The Billionaire Chasing Cinderella (Bahasa Indonesia)
The Billionaire Chasing Cinderella (Bahasa Indonesia)
Author: Miafily

1. Pertemuan Pertama

Vania—sang nyonya rumah di kediaman Heidi—memberikan isyarat pada putrinya Elena untuk mengikutinya. Elena yang mengerti, segera melangkah mengikuti langkah ibunya dengan senang hati. Elena melirik kotak berisi gaun dari desainer terkenal di tangan ibunya. Elena mengerucutkan bibirnya dan mengeluh, “Kenapa Bunda menyiapkan gaun secantik itu untuknya? Harusnya, Bunda menyiapkan gaun cantik hanya untukku. Malam ini, aku harus terlihat lebih baik daripada siapa pun.”

Vania menatap putrinya yang cantik sembari mengulum senyum. “Bukan Bunda yang menyiapkan gaun ini, Elena. Ayahmu yang menyiapkannya. Toh, gaun yang kau kenakan terlihat lebih cantik. Dengan gaun yang kau kenakan, jelas kau lebih cantik daripada siapa pun di rumah ini. Tidak perlu mencemaskan apa pun,” ucap Vania sembari menenangkan putrinya.

Elena memang terlihat sangat cantik dengan gaun malam yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna. Elena sendiri memanglah seorang model yang harus memperhatikan dan mempertahankan bentuk tubuhnya agar tetap sempurna di hadapan kamera. Suatu kebanggaan bagi Elena karena dirinya memiliki wajah cantik dan tubuh yang sempurna hingga sanggup memesona siapa pun dengan mudahn. Namun, malam ini Elena lebih berusaha untuk merias dirinya, mengingat tamu yang akan datang untuk makan bersama dengan keluarganya. Elena berupaya menjadi pusat perhatian. Karena itulah, Elena agak terganggu dengan gaun cantik yang dibawa oleh sang bunda, yang rasanya akan membuat rencananya terganggu.

Vania mengetuk sebuah pintu dan membukanya. Lalu seorang gadis yang terlihat masih lusuh karena kelelahan terihat berbaring dengan kaki menjuntai di tepi ranjang. Elena yang melihat gadis itu seketika mengernyitkan kening. “Aku akan benar-benar malu jika memperkenalkanmu sebagai adikku,” ucap Elena.

Gadis manis itu pun bangkit dan berkata, “Seperti Kakak pernah memperkenalkan Tessa pada teman Kakak saja.”

Ya, gadis manis tersebut bernama Tessa Aretina Heidi. Putri bungsu di keluarga Heidi, dan adik tiri dari Elena. Benar, Tessa dan Elena adalah saudari tiri. Jika Elena adalah putri kandung Vania, maka Tessa adalah putri kandung dari Galih Heidi sang kepala keluarga yang tak lain adalah pemilik perusahaan Heidi yang bergerak dalam bidang produk pangan. Meskipun terlihat akur ketika Galih berada di tengah-tengah mereka, dua saudari tiri itu sama sekali tidak terlihat seperti saudara ketika hanya ada Vania di sana. Vania sendiri tidak mempermasalahkan perselisihan tersebut. Ia malah mendukung putri kandungnya untuk melakukan apa pun yang ia inginkan. Elena sendiri sangat tidak menyukai Tessa. Padahal, Tessa sendiri tidak pernah mengganggu Elena. Malah sebaliknya, Elena yang selalu mengganggu Tessa.

Perawakan Tessa sendiri, sangat berbeda dengan Elena. Jika Elena memiliki tubuh semampai yang ramping sebagai seorang model yang tengah naik daun, maka Tessa memiliki tubuh yang mungil. Tessa memiliki rambut sepunggung yang tipis berwarna hitam kelam, serta tinggi badan yang mungkin hanya mencapai seratus enam puluh sentimeter. Tentu saja, ia kalah tinggi dari Elena yang seorang model. Tessa juga jarang berias, dan membuat Elena sering kali mencela penampilannya yang sangat sederhana. Siapa pun yang melihat Tessa, pasti tidak akan menyangka jika Tessa adalah putri dari seorang pengusaha.

Elena menatap jengkel pada Tessa yang barusan mengatakan sesuatu yang terdengar menyebalkan. Saat Elena akan mengatakan kekesalannya, Vania pun mengiterupsi. Ia memberikan kotak gaun pada Tessa dan berkata, “Cepat bersiap. Kita akan kedatangan tamu.”

Tessa menerimanya dan bertanya, “Kita akan malam bersama?”

“Benar. Jadi berdandanlah dengan layak walaupun sulit. Jangan terlihat menyedihkan,” ucap Vania lalu berbalik pergi diikuti oleh Elena yang tidak mengatakan apa pun. Tessa sendiri menghela napas. Ia baru pulang kuliah, dan merasa sangat lelah. Rasanya, ia benar-benar malas untuk mengikuti acara sepeti itu. Namun, perut Tessa sendiri berbunyi keras.

“Ya, setidaknya aku menghadiri acara itu untuk mengisi perut,” ucap Tessa lalu dengan riang segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

***

Elena tidak bisa melepaskan pandangannya dari pria yang saat ini duduk di seberangnya. Pria itu memiliki netra tajam yang berkilauan seperti galaksi dan rambut sekelam warna langit malam. Wajahnya juga tidak kalah indah, tampak terpahat sempurna. Seakan-akan ingin membuktikan jika sosoknya diciptakan oleh Tuhan dengan sangat sempurna. Elena melirik ayahnya yang mulai memperkenalkan anggota keluarga. Galih—ayah tiri Elena—menunjuk Vania dan berkata, “Seperti yang sudah kau ketahui, dia adalah istri Om, Vania.”

“Selamat malam Nyonya Heidi,” ucap pria itu dengan senyum formal.

“Ah, tidak perlu bertindak terlalu formal. Karena kau memanggil suamiku Om ketika di luar pekerjaan, maka panggil aku Tante saja,” ucap Vania ramah.

Pria itu mengangguk. Galih pun beranjak memperkenalkan putri sulungnya dengan berkata, “Lalu di sana ada putri sulungku, Elena. Dia bekerja sebagai seorang model. Sepertinya awal tahun ini dia juga pernah bekerja untuk iklan salah satu perusahaanmu.”

Pria itu menatap Elena dengan tajam dan berkata, “Entahlah, aku tidak mengingatnya, Om.”

Elena yang mendengar hal itu sama sekali tidak melepaskan kesempatan emas dan berkata, “Itu wajar saja, karena Anda pasti bertemu banyak orang penting dan sibuk mengerjakan banyak hal. Tapi, saya bisa mengenalkan diri kembali. Saya, Elena Heidi, Tuan Achazio.”

Benar, lawan bicara Elena saat ini adalah Achazio Riutha Dawson. Putra sulung dari keluarga Dawson yang jelas memiliki nama besar mengikuti jejak kedua orang tuanya. Sejak dulu, Elena sudah menantikan kesempatan untuk bertemu dan bertatap muka dengan pria ini. Achazio atau yang lebih dipanggil sebagai Aio oleh orang-orang terdekatnya itu, hanya mengangguk tipis dan berkata, “Senang bertemu dengan Anda, Nona.”

Tampaknya, Aio tidak berniat memiliki kedekatan apa pun dengan Elena. Karena itulah, jika dengan Vania dan Galih dirinya bisa berbicara dengan santai, maka dengan Elena berbeda. Ia memasang tembok pembatas yang berisi peringatan jika dirinya tidak boleh melewati batasan yang sudah ia tetapkan. Elena menyadari hal itu dan berusaha untuk menahan kedutan pada sudut bibirnya yang tertarik menjadi sebuah senyuman manis. Jika ia ditolak, maka itu hanya akan membuat Elena semakin tertantang untuk menaklukannya Aio.

Galih pun melirik kursi yang dipersiapkan untuk putri bungsunya. Ia berbisik pada Vania, “Apa, Tessa belum selesai?”

Vania tersenyum dan menjawab, “Sepertinya, Tessa terlalu lelah setelah pulang kuliah, ia langsung tertidur. Aku tidak tega membangunkannya.”

Mendengar jawaban tersebut, Galih pun menghela napas panjang. Putrinya satu itu, memang selalu sibuk dengan kegiatan sekolahnya, dan sering kali pulang terlambat dengan keadaan kelelahan. Jadi, Galih menganggap jika kejadian kali ini sangat wajar. Ia berkata pada Aio, “Putri bungsuku sepertinya tertidur karena kelelahan. Jadi, Om tidak bisa mengenalkannya padamu. Tapi, seperti yang Om pernah katakan padamu, Tessa itu mirip dengan adik bungsumu. Selain seumuran, mereka juga memiliki tingkah manis yang mirip.”

“Wah, kalau begitu sayang sekali, aku tidak bisa berkenalan dengannya di kesempatan ini,” ucap Aio tampak tidak terlalu peduli.

Reaksinya itu jelas disukai oleh Elena yang memang sudah sangat tertarik pada Aio. Galih pun memulai acara makan malam. Elena berulang kali berusaha menarik perhatian Aio, tetapi Aio sama sekali tidak menanggapi. Hingga, di satu titik Aio pun undur diri sejenak untuk mengangkat telepon. Elena segera memasang ekspresi kesal karena Aio yang terus mengabaikannya. Galih yang melihat hal itu berbisik pada putrinya, “Elena, tenanglah. Aio bisa-bisa melarikan diri karena melihat kamu terlalu agresif mendekatinya. Putri Ayah sangat memesona, bersikaplah seperti biasanya, dan pesonamu pasti akan lebih terlihat.”

Sementara itu, Tessa yang dikira oleh Galih sudah benar-benar tidur, tampak kesal karena kelaparan. Ia tidak bisa mengikuti acara makan malam bukan karena tidur, tetapi karena dirinya dikuci dari luar. Tessa tidak bisa keluar kamar karena ia tidak memiliki kunci kamarnya. “Menyebalkan, padahal aku hanya ingin makan,” ucap Tessa lalu melangkah menuju balkon sembari menghentak-hentakkan kakinya dengan kasar.

Ini bukan kali pertama Tessa diperlakukan seperti ini oleh ibu dan kakak tirinya. Namun Tessa sama sekali tidak terbiasa. Apalagi, jika sikap tidak adil ini berkaitan dengan masalah makanan. Tessa sangat sensitif dengan masalah perutnya. Tessa menendang-nendang pembatas balkon yang memiliki celah. Tepat saat itulah, salah satu sepatunya yang memiliki hak pendek itu terlepas dan jatuh. Tessa memekik pelan, dan pekikan tersebut ternyata mendapat sahutan geraman yang cukup menyeramkan. Tessa yang tampak cantik dengan gaun pilihan ayahnya, segera melongok dan memeriksa sepatunya yang jatuh tepat menimpa seorang pria yang tidak Tessa kenali. Pria itu memegangi sepatu milik Tessa dan mendongak, menatap Tessa dengan tajam.

Tessa begidik ngeri. Namun, Tessa melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat binar geli tiba-tiba menghiasi netra tajam yang menatapnya tersebut, “Om, sepatu Tessa enggak papa, kan?”

Pemilik netra yang tak lain adalah Aio tersebut menyunggingkan senyum tipis yang tak kasat mata. Ia pun bergumam karena mengingat sosok adiknya, “Ternyata perkataan Om Galih benar. Kalian benar-benar mirip. Tingkah aneh kalian sama persis.”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status