Share

04

Happy reading and enjoy~

Matanya menatap tangga yang menjulang di atasnya, apa ia harus menaiki tangga ini demi bisa keluar dari sini? Atau menahan lapar hingga jam waktu makan siang berakhir dan wanita yang bekerja sebagai resepsionis ini kembali bekerja?

Ah sebaiknya ia memang harus pergi dari sini, melewati puluhan anak tangga agar bisa mengisi perutnya yang keroncongan. Masih menjinjing heels nya Luna berjalan menaiki anak tangga, menatap sedikit putus asa pada tangga yang menjulang.

"Semangat!" ucapnya pada diri sendiri. Kata-kata yang tidak berguna karena ternyata sudah lebih dari dua puluh menit tangga ini terlihat seperti tangga keabadian yang tidak putus-putus.

Setiap perbelokan pada tangga ada pintu besi yang sama seperti yang berada di bawah ketika Luna memasukinya tadi, tetapi pintu besi itu seolah berkompromi membuatnya tidak bisa masuk akibat terkunci rapat.

Dan alhasil sepanjang tangga ia hanya membuang-buang waktu yang menyebabkan perutnya kembali berbunyi. Rasa lapar yang menyengat menyerangnya dengan ganas. Jika tau begini lebih baik ia menunggu hingga jadwal makan siang berakhir.

Lagi-lagi dirinya melakukan hal konyol. Luna menyeka dahinya yang mengeluarkan bulir keringat. Pandangan matanya tertuju pada tangga yang masih terbentang jauh, lalu tiba-tiba dari arah tangga terdengar kegaduhan sebelum akhirnya tubuh seseorang jatuh dari tangga dan hampir saja mengenainya. Kedua mata Luna terbelalak ketika mendapati seorang lelaki memakai jas jatuh dari arah tangga dengan keadaan tubuh yang berdarah.

Luna berlari menghampiri lelaki itu, menyentuh dengan hati-hati tubuhnya yang kaku. "Ka-kau tidak apa-apa?" tanyanya panik.

Karena terlalu khawatir pada tubuh yang terbaring lemah di hadapannya Luna sampai tidak menyadari bahwa ada seorang pria yang berada di atas tangga menatap ke arahnya dengan tajam, oh, atau lebih tepatnya menatap ke arah lelaki yang terbaring lemah di hadapannya.

Masih belum menyadari bahwa ada manusia lain yang berada di tangga itu, Luna berteriak minta tolong pada atas tangga. Berharap ada seseorang dibawah sana yang bisa membantunya.

Deheman seseorang menghentikan teriakkannya, Luna berpaling dan kedua matanya terkunci pada mata emerald bermanik abu gelap itu. Tubuhnya terpaku dengan rasa dingin yang memaku bahkan jika tidak ingin menambah daftar semua kekonyolannya hari ini mungkin saja Luna sudah menggigil hanya dengan sebuah tatapan.

Menelan ludah dengan susah payah dan entah mengapa sikap terintimidasi secara sepontan menguar dari tubuhnya hingga Luna merasa ciut dan mengecil. Oh, ya Tuhan ... bagaimana hanya dengan tatapan bisa membuatnya seperti ini?

"Bi-bisakah kau menolongnya? Kurasa dia terjatuh dari tangga ...." ucapan Luna memelan di akhir kalimat sebab sebuah pemikiran baru terlintas di benaknya.

Bagaimana jika lelaki ini bukan jatuh dari tangga, melainkan dorongan yang di sengaja oleh pria bermanik abu gelap yang saat ini menuruni tangga dengan langkah elegan sekaligus mengintimidasi ini. Seorang pria berjas hitam mengikutinya dari belakang.

Jadi ... ini bukan sebuah kebetulan melainkan pembunuhan!? Diliriknya lelaki lemah yang mengeluarkan banyak darah dari tubuhnya, lelaki itu masih membuka kedua matanya dengan sayup-sayup.

Tidak salah lagi, ini memang benar-benar kasus pembunuhan yang sialnya Luna menyaksikan itu semua. Dirinya akan menjadi saksi di pihak kepolisian karena masalah ini kemungkinan akan tersebar, pembunuhan antar karyawan Washington Corp.

Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terburuk, buru-buru Luna menjinjing kembali heelsnya sebelum tadinya diletakkan di lantai karena ingin melihat keadaan lelaki lemah ini.

"Ak-aku tidak melihat apa-apa. Anggap saja aku tidak pernah ada." Ia membalikkan tubuhnya bersiap-siap ingin menuruni tangga guna menghindari apapun masalah yang terjadi.

Oh, tolonglah ia hanya ingin menemui Allard tetapi tampaknya tidak ada satupun yang berjalan dengan lancar karena langkahnya dihentikan oleh satu tangan kokoh yang memeluk pinggulnya dengan erat. Mendorong tubuh Luna kebelakang hingga merapat pada sosok tak dikenalnya ini. Luna menoleh ke belakang, mendongak dengan wajah penuh harap.

"Bisakah kau melepasku, Tuan? Aku berjanji tidak akan menyebarkan berita apapun. Aku juga janji akan merahasiakan ini rapat-rapat dari siapapun. Jika berita ini tersebar kau bisa mencariku, tunggu sebentar, aku akan memberikan nomor ponselku."

Ingin mengatakan akan memberikan kartu nama, tetapi sayangnya dirinya yang baru saja tamat SMA dan juga tidak mempunyai usaha apapun tidak memilikinya.

Luna menyentuh tangan yang merangkul pinggulnya dengan hati-hati. "Ku mohon Tuan lepaskan sebentar, aku ingin mengambil ponselku ..."

Dan bukannya melepaskan pelukannya lelaki  itu malah bergerak cepat membalikkan tubuh Luna dalam satu kali sentakan, hingga membuat Luna kini berhadapan langsung dan melihat dari dekat manik abu gelap yang menyihir itu. Seketika tubuh Luna kembali menggigil tatkala melihat ada noda darah di pipi lelaki yang berada di hadapannya ini.

"Kau pikir aku akan membiarkanmu hidup setelah kau menyaksikan semuanya."

Suara bariton itu serak dan dingin, aura kejam menguar hingga Luna merasa kedua lututnya melemas. Jika saja tidak ada tangan lelaki ini yang menahan bobot tubuhnya mungkin saat ini Luna sudah jatuh terduduk konyol di lantai.

"Aku berjanji tidak melaporkannya pada siapapun, ku mohon ..." Kali ini Luna membuat permohonan di dada dengan kedua tangannya.

Bukannya mempertimbangkan keinginan Luna, lelaki itu malah melarikan pandangan matanya ke arah tubuh Luna secara terang-terangan.

Menilai dengan mengangkat alisnya sebelah, pandangannya terjatuh lama di belahan dada Luna yang memang berada dalam santapan lezat para lelaki, sebab dress yang dikenakannya pada saat ini memiliki belahan rendah pada bagian dada.

Ketika matanya kembali pada wajah Luna, rahangnya mengeras. Tangan yang digunakannya untuk memeluk pinggul Luna beralih ke leher, menekan leher Luna dengan kuat tanpa mau repot-repot memikirkan bahwa saat ini yang dicekiknya adalah seorang wanita.

"Katakan siapa yang mengirimmu? dari perusahaan mana?" tanya lelaki tak dikenalnya ini dengan nada dingin seiring dengan cekikannya yang terasa semakin kuat.

"Apa kau bersekutu dengannya? kau istrinya yang mencoba merayuku!?” Pertanyaan-pertanyaan lelaki ini semakin tidak masuk akal.

Napasnya habis, Luna memukul-mukul tangan yang mencekiknya. Wajahnya bahkan sudah memerah. "Ak-aku tidak tau apa yang kau katakan!" jeritnya susah payah.

Lelaki itu melepaskan cekikannya, membuat Luna langsung terjatuh ke lantai sambil terbatuk-batuk memegangi lehernya.

Lelaki itu membungkuk lalu menjambak rambut Luna, "Katakan siapa yang mengirimmu dan aku bisa mempertimbangkan untuk tidak membunuhmu.

Satu bulir air mata mengalir. Ketakutan menjalar ke seluruh tubuhnya, lagi-lagi mata emerald abu gelap ini menyihirnya.

"Ti-tidak ada yang mengirimku Aku hanya ingin mencari makanan karena perutku lapar." Satu isakan lolos.

Lelaki itu tersenyum mengejek. "Mencari makanan di tangga darurat, eh? Kau pikir aku bodoh?" Dilepaskan jambakannya dengan kasar, membuat tubuh Luna oleng.

"Tidak ada ampunan!" desisnya kejam.

Luna hanya ingin mencari makan guna mengisi kekosongan yang berada di perutnya, tidak lebih dari itu, tapi kenapa semuanya berjalan berbeda.

Mommy!

Bersambung...


Halo semuanya, jangan lupa share cerita ini ke teman-teman kamu agar bisa sama-sama suka dengan cerita ini ya. Jangan lupa juga follow Instagram Author; Mesir_Kuno8181

Related chapters

DMCA.com Protection Status