Dating My Brother
Dating My Brother
Author: Yas_omi
BAB 1

"Aku mau kuliah lagi !!!" kata emma dengan nada tegas dan tak terbantahkan.

Kakak laki – lakinya itu hanya mendengarkan sambil menghela nafas lelah. Emma adalah satu – satunya anak perempuan di keluarga mereka. Selain emma, kedua adiknya juga berjenis kelamin sama dengannya. Seorang anak laki – laki.

Wajar jika semua yang emma inginkan selalu dipenuhi. Bahkan sesuatu yang tak biasa sekalipun, hingga membuat orang di sekitarnya pusing. Semua ini memang terjadi karena papa mereka.

Kejadian di masa lalu itu merubah segalanya..

"Dan pria itu yang harus membayar semua biayanya!!" lanjut emma lagi dengan nada kesal.

"Em..  kakak bisa biayain kamu." Wajah cemberut emma semakin menekuk sempurna, karena edward kakaknya memberikan solusi yang paling tidak ingin dia dengar.

Wanita itu hanya ingin papa nya yang membiayai semuanya. Papa adalah panggilan yang sangat sulit emma ucapkan, hingga akhirnya dia selalu menyebut papanya dengan sebutan pria itu.

"Enggak bisa!! Bahkan dia baru saja berlibur bersama wanita dan anak minion itu!!"

"Jadi gua harus dapetin lebih dari itu !!!" lanjutnya lagi dengan wajah marah. Edward memahami hal ini. Dia tau ini sangat melukai adik kesayangannya itu. Bukan... bukan hanya emma tapi dia dan juga maminya juga terluka.

Kejadian seperti ini seperti terulang kembali. Edward sangat mengingat sekali, saat itu adiknya ini juga melakukan hal yang sama.

"Oke.. oke.. kamu pikirin lagi baik – baik ya. Setelah itu kakak akan bilang ke papa" bujuk edward pada akhirnya.

"Janji ya ? Kasih emma waktu berpikir 3 hari." Edward hanya mengangguk setuju.

"Beneran ?"

"Janji ?" dengan manja emma mengulurkan kelingkingnya kepada edward. Kebiasaan mereka selalu begitu sejak masih kecil. Laki – laki itu tersenyum melihat sikap adiknya, bagaimana pun kondisinya hanya edward yang bisa membujuk emma. "Janji."

Setelah perjanjian itu berakhir, emma langsung memilih kembali ke kamarnya. Dia harus memikirkan semuanya sendiri.

Sedangkan, edward masih duduk termenung di kursi mini bar rumahnya.

"Emma kenapa lagi, ed ?" tanya maminya yang memecah lamunannya.

"Eh.. mami.. biasa mam, dia minta aneh – aneh." Membuat wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya, dia sangat paham betul alasan dibalik tingkah anak perempuan satu – satunya itu.

"Gara – gara kejadian kemaren ?" edward hanya mengangguk.

"Kamu tau kan gimana adek kamu. Jadi... mami serahin urusan emma sama kamu, ya ?" pesan maminya sambil melangkah pergi setelah mencium pipi anak laki – lakinya itu.

'Kalo semua bisa diulang, edward pengen keluarga kita tetep utuh kayak sebelumnya mam.' Batinnya miris.

Drrt.. Drrt...

Edward langsung membuka pesan yang masuk di ponselnya. Seketika wajahnya berubah menjadi merah padam. "Kurang ajar, ini nggak bisa dibiarin!!" kata edward geram sambil menggenggam erat ponselnya.

Dia langsung kembali kekamarnya untuk bersiap – siap.

**

Emma masih saja sibuk didepan laptopnya, dia mencari tau semua hal yang bisa dia lakukan selama program sekolah bahasanya nanti. Dia memang sengaja memilih negeri gingseng, karena dia memang sangat tertarik dengan bahas itu. Terlebih lagi dia adalah pecinta drama yang dihasilkan oleh negara itu.

Drrt.. Drrt...

Ponsel emma terus bergetar, tapi hal itu tidak menganggunya sama sekali. Dia masih terus saja sibuk memandangi semua hal yang akan dia lakukan disana. Walaupun kakaknya sudah memberikan waktu untuk berpikir, dia akan tetap pergi kesana apapun yang terjadi.

Drrt.. Drrt..

Ponsel emma kembali bergetar. Saat dia lihat layar ponsel menunjukkan sebuah nomer yang tidak dikenalinya, dia kembali membiarkan saja pesan itu. Ini tidak menarik minatnya sama sekali. Emma lebih tertarik dengan semua rencananya.

Jika emma sedang sibuk berkhayal dikamarnya yang nyaman, lain halnya dengan edward yang sedang naik darah. Sekarang ini dia sedang memperhatikan seorang pria yang sangat dia kenali selama hampir 6 tahun. Dan yang membuatnya semakin marah adalah... pria itu bersama seorang wanita lain. "SIALAN!!"

"Begini kelakuan lu selama ini ?" tanya edward penuh sindiran. Dia masih menahan agar tangannya itu tidak kotor hanya kerena pria di depannya itu.

Suara musik yang saling bersautan, disertai hingar bingar dunia malam membuat pria itu pura – pura tidak mendengar sindiran pedas edward.

"HAA?? APA ?? GUA NGGAK DENGER.." teriaknya sambil menunjuk ke arah telinganya. Padahal jarak diantara mereka tidak terlalu jauh. Edward yakin pria itu sedang berpura – pura tidak mendengarnya.

Edward berjalan menuju ke arah pria itu, yang justru berhasil membuat pria itu ketakutan. Tapi edward hanya memilih duduk disebelahnya.

Dia mengeluarkan sebuah cek dari dalam kantong jasnya. Dengan kasar edward menyodorkan ke dada pria bernama yucha itu. Pria yang selama ini menjadi kekasih adiknya.

"Uang ini cukup kan buat bikin lu ninggalin adik gua ?" dengan tatapan tajam edward mengatakan hal itu.

"Ed... tapi gua menyayangi emma. Ini hanya having fun aja." Jawab yucha mengelak.

"Oh ya ? Bukannya lu cuma manfaatin adek gua aja ?" yucha diam saja.

Edward langsung mengulurkan tangannya untuk menarik tangan yucha. "Jam, sepatu, baju ini semua yang emma kasih kan ?" lalu edward memajukan wajahnya untuk mengendus. "Dan ini... parfum yang juga emma kasih kan ?"

"Ed... untuk apa emma memberi kado kalo gua nggak pake ?" kata yucha dengan senyuman yang dibuat – buat.

"Gua kira lu akan pake kalo lagi sama emma aja." Sindir edward.

"Emma aja ngijinin gua pake semua ini semau gua." Yucha membela diri.

"Ah... apa ini juga kelakuan semau lu ke adek gua ? HAH!!!" bentak edward. Membuat yucha diam kaku seperti patung.

Seorang gadis yang duduk disebelah kiri yucha tak henti – hentinya melakukan gerakan striptis untuk menggoda pria itu. Tangan gemualinya itu bahkan juga dia arahkan ke tangan milik edward, membuatnya semakin merasa jijik.

"Ayolah, ed... kita sama – sama pria seharusnya  yang seperti ini tidak terhitung selingkuh." Kata yucha santai sambil meneguk minuman laknat itu.

Memang hal seperti ini bukanlah hal yang baru dan tabu bagi edward, hanya saja dia akan pergi untuk menikmati suasananya saja. Tidak dengan hal – hal yang diluar batas kewajaran.

Baginya hanya ada satu wanita dalam hatinya, dan semua dalam dirinya adalah milik wanita itu.

Edward masih mencoba bersabar melihat tingkah yucha, dia paham jika dunia seorang model terkenal seperti kekasih adiknya ini akan sangat dekat dengan dunia malam. Hanya saja itu kembali ke pilihan masing – masing orang. Yucha sendiri juga merupakan salah satu temannya semenjak SMA.

Tapi... tidak ketika wanita dengan dandanan menor dan pakaian kurang bahan itu duduk dipangkuan yucha serta mencium bibir kekasih adiknya itu.

Tanpa pikir panjang, edward langsung menarik wanita itu dan melemparnya kasar ke lantai seakan sedang membuang sampah sembarangan. Tangannya langsung mengcengkram kerah baju yucha dan pukulan itu mendarat dengan indah di wajah model terkenal itu secara bertubi – tubi.

Cukup sudah kesabarannya diuji malam ini. Dengan kondisi akhir yucha yang babak belur, berantakan, dan cek yang dilemparkan kasar ke wajahnya.

"Anggep aja itu ganti rugi dari gua. Dan mulai sekarang jauhi emma!!" kata edward sambil melangkah menjauh.

**

Sarapan kali ini hanya di penuhi dengan pertengkaran eric dan ezra. Kedua adik laki – laki edward dan emma ini memang luar biasa berisik di pagi hari.

Tapi berbeda dengan kedua kakak mereka yang sedang menikmati sarapan mereka dalam diam. Ini juga hal yang aneh, karena biasanya mereka berempat sama – sama berisik.

"Em.. Ed.. Kalian baik – baik aja ?" tanya maminya khawatir.

"Hmm.." jawab emma singkat. Membuat edward memperhatikannya.

"Tangan kamu kenapa sayang ?" tanya maminya penuh perhatian.

"Oh.. ini nggak papa ma."

Mendengar jawab yang seperti ini membuat elina paham, wanita berusia 45 tahun ini sudah terlalu hafal dengan sikap anak – anaknya. Memiliki 4 anak dan membesarkan sendirian membuatnya lebih mengenal bagimana watak dan sifat anaknya.

"Eric.. ezra.. yuk buruan berangkat." Ajak elina, karena jarum jam sudah menunjukkan angka 6.

Kedua adik gembulnya langsung secara bergantian berpamitan pada kakaknya. Hal yang selalu mereka lakukan setiap hari.

"Mami berangkat, ya." Pamit elina pada emma. Tapi gadis itu masih saja diam.

"Buruan baikkan sama emma ya, sayang." Bisik elina saat mencium pipi anak sulungnya itu. Membuat edward mengangguk. Dia sudah menduga pasti maminya mengetahui sesuatu.

"Em.. mau kemana ?" tanya edward.

Tapi emma masih terus berjalan menuju kamarnya. Tidak mempedulikan panggilan kakaknya.

Dia masih terlalu kesal, karena harus mendengar suatu kebenaran dari orang lain. Terlebih edward mengetahui akan hal itu dan tidak memberi tahunya. Emma memilih seharian dirumah, rasanya sangat malas harus pergi ke kantor hari ini. Dia ingin menghukum kakaknya itu, dengan tugas – tugas dikantor.

"Biar tau rasa tuh si edward !! Makan tuh kerjaan gua di kantor." Dengusnya kesal.

Emma dan edward memang menjalankan bisnis milik papa dan maminya. Bukan... bukan mereka berdua. Hanya edward saja. Emma lebih memilih melanjutkan perusahaan milik maminya yang bergerak di industri kreatif, bidang yang disukai dan dia kuasai. Sedangkan edward menjalankan kedua bisnis orang tuanya, karena dia memang lebih ahli dalam bidang manajemen. Jadi, bisa dipastikan jika emma tidak masuk maka dirinya lah yang akan bertanggungjawab dengan hal itu.

Tok.. Tok...

"Em.. nggak berangkat ke kantor ?" tanya edward dari depan pintu kamar emma.

"PERGI!!!"

"Maafin kakak, em."

"PERGI!!!"

"Oke, kakak akan lakuin apa aja yang kamu mau." Bujuk edward.

"SURUH PRIA ITU SIAPIN PROGRAM SEKOLAH AKU!!! DAN KAMU YANG SIAPIN SEMUA AKOMODASI AKU SELAMA DISANA!! AKU NGGAK MAU TINGGAL DISINI LAGI!!! PERGI!!!" terdengar teriakan penuh kemarahan emma dari dalam kamarnya. Membuat edward menghembuskan nafasnya kasar.

Jika sudah begini, artinya adiknya itu sudah tidak bisa diganggu gugat.

"Maafin kakak, em." Kata terakhir edward dengan nada penuh penyesalan, sebelum dia pergi meninggalkan kamar adiknya.

Di dalam kamar, emma masih mengatur nafasnya karena sudah berteriak tadi.

"Kalian semua para pria sama aja!! Sama – sama brengsek!!" makinya.

**

Related chapters

DMCA.com Protection Status