Share

5. Pemegang Kuasa

Olevey membuka mata saat merasakan belaian hangat pada wajahnya. Sepasang netra emerald yang berkilauan seketika menyapa dunia yang terasa asing bagi pemiliknya. Tentu saja, Olevey masih mengingat kejadian di mana dirinya baru saja terbangun dan disambut dengan sebuah cekikan yang membuatnya kembali jatuh tak sadarkan diri. Itu benar-benar menegangkan, dan Olevey sendiri berpikir jika dirinya akan mati saat itu juga. Olevey mendesah dan memilih untuk bangkit dan duduk bersandar pada kepala ranjang. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh lehernya yang sebelumnya dicekik dengan sekuat tenaga oleh pria pemilik netra sewarna rubi.

Olevey mengernyitkan keningnya saat tidak merasakan ngilu atau rasa sakit yang sudah ia bayangkan akan terasa pada lehernya yang ia sentuh. Mungkin, nanti Olevey harus mencari cermin untuk memastikan apa lehernya memang tidak memiliki bekas lebam yang menghiasi kulit putihnya. Kini, Olevey duduk dengan tenang di tepi ranjang dan mengamati pintu balkon yang sedikit terbuka dan membuat gorden tipis yang menutupinya bergoyang anggun. Olevey bukan gadis bodoh, ia tahu jika kini dirinya sudah tidak lagi berada di dunia tengah yang ditinggali manusia. Olevey tidak bisa menahan diri untuk kembali mengingat malam di mana dirinya melaksanakan tugasnya sebagai gadis persembahan.

Olevey dan rombongan pengantar persembahan tiba di lembar Darc. Tidak membuang waktu, Olevey dibantu untuk segera turun dari kereta dan menapaki jalan setapak yang akan membawanya pada gazebo yang memang akan menjadi tempat di mana dirinya  sebagai gadis persembahan akan bertugas untuk menunggui persembahan diambil oleh utusan iblis. Olevey dibantu untuk duduk di tengah gazebo yang memang dipersiapkan sedemikian rupa hingga Olevey yang duduk di atas bantal merasa nyaman. Seorang pelayan istana—yang dari tahun ke tahun bertugas untuk mengantar gadis persembaha—tersenyum pada Olevey, dan menyiapkan beberapa selimut tebal dan lembut.

“Nona tidak perlu merasa cemas. Jika sang utusan Iblis telah tiba, Nona akan jatuh tidak sadarkan diri. Jadi, Nona tidak akan memiliki kesempatan untuk melihat bentuk iblis yang mengerikan. Nona akan terbangun kembali keesokan harinya, setelah itu Nona bisa tenang karena tugas Nona sudah selesai sebagai gadis persembahan,” ucap pelayan tersebut sembari sedikit membenarkan tatanan rambut Olevey yang cantik.

Mendengar apa yang dikatakan oleh sang pelayan, Olevey mengangguk dan menyamankan duduknya. “Terima kasih,” ucap Olevey. Meskipun dirinya adalah seorang nona muda, bagi Olevey mengucapkan terima kasih adalah salah satu etika yang perlu ia terapkan pada semua orang.

Sang pelayan mengangguk dan undur diri. Setelah semua persembahan diletakkan di hadapan gazebo, semua rombongan memberikan hormat pada Olevey sebelum benar-benar pergi meninggalkan lembah Darc. Kini tersisa Olevey dilembah Darc. Tentu saja hal itu menciptakan suasana hening yang terasa agak mengerikan bagi sebagian besar orang. Namun, Olevey sendiri memang sedikit menyukai keheningan, hingga tidak merasa jika dirinya tengah terancam. Hanya saja, Olevey merasa sedikit terganggu karena keheningan yang seperti ini. Keheningan yang jelas tidak pernah ditemui oleh Olevey.

Olevey menghela napas dan memilih untuk memejamkan matanya. Rasanya, Olevey sangat merasa lelah dan ingin malam berlalu dengan cepat. Di tengah keheningan, Olevey mengernyitkan kening saat merasakan tekanan udara yang berbeda, di susul kabut yang mulai turun. Saat itulah, Olevey berpikir jika utusan sang iblis sudah datang.

Rasa kantuk tiba-tiba datang menghinggapi diri Olevey, menyebabkan kedua matanya terasa begitu berat. Tanpa bisa ditahan, Olevey pun jatuh tertidur. Namun, sebelum dirinya memejamkan matanya secara sempurna, Olevey melihat dua bayangan besar yang mendarat di tengah lembah. Salah satu bayangan bergerak mendekat pada Olevey, terus mendekat hingga Olevey benar-benar tidak sadarkan diri.

“Ternyata, aku berakhir di sini,” ucap Olevey pelan.

“Nona mari saya bantu untuk membersihkan diri.”

Olevey berjengit saat mendengar suara perempuan di sampingnya. Saat menoleh, Olevey melihat seorang perempuan bertelinga lancip. Sudah dipastikan jika ia adalah seorang iblis. “Tidak perlu. Aku terbiasa membersihkan diri sendiri. Kalau bisa, aku minta bantuan untuk menyiapkan peralatan mandi dan pakaian ganti saja,” ucap Olevey tenang.

Melihat ketenangan yang ditunjukkan oleh Olevey, sang pelayan iblis tersebut terlihat terkejut. Ia tidak menyangka jika Olevey bisa setenang ini. Padahal, sebelumnya ia sudah mengira jika dirinya perlu mendengar jerit dan tangis histeris sang nona yang ke depannya akan ia layani ini. Olevey tentu saja menyadari apa yang tengah dipikirkan oleh pelayan di hadapannya ini, ia tersenyum tipis dan bertanya, “Siapa namamu?”

“Sa-Saya Jennet, Nona.”

“Baiklah Jennet, kamu bisa membantuku, bukan?” tanya Olevey yang langsung diangguki oleh Jennet.

Semua ini memang terasa mengejutkan bagi Olevey, tetapi Olevey berusaha untuk tenang dan rasional. Olevey harus menyembunyikan semua kegelisahan dan rasa takut yang isa rasakan. Di situasi seperti ini, Olevey harus bisa menempatkan dirinya dengan baik. Ia sudah dididik untuk menghadapi situasi tersulit seperti apa pun dengan tenang dan dengan pikiran tajam. Mungkin, saat ini adalah waktu yang tepat bagi Olevey untuk menerapkan semua hal yang sudah ia pelajari sebagai seorang nona keluarga Duke yang terpelajar.

***

Olevey berusaha untuk tetap bersikap tenang. Meskipun, saat ini dirinya tengah berhadapan dengan sosok pria yang tadi malam mencekiknya. Pria itu tampak memberikan tatapan tajam yang terasa menembus semua pertahanan yang Olevey punya. Olevey sudah terbiasa dengan intimidasi, dan hal sejenisnya. Namun, Olevey sama sekali tidak pernah mendapatkan intimidasi semenekan ini. Karena itulah, Olevey sulit untuk bersikap tenang di hadapan pria yang sudah dipastikan adalah seorang iblis yang jelas memiliki pengaruh dan kekuasaan.

Setelah makan siang di kamar, tiba-tiba pria ini muncul di kamar yang ditempati Olevey. Saat itulah, Jennet undur diri dan meninggalkan Olvey bersama Diederich. Tentu saja, Olevey bertanya-tanya apa yang akan dilakukan oleh sang raja iblis ini. Apakah mungkin dia akan melanjutkan niatnya untuk membunuh Olevey? Namun, setelah hampir satu jam duduk berhadapan, Diederich sama sekali tidak mengatakan apa pun dan hanya menatapnya dalam diam seperti ini.

“Sungguh menarik.”

Olevey menatap netra rubi yang kini tengah menatapnya dengan tajam itu. Tentu saja, Olevey merasa penasaran dengan maksud perkataannya barusan, tetapi Olevey tengah berhati-hati dan tidak berniat untuk mengambil langkah lebih dulu. “Apa kau akan tetap bungkam seperti itu?” tanya Diederich lagi.

“Apa saya perlu mengatakan sesuatu?” tanya Olevey balik, membuat Diederich terdiam dan memberikan tatapan yang lebih tajam.

“Entahlah. Tapi, bukankah kau memiliki banyak pertanyaan dan ingin mengetahui semua hal yang terjadi?”

Apa yang dikatakan oleh Diederich memang benar adanya. Sudah sewajarnya bagi Olevey menanyakan semua hal tersebut. Namun, Olevey merasa jika posisinya sama sekali tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut. “Apa saya boleh melakukan hal itu?” tanya Olevey memastikan.

“Tentu. Aku akan memberikan waktu untuk bertanya,” ucap Diederich.

Olevey memilin kedua tangannya yang berada di atas pangkuannya. Entah kenapa, Olevey merasa begitu gelisah. Ia gelisah dengan jawaban yang akan diberikan oleh Diederich. Olevey merasakan firasat buruk, bahwa jawaban yang akan diberikan oleh Diederich ini sesuai dengan apa yang tengah ia pikirkan. Namun, Olevey memilih untuk mengambil kesempatan untuk menanyakan ini. Masalah jawabannya, itu masalah belakangan.

“Kapan saya akan dipulangkan ke dunia saya?” tanya Olevey sembari menatap Diederich tepat pada matanya.

Awalnya, Diederich sama sekali tidak memberikan reaksi yang berarti. Namun, sedetik kemudian Diederich menyeringai tipis. “Sebelumnya, aku berniat untuk memusnahkanmu, atau mengembalikanmu ke duniamu. Tapi, sekarang tidak. Aku tidak lagi memiliki niat seperti itu. Mulai sekarang kau akan tinggal di sini,” putus Diederich santai.

Meskipun sudah memperkirakan jawaban ini, Olevey tetap merasa jika ia tidak bisa menerima jawaban Diederich ini. Olevey mengepalkan kedua tangannya dan bertanya, “Tapi kenapa? Kenapa Anda melakukan hal ini hanya pada saya? Kenapa para gadis persembahan sebelumnya tidak mendapatkan perlakuan seperti ini? Kenapa … harus saya?”

Olevey meringis saat tiba-tiba Diederich meraih rahangnya yang ramping dan mencengkramnya dengan cukup kuat. “Karena semenjak kau dipilih sebagai gadis persembahan, sejak itulah aku memegang kuasa atas hidupmu. Aku bisa melakukan apa pun, termasuk menahanmu di dunia iblis ini,” desis Diederich penuh ancaman yang mengerikan.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Kikiw
yang milih kupu2 item eh dah
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

DMCA.com Protection Status