3. Manis

Luna tampak begitu antusia untuk menyiapkan dirinya mengikuti wawancara di sebuah perusahaan. Sebelumnya, Luna memang sudah mengirimkan lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan cukup besar di kotanya. Ternyata Luna berhasil lolos tahap pertama dan mendapatkan panggilan untuk wawancara. Karena jadwal wawancara tersebut tidak berlangsung pada satu hari, Luna tentu saja memiliki kesempatan untuk hadir di ketiga wawancara. Sebab Luna sendiri yakin jika dirinya tidak akan berhasil dalam sekali percobaan dalam wawancara ini.

Luna selesai bersiap dan memeriksa ponselnya yang selama beberapa hari ini ia abaikan. Luna memang sengaja mengabaikan semua pesan atau telepon yang masuk. Lebih tepatnya mengabaikan Yeni yang terus berusaha untuk menghubunginya. Hal tersebut terjadi karena terakhir kali Luna langsung pulang tanpa menunggu pesta selesai. Luna melakukan hal tersebut karena dirinya takut jika pria bernetra biru itu kembali menemuinya. Apalagi dengan ancamannya yang membuat Luna ketakutan, semakin engganlah Luna untuk kembali berjumpa dengan pria misterius yang memberi kesan aneh padanya itu.

“Maaf, Yeni,” ucap Luna lalu memblokir nomor kakak tingkatnya tersebut. Luna tidak peduli dengan masalah pembayaran kerjanya malam itu, Luna malah berpikir untuk memutuskan komunikasi dengan Yeni atau pihak hotel, agar dirinya tidak lagi bertemu dengan pria bernetra biru itu. Luna tidak peduli jika itu artinya dirinya harus menanggung kerugian karena hasil kerjanya terakhir kali hangus begitu saja. Hal yang terpenting adalah dirinya tidak perlu berhubungan lagi dengan masalah dan dirinya kini sudah bersiap untuk mendapatkan pekerjaan tetap yang sesuai dengan pendidikan yang ia miliki.

Luna pun mengambil tas selempang dan map berisi berkas-berkas yang memang ia perlukan untuk wawancara. Luna memesan ojek online untuk mengantarkannya menuju perusahaan di mana dirinya akan diwawancara. Meskipun naik ojek kemungkinan besar akan merusak tampilannya, Luna tetap memilih naik ojek karena lebih efisien saat menghadapi kemacetan. Luna yakin, jika saat ini pasti jalanan sudah dipenuhi oleh kendaraan para pekerja yang berangkat ke kantor.

Apa yang diperkirakan oleh Luna memang benar. Jalanan macet, dan beruntunglah Luna karena menggunakan ojek karena bisa mengambil jalan alternatif. Hal tersebut membuat Luna sampai di perusahaan yang ia tuju. Setelah membayar jasa ojek, Luna segera masuk ke dalam gedung perusahaan yang terlihat begitu megah tersebut. Perusahaan ini memang hanyalah perusahaan cabang, tetapi perusahaan ini terbilang berkontribusi besar dalam sektor ekspor impor produk mabel. Jelas, perusahaan ini menjanjikan jenjang karir yang sesuai dengan harapan Luna, dan hal itu membuat Luna sangat bersemangat saat mendapatkan panggilan untuk wawancara.

Luna menggunakan tanda pengenal yang barusan sudah ia terima dan menunggu gilirannya untuk diwawancara. Luna tentu saja merasa gugup. Ini adalah wawancara pertamanya, dan tentu saja Luna berharap jika wawancara ini bisa berjalan dengan baik. Luna bahkan sangat berharap jika dirinya bisa langsung bekerja di sini. Jujur saja, Luna agak minder. Rekan-rekannya yang lain beberapa bulan yang lalu sudah mendapatkan pekerjaan tetap di perusahaan yang cukup bagus, tetapi Luna baru bisa mengirimkan lamaran karena dirinya harus lebih dulu menyelesaikan perihal hutangnya di restoran.

Dulu, untuk membiayai kuliahnya, Luna memang perlu meminjam sejumlah uang pada pemilik restoran yang cukup baik padanya itu. Namun, untuk melunasi hutang tersebut, pemilik restoran meminta Luna untuk tidak berhenti bekerja lebih dulu, karena pihak restoran masih membutuhkan tenaga kerja. Karena itulah, untuk sementara waktu Luna memutuskan untuk bekerja di sana, selagi melunasi hutang dan menyiapkan diri sematang mungkin untuk melamar pekerjaan. Luna pada akhirnya mendapatkan banyak pengalaman yang tentu saja bermanfaat baginya. Hanya saja, tidak hanya pengalaman baik yang didapatkan olehnya, tetapi Luna juga mendapatkan pengalaman yang bisa ia kategorikan sebagai pengalaman buruk.

Pengalaman buruk yang Luna maksud adalah pertemuannya dengan pria bernetra biru yang kebetulan namanya Luna lupa. Luna mengernyitkan keningnya merasa benar-benar kesal karena dirinya tidak bisa mengingat nama pria itu. Padahal, dipertumuan pertama mereka, Luna sendiri ingat betul jika pria itu memperkenalkan dirinya sendiri. Luna kesal bukan karena dirinya memang ingin mengenal lebih jauh pria itu dengan berbekal namanya, hanya saja Luna ingin mewanti-wanti dirinya sendiri. Jika ada yang menyebut namanya, maka Luna sudah dipastikan tidak boleh berada di lingkungan tersebut.

“Aku dengar, Bos besar pemilik perusahaan pusat juga hadir di sini.”

“Ah, Bos tampan itu?”

“Huum, namanya benar-benar sangat menunjukkan dirinya yang terlihat sangat jantan. Aku tidak kuasa menyebut namanya secara langsung.”

“Aku bisa menebak alasannya. Pasti karena namanya saja sudah membuatmu berfantasi liar!”

“Kau benar! Dia adalah pria paling hot yang pernah aku kenal.”

Luna yang mendengar bisikan para calon karyawan yang juga tengah menunggu giliran wawancara sama sepertinya. Meskipun dirinya tidak ikut dalam pembicaraan tersebut, dari posisinya ia bisa mendengar dengan jelas arah pembicaraan mereka yang tengah memuji ketampanan sang bos besar. Namun, Luna merasa sangsi jika apa yang dikatakan oleh mereka memang benar. Maksud Luna adalah, di bagian jika sang bos besar adalah pria yang sangat memesona. Luna jadi ingin membandingkan pesona sang bos besar dengan pria bernetra biru misterius yang ia temui di hotel.

Apakah benar sosok bos besar yang sedang mereka bicarakan memang sangat menawan? Apakah sosoknya lebih menawan daripada sosok pria misterius bernetra biru langit yang selama ini membayangi mimpi-mimpi Luna? Luna tidak bisa membayangkan jika memang ada pria yang lebih memesona daripada sosok pria itu? Karena Luna bisa menobatkan jika pria bernetra biru sebagai pria yang paling memesona. Jadi, tentu saja Luna merasa penasaran dengan penampilan sosok bos besar yang dipuji-puji ini. Apakah benar penampilannya bisa membuat siapa pun yang melihatnya berfantasi liar?

Untuk memastikannya, tentu saja Luna perlu melihatnya sendiri. Luna pun mengeluarkan ponselnya, berniat untuk mencari rupa sang bos besar di internet. Karena jujur sana, Luna memang belum mengenal bos besar. Ia hanya mengenal dan mengetahui sosok pimpinan cabang perusahaan ini. Sayangnya, baru saja Luna membuka ponselnya, Luna mendengar namanya dipanggil. “Luna Hedva, silakan memasuki ruangan!”

Luna pun segera memasukan kembali ponselnya dan mengikuti langkah perempuan yang sebelumnya memanggil namanya. Saat ini, Luna tentu saja merasa gugup. Ia tidak berhenti untuk terus berdoa agar dirinya bisa melewati wawancara ini dengan baik. Luna sangat berharap bisa lolos dan  bekerja di perusahaan ini. Setidaknya, jika dirinya sudah bisa bekerja di sini, ia tidak perlu lagi mencari berbagai pekerjaan sampingan yang jelas membuatnya hampir mati kelelahan tiap malamnya. Tentu saja, Luna berharap jika dirinya benar-benar bisa lolos dan bisa mendapatkan pekerjaan yang sekiranya bisa membuatnya bernapas dengan lega.

Luna pun memberikan hormat pada lima penguji di hadapannya, sebelum duduk di kursi yang sudah disediakan. Kebetulan, setiap sesi wawancara tidak hanya mewawancarai satu orang peserta. Melainkan lima orang sekaligus. Saat ini, Luna duduk di tengah berhadapan langsung dengan sosok yang wajahnya tersembunyi di balik koran yang terbentang. Luna tentu merasa jika hal itu aneh dan tidak sopan karena sosok pria itu masih asyik dengan dunianya padahal sesi wawancara akan dimulai, tetapi Luna memilih untuk menutup mulut.

“Sebelum sesi wawancara ini dimulai, mari saya perkenalkan dulu dengan Presdir perusahaan pusat yang kebetulan tengah hadir di tengah-tengah kita untuk ikut mewawancari kalian sebagai calon karyawan. Beliau adalah Tuan Dominik Yakov, seorang pengusaha besar asal Rusia yang sudah melebarkan sayapnya dalam berbagai sektor usaha,” ucap perempuan yang tadi mengumumkan siapa saja yang akan masuk ke dalam ruangan untuk wawancara.

Luna pun mengernyitkan keningnya saat mendengar nama yang disebut. Luna merasa pernah mendengar nama tersebut, tetapi dirinya tidak ingat kapan dan di mana dirinya pernah mendengarnya. Pada akhirnya, Luna pun mengangkat pandangannya menatap lekat pada sosok yang ditunjuk oleh perempuan tersebut. Ternyata, perempuan tersebut menunjuk pada sosok yang sejak tadi sibuk membaca koran. Luna merasa sangat penasaran dan gemas karena pria itu sepertinya tengah bermain-main untuk menunjukkan wajahnya. Luna sendiri merasa jika tingkahnya itu menggelikan.

Apa dia berpikir jika Luna akan jatuh hati jika sudah melihat wajahnya? Namun, begitu koran itu diturunkan dan wajahnya yang rupawan seakan-akan membawa hawa segar yang membuat Luna menahan napasnya. Bukan karena dirinya terpesona dengan rupa yang memang sangat memesona itu, melainkan karena Luna sama sekali tidak menyangka jika sosok bos besar di hadapannya ini, memiliki netra biru langit, rahang tajam, serta tulang pipi tinggi yang benar-benar menjiplak penampilan sosok pria bernetra biru yang sangat ingin ia hindari.

Luna tiba-tiba dirambati oleh hawa dingin saat pria di hadapannya berkata, “Bagaimana? Aku tidak mengatakan omong kosong, bukan? Kita kembali bertemu lagi, Manis.”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status