Lima

Leewan bergegas keluar dari rumah. Shenling yang berada di dalam masih membeku ketakutan. Tadi Leewan sempat memaksa dan mengancam untuk menunjukkan pintu keluar.

    'Aku telah menolong orang yang salah. Dia hampir saja membuatku celaka," gumam Shenling dalam hati.

    Di luar, justru Leewan yang tertegun bengong. Jalanan dipenuhi benda-benda yang tidak pernah dilihat. Ada besi bergerak dengan orang di dalamnya. Lalu orang-orang juga berpakaian aneh. Pakaian yang sejenis dengan yang dipakai Shenling. Beberapa orang tampak mengamati benda di tangan mereka. Semua itu membuat Leewan menyadari ia berada di dunia asing yang aneh. 

    "Kau masih di sini?" tegur Shenling membuat pemuda itu terperanjat. Ia langsung melompat mundur.

    "Kau ... kau memang penyihir," ujarnya sambil menuding gadis itu.

    "'Kan sudah kubilang. Aku ini penyihir yang sangat hebat. Begitu pula orang-orang di sini. Jadi kau tidak boleh macam-macam. Kau juga tidak boleh mengancamku seperti tadi. Kalau tidak,"

Shenling menjentikkan jari.

"Sangat mudah bagiku untuk melenyapkanmu."

     'Ini sangat berbahaya. Sebaiknya aku berpura-pura menurut dulu, baru setelah itu mencari cara untuk mengalahkan dia,' gumam Leewan dalam hati.

    "Baiklah, aku akan menurut," cetus pemuda itu akhirnya.

    "Bagus," ujar Shenling sambil tersenyum.

'Aku aman selama otaknya masih terganggu. Sekarang yang terpenting membujuk dia pulang ke rumahnya agar segera membayarku.'

***

    Shenling mengeluarkan beberapa lembar pakaian dari lemari dan memilah-milah. Tidak lama dia memberikan setelan baju dan celana panjang kepada Leewan. 

    "Ini," ujarnya.

"Sebaiknya kau ganti pakaianmu dengan ini. Ini adalah milik ayahku. Seharusnya kau merasa terhormat memakainya."

    Leewan hanya tertegun dan mengamati pakaian tersebut dengan cermat.

    "Aku tidak mau melakukannya. Aku tidak mau memakai pakaian penyihir."

    Shenling mendekat serta menatap tajam pemuda itu. 

    "Kau harus melakukannya. Aku tidak suka melihatmu berkeliaran di rumahku dengan pakaian kotor dan penuh darah. Jika kau menolak, aku pastikan akan membuatmu membeku seperti makanan yang ada di lemari itu," ujarnya sambil menunjuk ke arah kulkas.

    "Baiklah, aku akan menurut."

    Leewan membolak-balik pakaian tersebut.

"Aku tidak mengerti cara memakainya. Bisa kau bantu?" tanyanya sambil menatap gadis itu.

    "Enak saja. Pakai saja sendiri," sahut Shenling sambil buru-buru keluar dari kamar dengan wajah bersemu dadu.

    "Hei, tunggu. Bagaimana caranya memakai ini?" tanya Leewan. Namun pintu telah ditutup oleh Shenling.

    Tidak lama, Leewan menyusul keluar sambil menggeleng. Ia masih tetap mengenakan pakaian lamanya dan menaruh setelan di hadapan Shenling yang sedang menonton televisi.

    "Aku tidak tahu bagaimana cara mengenakan semua ini," ucapnya. Shenling berkerut heran. Kelihatannya pemuda yang berdiri di sampingnya itu benar-benar tidak tahu. 

    'Sebenarnya dia ini berasal dari mana sih? Apa mungkin dia bukan manusia atau jangan-jangan alien seperti di drama?' ucapnya bertanya-tanya.

***

    Masalah tersebut akhirnya teratasi setelah Shenling meminta bantuan dari seorang paman tetangga.

    "Ada apa dengan kekasihmu? Dia pasti sangat dimanjakan dengan banyak pelayan sehingga tidak tahu cara berpakaian," ujar lelaki paruh baya itu setelah selesai.

    "Bukan begitu, Paman. Masalahnya dia habis kerampokan dan karena dipukul, otaknya jadi terganggu. Bisa dibilang dia mengalami hilang ingatan yang sangat parah," sahut Shenling.

    "Apa hilsng ingatan bisa sampai separah itu?"

    "Tentu saja. Paman lihat sendiri, 'kan, dia bahkan lupa cara berpakaian."

    Lelaki itu mengangguk.

"Tetapi bagaimanapun tidak baik kalau kalian tinggal bersama. Pria dan wanita yang belum menikah sebaiknya tidak tinggal serumah," tutur beliau.

    "Aku tahu itu, Paman. Sebenarnya dia itu cuma temanku. Aku membawanya kemari karena penyakit yang diderita sangat parah. Di rumahnya tidak ada siapa-siapa. Jika ditinggal sendirian, dia pasti akan berkeliaran di jalan dan mengganggu orang," bisik gadis itu saat melihat Leewan keluar dari kamar.

    Sang paman kembali mengangguk.

"Baiklah, asal kau bisa menjaga diri saja. Pulangkan dia secepatnya saat kondisi sudah membaik."

    Shenling hanya mengangguk. Leewan menatap curiga.

"Para penyihir, apa yang sedang kalian bicarakan? Apa kalian berencana ingin mencelakakanku dan kerajaan? Kalian tidak akan bisa melakukannya. Meski sedang lemah, aku pasti bisa melawan kalian dan melindungi kerajaan!" serunya keras.

     Lelaki paruh baya di samping Shenling menggeleng.

"Kasihan, ternyata benar katamu. Penyakitnya benar-benar parah. Ya sudah, aku pulang dulu. Rawat saja dia dengan baik," pamitnya sambil bergegas keluar dari rumah.

    "Hei, Paman, tunggu, jangan melarikan diri!" seru Leewan hendak mengejar, tetapi Shenling segera menghalangi.

    "Kau mau ke mana?" tanyanya.

    "Lelaki itu, dia .... Sudahlah, jangan berpura-pura, kalian 'kan satu komplotan. Kau pasti tahu dia hendak melapor kepada raja kalian. Karena itu, kau menghalangiku." 

    Shenling diam dan berusaha keras menahan tawa.

'Sudahlah, biar saja. Yang penting dia tidak berulah macam-macam,' ujarnya dalam hati.

    

***

    Leewan berjalan mondar-mandir di ruang tengah. Shenling keluar dari kamar. Setelah pemuda itu sembuh, memang Shenling menyuruhnya tidur di ruang tamu dengan berbagai pesan agar pemuda itu tidak sembarangan menyentuh barang. 

    "Ingat, ya, ini semua adalah benda sihir. Jika tidak berhati-hati justru akan menghancurkanmu. Jadi jangan pernah menyentuh apa pun!" ujar gadis itu tegas. Leewan hanya mengangguk dan menatap Shenling yang masuk ke dalam kamar.

    'Gadis yang menarik. Sayangnya, dia adalah seorang penyihir,' gumamnya dalam hati. Pemuda itu lalu menggeleng sambil menghela napas panjang.

'Apa-apaan aku ini? Ini bukan waktu yang tepat untuk tertarik pada seorang gadis.'

    Meski begitu, hal tersebut membuatnya gelisah. Hingga larut malam, matanya tidak jua bisa terpejam.

    "Ada apa lagi? Kenapa kau belum tidur juga? Ini sudah larut, tapi kau justru membuat bising," tegur Shenling sambil duduk dan memeluk bantalan sofa.

    "Banyak hal yang kupikirkan. Aku ingin segera kembali. Orang-orang yang kusayangi -keluarga dan sahabatku- pasti sedang menungguku dengan cemas. Aku harus kembali pada mereka. Istana pasti sedang menantiku. Jangan cemas, aku tidak akan melaporkanmu dan tetap membayarmu. Jadi bisakah kau melepaskan aku?" tanyanya sambil menoleh pada gadis itu. Akan tetapi, yang dilihatnya justru Shenling tengah tertidur nyenyak sambil memeluk bantal.

    Leewan diam menatap gadis itu, lalu menggeleng.

"Nona Penyihir, sebagai penyihir hebat, kau benar-benar tidak waspada. Bagaimana kalau aku mengambil kesempatan dan melukaimu?" ujarnya. Gadis itu terus saja terlelap. Leewan kembali menatap.

    "Tapi mana bisa aku melukaimu? Saat ini wajahmu tampak sangat manis," gumamnya lagi sambil mengulurkan tangan dan menyentuh pipi gadis itu.

    Tiba-tiba Shenling membuka mata dan menatap Leewan yang tangannya masih menyentuh pipinya.

    "Kau sedang apa?" tanya gadis itu. Leewan langsung menjauhkan tangan. Wajahnya tampak bersemu merah. Ia lalu berdehem sejenak.

    "Tidak apa-apa. Aku hanya ingin membangunkanmu karena kau tidur di tempatku," ujarnya sambil mengarahkan tatapan ke arah lain. Shenling mengangguk dan bergegas bangkit berdiri diikuti tatapan mata Leewan.

    'Penyihir ini pasti menggunakan mantera untuk memikatku,' gumamnya pelan.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status