8. Harapan

Yafas meletakkan bolpoin yang ia gunakan untuk mencatat beberapa hal penting mengenai pasien yang akan ia temui esok hari. Pria satu itu menghela napas panjang dan memilih untuk melangkah menuju beranda rumahnya dan menatap taman rumahnya yang tidak begitu luas, karena Yafas memang tidak memiliki waktu untuk merawat taman yang lebih luas daripada tamannya saat ini. Yafas memilih untuk duduk di salah satu kursi yang memang disediakan untuk bersantai di sana. Kening Yafas mengernyit dalam saat dirinya memikirkan sesuatu yang terasa begitu mengganggu.

Tak lama, Yafas pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang, setelah memastikan jika saat ini sosok yang akan ia hubungi sudah sampai di rumah setelah seharian sibuk dengan pekerjannya di kantor. Saat sambungan telepon diangkat, Yafas tersenyum tipis dan berkata, “Halo, Tante Edel.”

“Ah, halo Yafas. Ada apa? Tante agak gugup saat menerima teleponmu ini. Tante takut jika kamu membawa kabar buruk mengenai Makaila. Apa mungkin, konsultasi terakhir berjalan dengan tidak baik? Tante belum sempat meneleponmu, dan sudah lebih dulu dihubungi olehmu. Maafkan Tante, ya,” sahut Edelia dari ujung sambungan.

Seperti yang sudah diketahui, Edelia dan Yafas memang sudah dekat. Dulu, keluarga memang menjadi tetangga. Namun, karena keluarga Yafas adalah keluarga yang memang sering mendapatkan tugas ke sana ke mari, pada akhirnya Yafas pun harus pindah bersama keluarganya. Sebelum kini, Yafas memang memiliki rumah sendiri setelah kedua orang tuanya meninggal. Yafas juga menjadi psikiater, karena dorongan kedua orang tuanya. Dulu, jujur saja Yafas merasa tertekan karena harus menjadi tenaga kesehatan, sementara dirinya memiliki passion di bidang lain. Namun, Yafas sangat bersyukur karena kedua orang tuanya yang bersikukuh menginginkan Yafas menjadi seorang dokter, titel inilah yang membawanya kembali bertemu dengan Makaila.

Semenjak pindah, Yafas memang berusaha untuk menghubungi Edelia dan Makaila. Hanya saja, keduanya juga ternyata pindah. Keduanya pindah dengan terburu-buru dan tanpa meninggalkan jejak apa pun. Seakan-akan, keduanya tengah menyembunyikan jejak mereka dari seseorang yang memang tengah mencari mereka. Namun, dua tahun yang lalu, Yafas yang memang sudah aktif menjadi seorang psikiater mendapatkan pasien yang tak lain adalah Makaila. Tentu saja Yafas senang jika dirinya bisa bertemu lagi dengan Makaila, gadis yang diam-diam sudah ia sukai. Namun, Yafas tentunya enggan bertemu dengan Makaila, jika pada akhirnya Makaila datang sebagai pasien baginya.

Yafas menggeleng dan kembali fokus dengan apa yang akan ia bicarakan dengan Edeleia. “Tante tidak perlu cemas. Memang sesi konsultasi terakhir tidak selesai sebagaimana mestinya, karena Makaila merasa lelah dan ingin segera pulang. Tapi, kali ini aku tidak ingin memberikan kabar buruk mengenai kondisi Makaila. Aku memang tengah menganalisis kemajuan emosi Makaila, tetapi tidak ada hal buruk yang memang perlu diperhatikan. Hanya saja, aku ingin menanyakan, setelah Makaila memulai homeschooling, apa Makaila terlihat aneh atau menunjukkan gerak-gerik yang tidak biasa?” tanya Yafas sembari mencoba menenangkan Edelia agar tidak merasa resah.

“Ah, jadi begitu. Tante hanya cemas tadi. Mengenai Makaila, awalnya Tante juga sangat cemas dengan kondisinya jika harus homeschooling dan bertemu hampir setiap hari dengan orang yang sebelumnya tidak ia kenal. Namun, setelah homescooling, Makaila sama sekali tidak terlihat aneh. Makaila malah terlihat memiliki banyak kemajuan. Sedikit demi sedikit, Makaila mulai membuka diri. Ini jelas kabar baik, bukan? Karena jujur saja, Tante sangat merasa senang dengan kemajuan Makaila ini. Tante merasa jika tinggal menunggu waktu sebentar lagi, dan Makaila bisa berubah normal kembali.”

Yafas bisa mendengar dengan jelas nada penuh syukur serta kebahagiaan dari suara Edelia tersebut. Yafas yang mendengar penuturan Edelia tersebut, tentu saja tidak menangkap ada hal aneh yang mungkin bisa mendukung kecurigaan yang tengah ia  pikirkan ini. Karena itulah, Yafas kembali tersenyum walaupun dirinya sama sekali tidak berhadapan dengan orang yang tengah berbincang dengannya. Yafas berkata, “Tentu saja ini adalah kabar yang sangat baik, Tante. Rasanya wajar saja jika Tante merasa senang dengan kabar ini.”

“Benarkah? Ah, syukurlah kalau begitu. Tante benar-benar senang jika kondisi Makaila mulai kembali normal,” ucap Edelia sama sekali tidak berusaha untuk menutupi rasa senangnya.

“Iya, Tante. Makaila sudah memiliki kemajuan yang pesat sebagai seorang pasien.” Yafas memang memberikan pujian yang sesuai dengan apa yang ia analisis. Meskipun, Yafas sendiri masih merasakan ada hal yang janggal pada Makaila. Namun, dirinya tidak akan gegabah dengan mengatakan hal tersebut pada Edelia, sedangkan dirinya saja masih belum yakin dengan apa yang ia rasakan ini.

“Kalau begitu, apa sesi konsultasi yang tidak selesai itu perlu diganti seperti biasanya?” tanya Edelia.

“Itu tidak diwajibkan, Tante. Jika Makaila mau, kita bisa menjadwalkan konsultasi di minggu ini juga. Namun, jika Makaila tidak mau, kita hanya perlu menggunakan jadwal konsultasi yang sudah kita sepakati sebelumnya,” jelas Yafas.

“Kalau begitu, nanti Tante akan menanyakannya pada Makaila. Apakah dia mau kembali konsultasi tambahan untuk mengganti sesi konsultasi kemarin, atau memilih untuk melanjutkan jadwal yang sebelumnya.” Tentu saja Edelia harus menanyakannya pada Makaila, daripada secara langsung menyetujuinya. Edelia tentu saja tidak ingin Makaila merasa tertekan atau merasa tidak senang dengan apa yang ia akan lakukan. Begitupula dengan Yafas, meskipun sesi konsultasi itu penting, tetapi jika sampai Makaila merasa tertekan, sesi konsultasi sama sekali tidak akan berjalan dengan baik seperti yang diharapkan.

“Terima kasih, Tante. Maafkan aku karena mengganggu waktu istirahat Tante,” ucap Yafas menyesal.

“Tidak apa-apa, Yafas. Tidak perlu sungkan seperti itu. Tante malah merasa begitu berterima kasih, karena kamu sangat memperhatikan kondisi Makaila. Tante benar-benar bersyukur karena Makaila memiliki psikiater sepertimu. Kalau begitu, Tante tutup sambungan teleponnya dulu, ya. Tante harus membantu Makaila memasak makan malam,” ucap Edelia.

Yafas mun mengiyakan, dan sambungan telepon pun terputus begitu saja. Saat itulah, Yafas memandang langit yang sudah dihiasi semburat jingga, kini mulai terlihat gelap. Suara serangga malam juga mulai terdengar menyapa indra pendengarannya. Yafas terdiam di sana dengan pikirannya yang berkelana jauh. Tentu saja, Yafas tengah memikirkan hal yang berkaitan dengan kondisi psikis Makaila. Sebagai seorang psikiater, Yafas harus memastikan serta menganalisis mengenai perkembangan kondisi pasiennya. Namun jujur saja bagi Yafas, Makaila adalah pasien yang sangat istimewa. Pasien yang perlu mendapatkan perhatian lebih darinya.

Yafas menghela napas panjang. Rasanya, setelah mengetahui kondisi psikis Makaila, setiap harinya Yafas tidak bisa untuk tidak merasa cemas. Sebagai seorang psikiater, tentu saja Yafas mengetahui apa saja yang biasanya dilakukan oleh para pasien yang tidak bisa mengendalikan rasa takut, cemas, dan stress yang ia rasakan. Yafas tentu takut jika Makaila bisa melukai dirinya sendiri. Tentu saja, Yafas tidak ingin hal itu sampai terjadi. Karena itulah, banyak hal yang sudah Yafas lakukan demi membuat Makaila kembali menjalani kehidupan normalnya. Yafas tidak ingin sampai Makaila terus hidup dalam bayang-bayang ketakutan.

“Makaila, aku berharap tidak ada hal buruk yang kembali terjadi padamu. Aku harap hanya aka nada kebahagiaan dalah kehidupanmu,” ucap Yafas berbisik pada angin. Berharap, jika angin berkenan untuk membawa harapannya itu pada malaikat pelindung yang bertugas untuk menjaga Makaila yang memang terlihat begitu rapuh dan butuh begitu banyak perlindungan.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status