Bagian 6

Alyana terkejut bukan main mendapati putera sulungnya sudah tak sadarkan diri di bawah lantai bawah dengan darah yang mengucur dari kepalanya.

Dengan segera ia memanggil ambulance dan membawa Revano menuju rumah sakit milik keluarganya. 

Tamara yang merasa menjadi penyebab semua ini pun ikut ke rumah sakit, menunggu dengan harap-harap cemas.

Alyana dan Alex terus melirik tak suka ke arah Tamara.

Gadis mungil itu sebenarnya tahu, tapi ia tak peduli itu. Mulutnya terus komat-kamit berdoa agar Revano dapat segera disembuhkan.

Tamara tak tahu lagi bagaimana jika hal buruk terjadi pada Revano pasca insiden ini. Hidup Tamara pasti akan sangat hancur. Bisa saja ia dikeluarkan dari sekolah atau yang terburuk ia dapat dipenjara karena mencelakai seseorang. Tentu hal itu akan berdampak buruk pada Diana.

Sebuah ponsel berdering nyaring memecah keheningan di sana. Tentu saja itu bukan ponsel Tamara karena gadis itu tidak memiliki ponsel.

“Halo.”

Ternyata itu adalah ponsel Alyana. 

Tamara memperhatikan ponsel Alyana yang penuh ukiran indah, sudah dapat dipastikan jika harganya fantastis.

“Saya? Ya, saya akan segera ke sana. Oh, Alex juga? Baiklah, saya dan suami saya akan ke sana sekarang.”

Alyana mematikan ponselnya, ia berbisik pada Alex yang sedari tadi menatapnya penuh tanda tanya. 

Alex mengangguk-angguk dan melangkah beriringan dengan Alyana. 

Langkah wanita cantik itu terhenti tepat di depan Tamara. 

“Kamu yang membuat anak saya seperti ini. Jadi, jangan harap kamu bisa melarikan diri.” Mata Alyana menatap Tamara dengan tajam. 

Tamara mengangguk. Bagaimana bisa ia melarikan diri dan lepas tanggung jawab? Cari mati namanya jika ia sampai seperti itu. 

Alyana dan Alex pun kembali melangkah, meninggalkan Tamara seorang diri di lorong rumah sakit. 

Tamara terdiam di kursi tunggu. Sesekali jemarinya mengetuk ponselnya untuk menghilangkan rasa sepi dan mencekam. 

Jika saja Tamara memiliki kemampuan untuk melihat yang tak kasat mata, pasti ada berbagai macam makhluk yang lalu-lalang di hadapan Tamara. 

Akan tetapi, Tamara tak peduli itu. Jikalau ia dapat melihat mereka detik ini juga, ia tetap akan bersikap cuek. Yang ada di pikirannya hanyalah kepulihan Revano. 

Tak berselang lama, seorang dokter keluar dari kamar rawat Revano. 

“Keluarga Revano?”

Tamara mengangguk. 

“Mbak pacarnya Revano, ya?”

“Iya, Dok,” jawab Tamara sekenanya. “Gimana keadaan Revano, Dok?”

“Dia sudah membaik, hanya butuh istirahat saja.”

“Boleh saya menjenguk, Dok?”

“Oh, boleh. Silakan. Asal tidak mengganggu istirahatnya, ya,” pesan dokter. 

Tamara mengangguk. Gadis itu masuk ke dalam kamar rawat Revano setelah dokter itu pamit. 

Mata Tamara menanggap sesosok laki-laki jangkung yang terbaring lemah di ranjang rawat. 

Tamara mendekat, menatap lekat-lekat wajah tampan Revano. 

Lelaki itu kini bukan Revano yang seperti biasa dilihatnya – Revano yang terlihat menyebalkan dan membuat dirinya susah selama beberapa hari ini di sekolah. 

Dengan keberanian yang terkumpul, Tamara meraih tangan Revano yang ukurannya dua kali lebih besar dari tangannya. Digenggamnya tangan itu erat-erat. 

“Gue sadar gue ceroboh, Van. Maafin gue, ya, karena gue, lo selalu kena sial. Karena kecerobohan gue, nyawa lo jadi taruhannya,” ucap Tamara penuh sesal. 

Akan tetapi, seseorang yang ia ajak bicara itu tak menjawab – tetap tertidur tenang. 

“Gue bener-bener takut kalau lo kenapa-kenapa, Van. Gue bukan anak orang kaya yang kalau ada masalah, bisa diselesaiin sama duit. Gue mohon lo bangun, ya, Van, sehat lagi kayak biasanya. Gue rela ngapain aja supaya lo bisa bangun dan sehat lagi. Gue janji, Van.” Tamara terisak. Wajah mungilnya disembunyikannya di balik tangan Revano. 

Tanpa Tamara sadari, mata biru itu telah terbuka, memandang gadis mungil yang tengah menangis di sampingnya. 

Sebuah senyum terukir di sudut bibir Revano. Lucu. Gadis itu benar-benar lucu. 

“Mau sampai kapan lo nangis sambil pegangin tangan gue?”

Tamara terperanjat kaget. “Vano, lo udah sadar?”

“Sejak kapan gue pingsan?”

“Tapi tadi lo …”

Revano tertawa terbahak-bahak, membuat Tamara menjadi takut. 

“Ke—kenapa?”

“Lo polos banget, sih,” kata Revano sembari menyentil jidat Tamara, membuat gadis itu cemberut. 

“Gue pingsan cuma bentar.”

“Terus tadi waktu gue nang—”

“Iya, gue tahu lo masuk kamar gue. Gue tahu lo ngomong apa aja ke gue sebelum lo nangis. Lo lucu ya kalau lagi panik, muka lo aneh banget hahaha ….”

“Kok lo nggak ngomong kalau lo udah sadar?”

“Lo nggak tanya.”

Wajah Tamara memerah, kesal karena telah dipermainkan. 

“Kenapa?” tanya Revano bingung karena ditatap aneh oleh Tamara.

“Lo nyebelin tahu nggak, sih.” Tamara mencubit lengan Revano dengan kecil, membuat cowok itu menjerit kesakitan. 

“Lo cewek tapi kayak preman.”

“Mana ada preman mainnya nyubit?”

“Ada.”

“Di mana?”

“Di depan gue.”

Tamara berdecak kesal, membuat Revano semakin kencang tertawa. 

“Aduh, kok gue pusing, ya, Ra?” keluh Revano sembari memegangi kepalanya. 

Tamara panik. Dengan segera ia mengelus kepala Revano. 

“Makanya jangan banyak tingkah dulu. Belum juga pulih.”

“Lo doyan ngomel juga, ya?”

“Nggak tuh. Gue doyannya cilok.”

Revano memutar bola matanya dengan malas. Apakah semua perempuan di dunia ini suka cilok? Bahkan ibunya pun suka cilok.

“Eh, Ra, gue dengar lho lo tadi ngomong apa aja.”

“Hah? Emang ngomong apaan?” tanya Tamara pura-pura tak tahu. Ia berharap Revano tak mendengar perkataannya yang mengatakan bersedia melakukan apa pun asalkan Revano siuman.

“Lo ngomong lo bakal lakuin apa aja asal gue sadar, ‘kan?”

“Hah? Nggak kok.”

Halah, alasan.”

“Emang nggak kok. Gue diem aja dari tadi,” elak Tamara berbohong. Rasa malu dan gengsinya karena janjinya telah didengar oleh Revano. 

“Sumpah?”

“Apaan sih, Van, pakai sumpah-sumpah segala? Emangnya lagi pelantikan, kok disumpah segala?”

“Iya, pelantikan lo jadi pembantu gue selama setahun.”

Tamara membelalakkan matanya, tak percaya dengan yang didengar Revano. 

“Maksud lo apaan?” tanya Tamara masih pura-pura tak tahu.

“Lo, ‘kan, yang janji bakal lakuin apa pun asal gue sadar, dan sekarang gue udah sadar. Sekarang gue minta lo jadi pembantu gue selama seta—”

“Nggak.”

“Kok nggak?”

“Gue nggak mau jadi pembantu lo.”

“Kan lo sendiri yang janji.”

“Tapi, ‘kan ….”

“Lo mau jilat ludah sendiri?”

Tamara mengembuskan napas kasar. Ia tak ada pilihan lain selain menyetujuinya. 

Cukup sudah insiden kecoa itu masalahnya. Ia tak ingin menambah beban, terutama dalam sekolahnya. Ia ingin hidup tenang menjadi seorang siswi SMA biasa. 

“Woy! Ngelamun aja lo,” seru Revano mengejutkan Tamara. 

“Hah? Apa?”

“Lo mau nggak?”

“Mau apa?”

Revano lagi-lagi menyentil jidat Tamara.

“Lo telmi banget, sih.”

Tamara mendelik tajam, tak terima disebut telmi atau telat mikir oleh cowok itu. 

“Jadi lo mau nggak jadi pembantu gue?”

“Nggak.”

“Nggak ada penolakan, Tamara.”

“Lo tadi tanya gue mau nggak jadi pembantu lo. Ya gue jawab nggaklah.”

“Harus!”

“Nggak, ah, lo nggak ngegaji gue,” tolak Tamara jual mahal. 

“Lo butuh duit berapa, sih, emangnya?”

Tamara membulatkan matanya. “Maksud lo?”

“Lo lupa gue siapa? Lo ngeraguin jumlah duit di ATM gue?”

Tamara terdiam. Bukan dia meragukan kekayaan Revano. Siapa yang bisa meragukan kekayaan anak seorang pemilik yayasan dan cucu direktur itu? Hanya Tamara merasa kalau Revano mungkin akan memanfaatkannya saja – melampiaskan dendamnya selama ini kepada Tamara.

“Gue bisa bayar lo semau lo, gue juga nggak akan biarin siapa pun ganggu lo di sekolah, privasi lo bakal aman, lo bebas minta bayaran berapa pun.”

 “Satu juta per jam?” tawar Tamara hati-hati. 

“Kenapa nggak tiga juta per jam?”

“Nggak apa-apa?” tanya Tamara ragu-ragu.

Revano mengangguk mantap. 

“Oke. Gue mau jadi pembantu lo.”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status