Share

Part 03 Kebenaran yang Menyakitkan

Apartemant Tulip,Jakarta pusat

08:00

          Setiap wanita ingin memiliki suami yang mencintainya dengan sepenuh hati, dengan berjuta cinta dan kasih sayang yang tidak terbatas. Memiliki pernikahan yang harmonis adalah impian semua wanita. Naraya

juga seperti itu. Memiliki impian mempunyai suami yang mencintainya dengan tulus dan sepenuh hati, dan menjadi tempatnya bersandar, baik suka maupun duka. Sampai menua bersama.

          Entah kenapa semenjak Naraya bertemu dengan Reyhan, hati Naraya begitu gunda gulana, Naraya merasa seperti ada yang ditutup-tutupi oleh Reyhan. Naraya cuma bisa berdo’a, semoga saja itu cuma perasaannya saja.

          Tiba-tiba Naraya tersadar akan lamunannya saat mendengar pintu apartementnya terbuka dari luar. Saat hendak berdiri melihat, tiba-tiba Reyhan muncul dari belakang pintu.

          “Sudah pulang sayang.” Ucap Naraya pada Reyhan dengan tersenyum manis.

          “Oh iya sayang.” Jawab Reyhan dengan tenang.

          “Aku mau mandi dulu ya sayang.”

          “Ya sudah aku siapin dulu sayang air hangatnya.” Ucap Naraya pada Reyhan. Meskipun Naraya sedikit merasa Reyhan sedikit menghindarinya.

          “Tidak usah sayang, biar aku sendiri saja.” Ucap Reyhan sambil berjalan ke kamar mandi.

          Tak berselang beberapa lama Handphone Reyhan berbunyi.

“Kring...Kring...” Bunyi ponsel Reyhan. Tanpa ada fikiran yang jelek dikepala Naraya. Telfon itu pun diangkat oleh Naraya. Sebelum Naraya bersuara. Suara si penelfon sudah duluan berbicara. Pada saat itu dunia Naraya telah runtuh, laki-laki yang Naraya cintai dengan sepenuh hati, tega mengkhianati Naraya.

“Sayang nanti jangan lupa kita ke butik untuk melihat gaun pernikahan kita.” Ucap sang penelfon dengan nada manja. Naraya Cuma bisa diam tanpa kata memandangi handphone Reyhan. Seperti ada petir disiang bolong yang menyambar Naraya pada saat itu juga.

Air mata tak terbendung di mata Naraya, Naraya berlari keluar dari Apartementnya setelah mengambil dompet dan kunci mobilnya. Nayara meninggalkan reyhan sendiri di Apartement.

Setelah memasuki mobil, Naraya melajukan mobilnya tak tentu arah. Hati Naraya hancur mendengar kenyataan yang barusan dia dengar. kalo Reyhan telah menghianati Naraya. Suami yang Naraya cintai dengan sepenuh hati, tega menyakiti hati Naraya.

****

“Tuhan...Apa kesalahan ku. Sampai Tuhan menghukumku seperti ini...”

          “Hati ini terlalu sakit untuk menerima kenyataan ini...” Teriak Naraya di dalam mobil, dengan tangisan yang histeris.

          Mobil menuju ke arah bandung. Untuk saat ini Naraya cuma ingin sendiri, menenangkan dirinya yang sedang hancur. Memikirkan jalan keluar yang akan Naraya ambil setelah ini.

          “Kesetiaanku dan cintaku ternyata tak cukup untuk membuatmu setia pada ku Rey...” Ucap Naraya dengan getir.

          Sekitar 2 jam perjalanan Naraya sampai di rumah yang Naraya beli satu tahun yang lalu. Tanpa sepengetahuan siapa pun. Naraya memasuki rumahnya dan memarkirkan mobilnya kedalam garasi rumahnya.

          Rumah yang bergaya classic elegant, yang terletak di wilayah puncak Bandung. Dengan suasana yang asri dengan halaman yang luas. Rumah Naraya tampak terawat meskipun dia jarang menempatinya. Dua penjaga rumahnya yang sepasang suami istri, Pak Den dan Bi Wati yang merawat rumah Naraya.

          Kedua pasangan suami istri itu begitu khawatir saat melihat Naraya keluar dari dalam mobil dengan wajah kusut dan berantakan. Dan masih tersisa bekas air mata di pelupuk matanya.

          “Nyonya...Apa nyonya membutuhkan sesuatu.” Ucap Bi Wati dengan sopan menghampiri Naraya yang masih berdiri menghadap cendela rumahnya.

          “Bik tolong beresin kamar saya, karena untuk beberapa saat saya akan tinggal disini.” Ucap Naraya dengan sopan.

          “Baik Nyonya...” Setelah Bi Wati pergi, Naraya masuk keruang kerjanya. Dan menguncinya dari dalam. Untuk beberapa saat Naraya tidak ingin ada yang mengganggunya. Termasuk Reyhan suaminya.

****

          Reyhan keluar dari kamar mandi tidak melihat Naraya, setelah memakai pakaian Reyhan keluar dari kamarnya dan mencari Naraya. Naraya tidak ada dimana-mana.

          Tiba-tiba perasaan Reyhan tidak enak, Reyhan mengambil ponselnya, dan mengecek riwayat panggilan masuk. Ternyata dugaan Reyhan benar. Naraya mengangkat telfon dari Cintya. Reyhan langsung menelfon balik Cintya.

          “Hallo Honey.” Ucap Cintya manja.

          “Honey kamu tadi ditelfon bicara apa saja? apa ada yang menerimanya tadi?” Tanya Reyhan dengan sedikit khawatir.

          “Iya Honey, aku kira itu kamu honey. Aku telfon malahan diam saja. Aku cuma mau nginggetin kamu kalo kita harus ke butik, lihat baju pernikahan kita.” Ucap Cintya tanpa rasa bersalah.

          “Oh ya sudah honey, aku tutup dulu yah, aku ada urusan sebentar...bye..honey...” Tutup Reyhan mengakhir panggilannya.

          “Ya Tuhan Naraya sudah mengetahuinya.” Ucap Reyhan dengan gusar.

“Maafkan aku Naraya...maafkan aku...” Ucap Reyhan lirih.

          Reyhan menghubungi Naraya, Namun handphone Naraya tidak aktif. Reyhan menghubungi teman-temannya naraya, semua tidak ada yang tahu keberadaan Naraya dimana. Fikiran Reyhan kalut takut Naraya terjadi apa-apa.

          Setelah tidak ada kabar dari Naraya, Reyhan akhirnya memutuskan untuk mencari Naraya. Dengan dibantu anak buahnya. Mereka semua berpencar mencari Naraya.

          Sudah tiga jam lebih mencari Naraya, semua tidak ada yang menemukan Naraya. Naraya seperti ditelan bumi. Tidak ada yang mengetahui keberadaan Naraya. Sampai ahli IT yang disewa Reyhan pun tidak bisa menemukan keberadaan Naraya.

          Reyhan hampir putus asa mencari Naraya, ingin Reyhan meminta maaf dan menjelaskan semuanya pada Naraya. Karena Reyhan memang merasa kalo memang dirinya yang salah. Tidak bisa tegas dalam mengambil keputusan. Dan sekarang malah menghancurkan hati Naraya. Reyhan tidak bisa membayangkan bagaimana Naraya sekarang. Reyhan Cuma bisa menyesalinya. Menyakiti wanita yang sudah tulus mencintainya. Cuma karena Reyhan tidak bisa menampik rasa cintanya kepada wanita masa lalunya.

****

          “Ana tolong persiapkan kepergian saya ke New York.” Ucap Naraya pada sekertarisnya.

          “Baik Bu.” Ucap Ana dengan sopan. Dan kembali ke ruangannya.

          Sudah sebulan Naraya pergi dari Apartementnya, setelah menyelesaikan tugasnya di Lessham Corporation. Naraya menyerahkan surat pengunduran dirinya. Dan Naraya fokus untuk pengembangan usahanya sendiri di bisnis kuliner.

          Sebelum keberangkatannya ke New york, Naraya mengirimkan surat gugatan cerai dan cincin pernikahannya yang pernah diberkan Reyhan pada Naraya, surat dan cincin itu di kirimkan ke Reyhan yang sudah ditanda tangani oleh Naraya. Naraya memilih mundur karena dia sudah merasa benar-benar hancur dan di khianati.

          Semenjak kejadian itu sosok Naraya berubah. Dari wanita yang ceria sekarang menjadi wanita yang sangat dingin, yang jarang sekali untuk bicara. Menjadi sosok yang sulit untuk tersentuh oleh siapapun. Prinsip hidupnya untuk saat ini Cuma ingin mengembangkan usahanya sampai manca negara. Dan menjadi orang yang sukses, yang tak dipandang sebelah mata lagi oleh orang-orang yang pernah menyakiti hatinya.

***

Tokkk....Toookkk..Tookkk....

     Suara pintu diketuk dari luar ruangan Reyhan, Reyhan mempersilahkan untuk masuk.

          “Masuk...” Sekertarisnya pun masuk ke dalam ruangannya dan menghampiri meja kerjanya.

          “Maaf Pak ada titipan surat dan barang, tadi utusan Bu Naraya kesini.” Ucap sekertaris itu dengan sopan. Reyhan menerima barang itu dan menyuruh sekertarisnya untuk keluar.

          Setelah sekertarisnya keluar Reyhan membuka surat yang dikirim Naraya. Reyhan sangat terkejut ternyata surat yang dikirim Naraya adalah surat perceraiannya yang sudah ditanda tangani oleh Naraya sendiri.

          Reyhan menyesali apa yang sudah dia perbuat pada Naraya. Reyhan tidak bisa bertemu dengan Naraya dan meminta maaf. Naraya seperti sudah benar-benar menutup pintu maafnya untuk Reyhan. Tanpa penjelasaan dari Reyhan. Naraya sudah mengirimkan surat perceraiannya. Yang benar-benar Naraya ingin berpisah dengan Reyhan dan mengakhiri rumah tangganya.

          Setelah membaca surat cerainya, Reyhan pun membuka barang yang dikirim Naraya yang tidak lain adalah cincin pernikahannya. Reyhan menggenggam cincin itu dengan erat berharap yang di genggam itu adalah Naraya. Wanita yang pernah ada di hidupnya. yang mengisi hari-harinya dengan cinta yang tulus.

          Semua itu tinggal sebuah kenangan yang tidak akan pernah bisa kembali lagi. Sebuah penyesalan dalam hati Reyhan yang tidak bisa dia pungkiri sama sekali. Reyhan Cuma bisa berharap dikemudian hari Reyhan bisa bertemu dengan Naraya dan meminta maaf pada Naraya.

****

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Raisya CuuisAl-bar
sampe meleleh ini air mata nyesek baca nya..tapi suka sama keputusan naraya topūüĎć
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status