Part 1 - Rosalyne Fataya

Cerita ini aku dedikasikan untukmu, Cinta Pertamaku.

Di manapun kamu berada, aku hanya berharap kamu mampu mengingatku.

- MH-

*****

"Ini untukmu." Seorang pria menyodorkan seekor burung hasil buruannya pada seorang gadis bermata biru. Pria itu tersenyum tatkala si gadis membelalakkan matanya senang.

Gadis tersebut segera meletakkan keranjang yang ia tenteng yang berisi penuh dengan pakaian kotor. Ia memang hendak mencuci pakaian di sungai sebelum pria bermata hazel itu mencegatnya.

"Setelah dua minggu akhirnya aku bisa makan enak," gadis itu bersorak riang mengambil burung tersebut tetapi pria itu dengan cepat menjauhkan tangannya.

"Tunggu sebentar, Fataya," tukas pria itu, membuat gadis bermata biru itu mengerjab. Pria bermata hazel itu terpesona sejenak namun buru-buru berdehem.

"Kita akan makan malam berdua. Kau dan aku, di rumahmu. Aku akan membawa madu dan keju terbaik yang baru aku dapatkan dari--"

"Kau mendapatkan madu dan keju juga?" Fataya menyela dengan semangat. Ia memang menyukai keju dan madu selain daging. Bagi rakyat jelata dan miskin sepertinya, makanan seperti itu jarang sekali bisa ia dapatkan.

Pria tersebut mengangguk dan detik berikutnya ia terkejut karena Fataya sudah menubruk tubuhnya.

"Terimakasih, Hasan. Kau baik sekali. Kau memang pahlawanku dan aku benar-benar menyukaimu."

Hasan tersenyum, membalas pelukan Fataya dengan sebelah tangannya.

Aku lebih dari menyukaimu, Fataya. Aku benar-benar mencintaimu.

***

"Rosalyne Fataya?" Sang Raja bertanya penuh antusias, sedangkan pria berjas hitam di depannya mengangguk hormat.

"Benar, Yang Mulia. Namun semua orang memanggilnya Fataya. Dia sebatang kara. Ibunya meninggal saat ia berusia lima tahun dan ayahnya meninggal karena sakit dua tahun lalu."

"Berapa usianya?"

"Delapan belas tahun."

Raja Rafael mengangkat alis. Ia menyeringai penuh arti. Delapan belas tahun adalah usia di mana seorang gadis boleh dinikahi sesuai peraturan kerajaan yang berlaku.

Akh, Rafael beruntung sekali.

"Siapkan kuda dan beberapa pasukan," perintahnya. "Aku akan menjemput calon Ratu baru kalian."

"Kuda?" Pria berjas hitam itu mengerutkan dahi.

Rafael menganggukkan kepala. "Iya, kuda."

"Maksud Anda Marsedes Benz, Yang Mulia?" tanya pria itu teringat dengan salah satu logo mobil mewah bergambar kuda yang dimiliki kerajaan.

"Benar sekali! Marsedes Benz!" mata Rafael berbinar. "Atau kita bawa Lamborgini saja? Katakan padaku, Samuel. Lebih keren mana mobil yang aku pakai?"

"Semuanya keren, Yang Mulia," jawab Samuel jujur.

Rafael berdecak halus. "Baiklah, terserah kau siapkan yang mana yang penting semuanya harus terlihat keren dan mahal. Semua gadis menyukainya, bukan?"

"Baik, Yang Mulia."

Samuel segera pergi dari hadapan sang Raja untuk melaksanakan perintah.

"Rosalyne Fataya," gumam Rafael, pikirannya melayang saat ia melihat gadis itu untuk pertama kalinya ketika mengumumkan kelahiran Mia.

Rafael memejamkan mata, tersenyum. Jantungnya berdebar membayangkan senyuman Fataya. Gadis itu memang sangat cantik dan bodohnya ia sebagai raja baru mengetahui jika ada seorang rakyat yang secantik itu.

"Sepertinya aku jatuh cinta padamu," gumam Rafael sekali lagi, membiarkan nama Fataya terus masuk dalam hatinya.

***

Fataya sudah selesai memasak. Ia tengah menyalin daging burung yang sudah dipanggang ke atas piring saat seseorang memeluknya dari belakang.

"Butuh bantuan?"

Fataya tersenyum lalu berbalik. Ia menatap pria bermata hazel itu dengan seksama. "Sepertinya aku memang membutuhkan sedikit bantuanmu."

Hasan menikkan sebelah alis. "Dan ... apa itu?"

"Ini," Fataya mengelus rahang kokoh Hasan yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus. "Kau harus mencukur ini karena aku ...," Fataya berjinjit dan mengecup bibir Hasan. "Selalu ingin melakukan itu jika kau berpenampilan seperti ini."

"Maksudmu aku terlihat seksi?" tanya Hasan dengan senyum geli.

"Mmm-hmm. Dan tampan!" jujur Fataya sambil tersenyum. Hasan terkekeh kecil lalu mengangkat tubuh Fataya dan mendudukkannya di atas pantries.

"Aku mencintaimu,"bisik Hasan sebelum mendaratkan ciuman di bibir Fataya.

"Kita harus makan sekarang atau daging burung itu nanti akan dingin." Fataya menutup bibir Hasan yang baru terlepas dan hendak kembali menciumnya lagi. Hasan mendesah.

"Baiklah," ucapnya sembari memutar bola mata. Fataya terkekeh.

Sekarang semua makanan telah siap di meja makan sederhana itu. Hasan memimpin berdo'a dan diamini oleh Fataya.

"Makan yang banyak." Hasan menepuk lembut pucak kepala gadis itu sedangkan Fataya mengangguk semangat. Jarang-jarang ia bisa makan dengan lauk seenak ini. Daging burung, secangkir madu hangat dan keju. Betapa mewahnya makanan itu menurut Fataya.

Mereka berdua makan dengan lahap sambil sesekali bercanda. Dan tanpa terasa makanan di meja telah habis. Fataya segera membersihkan piring dan gelas bekas makanan dan minuman dibantu oleh Hasan.

"Paman dan Bibi tidak mencarimu?" Fataya bertanya setelah semua pekerjaan telah beres. Kini mereka duduk di sofa sambil menonton TV. Hasan memeluk tubuh Fataya sambil merapikan selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Masih musim salju sehingga hawa dingin masuk ke rumah-rumah.

Sama seperti Fataya, Hasan tidak mempunyai orang tua. Ia tinggal bersama paman dan bibinya sejak kecil. Dan lagi, Hasan tidak pernah mengetahui siapa kedua orang tua kandungnya sedangkan paman dan bibi juga tidak pernah bercerita.

Hasan sendiri seolah mengerti. Cukup dengan kasih sayang kedua paman dan bibi dan ia tidak perlu mengorek informasi tentang orang tua kandungnya.

Ia tau hal itu secara langsung bisa melukai hati sang bibi yang sudah berpuluh-puluh tahun menikah namun belum dikaruniai seorang anak. Maka dari itulah mereka sangat menyayangi Hasan seperti anak kandung mereka sendiri.

Hasan pikir, jika kedua orang tuanya masih ada dan hidup pastilah suatu saat mereka akan dipertemukan. Atau jika tidak, mungkin memang takdirnya menjadi anak paman dan bibi.

"Aku sudah meminta ijin untuk menginap," jawab Hasan. "Dan hentikan pikiran mesummu itu!" Hasan menonyor kepala Fataya saat gadis itu menyunggingkan senyum penuh arti.

"Oh, ayolah. Aku sudah 18 tahun dan itu berarti aku sudah dewasa. Bahkan dalam peraturan negeri ini aku adalah seorang gadis yang sudah boleh menikah. Tidakkah kau ingin melakukannya denganku? Membuat program bayi-bayi gembul nan lucu?

"Berhenti menggodaku, Fataya,"

 "Coba katakan padaku, kau ingin mempunyai anak berapa? Lima? Tujuh? Oh, aku suka angka tujuh. Atau kau mau sebelas anak agar seperti keluarga gen halilintar? atau kita buat lebih banyak lagi lagi? Tiga puluh tiga mungkin?"

"Kau seperti kucing saja melahirkan anak sebanyak itu."

"Tidak apa-apa, kucing itu seksi by the way. Tidakkah kau tau film cat woman? Bukankah dia sangat seksi? Meow," Fataya menggerakkan tangan seolah ingin mencakar Hasan tetapi dalam mode genit. Membuat Hasan terperangah lalu mendengus kecil, merasa geli yang sangat pada tingkah laku Fataya.

"Astaga, bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada gadis gesrek sepertinya," gumam Hasan.

"Baiklah, hentikan pembicaraan ini," putus Hasan kemudian.

"Kenapa? Kau mau langsung memulainya. Ayo kita ke kamar, aku mandi dulu lalu kau nanti akan masuk dan--,"

"Fataya, berhenti membicarakan itu atau--"

"Atau apa?"

Hasan diam, mata hazelnya memandangi wajah cantik gadis yang membuat dia jatuh cinta sejak pertama kali bertemu. Ia memang sudah menyukai Fataya sejak berusia 12 tahun. Genap sudah tujuh tahun ia menyukai sang gadis.

"Atau apa?" Fataya mengulang pertanyaannya lagi.

Tanpa menjawab pertanyaan gadis itu, Hasan sudah menarik tengkuk Fataya dan mencium bibir gadis itu. Semakin lama ciuman itu semakin dalam dan berubah menjadi lumatan.

Hasan mengggigit bibir Fataya lembut hingga bibirnya terbuka, membuat ia dengan mudah menelusupkan lidah ke dalam mulut Fataya. Mengapsen barisan gigi Fataya di sana dan mencecap semua rasa mulut gadis itu.

"Kau tidak tau sudah berapa lama aku menahan diri untuk melakukan ini," bisik Hasan di tengah ciumannya. Fataya mengerang lembut. Ia juga menginginkan Hasan sama besar.

"Kau boleh memilikiku dan--"

Ucapan Fataya terpotong begitu saja karena Hasan sudah melumat bibir Fataya lagi.

"Ah, sial. Aku tidak akan menahan diri lagi. Ini salahmu dan setelah ini kau harus bersiap menjadi Nyonya Gressham."

"Rosalyne Fataya Gressham. Aku suka nama belakang baruku."

Jawaban Fataya membuat Hasan membulatkan tekad. Setelah malam ini, ia berjanji akan menikahi gadis ini.

Rosalyne Fataya.

Cinta pertama dan akan menjadi cinta terakhirnya.

Satu-satunya perempuan yang akan mendampingi hidupnya. Dalam suka maupun duka.

Bersambung ....

DMCA.com Protection Status