AISYA ( INDONESIA )
AISYA ( INDONESIA )
Author: Isna
Bab 1

Aisya Putri Mahendra, itulah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku, umurku 17 Tahun. Aku mempunyai dua saudara laki-laki yang bernama Dimas Putra Mahendra, dan Andra Putra Mahendra.

Jam menunjukan pukul 6.30 pagi, yang mana Aisya masih nyenyak bergelung dengan selimutnya di atas tempat tidur. Tiba-tiba terdengar suara teriakan sang Bunda "Aisya, bangunn..."

Aisya, tidak memperdulikan teriakan sang Bunda, ia kembali merapatkan selimutnya, sambil bilang "Apa sih, Bun. Aisya masih ngantuk" katanya karena terus mendengar Bundanya yang tak berhenti ngoceh untuk membangunkannya.

"Cepatan bangun, nanti kamu telat berangkat Sekolahnya" kata Bu Dewi, sambil mengoyang-goyangkan badan Aisya agar anak tersebut segera bangun.

"Sebentar lagi, Bun. Lima menit lagi" tawar Aisya

"Gak ada tawar menawar. Bunda, gak mau tahu pokoknya cepatan bangun" cicit Bu Dewi. Yang mana membuat Aisya segera membuka selimutnya dan duduk.

"Udah jam berapa, Bun" tanyanya dengan mata yang masih merem dan, suara yang serak khas bangun tidur.

"Udah, jam 6.30 pagi" jawab Bu Dewi.

"Hmm" gumam Aisya, ia segera duduk di tepi tempat tidur dengan kaki menjuntai ke bawah.

"Sudah, ayuk cepatan mandi, terus siap-siap Bunda mau siapin sarapan dulu" kata Bu Dewi, sambil berlalu keluar dari kamar anak bungsunya tersebut.

Aisya, segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar mandi untuk mandi. Tak membutuhkan waktu lama Aisya sudah selesai dengan ritual mandi kilatnya, ia mah kalau mandi cukup sebentar saja. Ia berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil seragam Sekolah, dan memakainya. Setelah selesai, ia menyisir rambut dan mengikat rambutnya seperti ekor Kuda, dan menaburkan sedikt bedak Bayi di wajahnya.

Dia mah, gak perlu dandan, gak dandan aja udah cantik apalagi kalau dia dandan, ya walaupun dia agak sedikit bar-bar, ingat ya sedikit titik gak pake titid eh, ASTAGFIRULLAH. 

Setelah selesai semua, ia berjalan ke luar dari kamarnya menuju ruang makan untuk sarapan bersama. Ia menyapa semua Keluarganya.

"Pagi, semua" sapanya

"Eeh, Bang Dimas mana?" Tanyanya karena tidak melihat Abang kesayangannya di ruang makan.

"Masih, di kamarnya mungkin" jawab Bang Andra yang sudah duduk manis di kursi makan.

"Bang Dimas, antarin Aisya dong" teriaknya yang membuat Dimas segera keluar dari kamarnya.

"Apaan sih, Dek. Teriak-teriak" kata Dimas, kakak sulungnya Aisya

"Antarin, Bang. Aisya dah mau telat ini" ucapnya

"Makanya, jangan begadang terus, jadi kesiangankan bangunnya" kata Bang Dimas.

"Bang Andra, tuh. Yang ngajakin Aisya begadang nonton bola" cicitnya sambil menunjuk Bang Andra dengan mulutnya yang dimonyong-monyongkan.

"Eeh, kok bawa-bawa nama gue sih, Dek. Kan lo sendiri yang mau nonton" cerocos Bang Andra yang gak mau di salahkan.

"Iih, tapikan Abang yang ngajakin" sungut Aisya

"Sudah-sudah, cepat selesaikan sarapannya, Sya. Nanti kamu telat berangkatnya." Ujar Bu Dewi menghentikan perdebatan kakak beradik tersebut.

Aisya, segera melahap sarapannya yaitu sehelai roti tawar yang sudah diolesi dengan selai strowberi kesukaannya, dan meminum segelas susu hangat. 

"Ayokk, Bang. Cepatan antarin Aisya dah telat ini". Ujarnya pada Bang Dimas

"Iya, iya bentar Abang ambil kunci Motornya dulu di kamar" jawab Dimas seraya berjalan menuju kamar untuk mengambil kunci.

Aisya, berpamitan dengan Bunda, Ayah, serta Bang Andra yang masih asyik nangkring duduk di kursi makan. Setelah mengucapkan Salam, ia berlari keluar rumah dan menunggu Bang Dimas mengeluarkan Motor Sportnya dari garasi. 

"Ayokk" seru Dimas, Aisya pun menghampiri Abangnya tersebut dan menerima helm yang disodorkan oleh Bang Dimas dan segera memakainya, lalu naik ke atas motor. Dimas pun segera menjalankan Motor sportnya menuju Sekolah Aisya.

======

Lima belas menit berlalu, Mereka sampai di depan gerbang Sekolah, Bang Dimas segera menghentikan laju Motornya. Aisya turun dari atas Motor Abangnya, ia melepas helm dan memberikannya pada Bang Dimas. Ia menyalami dan mencium tangan Dimas lalu berucap " Nanti, pulangnya jemputin ya, Bang" ucapnya pada Abang kesayangannya itu.

"Iya, nanti kabarin aja kalo dah pulang. Belajar yang bener ya" ucapnya

"Siap, Boss." Jawab Aisya dengan tangan di atas jidat seperti memberi hormat.

Aisya, berlari menuju gerbang Sekolahnya yang sudah mau ditutup oleh penjaga Sekolah, yaitu Pak Parman. Ia berteriak " stoop, Pak. Jangan ditutup dulu" teriaknya dan membuat Pak Parman, menghentikan aktivitas menutup gerbangnya menjadi menolehkan pandangannya ke arah Aisya.

"Eh, Neng Aisya. Tumben telat, Neng." Ujar Pak Parman 

"Iya, Pak. Saya kesiangan bangunnya" jawab Aisya.

"Oh, ya sudah cepatan masuk, Neng. Bentar lagi pelajaran dah mau dimulai" seru Pak Parman menyuruh Aisya masuk.

"Ya, Pak. Aisya masuk dulu, terima kasih, Pak." 

"Sama-sama, Neng." Jawab Pak Parman.

Aisya, berlari menuju kelasnya, ia tiba di depan kelas dan segera masuk. Ia bersyukur karena Guru yang bertugas menyampaikan materi pelajaran di kelasnya belum datang. Ia berjalan menuju kursi tempat duduknya di sana sudah ada Nisa sahabat sekaligus teman sebangkunya. Ia meletakan tasnya di di laci meja.

"Tumben banget, lo telat, Sya." Cicit Nisa

"Ya sorry, abisnya gue bangun kesiangan gegara begadang nonton bola sama, Bang Andra" jawab Aisya.

"Beruntung, lo datang sebelum Pak Seno datang, kalo gak abis lo disuruh sikatin kamar mandi" cerocos Nisa.

"Iya, beruntung banget gue masih bisa terselamatkan dari kekejaman, Pak Seno" 

"Eeh, lo dah ngerjain PR yang dari Pak Seno, belum" tanya Nisa

"Udah dong, gini-gini gue masih ingat itu tugas" jawabnya

Tak berapa lama, suara salam terdengar dari ambang pintu, semua murid dengan cepat kembali duduk di kursi masing-masing. Suasana kelas kembali sunyi, tiba-tiba terdengar suara bariton dari depan kelas mereka.

"Segera, kumpulkan tugas yang saya berikan kemaren" kata Pak Seno.

Semua murid mengeluarkan buku tugas mereka, dan memberikannya pada Ketua Kelas yang bertugas mengambil dan mengumpulkannya pada Pak Seno.

Setelah, selesai mengumpulkan tugas mereka, Pak Seno memulai pelajarannya, semua murid memperhatikan, dan mendengarkan pelajaran yang dijelaskan oleh Pak Seno. Kecuali Aisya yang tengah asyik berlayar di alam mimpinya. Pak Seno menghentikan pelajarnnya dan berjalan menuju tempat duduk Aisya.

"Sya, bangun, Sya."ucap Nisa, ia berusaha membangunkan sahabatnya tersebut, ia goyang-goyangkan badan Aisya, dan menarik-narik lengan Aisya agar temannya itu segera bangun.

"Bangun, Sya." Ia masih berusah membangunkan, tetapi Aisya hanya mengeliatkan badannya dan bergumam "hmm"

Astaga, Nisa sudah ketar ketir melihat Pak Seno yang sudah berdiri di samping tempat duduk mereka. Sekali lagi Nisa membangunkannya.

"Sya, cepatan bangun" ujarnya di telinga Aisya. Aisya bangun dan mengucek-ngucek matanya. 

"Apaan sih, Nis. Ganggu orang tidur aja deh." Sungutnya

"Ehmm" dia menoleh kearah sumber suara dan ia kaget mendapati Gurunya yang berdiri di sampingnya. Aisya jadi kikuk sendiri.

"Maaf, Pak. Saya ketiduran" ucapnya kikuk

"Kenapa, kamu sampai ketiduran di kelas?"tanya Pak Seno.

"Saya mengantuk, Pak" jawabnya. Astaga jawabannya bikin Nisa istigfar.

"Jangan, diulangi lagi" 

"Sekarang, kerjakan soal nomor 5 dan 6 di papan tulis" perintah Pak Seno.

Aisya, segera berdiri dan mengerjakan soal yang diberikan oleh Pak Seno, untung aja dia ini memiliki otak yang cerdas coba kalo gak, alamat nyikat kamar mandi Sekolah sudah dia. Ia sudah selesai mengerjakan soalnya dan di suruh duduk kembali oleh Pak Seno.

"Saya, tidak mau melihat ada murid yang ketiduran lagi di dalam kelas, saat pelajaran berlangsung. Hari ini masih saya maafkan, tapi untuk lain kali tidak ada lagi kata maaf."ucap Pak Seno sebelum mengakhiri pelajarannya. 

Bersambung....

Semoga suka ya, maaf saya baru pemula jadi ditunggu kritik dan sarannya. Terima kasih

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status