BAB 3

"Baiklah, kau ingin makan apa kali ini ?" Tanya edward yang langsung bersikap sangat lembut pada adiknya.

"Entahlah, bagaimana jika pergi ke mall saja. Nanti akan ku pikirkan saat berjalan - jalan disana."

Edward mengacak - acak rambut adiknya itu hingga emma kesal, tapi sungguh walaupun emma hanya beralasan saja untuk mengajaknya makan itu pun tidak masalah. Asalkan berjalan bersama seperti ini saja sudah cukup bagi edward.

"Kau merusak rambutku, ed!!! Aku menatanya dengan susah payah tadi." Omel emma sepanjang perjalanan mereka menuju ke parkiran.

"Tenang aja, kau tetap terlihat cantik meskipun berantakan sekalipun. Kita hitung saja berapa banyak cowok yang ingin berkenalan denganmu hari ini. Berani bertaruh ?" Tantang edward membuat tawa emma seketika pecah. Sejak kapan ada pria lain yang berani mendekatinya selama ini ?

Wajah jutek dan sikap dingin khas emma itu selalu terpampang nyata jika berada di luar. Tapi meski begitu, tidak sedikit pula pria yang rela menolehkan kepalanya hanya untuk memandangi wajah cantik emma. 

"Sudahlah, ed. Hahaha. Tantangan receh begitu mah pasti aku yang menang. Kau ini ada - ada saja." Kata emma sambil terus tertawa.

"Coba saja dulu, siapa tau keberuntunganku adalah hari ini."

"Jangan banyak berkhayal, ed. Hari ini aku hanya ingin makan dengan tenang!!" Kata emma dengan wajah cuek sambil berjalan lebih dulu menuju ke arah mobil milik edward.

Di sepanjang perjalanan menuju ke mall, emma terus saja berdiam diri sambil memandangi ke arah luar jendela. Entah apa yang sedang dipikirkannya, yang jelas edward mengetahui bahwa adiknya ini sedang memikirkan sesuatu.

"Ed.." panggil emma tiba - tiba.

"Kenapa ?"

"Pernahkan kau menyesali sesuatu ?" Pertanyaan emma ini membuat kedua alis edward saling bertaut.

"Menyesal tentang sesuatu, ya ?" Wajah edward terlihat memikirkan sesuatu dengan serius.

"Aku menyesal karena memilih yucha mengisi beberapa tahun terakhir ini." Kata emma lirih. Seketika edward menolehkan kepalanya.

"Em…"

"Apa semua pria seperti papi, ed ?" Kata emma dengan raut wajah yang tetap datar tapi sorot kesedihan dan terluka di mata indah itu terlihat sangat nyata.

"Em… Suatu saat pasti ada pria yang akan mencintaimu sepenuh hati." Edward berusaha menenangkan emma sambil menggenggam tangan itu.

"Ada satu pria yang menurutku memenuhi semua kriteria itu, hanya saja itu tidak mungkin terjadi." 

DEG!!!!

Waktu terasa terhenti saat emma mengatakan hal itu. Dia tidak siap jika ternyata ada satu nama pria yang keluar dari mulut adiknya.

"Seandainya kau bukanlah kakakku, mungkin aku akan memilihmu ed." Kata emma lagi, kali ini dia mengatakan dengan sangat tulus dan memandangi langsung ke mata edward.

"Em…"

Beberapa detik hanya ada keheningan hingga akhirnya terpecahkan oleh tawa emma.

"Hahaha…. Sudahlah, ed. Lupakan yang aku katakan tadi."

"Kau membohongiku ?" Emma mengangguk.

"Dasar!!!" Edward merasa kesal hingga kali ini dia benar - benar merusak tatanan rambut emma. Tapi emma tidak mengomel seperti tadi, bahkan dia tertawa terbahak - bahak.

'Aku tau em, jauh didalam lubuk hatimu yang terdalam kau menyimpan kesedihan itu. Tawa bahagiamu ini hanyalah sebuah topeng.'

**

Sepanjang perjalanan pulang emma menekuk wajahnya. Bagaimana tidak ternyata dugaannya hari ini salah. Dia kalah taruhan dari edward. Ternyata apa yang edward katakan benar - benar terjadi. 

Mereka mengelilingi mall dengan emma yang menjadi pusat perhatian. Entah apa yang menarik banyak perhatian pria - pria. Tapi memang hari ini terlihat sangat cantik dari hari sebelumnya. Maksudnya biasanya saja dia sudah cantik, tapi tingkat kecantikannya meningkat drastis hari ini.

Sebenarnya saja jika boleh jujur, edward sendiri terpesona sejak kedatangan emma yang tiba - tiba ke kantornya. Dan alasannya merusak tatanan rambut emma sejak tadi adalah untuk membuat adiknya terlihat sedikit berantakan, tapi kenyataannya hal itu justru semakin membuat banyak pria rela menolehkan kepalanya untuk mengagumi emma.

Untung saja edward memiliki wajah galak yang siap siaga untuk membuat pria yang ingin mendekati emma mengurungkan niatnya.

“Kau tau, mereka semua itu sama saja.” kata emma dengan wajah yang masih sangat kesal.

“Siapa ?”

“Semua pria itu.”

“...”

“Mungkinkah si pria tua itu juga bersikap seperti ini saat melihat wanita cantik ?” pertanyaan emma membuat edward menginjak rem mobilnya seketika. Karena hal itu hampir saja kening emma mencium kerasnya dashboard mobil didepannya.

“Kau gila, ed ?!!!?” amuk emma.

“Maaf, em. A…. aku hanya terlalu terkejut mendengar pertanyaanmu tadi.”

“Kenapa ? Apa kau mengetahui kenyataan yang sebenarnya, ed ?” edward menggelengkan kepala, lalu mengulurkan tangannya menuju ke atas kepala emma.

“Hal itu terjadi atau tidak bukan urusan kita, em. Mungkin begitulah cara papi memilih kebahagiaannya.”

“CIH!! Dengan meninggal kan keluarganya. Apa menurutmu mami kurang cantik dibanding wanita itu, hah ?!?”

“Justru mami beruntung, em. Mami terlalu baik untuk papi. Bukannya jodoh itu cerminan diri kita ?” 

“Kau bicara melantur, ed. Aku nggak akan percaya hal semacam itu. Yang aku tau manusia itu terlahir sekali, menikah sekali, lalu meninggal. Kasus yang terjadi di keluarga kita murni kesalahan pria itu !!” emma membuang mukanya untuk menghadap ke arah luar jendela.

“Em, kau boleh bertahan dengan pendapatmu itu. Tapi aku ingin tanyakan satu hal.”

“Apa itu ?” tanya emma sambil terus menghadap ke arah luar jendela.

“Apa aku juga sama seperti pria yang ada di dalam pikiranmu itu ?” tanya edward dengan perasaan takut. Entah kenapa, mendengar kata - kata emma tadi dia tidak ingin disamakan dengan papinya.

“Tidak, hanya kau ezra dan eric pria yang baik dalam hidupku.” jawab emma dengan nada cuek dan tidak melihat ke arah edward.

“Baiklah. Bagus kalo gitu.” rasanya hat edward menjadi ringan setelah mendengar hal itu. Walaupun jawaban dan wajah emma tidak bisa dilihat secara langsung, tapi semua itu terdengar tulus.

Sedangkan emma, sebenarnya menyatakan hal itu sambil menahan senyumannya saat melihat wajah edward dari pantulan kaca mobil. Baginya hanya edward satu - satunya pria terbaik.

**

Persiapan untuk kepindahan emma dan edward menuju ke negeri ginseng semakin dekat hingga membuat mereka semakin sibuk. Terutama edward.

Tidak banyak barang bawaan yang emma dan edward persiapkan untuk hidup disana. Karena edward sudah mengatakan bahwa semuanya sudah tersedia disana. Mereka hanya perlu berangkat, jika mau mereka tidak perlu membawa apapun.

“Ed, kita berangkat menggunakan jet pribadi kan ?” tanya emma sambil membolak - balik majalahnya.

“Aku memesan tiket pesawat komersil untuk kita berdua.”

“Kenapa ?” tanya emma dengan wajah yang terlihat kecewa.

“Nikmati saja perjalanan ini sebaik - baiknya, em. Yang penting keinginanmu untuk pergi sudah aku turuti.”

“Apa kau kekurangan uang ?” emma menutup majalahnya dan berdiri di depan edward sambil melipat kedua tangannya.

“Oh…. atau pria tua itu tidak memberikan fasilitas seperti yang ku minta ?” lanjut emma.

Edward akhirnya mengalihkan perhatiannya pada emma yang sedang merajuk di depannya. Dia tau hal seperti ini akan terjadi.

“Bukan, tapi semua jet pribadi itu memiliki jadwal yang sama seperti keberangkatan kita.” jawab edward santai.

“Kau selalu membela pria itu, ed.” kata emma sambil pergi begitu saja meninggalkan edward di ruang kerjanya.

Elina yang melihat kedua anaknya yang sepertinya sedang bersitegang hanya bertanya melalui isyarat, dan jawaban yang edward berikan hanya mengangkat bahunya sambil terus mengikuti emma. Melihat hal itu, elina hanya menggelengkan kepalanya.

Keesokan paginya adalah hari dimana edward dan emma akan pergi meninggalkan negara mereka. Elina terlihat tegar walaupun rasanya memang berat melepaskan kedua anaknya pergi meninggalkannya. Tapi dia tidak akan menjadi penghalang untuk tujuan anaknya, mungkin kehidupan harus seperti ini.

Emma yang masih merasa kesal pada edward karena mereka pergi menggunakan pesawat bersama penumpang lain memilih untuk mengabaikan edward. 

Setelah berpamitan dengan elina dan kedua adiknya, emma dan edward duduk di ruang tunggu dengan posisi seperti orang yang tidak kenal. Edward menghembuskan nafasnya berat karena melihat sikap marah emma seperti ini, tapi memang inilah rencananya yang dia pilih. Jadi edward menerima saja konsekuensinya.

“Em, kau lapar ?” tanya edward hati - hati, karena mereka berangkat menggunakan penerbangan pertama. Jadi mungkin saja emma lapar. Walaupun sebenarnya hal itu digunakan edward untuk basa - basi saja.

Emma terlihat berdiri dan bersiap meninggalkan edward. Dengan cepat edward memilih untuk mengikuti adiknya itu. 

Ternyata emma pergi ke salah satu coffee shop yang berada tidak jauh dari tempat mereka menunggu tadi. Setelah memesan segelas caramel macchiato favoritnya dan sebuah cinnamon roll sebagai pasangannya, emma pergi saja sambil membawa pesanannya.

“Bayar semua itu, ed.” katanya sambil pergi menjauh. Untung saja edward berdiri di sebelahnya, ya… walaupun pegawai coffee shop itu sempat kebingungan saat melihat sikap emma tadi.

Selesai membayar semua pesanan milik adiknya dan miliknya, edward kembali ke tempat duduknya bersama emma tadi.

“Kau sudah kenyang atau ada yang ingin kau makan lagi, em ?” tanya edward penuh perhatian sambil sesekali menyeruput kopi miliknya. Tapi emma hanya menolehkan kepalanya sambil memandangi edward dengan tatapan yang tidak dimengerti olehnya.

“Apa kau sekarang sedang berusaha bersikap seperti mami bagiku ?” tanya emma cuek.

“Anggap saja begitu. Karena mulai hari ini aku memegang tanggung jawab penuh terhadap dirimu.”

“....” tidak ada jawaban yang keluar dari mulut emma, tapi dia terus memandangi edward. Untung saja pengumuman untuk keberangkatan pesawat mereka membuat emma menolehkan kepalanya, jika tidak mungkin edward akan kehabisan nafasnya karena terus menahan nafas selama emma melihat ke arahnya.

Setelah duduk di kursi mereka, edward memilih membaca koran hari ini. Sedangkan emma hanya terdiam saja sambil memilih lagu di ponsel pintar miliknya. 

Ada perasaan menyesal dalam hati emma karena marah pada edward hanya karena pesawat apa yang akan membawa mereka. Padahal pada kenyataannya edward memesan fasilitas terbaik di dalam pesawat itu. Dengan privasi yang terjaga pula, tidak kalah dengan jet yang biasa mereka naiki. 

“Not bad, ed.” kata emma cuek. Edward yang mendengar hal itu hanya tersenyum sambil terus melanjutkan kegiatan membaca korannya.

Sepanjang perjalanan, akhirnya suasana tegang di antara emma dan edward mulai mencair. Emma mulai mendekatkan dirinya seperti biasa pada edward, walaupun dia masih memilih diam. Tapi hal itu sukses membuat perasaan edward semakin tak karuan, entah bagaimana harus membalas sikap manja emma. Seketika dia lupa cara memperlakukan adiknya sendiri. 

**

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status