5. Pertama Kali Bertemu

Taman luas itu disulap dengan indah. Tema garden party sepertinya memang sangat cocok. Hijau dari taman memberikan kesan segar untuk para orang tua. Lampu kerlap kerlip memberikan cahaya terang, di malam hari ini.

Cahaya memantul terlihat dari air yang terisi di kolam renang. Lilin-lilin setiap meja juga memberikan cahaya. Di tengah kolam renang terdapat tulisan dari lilin yang dibentuk diatas pelampung berbentuk bulat.

Para tamu sudah mulai berdatangan, sedangkan yang berulang tahun masih menuntaskan riasannya bersama calon menantu.

April benar-benar menginap di rumah Aliga. Sandra tentunya hanya sekadar alasan saja supaya April membantu. Di rumah April hanya ikut dengannya menjalani perawatan sebagaimana perempuan. Aliga sudah menduga sebenarnnya Bundanya itu hanya ingin ditemani saja. Juga ternyata ada runtutan acara yang harus Aliga juga April ketahui, dan Sandra menyuruh untuk Aliga dan April bersiap jika malam ini di hari ulang tahun Sandra hubungan mereka akan dipublikasikan dan tepat ketika usia mereka melewati tujuh belas tahun yang tinggal beberapa bulan saja itu mereka akan bertunangan.

Aliga sempat memprotes akan hal ini.

“Bunda, Aliga sama sekali tidak mencintai dia,” protes Aliga pada saat itu, dan tentunya ada April. Sandra bahkan tak enak hati karena ada April.

“Keluarga kami sudah sepakat, tidak ada penolakan,” jawab Sandra sambil sesekali melihat April yang sepertinya sama sekali tak peduli dengan penolakan Aliga.

“Bunda, ini gak adil. Bukannya Bunda selalu bilang mengenai keadilan?” tanya Aliga kemudian.

“Ini sudah kesepakatan, bukan masalah adil tidak adil.”

Aliga tidak tahu harus bagaimana lagi, toh Bundanya sama sekali tidak menggubris penolakannya itu. Sampai pada malam ini Aliga hanya diberitahu Bundanya yang membuat dia bingung sendiri.

“Bunda sayang sama kamu, Bunda lakuin ini semua untuk keadilan April. Bunda butuh bantuan kamu,” ujar Sandra sambil membelai wajah sang putra yang terlihat kebingungan.

“Aliga gak ngerti Bun, keadilan April? Maksud Bunda apa?” tanya Aliga kemudian.

“Seiring berjalannya waktu kamu akan mengerti. Bunda gak bisa jelasin. Dengar Aliga, untuk malam ini Bunda mau kamu dan April seolah-olah pasangan yang memang saling mencintai,” pinta Sandra.

“Bun, Raini kesini,” ucap Aliga kemudian.

“Bunda pernah bilang mengenai Raini. Waktu ini akan terjadi.”

Aliga memalingkan wajahnya dari wajah sang Bunda. Berat sekalii menolak keinginan Bundanya. Selama ini Bundanya selalu menuruti kemauannya, hanya mengenai masalah ini saja Bundanya menuntutnya.

“April ada dikamarnya, jemput dia. Bawa ke tempat acara, dia sedikit sulit untuk bersosialisai,” ucap Sandra.

“Gini nih anak terlalu dimanja, terlalu dijara, ketemu orang aja anti,” gerutu Aliga.

Sandra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak bisa memberitahu apa yang terjadi dengan April. Dia mau Aliga benar-benar sesuai dengan hatinya membantu April. Bukan karena omongan Sandra yang Sandra sendiri belum tentu kebenarannya. Sandra mau biarkan April yang berbicara pada Aliga sendiri.

***

Gaun hitam panjang dengan kilauan berlian yang terdapat di gaun. Gaun tanpa lengan itu hanya sebatas dada. Kalung berlian dengan huruf Q kesayangannya mengalung indah di leher wanita cantik yang sedang menengadah ke atas. Tangannya bertumpu di pagar balkon. Sesekali ia mengepalkannya. Malam ini entah mengapa rasa sesak tiba-tiba muncul begitu saja saat ia tak sengaja melihat wanita yang tadi bersama Aliga.

“Ekhem.”

April masih belum menyadari adanya laki-laki yang ada dibelakangnya. Bersandar di ambang pintu memperhatikannya malas.

“Bunda nyuruh kita kebawah,” ujar Aliga karena melihat April sepertinya tak menanggapinya.

April mencari arah suara itu, ia membalikan badannya. Aliga. April sama sekali tidak mengerti bagaimana jatuh cinta, tapi dari apa yang ia baca, ciri-ciri orang jatuh cinta adalah ketika melihatnya jantungnya berdegup cepat. Dan ia merasakan itu ketika melihat Aliga sekarang yang sedang berhadapan dengannya.

Aliga menatap wanita yang ada dihadapannya. Rambutnya digelung dengan menyisakan anak rambut didepan, memberikan kesan tirus di wajah sedikit chubbynya. Riasannya sungguh natural dengan warna soft. Matanya terlihat sangat coklat, hidung mancung, juga bibir tipis dengan warna merah muda itu membuat Aliga kehilangan fokusnya. Rambut dengan dirias seperti itu memperlihatkan leher jenjang putih. Aliga melihat keindahan pada April, meski tubuhnya mungil. Keduanya saling membisu. Saling memuji dalam pikirannya masing-masing tanpa mau mengutarakannya.

“Acaranya sudah dimulai?” tanya April kemudian, yang lebih dulu sadar dari kekagumannya. Melihat Aliga dengan kemeja hitam juga tuxedo hitam yang dipakainya.

“Ya,” jawab Aliga kemudian sadar dari kekagumannya melihat April. Aliga mengulurkan tangannya. April menyambut uluran itu dengan senang hati.

“Bunda yang nyuruh. Jangan GR!” ucap Aliga mematahkan bunga yang baru saja akan bermekaran.

“Saya tahu, orang yang menjaga saya pun melakukan hal ini,” jawab April mematahkan ucapan Aliga.

***

Sandra sudah berada di tempat kue berada. Acara akan segera dimulai, Sandra sebenarnya merasa was-was, dia takut terjadi sesuatu pada April dan Aliga.

“Kamu santai saja, Aliga akan menjadi anak baik diulang tahun Bundanya,” bisik Baskara karena melihat sang isteri yang gelisah dan selalu melihat ke setiap arah mencari seseorang.

Di acara ini para sahabat Sandra juga Baskara datang begitupun keluarganya. Orang tua Mika, Andrew pun datang karena mereka memang bersahabat dari dulu. Jangan tanyakan orang tua Justin, kalau saja tidak datang Baskara akan membuat perhitungan pada Papanya Justin alias adiknya itu.

Senyuman angkuh terukir dari wajah April, tatkala dia melihat wanita yang sepertinya kaget melihat dirinya disamping Aliga sambil mengalungkan tangannya dilengan Aliga.

Pasangan yang sangat serasi. Aliga dan April berjalan bersama menuju arah dimana Sandra berada. Aliga tak mempercepat jalannya bahkan dia sepertinya mencoba mengimbangi April yang pasti sangat kesulitan dengan gaun yang dipakainya.

Justin, Mika dan Andrew menatap April tak percaya. Kagum dengan kecantikannya itu. Sedangkan Raini yang ada diantara mereka, menatap dengan kesesakan yang hinggap dihatinya. Apa harus dia mundur begitu saja? Apa selama ini dia dipermainkan Aliga? Banyak sekali pikiran-pikiran buruk yang hinggap di otak Raini. Aliga sempat menatap Raini, dia bahkan cemas karena melihat Raini yang terlihat kecewa. Demi apapun Aliga sama sekali tidak berniat mempermainkan Raini.

Justin menatap lekat wajah April. Dia tiba-tiba ingat seseorang yang pernah ia temui. Apakah benar itu dia? Tapi mana mungkin? Kini pikiran Justin berkecamuk, merasa ingat sesuatu akan pertemuan dengan April.

“Gila, cantik banget,” ujar Andrew yang tak berkedip melihat kecantikan April.

“Gue cewek aja ngiri, pulang dari sini pasti diceramahin nyokap juga bokap,” ucap Mika.

“Lo cewek jadi-jadian sih.”

“Kurang ajar Lo!” amuk Mika pada Andrew.

Mereka tak menyadari perubahan wajah pada Raini setelah melihat sepasang itu. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing dan kekagumannya.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status