukan hal yang bagaimana lagi. Hal seperti ini sudah biasa bagi Aliga maupun April.

Sandra sudah duduk disana.

“Semuanya boleh keluar,” perintah Sandra saat Aliga dan April sudah duduk.

Semuanya membungkukan badan dan meninggalkan tempat.

“Gimana sekolahnya?” tanya Sandra pada April.

“Sangat bagus tante,” jawab April.

“Bunda gak biasanya, Aliga masih masuk jam pelajaran Bun.”

“Sehari saja gak masalah, gak bikin kamu keluar dari kelas istimewa,” ujar Bundanya malah sedikit mengomel.

Aliga tak  lagi berucap kalau sudah begitu.

“Dua hari lagi tante mau rayain ulang tahun. Tante udah undang Oma juga Papa-Mama kamu, tapi sayangnya Papa-Mama kamu gak bisa dateng, Oma Dera dan Oma Sari juga sama, gak bisa dateng. Mereka sangat sibuk sekali,” ucap Sandra.

April hanya tersenyum kecil. Memang begitu setiap hari. Mendengar kata Papa dan Mama, April merasa sangat asing dengan kata itu. Jika ada orang yang bertanya apa arti dari Mama dan Papa. Pastinya April tidak akan bisa menjawab, kalaupun bisa menjawab mungkin dia hanya akan megeluarkan pengertian secara umum saja.

“Kamu mau kan nginep di rumah?” tanya Sandra pada April.

“Kenapa harus menginap tante?” tanya April kemudian.

“Ya... kamu kan calon menantu tante, tante maunya kamu ada di rumah juga bantuin persiapan ulang tahun tante,” jawab Sandra. Aliga sempat menatap Sandra saat menyebut April menantunya.

April menimbang-nimbang terlebih dahulu.

“Mau ya?”

“Iya tante,” jawab April setuju.

Sandra kini beralih menuju tempat duduk April. Kemudian memeluknya. Dia bahkan memeluk April dengan begitu hangat, sampai April saja merasakan kehangatan itu.

Ada hal yang membuat Papanya April tidak bisa datang. Mengingat bahwa Sandra tahu semuanya, membuat dirinya sangat sayang pada April. Mungkin bisa dikatakan merasa kasihan dengan April, namun nyatanya lebih dari itu, dia juga menyayangi calon menantunya. Dan dia sangat berharap kalau Aliga mau menerima April juga mencintai sepenuh hati April.

“Tante kenapa nangis?” tanya April yang melihat mata Sandra sedikit berkaca-kaca.

“Bunda gak papa?” tanya Aliga yang kemudian khawatir dengan bundanya itu.

“Enggak, Bunda gak sangka aja kalian sudah tujuh belas tahun. Apalagi April akan menjadi mantu Bunda,” jawab Sandra yang membuat hati April menghangat, inikah kasih sayang sebenarnya?

Aliga sebenarnya tidak suka mendengar pernyataan ini. Bisakan dikamus hidupnya menghilang kata perjodohan? Dan tidak akan terjadi hal itu pada dirinya?

***

“Mika, Andrew undang juga yah,” ucap Bunda.

Kini mereka sedang memilih baju untuk acara ulang tahun Bundanya. Sekaligus fitting untuk April dan Aliga supaya serasi saat acara ulang tahun Sandra. Karena nanti pasti akan bertanya-tanya calon untuk Aliga. Masalahnya rekan bisnis keluarganya sangat menginginkan Aliga untuk berjodoh dengan anaknya. Sedangkan perjanjian keluarga Adelard dan Miller, yang sekarang Adelard dan Admiral karena April menyandang nama dari Papanya itu sudah lebih dulu melakukan perjanjian perjodohan.

“Justin enggak?” tanya Aliga.

“Dia anak dari adik Papa kamu, tanpa diundang udah dateng,” jawab Sandra.

Ah, Aliga melupakan itu, dia terlalu menganggap bahwa Justin sahabatnya.

“Raini boleh?” tanya Aliga kemudian.

Sandra menatap April yang kini sepertinya sedikit terkejut mendengar ucapan Aliga. Sandra tidak pernah melarang Aliga berdekatan atau berteman dengan siapapun. Namun Sandra sudah mewanti-wanti Aliga bahwa dirinya terikat dengan perjanjian perjodohan. Jadi bagaimanapun juga Aliga harus tetap menikah dengan April kecuali memang persetujuan dua keluarga untuk membatalkan. Dan itu hal yang mungkin sulit untuk dipercaya. Kalian mungkin tahu bagaimana Oma Dera bukan?

“Boleh,” jawab Sandra.

Setelah ini Sandra akan berbicara empat mata dengan anak lelakinya itu, perihal ini.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status