Psycho Pathos
Psycho Pathos
Author: Alvida_123
Mayat Dalam Koper

Awal yang buruk untuk memulai hari. kesunyian pagi, terusik teriakan seorang warga yang mengemparkan seluruh penduduk desa. Penemuan mayat di dalam sebuah koper dengan tubuh terpotong-potong menjadi beberapa bagian kecil, berhasil membangunkan ketenangan warga pinggir kota yang terkenal damai.

Sebuah koper berwarna biru dengan ukuran besar tergeletak begitu saja di pinggir danau, memancing rasa ingin tahu seorang laki-laki tua yang melintas. Menggoda pria tua itu, untuk membuka paksa koper yang ia temukan, berharap bisa mendapatkan sesuatu yang berharga, tetapi isinya sangat mengejutkan, membuat pria tua itu shock dan nyaris tak bisa bicara.

Mobil ambulans datang serentak dengan kehadiran tim penyidik, beberapa polisi berseragam mengamankan area dengan memasang garis polisi pada lokasi penemuan mayat. 

Menggunakan sarung tangan karet dan masker, Inspektur Polisi, Pandu, membuka koper. Ia melihat kondisi mayat yang sangat mengerikan. Pembunuh dengan sengaja memutilasi korban hingga nyaris menjadi potongan kecil, bahkan bagian wajah korban hancur, tidak bisa dikenali, antara potongan lengan dan pergelangan tangan, kedua ukurannya hampir sama. Pelaku pembunuhan benar-benar sadis!

Pandu menyisir sekitar danau, mencari jejak dan barang bukti yang mungkin tertinggal oleh pelaku, tetapi semua tampak rapi, hanya ada bercak darah pada rumput di sekitar koper, selebihnya tidak ada apa-apa.

“Siapa yang pertama kali menemukan mayat korban?" tanya Pandu. Ia melepas sarung tangan dan menyerahkannya pada petugas yang lewat.

“Siap Inspektur. Mayat korban ditemukan oleh seorang laki-laki tua, bernama pak Anjan. Saat ini sedang mengalami syok, tetapi beliau masih bisa memberikan kesaksian.”

“Sudah diambil kesaksian beliau?”

“Siap Inspektur! Sudah, dan ini catatannya.”

“Jangan terlalu formal, biasa saja. Menjadi anak baru di tim kami, tidak harus membuatmu sungkan.” Pandu menepuk pundak bawahannya, memeriksa catatan yang diberikan oleh Gama.

Pandu mengeluh tertahan, kasus pembunuhan seperti ini selalu menguras tenaga dan pikirannya. Mencari identitas korban, motif pembunuhan dan pelaku, semua butuh kerja keras yang sangat extra, apalagi setelah ia melihat kondisi mayat yang sudah tidak bisa dikenali. 

Gawai Pandu bergetar, di layar ponsel menampilkan nama rekan yang menghubunginya. Ia menggeser gambar telepon berwarna hijau ke kanan, menerima panggilan yang membuatnya terkejut. Ia menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari danau, mata elangnya melihat jejak ban mobil yang mencurigakan, mengikuti jejak tersebut hingga lima ratus meter arah barat mendekati danau, terlihat jejak ban itu berputar arah menuju jalan raya kemudian menghilang. 

Aneh, bagaimana bisa jejak itu menghilang tanpa bekas? padahal tanah berlumpur di bagian danau barat seharusnya melekat pada ban mobil.

Pandu berbalik membawa mobilnya menuju timur, dua kilometer dari danau menuju hutan pinus. Di sana telah ramai warga yang menghentikan kendaraan mereka, ikut menikmati pemandangan yang membuat isi perut terasa terbalik. Beberapa di antaranya mengeluarkan ponsel, memotret, dan merekam semua yang mereka lihat. Memaksa polisi bersikap tegas menghalangi siapa saja yang mendekat.

Entahlah, manusia kadang lebih tidak memiliki hati nurani dari pada hewan. Mengabadikan sebuah kejahatan untuk disebar luaskan secara online, hingga akhirnya berita itu sampai pada belahan dunia mana saja. Menjadi kebanggaan dan kepuasan tersendiri, jika berhasil menjadi yang pertama, mengunggah berita sensasional dari sebuah kejahatan, hingga menghilangkan sikap empati terhadap sesama manusia.

Pohon pinus yang tumbuh memanjang di sisi kiri kanan jalan raya, membentuk lorong gelap di saat malam hari, lampu penerang jalan serta jarak antar rumah penduduk yang berjauhan, menjadikan hutan pinus lokasi strategis untuk pelaku kejahatan beraksi, apalagi hanya membuang sebuah koper berisikan mayat yang dimutilasi, bukanlah pekerjaan yang sulit.

Tidak jauh berbeda dengan penemuan mayat yang pertama, di lokasi kedua ini, korban juga dimutilasi hingga nyaris menjadi potongan kecil, pemandangan yang sangat mengerikan! Sungguh biadab, orang yang melakukan penyiksaan di luar batas peri kemanusiaan, membunuh seolah nyawa manusia tidak berharga.

Inspektur, Sandi, di satuan reskrim yang menemukan mayat tersebut, ikut berjongkok di samping Pandu.

“Apa yang kau temukan?”

“Luka, bentuk sayatan, wajah tanpa kulit, dan potongan tubuh, semua sangat mirip dengan jenazah yang kami temukan di pinggir danau,” jelas Pandu.

Polisi muda itu menunjukkan bagian wajah korban yang nyaris tidak memiliki kulit, seperti sengaja dikuliti dengan sayatan tipis, lidah yang menjulur panjang keluar seperti ditarik paksa, serta kedua sudut bibir yang sengaja disobek membentuk luka memanjang hingga mencapai tulang pipi, tetapi disatukan kembali oleh pelaku dengan menjahitnya menggunakan benang nilon. 

Sandi memalingkan wajahnya. “ugh, sadis!” 

Inpektur polisi itu meringis, tidak sanggup menyaksikan maha karya pembunuh berhati iblis, menyajikan pemandangan yang menyeramkan. Ia dan Pandu memilih mundur ketika petugas forensik datang, menyerahkan jenazah korban pada ahlinya.

Mereka berdua berjalan menyusuri hutan pinus di pinggir sepanjang jalan raya. Pandu berharap ia dapat menemukan kembali jejak ban mobil seperti yang ditemuinya di pinggir danau, lokasi penemuan mayat pertama.

“Menurutmu, apakah ini pembunuhan berantai?” tanya Sandi.

“Tidak, ini pembunuhan berencana, dilakukan oleh seorang amatiran yang mungkin sakit jiwa, membunuh tanpa perasaan. Namun, pelaku sepertinya sangat pintar mengecoh polisi.” pungkas Pandu sambil tersenyum.

Jejak ban mobil yang sama, kembali ia temukan di sekitar area penemuan mayat. Trik yang digunakan oleh pelaku sama, meninggalkan mobil agak jauh dari tempat ia meletakkan korban, kemudian berputar arah, kembali menuju perkampungan. Namun kali ini, pelaku kecolongan, ia juga meninggalkan jejak yang lain, yaitu bekas jejak sepatu yang ia gunakan.

“Sepertinya kau lebih memahami kasus ini, aku hadiahkan untukmu saja, bagaimana?” Sandi mengedipkan sebelah matanya, memakai kacamata hitam yang tadi ia lepas dan berlari menuju motor yang di parkir tidak jauh dari kerumunan warga. 

Pandu tersenyum, mengacungkan kedua jempol sebagai ganti ucapan terima kasih yang tak sempat ia ucapkan.

***

“Siang Pak, ini daftar semua barang bukti dan identitas kedua korban yang berhasil kami dapatkan dari TKP.” Gama menyerahkan lembar daftar barang bukti dan buku catatan yang digunakannya untuk mencatat beberapa hal penting untuk kasus yang sedang mereka selidiki.

“kenapa di laporan resmi tidak tercatat cincin, tetapi di cacatan milikmu, ada?” tanya Pandu, matanya menatap Gama tajam, menduga pemuda itu telah melakukan kesalahan.

“Cincin itu baru kami dapatkan hari ini dari pak Anjan, warga yang menjadi saksi ditemukannya mayat dalam koper,” jelas Gama. “Beliau sempat menyembunyikan cincin tersebut, tetapi akhirnya memutuskan untuk menyerahkan kepada kita.”

Pandu mengangguk mengerti, mengizinkan Gama untuk keluar dari ruangan, ia lanjut mempelajari semua berkas yang diberikan oleh pemuda itu. di dalam laporan tertulis cincin itu ditemukan oleh pak Anjan dua ratus meter dari jenazah korban, tepatnya di bagian timur laut. 

Ada yang aneh dari dua lokasi penemuan mayat dan juga jejak ban mobil, jejak kaki, serta cincin yang baru saja mereka temukan. Cukup sulit menentukan pelaku apakah seorang wanita atau seorang pria, hanya berdasarkan sebuah cincin pernikahan dengan model unisex. Apalagi dengan trik membuat jejak mobil hilang, tidak bisa dengan mudah menentukan gambaran dari pembunuh ini.

Pandu menghempaskan catatan laporan milik Gama, menyadari ada sesuatu yang telah terlewatkan dan jika dugaannya benar, pembunuh licik ini sengaja ingin bermain dengan kepolisian. Pandu yakin, jejak sepatu dan cincin yang mereka temukan, sengaja ditinggalkan oleh pelaku.

Tidak ingin banyak menduga, Pandu segera memanggil Gama, pemuda berwajah baby face itu mengikuti dirinya meninjau ulang lokasi kejadian. Pandu merasa dirinya sangat bodoh, bisa melupakan hal yang sangat sederhana seperti ini.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status