Reuni SMA
Reuni SMA
Author: Gabriella Tan

PROLOG

Ceklek!

Wanita yang sejak beberapa jam lalu duduk dan sibuk dengan laptop-nya pun terkejut ketika seorang pria keluar dari kamar dan menghampirinya. Siapa lagi kalau bukan Bima – suaminya?

“Kok belum tidur, Yang?” tanya Bima pada istrinya.

Tamara menggeleng. “Masih sibuk kerja,” jawab Tamara seraya tersenyum manis kepada suaminya.

Bima sangat paham pekerjaan istrinya. Walau Tamara hanyalah seorang penulis novel di samping ia menjadi seorang ibu rumah tangga, tapi Bima sangat bangga dan mengapresiasi pekerjaan Tamara tersebut. Bagaimana tidak? Memiliki istri seorang penulis tentu membuat Bima selalu bahagia karena hari-harinya dipenuhi oleh kalimat-kalimat penuh cinta dari istrinya, tak jarang juga Tamara melontarkan kalimat-kalimat gila yang justru sangat menghibur Bima dan membuat pria itu bahagia.

Seorang penulis novel – suatu pekerjaan yang sering sekali diremehkan oleh banyak orang. Namun, meski demikian, gaji Tamara sebagai seorang penulis novel terbilang cukup untuk membeli skincare-nya atau baju puteri kecil mereka.

Bukan karena Bima tak mampu membelikan baju puteri mereka atau skincare untuk istrinya. Bima yang bekerja sebagai dokter spesialis ortopedi itu tentu saja memiliki banyak uang yang dapat membeli tak hanya sepasang baju untuk puterinya, ia juga dapat membelikan skincare untuk istrinya dengan kualitas terbaik dan harga yang mahal. Namun, karena hobi istrinya yang sudah ada sejak ia masih kanak-kanak itu membuat Bima tak memiliki hak untuk melarangnya.

Bima adalah tipe suami yang sangat mendukung apa pun yang dilakukan oleh istrinya, selama apa yang dilakukan oleh istrinya merupakan hal yang baik.

“Genre apa kali ini yang kamu tulis, Yang?” tanya Bima seraya melongok ke layar laptop Tamara. Namun, dengan cepat Tamara menutup laptop-nya.

“Warewolf,” jawab Tamara berbohong.

“Tentang manusia-manusia serigala gitu?” tanya Bima penasaran.

Tamara mengangguk mantap.

“Ah, aku nggak akan paham kayak gituan, Yang,” kata Bima menyerah. Ia sendiri juga tak berminat untuk menulis sebuah novel fiksi. Daripada menulis novel fiksi, Bima lebih suka membaca buku tentang ligament, persendian, otot, pembuluh darah, saraf, dan tulang belakang manusia – itu lebih tepat untuk profesinya sebagai dokter spesialis ortopedi.

Tamara tertawa mendengar perkataan suaminya.

“Kamu cantik banget, sih, Yang, hari ini. Jadi pengen ci—”

“Papa!”

“Baru aja mau godain mamanya, eh, anaknya udah bangun aja,” kata Bima dengan kesal.

Tamara tertawa.

“Papa, sini!”

Bima memandang Tamara dengan sedih, berharap ia dapat menikmati malam berdua dengan istrinya saja.

“Itu Anin udah manggil, Yang,” kata Tamara seraya tertawa.

Dengan putus asa, Bima pun berjalan masuk ke dalam kamar puteri mereka.

Tamara tertawa. Di satu sisi ia merasa kasihan dengan suaminya itu karena puteri mereka sangat dekat dengan ayahnya. Bahkan Anin – gadis kecil berusia empat tahun itu lebih dekat dengan Bima ketimbang dengan Tamara. Namun, di sisi lain Tamara bersyukur karena akhirnya ia dapat kembali menulis.

Tamara beberapa kali menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan perlahan.

Oke, Ra, inilah saatnya lo nulis tentang dia, kata Tamara dalam hati.

Entah apakah hatinya kuat atau tidak menuliskan kisah tentangnya – lelaki yang sampai sekarang masih sangat lekat di hatinya dan tak akan tergantikan.

Comments (2)
goodnovel comment avatar
Ikke NVS
Aaak suka ...
goodnovel comment avatar
Gie Salindri
dari prolog udah ok??
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status