Bagian 4

Tamara keluar toilet, melihat muka murungnya di pantulan cermin. Air matanya sudah kering dari tadi.

Tamara membasuh mukanya dengan air, lalu berjalan kembali ke kelas diiringi tatapan aneh dan teriakan mengolok dari teman-teman kelasnya.

Dengan segera Tamara mengemasi barang-barangnya, memasukkannya ke dalam tasnya.

“Ra, ini, ‘kan, belum jam pulang,” kata Juna yang terheran-heran melihat apa yang dilakukan Tamara.

Akan tetapi, Tamara tak meresponnya sedikit pun. Gadis itu justru berlari pergi membawa tasnya keluar.

“Rara!” seru Juna memanggil. Namun, percuma saja, sang empunya nama sudah menghilang, entah ke mana.

                                                      ***

“Lho, kok udah pulang?” tanya Diana heran. Tak seperti biasanya putri tunggalnya itu pulang sepagi ini.

“Iya, Ma. Rara agak nggak enak badan aja, jadi izin pulang deh,” jawab Tamara sekenanya.

“Kamu sakit?” Diana menempelkan punggung tangannya ke dahi Tamara. “Kok nggak panas?”

“Eh, Rara pusing, Ma, bukan panas.”

“Ya udah, kamu buruan ganti baju terus makan, ya.”

Tamara mengangguk patuh.

Tak lama kemudian, pintu rumah diketuk. Siapa yang bertamu? Apakah seseorang yang hendak menjahitkan baju pada Diana?

“Rara aja, Ma, yang buka,” kata Tamara ketika Diana hendak membukakan pintu.

Mata besar gadis itu membulat begitu tahu siapa sang pengetuk pintu tadi.

Sementara di ambang pintu sudah berdiri cowok jangkung berseragam putih abu-abu yang rapi dengan kacamata yang masih setia dipakainya. 

“Juna.” Tamara terkejut. Bagaimana pemuda itu bisa tahu rumahnya? 

“Siapa, Ra?” Diana melongok, ingin tahu siapa yang mengetuk pintu tadi.

“Saya Juna, Tante – teman sekelasnya Rara,” kata Juna memperkenalkan diri sembari mencium punggung tangan Diana.

“Kok Juna nggak disuruh masuk, sih, Ra?”

“Eh, masuk, Jun,” kata Tamara mulai membukakan pintu lebih lebar.

Juna masuk mengekori Tamara dan Diana.

“Maaf, ya, Jun, gue nggak punya sofa,” ucap Tamara sembari menyodorkan kursi plastik.

“Ngaak apa-apa, Ra.”

“Dibuatin minum dong, Ra,” bisik Diana di telinga Tamara dengan pelan.

“Mau minum apa, Jun?”

“Adanya apa?” Juna balik bertanya.

“Es teh, es jeruk, sama air putih.”

“Es teh aja deh, Ra. Haus, nih. Hehehe ….”

“Oke, tunggu bentar, ya.”

Juna mengangguk.

Sementara Tamara membuatkan minuman, Diana terus mengajak Juna untuk mengobrol, menanyakan ini itu termasuk tentang kegiatan belajar mengajar.

“Kalau di kelas, Rara bagaimana, Nak Juna?” Pertanyaan yang sama yang dilontarkan ibu-ibu wali murid pada teman anaknya.

“Pendiam, Tante. Hehehe ….”

“Apa dia susah bergaul dengan teman-teman lainnya?”

Juna menggaruk kepalanya yang tiba-tiba menjadi gatal tanpa sebab itu. Bagaimana ini? Apakah ia harus menjawab dengan jujur? Namun, bagaimana jika Diana menjadi terbebani dengan fakta yang ada nantinya?

“Nih, Jun, diminum.”

Juna dapat bernapas lega ketika Tamara datang membawa nampan berisi tiga gelas es teh. Setidaknya Tamara dapat menyelamatkannya dari pertanyaan Diana.

“Ya sudah, dilanjut aja dulu ngobrolnya, ya, Mama mau ke belakang. Juna, Tante ke belakang dulu, ya,” kata Diana pamit.

“Oh, iya, Tante.”

“Lo kok bisa tahu rumah gue?” tanya Tamara ketika Diana sudah tak terlihat lagi di sekitarnya.

“Apa yang gue nggak tahu?” Juna tersenyum miring. Wajah culunnya mendadak menjadi mengerikan bak seorang psikopat ulung.

“Lo stalking gue?”

“Kenapa sih, Ra, lo tadi pulang nggak pamit? Bu Naomi panik cariin lo karena pak satpam lapor lo kabur dari jam pelajaran.” Bukannya menjawab pertanyaan Tamara, Juna justru mengalihkan pembicaraan.

“Lo siapa, sih, sebenernya?” Tamara mulai takut.

“Gue Juna, Ra. Masa lo lupa sama teman sebangku lo sendiri, sih?” Juna tertawa. Kali ini wajahnya tak semengerikan tadi.

Tamara terdiam, ia sendiri bingung siapa Juna sebenarnya. Mengapa Juna terlihat culun ketika di sekolah, tapi terlihat misterius di luar sekolah?

“Lo pasti sakit hati, ya, soal praktikum tadi?”

Tamara mengangguk pelan. Jelas saja, bukan? Siapa yang tidak sakit hati jika dipermalukan di depan banyak orang seperti tadi.

“Gue jelas sakit hati, Jun. Gue tahu kalau Vano yang ganti larutan gue. Gue emang nggak punya bukti kuat kalau dia yang ganti larutan gue, tapi dari ancaman-ancamannya kemarin, gue yakin banget kalau dia pelakunya.”

Juna terdiam, berusaha mendengarkan dengan saksama semua yang dikatakan oleh Tamara.

“Gue lama nangis di kamar mandi, sampai sesak dada gue karena pengap, Jun. Gue nggak ngerti lagi dia punya dendam sebesar apa ke gue sampai gue diginiin. Gue sadar gue salah karena udah kotorin seragamnya, tapi gue bener-bener nggak sengaja, Jun.” Tamara terisak perlahan.

Juna terkejut dengan respon gadis di hadapannya itu. Rupanya seberat itu kesedihan yang dirasakan Tamara.

Dengan perlahan Juna mengusap punggung Tamara, mencoba menenangkan.

Tanpa sepengetahuan keduanya, Diana rupanya mendengarkan semua itu di balik tembok. Wanita itu menangis mendengar apa yang dikatakan anaknya. Ia baru tersadar jika selama ini anaknya menutupi semuanya – mengatakan baik-baik saja, teman-temannya baik – semua adalah bohong.

Mengapa puteri tunggalnya itu mulai berani membohonginya?

“Ehm, gue nggak tahu harus gimana, Ra. Cuma gue kasihan aja sama lo yang murid baru udah diginiin.”

“Gue harus gimana, Jun? Mau menghindar juga susah karena sekelas.”

Juna mengangkat bahunya, “Gue juga nggak ngerti, Ra.”

Tamara terdiam. Memang susah jika sudah berurusan dengan Revano, terlebih karena cowok tengil itu adalah anak pemilik yayasan sekolah.

“Ra.”

Tamara mengangkat kepalanya, menatap Juna.

“Gue boleh nggak jadi teman lo?”

“Seriusan lo mau berteman sama gue?” Mata Tamara terbelalak, tak percaya dengan apa yang dilontarkan Juna.

Juna mengangguk mantap.

                                                  ***

“Rara!” Juna berlari tergopoh-gopoh menghampiri Tamara yang masih berdiri di halaman sekolah.

Cowok itu terus menarik lengan Tamara.

“Apaan, sih, Jun? Sakit, nih, tangan gue lo tarik-tarik gini,” protes Tamara sembari melepaskan tarikan Juna.

“Lo harus lihat apa yang ada di kelas sekarang.”

Tamara berlari meninggalkan Juna, tak peduli sekencang apa cowok itu memanggil namanya.

Gadis itu tiba di kelas, bersamaan dengan seluruh murid yang menatapnya dengan tatapan menghakimi. Di depannya sudah tersedia pemandangan tak menyenangkan mulai dari papan tulis yang dicoret-coret dengan memaki dirinya, bangkunya yang sudah penuh coretan dengan kata-kata yang tak jauh beda dari yang ada di papan tulis, serta laci mejanya yang penuh dengan sampah.

Tamara mengembuskan napas dengan berat. Sabar, Ra, sabar. Ini masih terlalu pagi buat emosi. 

Tanpa berkata sepatah kata pun, Tamara langsung membersihkan sampah-sampah di mejanya, membuangnya ke tempat sampah, lalu menghapus tulisan-tulisan di papan tulis. Ia menatap bangkunya yang masih penuh coretan tak menyenangkan itu. Mungkin esok lusa ia bisa membersihkannya.

Seisi kelas masih menatapnya. Tamara tak peduli.

Langkahnya menuju kantin, berharap dapat meredakan emosinya dengan segelas susu cokelat hangat.

Tamara meneguk hampir setengah gelas. Perasaannya sudah kacau sejak pagi, susah untuk diperbaiki seharian nanti. 

Perlahan air matanya turun. Awalnya hanya setitik, tapi lama-lama membanjiri kedua pipinya.

Karena tak ingin seorang pun tahu ia sedang menangis, dengan segera dihapusnya air mata itu dan mencoba tersenyum.

“Lo kuat kok, Ra,” katanya pelan pada dirinya sendiri.

Tanpa ia sadari, seseorang memperhatikannya sejak tadi. Ia juga menyaksikan bagaimana Tamara menangis.

Apa gue keterlaluan sama tuh cewek ya?

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status