Sister to a Brother

Brothers are Superman, Spiderman and Batman of their sisters

-Unknown

Belum sempat Esa melangkahkan kaki untuk masuk ke rumah masa kecilnya  Ayahnya, Bagus Prasetyo sudah terlebih dahulu menghampirinya, memeluk dan menepuk-nepuk punggung putra kesayangannya itu. Bagus tertawa renyah, dan menarik diri .”Anak kesayangan gue, akhirnya ingat pulang juga.” Sinisnya seraya menepuk pelan pipi Esa.

Esa hanya tersenyum miris segera masuk dan duduk di kursi ruang tamu. “Aku mau ngomong sama Bapak.” Ucapnya dingin.

Bagus yang masih tidak bisa menyembunyikan senyumnya segera duduk berhadapan dengan Esa, dengan sebuah coffe table sebagai penengahnya. “Nanya kabar Bapak lo dulu kek, basa basi.” Sindir Bagus

 “Bapak udah pasti sehat, bisa kelihatan kok,” Esa sedikit mencondongkan tubuhnya. “Bapak bener nyuruh Hening nikah?”

Senyum di wajah Bagus menghilang seketika dan tatapannya berubah serius. “Denger dari mana?” tanyanya. berfikir kilat. “Ahh pantas Hening tadi gue tunggu gak muncul-muncul, dia pasti sudah dengar juga, ck. ZIAAHH!!!” Teriak Bagus.

“Jadi bener? Pak, Hening itu baru 19 tahun, jangan paksa dia buat nikah, biarin dia nikmatin masa muda dia—”

“Iya Bang!” Ziah menghampiri Bagus, berlari tergopoh dari belakang menyela kalimat Esa.

Bagus mengalihkan pandangannya ke Ziah. “Lo ya, yang ngabari Hening kalau dia mau gue kawinin? iya kan?!” Tanyanya.

Ziah pura-pura terkejut, lalu melirik Esa sekilas. “Kapan gue ngasih tau Hening.” Ujarnya berakting dan menggaruk kepala. “Abang kan tau, gue gak ada ke mana-mana, cuma di rumah belakang, lagian anak gue baru datang dari pesantren Bang, coba tanya aja sama Riris -anak Ziah- gue cuma di rumah aja, kaga ke mana-mana dah Bang!” Bohongnya

Bagus berdecak kesal. “Ya sudah pergi sana, biar gue cari tau sendiri nanti!”

“Eh, Esa! Tumben dateng, entar mampir rumah belakang  ya, ada Riris, pasti—”

“Ziah!!”

“I-iya Bang, pergi gue, pergi.” Kata Ziah bersungut bergegas kembali ke belakang.

Esa kembali menatap dingin ke Bagus. “Hening mau di nikahkan sama siapa?”

“Anaknya Abraham.” Ujar Bagus yang kini sudah menyematkan rokok di sela jarinya.

“Astaga Pak,  anak laki-laki Pak Abraham itu cuma Dewa, dan dia sudah punya istri, Bapak tega bener mau jadiin Hening istri ke dua.” Esa kini sudah mengepalkan kedua tangannya. Ia memang benci dengan Hening dan Ibunya namun, tetap saja ia tidak sampai hati jika harus melihat adik satu-satunya itu akan menderita. Ikatan Esa dan Hening seperti love hate relationship.

“Dewa udah cerai sama istrinya, mereka juga gak punya anak, gak ada ruginya kan kalau Hening nikah sama dia. Secara fisik, gue yakin lah Hening gak akan nolak Dewa, belum ketemu aja mereka," Bagus terkekeh dengan penuh keyakinan. "Dan yang pasti, Hening gak akan kekurangan apapun, Sa! Hidupnya terjamin!” Tutur Bagus.

“Hidup Hening atau Hidup Bapak yang terjamin?” Sambar Esa tersenyum sinis. “Pak Abraham mau ada proyek di Pelabuhan Barat kan, pasti dia minta tameng sama Bapak dan sebagai balasannya Bapak minta anaknya buat nikahin Hening.” Ucap Esa dengan telak."Bapak manfaatin Hening, anak Bapak sendiri!" Sambungnya.

“Lo itu gak ngerti apa-apa, Sa!”

“Justru aku orang yang paling tau semua tentang apa yang ada di pikiran Bapak! Emang gak cukup udah di bayar pake duit, sampe harus bawa-bawa Hening segala?!”

Esa berdiri. “Jangan bawa-bawa Hening dalam urusan kotor Bapak, biarkan dia bebas, hidup sesuai keinginannya tanpa harus terjerat dengan dunia hitam kayak gini!”

“ESA! Jaga mulut lo! Emang siapa yang biayai lo dari kecil, uang dari mana selama ini yang lo makan?!” Bentak Bagus yang hampir tidak bisa mengontrol emosinya, tangannya sudah merema sebatang rokok yang tidak jadi ia sulut.

“Aku tau Pak, tapi karena itu juga lah, aku memutuskan pergi dari sini, dan aku harap Bapak juga tidak mencampuri hidup Hening. Kalau masih di teruskan, aku gak segan bongkar siapa aja pejabat yang sudah berbuat kotor dan menggunakan jasa Bapak untuk menyelesaikan semua masalah mereka.” Esa menarik nafasnya.

Bagus terdiam dengan rahang mengetat sudah menggemeretakkan giginya karena teramat kesal

“Jangan ganggu hidup Hening, maka aku akan tutup mulut selamanya.”

==

“Bang, Bang, itu tu Neng Hening baru keluar, mau keparkiran, cepetan Bang! Samperin!”  Ucap seorang pria yang berada di belakang kemudi, dan memang sedari tadi sudah menunggu Hening di luar kantornya. Meskipun ini adalah hari libur, namun terkadang Hening juga harus ke kantor bila ada keperluan tentang materi iklan yang ia tangani.

Pria yang duduk di kursi penumpang akhirnya keluar dengan tergesa menghampiri gadis itu.

Hening yang baru saja keluar dari kantornya hendak menuju ke parkiran terkejut dengan keberadaan pria bertubuh tegap layaknya bodyguard yang kini sudah berada di hadapanya.

“Non Hening, kan?” Tanya pria itu sopan dan tegas.

Hening tidak menjawab, ia malah bersedekap melihat dengan tatapan menantang ke arah pria itu.

“Bisa ikut saya, Bos saya mau ketemu dengan Non?” Ucapnya masih sopan.

Entah kenapa perasaan Hening tidak nyaman. “Bos? Dari perusahaan apa ya? Mau pasang iklan?” Tanyanya namun tidak bisa menyingkirkan rasa gusarnya.

Pria itu berfikir sebentar. “Iya Non, mau pasang iklan. Mari Non, ikut saya.”

Hening menipiskan bibirnya ragu-ragu akan ajakan pria tersebut, namun akhirnya ia pun menggangguk dan mengikuti pria itu, berjalan bersisihan.

Langkah Hening terhenti saat ia mengenal dengan sangat orang yang saat ini berada di belakang kemudi mobil yang sedang ia tuju. “Di suruh Bapak gue ya?” Celetuknya.

“Gak Non, bos saya yang mau ketemu.” Pria itu juga berhenti dan dengan sigap meraih lengan Hening menariknya menuju mobil. Baru saja Hening hendak berteriak, mulutnya segera di bekap dan di paksa masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang bagian belakang.

“Jalan Ben!” Perintah pria itu yang kini sudah duduk di samping Hening.

Hening tersenyum sinis melihat Beni yang duduk di belakang kemudi, dan merupakan salah satu anak buah Bapaknya, “Di suruh Bapak, lo Ben?!”

“Maaf Neng.” Ucap Beni takut-takut melihat Hening sekilas pada kaca spion.

“Mampus di tangan gue, lo habis ini!” Ancam Hening yang seketika membuat Beni menelan salivanya. Ia kembali teringat kejadian saat Hening menjadikannya sasaran amarah, ketika dirinya mencoba menghalangi gadis itu mengejar Bapaknya yang sedang pergi membawa perempuan lain. Bibirnya robek dan beberapa lebam di dada serta punggungnya.

Zaid yang baru saja keluar dari mobil, kebetulan hendak mampir ke Metro, untuk menemui Ilham -manajer Hening-, akhirnya mengurungkan niatnya karena melihat Hening dari jauh yang bawa paksa oleh seorang pria. Ia kembali masuk ke mobilnya dan bergegas menyusul Hening sembari menghubungi Esa.

Mobil yang ditumpangi Hening masuk ke dalam sebuah komplek ruko mewah, dan Zaid kehilangan jejaknya harus berputar sedikit mengitari ruko sampai akhirnya menemukan mobil yang dibuntutinya sudah terparkir di depan sebuah restoran. Ia pun kembali menghubuni Esa untuk memberitahukan posisinya saat ini.

“Woii, Id! Ngapain lo di sini.”

Zaid berbalik dan terkejut melihat Genta. “Genta?”

“Iya, ini gue Genta! Emang siapa lagi? Setan?” Tangannya tanpa sadar sudah menoyor kepala Zaid.

“Astaga! Lo! Ingat umur Gen!” Bentak Zaid lalu menendang kaki Genta. Dan hanya di balas tawa oleh pria itu.

Genta merangkul Zaid yang masih sibuk dengan ponselnya mengirim chat ke Esa, mengajaknya untuk masuk ke dalam restoran. “Nunggu siapa lo?”  Tanyanya lalu melambaikan tangan kepada kedua sahabatnya yang memang sudah lebih dulu berada di sana.

“Zio sama Hans? Kalian janjian?” Tanya Zaid tidak terima karena ia tidak dihubungi untuk berkumpul bersama.

Genta berdecak pelan. “Bini mereka berdua yang janjian, lagi ke spa khusus bumil di depan sono,” telunjuk Genta menujuk ke sembarang arah.

“Hei Id, di sini juga?” Celetuk Hans menarik kursi di sampingnya untuk Zaid.

Namun Zaid tidak menggubrisnya. “Lo bedua, ada lihat cewek pake kemeja warna biru dongker gak? rambutnya di iket, pake tas ransel merah, masuk sini?”

“Sama dua cowok, bukan?” Tanya Zio memastikan.

Zaid mengangguk.

“Ke atas tadi, kalau bener itu loh ya.” Lanjut Zio.

“Kenapa Id?” Tanya Genta penasaran. “Lo udah mau kawin juga, masih aja nyari cewek lain.”

“Berisik lo Gen!”  Sentak Zaid yang memasang wajah serius, lalu menangkap sosok Esa yang masuk melewati pintu dengan tergesa menghampirinya.

“Heningnya di sini Pak?” Tanya Esa yang terengah dengan mata yang memandang ke sembarang arah.

Hening? Batin Genta dan memandang tidak suka kepada Esa mengingat apa yang dilakukan pria itu ke pada Hening kemarin sore.

“Teman saya lihat dia ke atas sama cowok, kemungkinan cowok yang bawa dia tadi.” Ucap Zaid khawatir.

Kening Genta makin terlipat dalam, tidak paham.

“Ada apaain sih Id?” Hans mulai curiga dengan sikap Zaid yang tidak seperti biasanya.

“Ya udah Pak, makasih, saya ke atas dulu.” Ucap Esa lalu berbalik namun tangannya di tahan oleh Zaid.

“Saya ikut!” Tanpa menghiraukan pertanyaan Hans.

“Jangan Pak!” Sergah Esa dengan cepat, melanjutkan kalimatnya. “Jangan sampai ada yang tau kalau Pak Zaid ada hubungan dengan semua ini.”

“Gak bisa gitu Sa—”

Esa menepuk bahu Zaid menyela.”Cuma saya sama Hening yang bisa nyelesain masalahnya. Makasih ya Pak, Oia, jangan pecat saya ya.” Lanjutnya terkekeh lalu berlari tergesa menaiki tangga.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status