ZOE
ZOE
Author: Edableyou
BAB 1: ANTI TRUST FILLING

Mereka sudah memintaku menunggu sejak sembilan belas menit yang lalu. Tapi klien eksekutif yang baru saja berhasil mengakuisisi 51% saham perusahaan pertambangan itu tak kunjung datang. Ini adalah salah satu alasan mengapa aku selalu malas berurusan dengan petinggi perusahaan legal.

Seorang pelayan lima menit lalu datang memohon maaf mewakili Tuannya yang masih dalam perjalanan setelah sempat terhambat wawancara media massa. Kuakui, Direktur muda itu akhir akhir ini memang sangat populer. Majalah, koran, digital web dan berbagai platftom memberinya tittle 'SUKSES DI USIA MUDA'. Padahal, tidak ada yang spesial darinya. Tanpa media tau, lelaki itu hanya duduk memerintah kami dibalik telepon dan mengirimkan sejumlah uang untuk membasuh keringat. Kesuksesan yang dibicarakan orang-orang hanyalah omong kosong, kamilah yang sebenarnya mengambil langkah besar; Menghubungi perusahaan pemegang 91% saham, melancarkan taktik sokaiya dan membuat mereka tunduk dalam sekali serang.

Bukankah kami lebih layak untuk menyandang tittle itu; SUKSES MENJADI MAFIA DIUSIA MUDA –contohnya?

Direktur itu benar-benar tidak tau sedang berurusan dengan siapa. Kami –terlebih aku bukanlah orang yang bisa disuruh duduk diam dan menunggu omong kosongnya. Apalagi hanya oleh seorang direktur eksekutif muda perusahaan tambang yang dengan sekali panggilan telepon saja kami bisa menghancurkan pasar saham mereka. Di dunia kami itu bukan perkara sulit, hanya semudah membalikkan telapak tangan.

Sora sedari tadi terus memintaku untuk segera pergi. Menurutnya, Direktur eksekutif muda itu harus membayar mahal atas kesengajaan membiarkanku menunggu sekian lama. Ia sendiri yang akan mengulitinya dengan wakizashi –pedang yang memiliki panjang bilah antara 30 sampai 60 sentimeter namun memiliki ketepatan potong lebih buas dibanding katana. Aku hanya terkekeh menanggapi pesannya. Hari ini perasaanku sedang baik, jadi aku akan sedikit mencoba memaklumi. Direktur, anggap saja hari ini hari keberuntunganmu.

Tiga puluh menit berlalu. Pelayan dengan kimono merah muda membuka pintu ruangan. Dibelakangnya, seorang lelaki dengan tuxedo khaki tersenyum menawan –khas eksekutif muda. Direktur eksekutif muda itu mengulurkan tangan, aku melihatnya sekilas dan membuat gestur penolakan. Rautnya terkejut, mungkin tersinggung karena merasa telah dicampakkan.

"Dari caramu membiarkanku menunggu selama tiga puluh satu menit. Aku yakin, kau tidak terlalu mengenal kami, Direktur." ujarku buka suara setelah menuang sake pada gelasnya.

"Maaf Nona telah membuatmu menunggu. Ada wawancara dengan salah satu saluran TV internasional mendadak di kantorku. Rasanya, tidak sepantasnya perusahaan kami bila harus menolak kedatangan mereka. Dampak siaran mereka terhadap citra perusahaan sangat besar."

Aku mengangguk tidak perduli, "Apa Mr.Hong tidak memberi tau sesuatu tentang kami?"

Direktur eksekutif muda itu nampak berfikir, "Ketua hanya berpesan agar tidak membuat kesalahan, Nona."

"Ah, sayang sekali." Komentarku, "Lalu, bagaimana kabar Mr.Hong?"

"Buruk, Nona. Ia melakukan pekerjaannya diatas ranjang tepat sehari setelah pertemuan rutin perusahaan bulan kemarin. Maka dari itu, aku yang sekarang mewakilinya keberbagai acara. Ketua juga secara pribadi memintaku untuk menemui Nona hari ini. Ia menyuruhku untuk memperkenalkan diri. Aku jadi sangat sibuk. Tapi mau bagaimana lagi, melihat kondisinya sekarang, kurasa tak butuh banyak waktu untuk aku resmi menjadi penerus perusahaan. Oleh sebab itu, aku sedang berusaha mempersiapkan diri. Mohon bantuan kedepannya."

Aku menyungging senyum. Lelaki itu bicara seolah kematian sang ayah akan menjadi babak baru dalam perjalanan karirnya.

Dari balik meja, ia mengeluarkan kotak hadiah berewarna emas dengan ornamen Daruma diatasnya. "Sepulang dari Peru, Ketua Hong memintaku untuk menghadiahkan beberapa potong kain wool vicuna untukmu. Beliau bilang nona suka sekali menggenakan scarf. Kain ini aku rasa akan cocok."

Aku membukanya, ada tiga potong kain wool vicuna disana. Tidak main-main sekali hadiah orang tua itu. Kain wool ini adalah kain yang di peroleh dari vicuna, hewan sejenis unta di pegunungan Peru. Hewan ini sangat di muliakan dan hanya bisa diambil bulunya setiap 3 tahun sekali. Tak khayal bila 1 yardnya dibanderol 25-42 juta.

"Malang sekali. Padahal aku lebih suka berbisnis dengannya daripada denganmu."

"Waktu ketua tidak akan lama Nona. Pada akhirnya kita tetap harus meneruskan bisnis. Aku rasa tidak ada salahnya untuk kita memulai lebih awal."

Aku muak melihatnya nampak terang terangan menunggu kematian Mr.Hong. "Ucapkan rasa terimakasihku kepada Tuan Hong, direktur. Sebenarnya aku ingin segera mengunjunginya, tapi kesibukan selama beberapa minggu kedepan menghalangiku. Mungkin untuk sementara waktu aku titipkan hadiah sederhana ini terlebih dahulu." ucapku.

"Tolong sampaikan permintaan maaf pada Mr. Hong bila hadiah kami jauh dari kata layak, Direktur." Ujarku sembari menulis sepatah dua patah kata dengan tinta merah dibalik kartu namaku. "Hanya sekotak teh dan kartu nama."

Aku menyerahkan kotak hadiah yang sengaja kubeli dalam perjalanan untuk Mr. Hong. Kotak itu berisi satu kilogram Da Hong Pao Tea atau yang lebih dikenal dengan sebutan Big Red Robe. Teh bercita rasa segar bunga ini digelari harta istimewa China. Jadi bukan lagi kejutan bila dibanderol seharga 17,3 miliar perkilonya.

Ia mengambil kartu namaku dan membaca pesan dibaliknya, "Kai inu ni te o kamareru. Ah, memang benar, Nona. Disaat seperti ini pesan mu akan sangat dibutuhkan Ketua Hong."

Kai inu ni te o kamareru adalah kotowaza (pepatah) terkenal di Jepang. Secara harfiah pepatah itu berarti tangan yang digigit anjing peliharaan atau bisa juga diartikan dengan pengkhianatan oleh orang terdekat. Aku sengaja menulisnya untuk memberi peringatan.

"Bukan bagian itu yang boleh kau baca." Ujarku dingin.

"Ah, yang ini?" ia membalik kartu namaku, "Zoe, Abteilungsleiter (Kepala departemen) die Waffe; lobbyist (Pelobi)." Ejanya.

Iya, itu adalah aku. Salah satu dari tiga abteilungsleiter die Waffe yang berperan dalam kontrol masalah secara bersih, hubungan klien, otak perencanaan, dan peluasan kekuasaan. Atau dalam hierarki lebih dikenal dengan sebutan Lobbylist. "Aku rasa, kau belum tau banyak tentang die Waffe, Direktur. Tapi sebenarnya, kau juga tidak perlu repot untuk mengetahuinya. Cukup berhenti membuang waktu dan katakan apa yang harus kami lakukan."

Ia tertawa, "Bagaimana bisa perempuan sepertimu berada di organisasi seperti ini?"

"Bagaimana bisa perempuan sepertiku berada organisasi seperti ini?" ulangku dengan nada menyindir, "Ya, Karena perempuan sepertiku lebih hebat dari pada laki-laki sepertimu, direktur. Perempuan sepertiku tak hanya mampu berbicara tapi juga mampu berdiri memanggul senjata. So, Keep your pretty mouth shut."

Ia mendadak salah tingkah, "Ah, aku hanya bercanda."

"Ah, sayangnya, perempuan sepertiku tidak pandai diajak bercanda, Direktur. Perempuan sepertiku hanya pandai bertarung di gelanggang." jawabku, "Jadi, apa yang membawamu kemari?"

Dia menggaruk tengkuknya –mendadak gugup, "Masalah pengambilan alih saham, Nona. Kami sudah melakoni empat tahap dasar; kondisi prasyarat akuisisi, persiapan pendanaan, persetujuan perubahan anggaran dasar perusahaan, dan finalisasi transaksi saham. Semua terselesaikan dengan mulus."

"Untuk jangka waktu satu bulan dari persetujuan kemarin, itu sangat patut di apresiasi, direktur. Lantas?"

"Kami terhadang masalah di tahap final. Yaitu izin anti trust filing dari china."

Aku tertawa kecil, harusnya aku bisa menebak kejadian ini dari awal. Apalagi baru-baru ini ada kabar bahwa kapal kontainer tekstil dari china ditahan pemerintah. Padahal, Kapal itu sebenarnya milik pemerintah China yang berkolaborasi dengan pejabat bea cukai setempat. Kasihan sekali, direktur muda ini terkena imbas dari kebodohan punggawa negaranya sendiri."Ini sedikit sulit direktur. Kau tau bagaimana tegang yang terjadi antar negara belakangan ini."

Dia mengangguk paham, tidak berkomentar

"Kau yang seperti ini akan menjadi penerus Mr. Hong, direktur?" remehku, "Jika aku berkata seperti itu kepada Mr. Hong, ia akan segera memutar otak dan ikut menyumbang beberapa strategi."

"Apa aku juga harus memberikanmu saran ketika bayaran yang kalian terima akan sesuai?" tanyanya. Aku hanya mengernyitkan senyum. "Akuisisi saham kami 51%, Nona. 10% diberikan ke pemerintah setempat. Jadi perusahaan kami akan mendapat 41%. Maka menurut kalkulasi penasehat ekonomiku, kalian akan mendapatkan 7-8%. Tergantung kecepatan pencairan."

"Woah! Kau benar-benar sesuatu direktur. Satu jamku terbuang sia-sia mendengar tawaranmu." aku mengangkat gelas sake ku dan bersulang sepihak dengan gelasnya, "Beri aku 25%. Mengingat banyak orang yang harus dibungkam dan ketatnya pemerintah China, aku rasa itu bayaran yang cukup untuk sekadar menghapus keringat kami. Kalau kau setuju, aku pastikan rabu depan kau akan mendapatkan perizinan itu."

Direktur eksekutif muda itu nampak berfikir.

"Kau boleh menghubungi penasehat ekonomimu dulu. Untuk negosiasi ini aku rela membuang waktu. Tapi sebelumnya, biar kujelaskan alasan kenapa China tak kunjung memberi anti trust berupa izin impor padamu." sudut bibirku terangkat melihat matanya menatapku penuh rasa ingin tau, "China merupakan salah satu importir bijih tembaga terbesar didunia. Oleh karena itu China ingin memastikan tidak ada kartel untuk menekan harga impor bijih. Sebenarnya masalah hanya sesepele itu, tapi kulihat orang-orangmu tak pandai mencari solusi. Bisa dimaklumi, Direktur, ini memang pekerjaan kotor. Namun apapun pun alasannya, perusahaanmu harus segera mengantongi izin agar tidak ada masalah ekspor dilain hari, bukan?"

Ia mengangguk kecil nampak berpikit. Jemarinya bergerak menggetikkan sesuatu dilayar ponsel dan mohon undur sejenak.

Gotcha! Kalau memang mereka menyetujui tawaranku, maka Mr.Hong patut malu. Bagaimana bisa direktur eksekutif merangkap anaknya itu sebodoh ini? Padahal, perusahaan mereka beranak pinak. PLTA dan PLTU seharusnya bisa ditawarkan sebagai pengganti bayaran 25% saham dariku. Asal perinciannya memuaskan, maka aku pasti akan setuju.

Direktur eksekutif muda itu tidak kunjung kembali. Tabletku yang sedari tadi menghening didalam tas tiba-tiba bergetar. Kedipan layarnya berwarna kuning, artinya berkas penghancuran yang dikumpulkan Kyrene. Jemariku tak sabar membuka.

Ah, data korupsi perusahaan Mr.Hong beserta profil antek-anteknya.

Setelah sekian menit berlalu, direktur eksekutif muda itu kembali masuk. Dua orang pelayan berbaju kimono berada dibaliknya menghantarkan hidangan. Kini, dimeja kami telah terhidang dua piring scallops dengan jelly sauce yang nampak menggiurkan. Tapi sayang sekali, aku tidak biasa makan malam dengan seorang pengkhianat.

"Silahkan dimakan, Nona. Appetizer." tawarnya

"Terimakasih, aku merepotkan sekali, Direktur. Tapi bagaimana hasilnya? Perempuan sepertiku ini tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi."

Ia terdiam sejenak, menatap layar ponsel. Dahinya yang berkerut dipijat-pijat, "Asal bisa selesai satu minggu, maka kami akan memberi 25% saham pada Nona." jawabnya setelah lama terdiam.

"Deal. Ku pegang kata-katamu Direktur." aku mengemasi barang yang tadi sempat tercecer dan bersiap pergi, "Ah Direktur, ada satu pelajaran dasar sebagai pengantar perkenalan yang harus kau ketahui. Yaitu, die waffe bukan tipe penerima maaf atas alasan apapun. Termasuk keterlambatanmu tadi. Ketauilah, tiga puluh menit yang kuhabiskan untuk menunggumu disini sebenarnya bisa kuhabiskan ke acara presentasi jet tempur di Russia."

Direktur itu menatapku penuh pertanyaan.

"Tapi mengingat Mr. Hong, biarkan aku menawarkan kesepakat sebagai pengganti permintaan maaf. Sederhana. Cukup beri kami 2% saham di PLTU dan 3% saham di PLTA. Kau boleh menolak, tapi bersiaplah kebobrokan perusahaanmu akan tersebar diseluruh media massa dalam satu perintah. Disaat masyarakat menaruh mata di perusahaan kalian, aku rasa itu adalah ide yang bagus bukan? Aku yakin masyarakat akan bergejolak tidak rela sumber daya alam tanahnya diolah oleh direktur separuh koruptor sepertimu."

"Zoe! Kau memerasku?" tanyanya marah.

"Ah, memeras? Itu bukan bahasa kami, direktur. Organisasi seperti kami ini lebih suka menyebutnya dengan sokaiya. Cara permainannya mudah. Menyebarkan mosi tidak percaya pada masyarakat yang berimbas pada jatuhnya pasar saham. Gampang sekali, bukan?" aku membuka tabletku dan menunjukkan data korupsi perusahaannya, "Coba lihat baik-baik, kami punya data korupsi pembangunan, proyek aliansi dengan menteri yang menggunakan uang negara dan beberapa hal yang lebih ganas lainnya. Juga ini, bukti bahwa perekrutan pegawai baru hanyalah tameng supaya anak-anak kalian bisa masuk dengan mudah tanpa dicurigai masyarakat. Ah, sebagai perusahaan milik negara, KKN dan penyelewengan uang adalah isu yang panas bukan?"

Direktur eksekutif muda itu merampas tabletku dan mengamati data-data didalamnya, nafasnya memburu, telinganya merah darah.

"Aku selalu memegang janjiku, Direktur. Jangan khawatir, Satu minggu ini surat izin antri trust dari China akan sampai ke tanganmu. Tapi soal berani membuatku menunggu dengan sia-sia itu lain cerita, besok jam 11 pagi bila permintaanku tak direalisasikan hitam diatas putih maka ucapkan selamat tinggal kepada posisi 'Ketua' yang kau impikan." aku merampas tablet dari tangannya. "Semoga harimu menyenangkan, Mr. Hong II"

"Zoe!" ia berteriak saat aku melenggang meninggalkannya. "Pukul 5 sore, Zoe. Hal seperti ini tidak mudah. Banyak yang harus disiapkan."

Aku berbalik dan menggeleng kecil, "Ayolah, aku tidak bisa menoleransi apapun dan siapapun. Semoga kau tidak menyianyiakan kesempatanmu menjadi Ketua selanjutnya, Mr. Hong II." aku tersenyum puas menatap wajahnya yang kian pias.

Ia menatapku dan menggeram marah.

"Selamat malam, Mr. Hong II."

Aku kembali melangkah meninggalkan lelaki yang mengumpatku dalam gumamannya.

Sudah kubilang, ia bermain dengan orang yang salah.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status