Bagian 2

Tamara mengekori seorang guru biologi dan juga wali kelasnya di kelas XI IPA 3, beliau bernama Bu Naomi.

“Kalau kamu ada kesulitan atau masalah, kamu bisa cerita ke Ibu sebagai wali kelasmu, ya?” tawar Bu Naomi dengan lembut.

Tamara mengangguk sembari tersenyum menjawabnya.

Kelas yang sebelumnya ramai dan gaduh, kini menjadi hening ketika guru yang sedang hamil enam bulan itu masuk disusul oleh gadis mungil yang tak lain adalah Tamara.

“Kita kedatangan teman ba—”

“Uhuy .…”

“Manisnya .…”

“Duduk sama Abang sini, Neng.”

“Jangan mau, Neng. Dia buaya.”

Belum selesai Bu Naomi berbicara, kelas kembali ramai, menggoda sang siswi baru di sampingnya itu.

“TENANG!” seru Bu Naomi berusaha menenangkan kelas. Wanita itu mengusap perutnya dan mengucapkan ‘amit-amit jabang bayi.’

Setelah kelas kembali tenang, Bu Naomi pun mulai mempersilakan Tamara mengenalkan diri.

“Nama saya Tamara Alteyzia, biasa dipanggil Rara,” kata Tamara singkat. Membuat siapa pun berdecak ‘lho, cuma segitu doang?’

“Boleh nggak kamu kupanggil ‘Sayang’ aja?” goda seorang siswa di ujung kelas. Perawakannya tinggi besar dengan rambut sedikit gondrongnya.

“Ganjar!” tegur Bu Naomi sembari mendelik tajam, membuat sang empunya nama hanya tersipu.

“Tamara, kamu bisa duduk di dekat Juna,” kata Bu Naomi sembari menunjuk bangku kosong di samping cowok berkacamata yang sedang asyik membaca komiknya itu.

Tamara mengangguk patuh, ia berjalan mendekati bangku Juna diiringi decakan kecewa dari kaum adam.

“Juna lagi, Juna lagi.” Begitulah kira-kira gerutuan mereka.

“Baiklah, Anak-anak, kalian bisa berkenalan nanti lagi, ya. Kita lanjut pelajaran dulu,” kata Bu Naomi mengalihkan perhatian.

“Hai, Rara, salam kenal, ya, aku Dimas.”

“Aku Raka.”

Tamara hanya menundukkan kepala setiap kali teman-teman barunya itu mengenalkan diri. Bukan karena tak ingin kenal, hanya saja Tamara adalah seseorang yang pemalu, ia tak mudah akrab dengan orang yang baru ia jumpai.

Akan tetapi, sikapnya itu justru mendapat gerutuan dari teman-temannya, mereka menganggap bahwa Tamara adalah gadis yang sombong.

“Kalian fokus ke pelajaran dong, jangan berisik, ganggu!” sindir Juna ketus.

Yaelah, Si Cupu ngerusak suasana aja.”

Tamara mengalihkan pandangannya ke belakang. Matanya bersitatap dengan mata biru nan indah milik seseorang, sebelum kemudian orang itu dengan malas kembali memejamkan matanya.

Jantung Tamara berdegup dengan aneh. Kenapa sih, Ra? batinnya heran.

                                                            ***

Bel istirahat berbunyi, membuat semua murid yang ada di kelas berhambur keluar. Ada yang ke kantin, ke lapangan untuk berolah raga, dan ada pula yang ke perpustakaan. 

Tamara memilih menyembunyikan diri di dalam perpustakaan yang sepi, sibuk berkutat dengan novel bersampul biru karangan penulis favoritnya itu.

Ruangan perpustakaan yang luas dan sepi itu membuat Tamara nyaman duduk lama dengan novelnya, sebelum perutnya dengan jahat berbunyi.

Segera diletakkannya novel tersebut ke tempat semula lalu melangkah pergi menuju kantin.

Suasana kantin sudah mulai sepi, hanya beberapa murid saja yang tampak masih menikmati makanannya. Jelas saja karena pasti murid-murid yang lain telah kenyang dan kembali ke kelas mereka.

Tamara dengan semangat membawa nampan berisi semangkuk bakso dan segelas es teh yang sangat menggiurkan bagi perutnya di siang yang terik ini.

BRAK!

Langkah Tamara terhenti ketika ia tanpa sengaja menabrak seseorang. kuah bakso itu menumpahi seragam putih orang di depannya dan meninggalkan noda.

Tamara membenarkan letak kacamatanya yang miring lalu mendongak, matanya beradu tatap dengan pemilik mata biru itu. Wajah cowok itu memerah, jemarinya terkepal hingga buku-buku jarinya memutih menahan amarah yang telah memuncak.

“LO!” Suara bariton itu membentaknya.

“Ma—maaf. Gue nggak sengaja,” ucap Tamara terbata-bata.

“Berani-beraninya lo kotorin seragam gue yang mahal ini!”

Tamara menunduk, kakinya terasa lemas seketika itu juga. 

Baru sehari ia menjadi murid baru di sekolah ini, tapi ia sudah mendapatkan masalah besar.

“Jalan tuh pakai mata! Udah dikasih empat mata juga nggak dipakai.”

Tangan Tamara bergetar, tapi dengan pandai ditutupinya segera.

“Gue bisa bersihin,” kata Tamara seraya meraih lengan seragam cowok itu. Namun tangan Tamara segera ditepis. 

“Nggak usah!”

Tamara bingung, apa yang harus ia perbuat kini.

“Tamara Alteyzia.” Cowok itu membaca badge namanya. “Gue tandai lo. Mulai detik ini, gue pastikan hidup lo sebagai murid di sini nggak akan tenang.”

Cowok jangkung itu pergi setelah mengeluarkan sumpah serapahnya, diiringi tatapan heran dan bingung dari orang-orang yang ada di sana.

Tamara mendudukkan diri di kursi yang tak jauh darinya. Kakinya begitu lemas mendengar ancaman cowok tadi.

Ya, hidupnya pasti tak akan tenang ke depannya. Terlebih karena cowok itu adalah teman sekelasnya.

Tamara memijat pelipisnya dengan frustrasi, membayangkan apa yang akan ia terima ke depannya.

***

“Vano, lo kenapa?” tanya Dinda dengan heboh begitu melihat seragam Revano yang kotor. 

Tak seperti biasanya cowok itu memakai pakaian yang kotor.

Dinda mendekat dan mulai meraba noda di seragam putih Revano. Sikap Dinda itu sontak mengundang siswi lainnya ikut mendekat dan mengerubungi, menanyakan hal yang sama.

Revano tak sepatah kata pun menjawab. Ia memilih diam, tapi matanya masih menyalang menatap Tamara yang menunduk di bangkunya.

Kelas semakin ramai dan heboh mempersoalkan seragam mahal Revano yang kotor. Dari mana saja cowok tampan itu sehingga seragamnya menjadi kotor? Mereka tidak menyadari jika bel masuk sudah berbunyi lima menit yang lalu.

“Permisi.” Seorang pria paruh baya berseragam PNS dengan rambut disisir rapi itu mengetuk pintu, seakan menjadi tamu di sebuah rumah. Siapa lagi jika bukan Pak Anton – guru ekonomi itu berhasil membubarkan kerumunan siswi-siswi yang mengerubungi Revano dan membuat mereka kembali duduk di bangku masing-masing.

“Maaf mengganggu acara rumpinya tadi. Tapi Bapak rasa sekarang sudah jamnya ekonomi,” kata Pak Anton dengan senyuman khasnya.

Jam alam mimpi pun seakan berbunyi ketika Pak Anton menjelaskan tentang bagaimana APBN dan APBD disusun, sumber dana APBD, dan lainnya yang membuat seluruh murid menguap. Bahkan beberapa siswa di bangku belakang sudah menggapai mimpinya.

                                                         ***

Bel pulang pun berbunyi, membuat semua murid di kelas XI IPA 1 itu – dengan semangat 45 mengemasi barang-barangnya. Yang tadinya mengantuk, bahkan ngiler pun kini berubah menjadi segar bugar.

Tamara bergegas berjalan keluar kelas, berusaha sebisa mungkin untuk menghindari cowok bermata biru yang tak lain adalah Revano.

Gadis itu kini tahu dengan siapa ia berurusan setelah tak sengaja menguping pembicaraan siswi-siswi kelas XII IPS 4 tadi. 

Ternyata Revano adalah anak ketua yayasan sekolah ini. Pantas saja jika ia dengan berani mengancam Tamara.

Mengetahui kenyataan itu, membuat Tamara semakin merinding. Tak dapat dibayangkan jika ia kembali membuat masalah dengan Revano, pasti ia akan ditendang dari sekolah ini. Jika ia dikeluarkan, mau di mana lagi ia bersekolah? Ia dan ibunya sudah tak punya banyak uang lagi.

Semenjak ayahnya meninggalkan mereka, ia dan ibunya tak memiliki uang sedikit pun. Mereka terpaksa kembali ke ibu kota – tempat masa kecil ibunya.

Bermodalkan uang yang sangat sedikit, Diana memberanikan diri mengontrak di sebuah kontrakan sederhana, membuka usaha menjahit yang sudah belasan tahun ia tinggalkan itu. Lalu, jika Tamara sampai dikeluarkan, apakah itu tidak melukai hati ibunya? Sementara ia dapat bersekolah lagi saja berkat bantuan malaikat baik hati yang tak lain adalah teman ibunya itu.

Tamara selamat sampai gerbang sekolah, tak melihat batang hidung Revano sedikit pun.

Dengan segera ia berlari pulang. Untung saja rumahnya tak jauh dari sekolahnya.

Glek!

“Udah pulang, Sayang?” Diana menghampiri puteri tunggalnya yang sudah berdiri di ambang pintu itu.

Tamara tersenyum, berusaha mengembalikan keceriaannya demi Diana.

“Mama udah dapat order-an?” tanya Tamara yang melihat tumpukan kain di mesin jahit Diana.

“Iya, syukurlah Tante Melati tadi bawa temannya buat jahit baju di sini.”

“Syukurlah. Rara ikut senang, Ma.”

“Ya udah, kamu ganti baju dulu aja, ya. Habis gitu makan. Di tudung saji Mama udah buatkan telur ceplok setengah matang kesukaanmu,” kata Diana membuat wajah anak gadisnya semakin berseri-seri.

Tamara menurut. Ia sudah duduk manis di lantai sembari melahap makanannya.

“Enak?”

“Kapan Mama pernah masak nggak enak?”

Diana tersenyum, anaknya itu memang suka sekali memujinya.

“Gimana di sekolah tadi? Senang nggak dapat teman baru?”

Tamara tertegun. Teman baru? Yang ada ia dapat masalah baru.

“Senang banget, Ma. Temannya baik-baik semua,” jawab Tamara bohong.

“Baguslah kalau gitu. Mama harap Rara bisa lulus dengan baik, sukses, bisa bahagiakan Mama, ya,” ucap Diana seraya mengelus puncak kepala Tamara.

Gadis itu tersenyum saja. 

Maafin Rara, Ma. Maaf karena Rara udah bohong.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status