My Husband My Darkness (Indonesia)
My Husband My Darkness (Indonesia)
Author: Ade Dwi Lestari
Prolog

Gadis manis dengan pupil mata berwarna hitam pekat itu menatap kosong pada ranjang di depannya. Ranjang tempat pria yang sudah menjaganya selama dua puluh lima tahun ini terbaring. Tubuhnya yang renta semakin membuatnya terlihat rapuh, ditambah selang-selang yang menopang kehidupan pria itu selama beberapa bulan ini. Tapi ia tak bisa lupa bagaimana hangatnya senyuman Yudha, ayahnya. Sudah satu minggu ini pria itu terbaring lemah di sana akibat penyakit gagal ginjalnya yang semakin parah. Segala cara sudah dilakukan demi kesembuhan sang ayah. Sayangnya penyakit itu terus menerus menggerogoti tubuhnya yang renta. Tidak ada lagi tubuh kuat Yudha yang bisa menggendong Shanum saat kecil, yang selalu mengajaknya tertawa bersama meski hidup mereka hanya tinggal berdua setelah kepergian Ibu dan kakaknya dalam sebuah kecelakaan beberapa tahun silam.

Shanum tak sanggup membayangkan jika dirinya akan kehilangan satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini. Lalu dengan siapa ia nanti bisa bersandar dan mencurahkan segala keluh kesahnya? Siapa yang akan memeluknya ketika ia rapuh dan lelah dengan dunia yang semakin kejam ini?

Cklek!

Saat sedang larut dalam pikirannya sendiri, pintu kamar rawat sang Ayah terbuka. Pria berjas putih dengan stetoskop yang dikalungkan di lehernya masuk. Ia tersenyum pada Shanum yang hanya menanggapi dengan senyuman kecil. Pria itu berjalan menghampiri ranjang Yudha dan memeriksa keadaannya.

"Bagaimana ayahku, Haidar?" tanya Shanum dengan wajah khawatir dan berharap.

Haidar, dokter penyakit dalam sekaligus sahabat dari almarhum kakaknya Shanum itu menghela nafas setelah memeriksa keadaan Yudha yang semakin hari semakin parah." Sampai sekarang belum ada donor ginjal yang cocok. Penyakit ayahmu semakin parah. Cuci darah bukan lagi hal yang tepat."

Shanum semakin frustasi." Kenapa kalian tidak mengijinkan aku mendonorkan ginjalku sendiri?" tanyanya dengan sedikit isakan yang tertahan.

Haidar menggeleng lemah." Kamu tau satu ginjalmu saja sudah bermasalah. Jika ginjalmu yang sehat didonorkan, lantas bagaimana dengan kamu sendiri?"

Shanum menunduk, menatap kembali wajah sang ayah yang semakin terlihat lemah." Apa aku tidak bisa melakukan hal yang benar sekali saja? Aku takut kehilangan ayahku."

Haidar memegang pundak Shanum, berusaha menegarkan gadis itu." Aku tau. Tapi ayahmu tidak akan setuju."

Mata Yudha mengerjap perlahan sebelum akhirnya mata dengan kelopak mata yang menghitam itu terbuka sempurna. Yang pertama kali ia lihat adalah anak gadisnya, Shanum. Ia mengulurkan tangannya, Shanum langsung meraih tangan yang sudah penuh keriput itu dan menciumnya." Ayah. Ayah harus kuat."

Yudha hanya tersenyum lemah kemudian menatap Haidar yang berdiri di belakang Shanum."Haidar."

"Iya, Om," kata Haidar dengan sopan. Apalagi Yudha adalah sahabat dari almarhum orangtuanya dulu. Dia juga yang menjaga ayahnya yang sakit-sakitan sebelum akhirnya meninggal.

"Boleh Om minta sesuatu?" tanya Yudha dengan suara lemah.

"Iya, tentu saja."

"Apakah kamu mau menjaga Shanum untuk Om?" tanya Yudha lagi kali ini dengan tatapan penuh harap.

Haidar tampak terkejut kemudian ia mengangguk, menganggap permintaan Yudha adalah permintaan biasa. Ya, menjaga Shanum. Menjaga seperti biasa kan?" Tentu, Om. Saya akan menjaga Shanum dengan baik selama Om di sini."

Yudha menggeleng," saya tidak kuat lagi, Haidar. Saya rasa hidup saya sudah cukup di sini. Tapi saya berat untuk pergi."

"Ayah jangan ngomong gitu." Shanum tampak semakin frustasi saat mendengar ucapan ayahnya." Kalo ayah gak ada, Shanum sendirian di sini."

"Haidar. Saya ingin kamu menikahi Shanum dan menjaganya. Boleh kan?"

Shanum tampak melotot karena terkejut, ia pun melirik ke arah Haidar yang tak kalah shock seperti dirinya. Tapi pria di sampingnya ini menyembunyikan keterkejutannya dengan senyuman kecil.

"A-ayah ... apa sih ... "

"Saya takut Shanum kesepian jika saya gak ada ... "

"Ayah masih di sini. Siapa yang gak ada?" Shanum tampak tak suka.

"Tolong nikahi Shanum dan jaga dia untuk saya."

Haidar semakin bingung. Perasaannya kian kalut. Tapi menolak pun ia tak sanggup apalagi saat mengingat jasa Yudha saat merawat ayahnya dulu di rumah sakit yang sama dengan ia merawat Yudha kini. Apalagi kakaknya Shanum adalah sahabatnya waktu SMA. Ia semakin bimbang. "Baik, Om. Saya akan menikahi Shanum," ucapnya berusaha yakin.

"Tapi, Mas ... " Shanum tampak terkejut dengan persetujuan yang Haidar ucapkan. Bagaimana bisa?

"Besok tolong kalian menikah di sini ya. Saya takut tidak ada waktu lagi."

"Ayah ... jangan tinggalin Shanum." Shanum kembali terisak sambil menciumi tangan sang ayah. Berharap adanya keajaiban datang atau setidaknya ayah setuju jika ia mendonorkan ginjalnya.

Haidar mengangguk kemudian pamit keluar dari ruangan sahabat sekaligus rekan kerja ayahnya dulu saat masih melakukan praktek sebagai dokter. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jas putihnya yang sedari tadi bergetar.

Nama Sofia muncul di layar ponsel Haidar. Ia menekan tombol hijau kemudian menempelkan ponsel itu ke telinganya dan berjalan kembali ke ruang kerjanya." Ya?"

"Lagi sibuk ya?" suara lembut di sebrang sana membuat hati Haidar nyeri seketika.

"Sedikit. Ini sudah mau istirahat kok," jawab Haidar yang berusaha menetralkan perasaannya yang kacau saat ini.

"Aku cuma mau ngabarin kalo design undangan kita udah jadi. Tinggal pilih aja. Oh iya jangan lupa minggu depan kita foto prewedding ya." Suara disana tampak sangat senang seolah tak sabar dengan apa yang sudah mereka rencanakan beberapa bulan ini.

"Ya, tentu saja. Kirim saja designya nanti. Aku mau lihat."

"Baiklah. Aku mau ke butik lagi ngurus kerjaan. Kamu hati-hati ya. Bye!"

"Bye."

Klik!

Hampa.

Perasaan Haidar semakin hampa saat ini. Suara yang selalu ia rindukan dan ia cintai. Bagaimana jika dia tau besok calon suaminya akan menikahi wanita lain?

Pria berambut coklat gelap itu memegangi kepalanya sendiri yang seakan mau pecah. Rasanya ingin menghilang saja dari dunia ini. "Maafkan aku, Sofia."

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status