BAB 5

Setelah beristirahat seharian setelah kedatangan mereka, emma dan edward merasa lebih baik. Terutama emma, dia benar - benar menikmati indahnya hidup semenjak menginjakkan kaki di Korea. Dunia yang edward ciptakan sangatlah sempurna, hingga wanita manapun yang mendapatkan perlakuan seperti ini akan bertekuk lutut mungkin. Hanya saja karena yang mendapatkannya adalah seorang emma dan sayangnya mereka memiliki sebuah hubungan persaudaraan, jadi dia mengurungkan niat untuk terlena dan menjatuhkan hatinya untuk edward. Padahal di dalam lubuk hatinya yang terdalam emma ingin sekali memutar waktu dan mengatur takdir mereka. Agar mereka tidak ditakdirkan sebagai saudara, melainkan sebagai sepasang kekasih yang memiliki masa depan indah bersama.

“...” diam - diam emma menghembuskan nafasnya berat, setelah otaknya itu memikirkan hal yang tidak mungkin terjadi.

“Ada apa ?” tanya edward yang sedang duduk di sebelah emma sambil memperhatikan laptop di pangkuannya.

“Enggak. Aku cuma bosan.” kata emma mengelak, padahal beberapa detik yang lalu dia baru saja berharap edward bukanlah kakaknya. Tapi saat edward membuyarkan lamunannya, emma sadar dia tidak menginginkan edward yang super sibuk itu.

“Sejak datang kesini kau sangat sibuk, ed.” keluh emma sambil meminum jus miliknya.

“Banyak yang harus ku kerjakan, em. Kita juga baru saja pindah, semuanya butuh penyesuaian, kan ?” 

“Ya… ya… ya…. Kau memang pria tersibuk di dunia ini, ed.” kata emma pada akhirnya sebelum dia memilih untuk berenang.

Edward hanya menggelengkan kepala saat melihat sikap manja adiknya yang sepertinya mulai kambuh. Jujur saja, edward memang sedang dalam tahap penyesuaian diri. Perusahaan yang ditinggalkan di Indonesia sekarang hanya bisa dia awasi dari jauh. Walaupun mamanya pun mengatakan sanggup untuk mengurusnya. Sedangkan pekerjaannya di Korea baru akan di mulai minggu depan, bersamaan dengan jadwal kuliah emma. 

Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya untuk sementara, edward berjalan menuju ke pinggir kolam. Dia berdiri sambil mengawasi emma yang dengan gemulainya berenang dengan menggunakan one piece swimwear yang membuatnya sangat menawan dan juga seksi. 

Detik itu juga edward sadar sudah mengagumi adiknya sebagai seorang “wanita” pada umumnya.

“Ada apa ?” tanya emma setelah dia menyelesaikan kegiatan berenangnya.

“Kau ingin jalan - jalan malam ini ?” bukannya menjawab edward justru melemparkan pertanyaan lain.

“Kenapa harus tanya sih, ed. Kau tau aku akan menjawab apa.” gerutu emma sambil menyandarkan tubuhnya ke pinggir kolam.

“Tempat mana yang ingin kau datangi ?”

“Myeongdong. Aku ingin makan disana.”

“Oke.” tanpa pikir panjang edward menyetujui permintaan adiknya, karena itu bukanlah hal yang sulit. 

“Ed, bisakah kau membantuku naik ?” edward tidak menaruh curiga apapun, padahal emma sudah tersenyum jahat karena idenya itu.

BYUUUUURRRR!!!!

“Em, apa yang kau lakukan ?!?” edward sangat terkejut karena saat mengulurkan tangan untuk membantu emma, justru dirinya ditarik.

“Kepalamu berasap karena banyak bekerja, ed. Kau butuh air untuk memadamkannya.” canda emma yang saat itu memilih keluar dari kolam renang setelah berhasil membuat tubuh edward basah kuyup sambil tertawa renyah.

Walaupun begitu, tidak ada kemarahan dalam diri edward. Dia justru senang karena hal seperti ini masih membuat emma tertawa.  

Mengingat mereka berdua menghabiskan masa remaja dengan permasalahan keluarga yang tidak ada habisnya.

Pertengkaran kedua orang tua mereka yang hampir setiap hari menemani. Dengan posisi edward merupakan anak tertua dikeluarganya, mengharuskan dia selain melindungi emma juga harus melindungi dan memberikan pengertian pada kedua adik laki - lakinya.

Saat itu edward memang tidak mengetahui secara pasti, karena sejak awal emma lah yang mengetahui dengan pasti permasalahan kedua orang tuanya. Dan gadis itu malah sengaja ingin mencari tahu sendiri.

Tapi lihatlah sekarang, justru emma lah yang paling terluka karena masalah itu.

Walaupun seharusnya elina selaku istri dari papinya yang merasakan banyak luka, justru jauh lebih kuat dan tegar. Sedangkan emma, sampai detik ini tidak bisa melupakannya.

Jadi, jangan salahkan emma jika pada akhirnya dia sangat bergantung pada edward. Baginya edward adalah satu - satunya pria yang bisa dia percaya. 

Lalu, bagaimana dengan hubungannya dengan yucha bisa berjalan selama ini ?

Pria yang sempat mengisi hari - hari emma selama beberapa tahun. Tapi hal itu tidak serta merta membuat posisi yucha sama dengan edward. Terlalu jauh jika membandingkan yucha dengan edward.

Sikap yucha yang suka tebar pesona bukan lagi hal baru yang emma ketahui. Dulu saat hubungan mereka masih berjalan beberapa bulan disaat yucha baru memulai karirnya sebagai model, bakat - bakat genit yucha yang terpendam sudah mulai terlihat. Bahkan dia berkali - kali bisa membuat emma percaya.

Entahlah, emma yang dulu termasuk  bodoh atau lugu. Padahal edward juga berkali - kali memberitahunya. 

Tapi, emma tidak pernah percaya.

Satu hal yang membuat edward menjauhi yucha adalah karena pria brengsek itu berani mencium adik kesayangan. Dengan dalih bahwa emma adalah satu - satunya wanita di hatinya. Dan semua itu dilakukan yucha tepat didepan edward.

Edward ingin memukul wajah yucha saat itu juga. Terlebih bibirnya yang sudah lancang mencium emma. Dan rasanya edward ingin sekali menghapus bekas yucha yang ditinggalkan di bibir emma.

Hatinya seakan diremas, rasanya kesal, marah karena tidak bisa berbuat apa - apa, dan juga merasa tidak berguna. 

Tapi dia siapa, hanyalah seorang kakak bagi emma. Adiknya saja tidak keberatan, lalu mengapa edward terlalu mempermasalahkannya ?

Detik itu dia lupa bahwa dia hanyalah kakak bagi emma.

Edward tidak menyadari bahwa itu adalah awal perasaan yang seharusnya tidak terjadi. 

Perasaan jatuh cinta pada adiknya sendiri.

Emma kembali duduk di pinggir kolam sambil merendam kedua kakinya. Dia memanggil edward berulang kali, tapi sepertinya pria itu tidak sadar bahwa sejak tadi melamun.

"EDDD!!!!" teriak emma pada akhirnya sambil menyiramkan air ke arah kakaknya. 

"Hah ? Ada apa ?" Tanya edward yang baru saja kembali fokus pada adiknya. Matanya menatap emma lekat - lekat. Perasaan berdebar itu kembali hadir lagi, bahkan jauh lebih intens daripada sebelumnya. Apalagi setelah emma memutuskan hubungannya dengan yucha.

Edward lega. Sangat lega malah.

"Apa kau sedang memikirkan sesuatu ?" Tanya emma.

Hanya gelengan kepala sebagai jawaban edward.

"Lalu ?"

"Aku lapar, em."

"Kau terlalu banyak bekerja, ed. Kita harus sering jalan - jalan disini." Kata emma yang memberikan solusi pada edward.

"Jalan - jalan ? Itu cocok untukmu, em."

"Apa saranku salah ? Selama ini kau terlalu banyak bekerja."

"Nggak, nggak salah. Tapi nggak nyambung em, aku laper bukan lagi suntuk." Kata edward dengan cengiran khasnya.

"Ah… mungkin aku yang suntuk. Padahal kalo kita jalan - jalan kan bisa sambil nyobain banyak makanan."

"Kau ini memberiku saran atau ingin meminta sesuatu sih ?" Emma hanya mengangkat bahu cuek.

"Mungkin keduanya." 

"Em…" panggil edward.

"Hmm…"

Edward mendekat ke arah emma, lalu tanpa aba - aba dia menarik kaki adiknya.

BYYUUUR!!!

Tawa renyah edward terdengar sangat bahagia.

"1 sama. Kita seri, em." Katanya.

"Dasar gila!!!!" Maki emma.

Tawa edward semakin menjadi karena mendengar kemarahan emma.

"Kau terlalu banyak bekerja, hingga membuatmu sinting!!!" Maki emma lagi. Bagaimana tidak, emma masuk ke dalam kolam renang saat sudah memakai kimono mandinya.

Setelah itu, edward berenang ke arah adiknya. Tanpa basa - basi edward memeluk emma erat. Berharap pelukan ini akan meredakan amarah adiknya.

Bahagia rasanya memeluk emma seperti ini. Edward memang sengaja membuat emma kesal, agar selalu ada alasan untuknya memeluk emma seperti ini.

Mungkin perasaan edward untuk emma salah, karena mereka adalah kakak beradik. 

Tapi cinta tidak pernah bisa memilih pada siapa dia akan berlabuh. 

Jika dia bisa, maka edward akan meminta untuk menjadi pasangan hidup emma daripada menjadi kakaknya.

Tersiksa rasanya merasakan debaran pada orang yang tidak tepat.

"Lepas!!!" Tolak emma, sambil memukul dada edward dengan kesal.

"Biarkan begini sebentar aja." Pinta edward lirih. 

Kata - kata itu sukses membungkam emma. Dia berhenti memukul dan menerima pelukan hangat kakaknya.

Kenyamanan mengalahkan segalanya, karena pada akhirnya emma yang memang selalu merasa nyaman bersama edward pun membalas pelukan edward tak kalah erat.

"Aku sangat menyayangimu, em."

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status