Share

Hope in Love
Hope in Love
Author: Meihao de Xiwang

Part 01 Cinta Naraya

Naraya Pov

            Pagi yang indah untuk memulai aktifitas, Naraya sudah bersiap–siap untuk berangkat menuju kantornya. Setelah dia selesai menyiapkan sarapan untuk suaminya, Naraya pun langsung berangkat menuju ke kantor. Karena jarak antara apartemannya dengan kantor lumayan jauh. Ia harus menempuh sekitar 40 menit untuk sampai ke kantornya.

            “Sayang aku berangkat dulu, sarapannya sudah aku siapkan di atas meja makan, dan jangan lupa sebelum berangkat sarapan dulu,” ucap Naraya sambil berpamitan dengan Reyhan yang masih di dalam kamar lagi bersiap-siap.

            “Iya sayang hati-hati, jangan ngebut-ngebut naik mobilnya, sampai di kantor, jangan lupa langsung beri kabar sayang,” ucap Reyhan dari dalam kamar dengan sedikit berteriak.

            “Ok Sayang,” ucap Naraya sambil berjalan keluar dari Apartemannya.

            Naraya bergegas keluar dari apartementnya, dan menuju mobil kesayangannya, mini coper merah, yang ia beli dari hasil kerja kerasnya selama ini. Meskipun suaminya menjabat sebagai CEO Perusahaan keluarganya, Naraya tidak pernah menggantungkan hidupnya kepada Reyhan suaminya. Naraya tetap bekerja sebagai staff keuangan di perusahaan Lesmana Corporation. Mencapai di titik ini pun, Naraya harus melalui banyak cobaan dan rintanga dalam hidupnya.

Mulai dibuang orang tua kandungnya dipanti Asuhan, sekolah dengan beasiswa, mulai tingkat dasar sampai bangku kuliah. Dan sampai akhirnya Naraya menikah dengan Reyhan tanpa restu oleh kedua orang tua Reyhan, cuma karena Naraya tidak jelas asal usulnya dari mana,

dan sampai sekarang pun orang tua Reyhan tidak mengakui Naraya sebagai menantu di keluarganya. Namun Naraya tidak pernah berkecil hati, karena dia percaya banyak orang-orang disekitarnya, masih banyak

yang masih menyayangi dan mencintainya.

            Di perjalanan menuju kantor, Naraya banyak berfikir tentang pernikahannya yang sampai sekarang belum dikaruniai keturunan. Banyak hal yang dia fikirkan. Sampai-sampai Naraya tidak sadar sudah sampai di depan kantor tempat dia bekerja.

            Entah kenapa tiba-tiba Naraya memikirkan suaminya, suami yang sangat dia cintai dengan sepenuh hati. Dua tahun pernikahan, dia jalani dengan suka duka bersama, tanpa adanya pertikaian yang besar dalam rumah tangganya.

Meskipun mertuanya sangat membencinya, cuma gara-gara Naraya anak panti asuhan yang tidak tahu asal usulnya. Setiap perkataan yang diucapkan mertuanya, layaknya belati yang menghunus jantung Naraya, begitu sangat menyakitkan. Meskipun Reyhan sering mengingatkan supaya tidak memperdulikan perkataan orang tuanya, entah apa yang harus Naraya lakukan untuk mendapatkan hati kedua orang tua Reyhan, yang sampai sekarang masih membencinya.

            “Nay,” Sapa Kinan, mengagetkan Naraya yang lagi asyik melamun sendiri.

            “Eh iya Nan.” Naraya tersenyum manis kepada Kinan. Teman sekaligus sahabatnya yang satu divisi dengannya bekerja.

            “Kenapa kamu pagi-pagi sudah melamun, Nay? ada masalah sama rumah tangga kamu, Nay?” tanya Kinan pada Naraya dengan khawatir. Karena tidak biasanya Naraya melamun seperti saat ini. Seperti banyak fikiran yang sedang dia fikirkan.

            “Engak juga Nan, cuma ada yang aku fikirikan saja, kamu udah dari tadi datangnya?” tanya Naraya pada sahabatnya Kinan.

            “Barusan datang, kamu udah sarapan, Nay?” tanya Kinan.

            “Udah Nan, tadi sebelum berangkat,” ucap Naraya sambil tetap menyunggingkan senyum kepada sahabatnya itu. Karena dia tahu, kalau Kinan pasti memikirkan dirinya. Naraya tidak ingin orang yang dia sayang terbebani oleh masalah yang menimpa dirinya, cukup dia sendiri saja yang menanggungnya.

            Naraya mengajak Kinan masuk ke perusahaan tempatnya bekerja. Naraya dan Kinan berjalan berdampingan menuju ke ruangan mereka. Karena Naraya dan Kinan satu kubikel di divisi Keuangan.

            Naraya duduk ditempatnya, dan memulai mengerjakan pekerjaannya membuat  laporan keuangan bulanan, yang harus dia setorkan kepada atasannya. Karena kecerdasan yang dimiliki Naraya, Naraya diberikan tanggung jawab sebagai ketua perencanaan pembuatan laporan. Baik laporan bulanan, maupun laporan tahunan.

            “Nay, dipanggil pak Andi, disuruh ke ruangannya sekarang,” ucap salah satu teman Naraya yang bernama Nora, teman satu kubikel di divisi keuangan.

            “Ok Nor,” ucap Naraya sambil bergegas menuju ruangan pak Andi sang kepala divisi keuangan.

            Tokk...Tokk...Tokkkk

            Naraya mengetuk pintu ruangan pak Andi, dan setelah mendengar jawaban pak andi untuk mempersilahkan Naraya masuk, Naraya membuka pintu dan langsung masuk ke ruangan Pak Andi.

            “Duduk Nay,” ucap Pak Andi mempersilahkan Naraya untuk duduk.

            “Nay, tolong siapkan laporan tahunan kita, karena perusahaan pusat menginginkan kita mengirimkan laporan tahunan kita secepatnya. Bagaimana, apa Tim kamu siap mengerjakan laporan ini, Nay? kalau siap, saya akan memberikan waktu selama satu bulan untuk mengerjakan laporan itu,” ucap Pak Andi dengan tenang.

            “Siap, Pak,” jawab Naraya dengan sopan.

            “Ok, Nay! saya tunggu hasil laporannya, semangat mengerjakan dan semoga sukses dalam mengerjakan laporannya,” ucap pak Andi.

            “Siap Pak, saya pamit undur diri kalau begitu.” Naraya pamit untuk kembali ke ruangannya.

            Naraya berjalan kembali keruangan, teman-temannya yang satu divisi dengan Naraya, sedang berkumpul menunggu Naraya kembali dari ruangan Pak Andi. Setelah Naraya duduk ditempat duduknya, teman-temannya menghampirinya, dan menanyakan perihal pemanggilannya tadi ke ruangan Pak Andi.

            “Ada apa Nay, kamu sampai dipanggil Pak Andi?” tanya Kinan mewakili yang lain.

            “Oh... tadi itu Pak Andi memerintahkan kita untuk mengerjakan laporan keuangan tahunan. Karena perusahaan pusat meminta laporan keuangan tahunan perusahaan cabang. Salah satunya tempat kita bekerja ini. Kita dikasih waktu menggerjakannya selama satu bulan oleh perusahaan,” ucap Naraya menjelaskan pada teman-temannya.

            “Wah, kalo begitu kita harus siap-siap lembur

Nay?” ucap Nora menimpali.

            “Bisa dibilang begitu Nor, karena tahu sendiri kalo kita mengerjakan laporan tahunan, biasanya dikasih waktu dua bulan oleh perusahaan. Sekarang cuma dikasih waktu sebulan oleh perusahaan untuk mengerjakan laporan itu,” ucap Naraya santai.

            “Yang terpenting Tim kita selalu kompak,” ucap Kinan dengan semanggat.

“Yang aku suka dengan tim kita, salah satunya yaitu kekompakannya dalam bekerja sama, tim yang solid dan saling membantu dan mengajari satu sama lain,” ucap Naraya.

            “Ok sebelum kita memulai pertempuran untuk mengerjakan laporan keuangan, bagaimana kalo kita pulang kerja nanti makan bareng ditempat biasanya kita makan, bagaimana?” tanya Nayara kepada tim divisinya.

            “Ok, setuju.” Semua serempak menyetujui acara makan bersama setelah pulang dari kantor, sambil melangkah ke mejanya masing-masing.

            Derrrrt...Derrrtt...

            Handphone Naraya bergetar, setelah melihat siapa yang memanggil, Naraya langsung mengangkatnya, karena suami tercintanya yang sedang menelphonenya.

            “Iya Sayang,” ucap Naraya dengan tersenyum bahagia mendapat panggilan telphone dari suaminya.

            “Sayang maaf, hari ini aku tidak bisa pulang ke Apartemant, karena Mama menyuruhku kerumah. Katanya ada keperluan penting yang tidak bisa ditinggal, Tidak apa-apa kan sayang aku hari ini menginap di rumahnya Mama?” tanya Reyhan.

            “Oh iya sayang tidak apa-apa,” jawab Naraya dengan tetap terlihat riang. Tak ingin membuat Reyhan khawatir.

            “Ok sayang, see you,” ucap Reyhan. Setelah itu terdengar panggilan terputus. Entah kenapa ada perasaan aneh dalam hati Naraya, tidak tahu perasaan apa yang Naraya rasakan saat ini.

“Entah bagaimana perasaan Naraya, jika dia mengetahui penghianatanku selama ini. Wanita baik hati yang menjadi istriku. Aku tidak bisa membayangkan hancurnya hati Naraya. Memikirkan cara untuk memberitahu Naraya yang sebenarnya, membuatku benar-benar sangat takut. Entah apa rencana tuhan untuk aku setelah ini. Bagaimana hubunganku setelah ini dengan Naraya, jika aku memutuskan untuk memilih Cintya untuk menjadi satu-satunya wanita dalam hidupku. Mungkin dulu cinta itu memang ada untuk Naraya. Namun setelah Cintya hadir lagi dalam hidup ku, cinta itu memudar dengan sendirinya. Terlebih lagi dorongan kedua orang tuaku untuk bersama dengan Cintya. Cuma gara-gara asal usul Naraya yang tidak jelas, menjadikan orang tua ku benci setengah mati dengan Naraya. Tidak menganggap Naraya sebagai menantu sampai saat ini. Padahal pribadi Naraya begitu baik dan halus. Sudah berbagai cara yang sudah dia lakukan supaya bisa mengambil hati kedua orang tua ku. Namun tetap saja kedua orang tuaku tidak menghargai Naraya sama sekali. Mereka semakin menginjak- injak harga diri Naraya.

Related chapters

DMCA.com Protection Status