3. Meminta Restu

Meskipun agak terkejut, Galih pun segera menyambut kedatangan Aio yang mengunjungi kantornya. Ia pun mempersilakan Aio untuk duduk dan meminta sekretarisnya unutuk menyiapkan teh untuk mereka. Mereka berbincang ringan sebelum sekretaris Galih kembali dan menyajikan teh yang diminta oleh Galih. Setelah ditinggalkan berdua dengan Aio, barulah Galih mempertanyakan alasan kedatangan Aio. Bagi Galih, kedatangan Aio tanpa janji seperti ini di luar kebiasaan Aio. Pria muda di hadapannya itu sangatlah sibuk mengurus kerajaan bisnis keluarganya hingga sulit untuk meluangkan waktu. Pasti kedatangan Aio membawa hal yang penting.

“Jadi apa yang membawamu datang ke mari, Aio? Apa aku harus memanggilmu sebagai Tuan Achazio?” tanya Galih mempertanyakan apakah Aio datang untuk masalah kerjasama mereka sebagai rekan bisnis, atau Aio datang dengan membawa masalah pribadi.

Aio yang mengerti hal itu pun menyunggingkan senyum tipisnya. Mereka memang sudah menjadi rekan bisnis selama dua tahun, dan Aio menilai jika Galih adalah seseorang yang memiliki penilaian tajam dalam berbisnis. Hal itulah yang membuat Aio bekerjasama dengannya dalam rentang waktu yang cukup lama. Tidak heran pula jika Galih mengajukan pertanyaan demikian padanya. Aio pun menjawab, “Aku datang sebagai Aio, Om. Aku akan to the point. Kedatanganku kali ini untuk meminta restu padamu untuk mendekati putrimu. Dalam waktu dekat, aku akan datang untuk melamarnya.”

Mendengar hal itu, Galih pun menyunggingkan senyuman seorang ayah. Sebaik Aio yang menilai Galih, sebaik itu pula Galih menilai Aio. Pria itu memang masih muda, tetapi sudah memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Hal itu yang membuatnya sukses menggantikan posisi sang ayah, Farrell Alexio Dawson sebagai pemimpin perusahaan yang besar. Jadi, Galih rasa ia tidak akan menyesal atau merasa khawatir jika mempercayakan salah satu putrinya pada Aio. “Tentu saja Om akan memberikan restu, jika kalian sama-sama memiliki perasaan yang sama.”

Mendengar hal itu, Aio pun berusaha untuk menyembunyikan senyumannya. Karena jujur saja, Aio tidak berpikir jika rencananya akan berjalan selancar ini. “Terima kasih, Om.”

“Tidak perlu berterima kasih. Hanya saja, berjanjilah jika nanti kau akan menjaga Elena dengan baik,” ucap Galih membuat Aio seketika mengernyitkan keningnya.

“Elena?” tanya Aio meminta konfirmasi.

Galih mengangguk. “Iya, Elena. Sepertinya, Om lihat-lihat, kalian memang terlihat cocok. Elena juga sepertinya memiliki ketertarikan padamu. Rasanya hubungan kalian akan berjalan dengan sangat lancar,” ucap Galih lagi membuat Aio hampir mendengkus karena mendengar perkataan konyol dari calon ayah mertuanya itu.

“Tidak. Kami tidak serasi, Om.” Ucapan Aio tersebut jelas membuat kening Galih mengernyit.

“Selain itu, putrimu yang aku maksud bukan Elena. Melainkan Tessa. Aku menyukai Tessa dan meminta restu untuk mendekatinya,” ucap Aio sukses membuat Galih terkejut. Tentu saja terkejut karena ia sama sekali tidak memperkirakan hal ini.

“Tu-tunggu, kau menyukai Tessa? Tapi bagaimana bisa?” tanya Galih bingung. Padahal ia ingat dengan jelas, bahwa kesan dari pertemuan pertama Aio dan Tessa tidaklah baik. Sepatu tesa jatuh tepat di atas kepala Aio, tetapi bagaimana bisa Aio bisa menyukai Tessa?

Melihat raut wajah Aio yang mulai tidak sedap dipandang, Galih pun sadar jika dirinya mengatakan sesuatu yang bisa disalahartikan. Aio mungkin berpikir jika Galih pilih kasih, dan merasa jika Elena lebih baik daripada Tessa. Padahal, Galih tidak merasa seperti itu dan tidak ingin dinilai seperti itu. Selama ini dirinya berusaha bersikap adil untuk putri kandung dan putri tirinya. Keduanya sama-sama putrinya, dan harus mendapatkan kasih sayang yang sama besar darinya. “Maksud Om, memang benar Tessa adalah gadis manis yang penuh pesona. Sifatnya mirip dengan adik perempuanmu, tetapi kesan pertamamu pada putri bungsu Om itu pasti kurang baik. Jadi, rasanya Om sangat terkejut mendengar jika kau menyimpan perasaan padanya,” ucap Galih.

Selain itu, Galih sendiri sudah mendengar permintaan dari Elena jika dirinya ingin mengenal lebih jauh sosok Aio. Karena Elena memang sudah menyukai Aio sejak lama. Jika sampai Elena mengetahui hal ini, sudah dipastikan jika pertengkaran akan kembali terjadi di rumah. Galih tidak mau sampai kedua putrinya tidak akur, atau Elena membenci adiknya. Jelas di sini Galih tidak tahu, jika Elena dan Vania memang sudah tidak menyukai Tessa sejak dulu. Keduanya bekerja sama menindas Tessa di belakang Galih. Selama ini, Tessa hidup dalam penindasan dan ketidakadilan yang berusaha ia tahan, demi tetap tinggal bersama sang ayah.

“Itu adalah pesonanya. Mungkin jika tidak ada kejadian itu, aku tidak akan tertarik pada Tessa. Jadi, sekarang jelas, aku menyukai Tessa dan ingin mendekatinya. Tentu Om tidak keberatan bukan?” tanya Aio.

Galih terdiam untuk sesaat. “Om sebenarnya tidak memiliki hak untuk melarang kau mendekati Tessa, karena pada akhirnya kau dan Tessa yang akan menjalani hubungan itu. Namun, Om rasa Tessa masih terlalu kecil untuk menjalin hubungan semacam itu,” ucap Galih membuat Aio mengernyitkan keningnya samar.

Jelas Aio tidak suka dengan perkataan yang bisa ia artikan sebagai penolakan dalam memberikan restu. Namun, Aio tentu saja tidak akan mundur begitu saja. Ia pun tersenyum dan berkata, “Tidak. Menurutku, Tessa bukan anak kecil lagi, Om. Dia sudah dewasa, ya walaupun dia memang belum menyelesaikan pendidikannya. Tapi aku rasa, itu bukan masalah. Selama Om memberikan restu, dan Tessa juga membalas perasaanku, aku rasa tidak ada alasan lain untuk menunda pernikahan kami.”

Galih agak tersedak saat Aio menyebutkan kata pernikahan. Jika Aio sudah menyebutkan hal itu, berarti Aio memang memiliki perasaan yang sedemikian serius terhadap Tessa. Namun, Galih tetap saja tidak bisa mempercayai dan melepaskan putrinya begitu saja untuk Aio. Ada banyak faktor yang membuat Galih berat memberikan retu pada Aio untuk mendekati sang putri. “Tapi tetap saja, Aio. Apa kau tidak berpikir untuk mengenal Elena juga? Om rasa, kau akan lebih cocok dengan Elena yang jelas lebih dewasa daripada Tessa. Putri bungsu Om itu masih terlalu kekanakan untuk kau kenal, atau bahkan akan kau ajak menjalani hubungan yang serius,” ucap Galih.

Mendengar hal itu, Aio pun tidak bisa menahan diri untuk tertawa kecil. “Ternyata, Om sangat menyayangi putri bungsumu yang manis itu,” ucap Aio.

Galih mengernyitkan keningnya, karena entah mengapa merasakan jejak ejekan dalam nada bicara Aio. Namun, Galih pun mengalihkan pemikiran anehnya. Meskipun Aio selalu terlihat bersikap dingin dan membentengi diri dari kedekatan yang tidak perlu, tetapi Galih tahu jika Aio adalah seorang pemuda yang memiliki sopan santun. “Tentu saja. Bagaimana mungkin Om tidak menyayangi putri Om sendiri?”

Aio menyeringai tipis dan berkata, “Karena itulah, Om perlu mempercayakan Tessa pada orang yang tepat, yang tak lain adalah aku. Om bisa mempercayakan putri berharga Om padaku. Karena aku bisa memastikan, jika aku akan memperlakukan Tessa sama baiknya, atau jauh lebih baik dari perlakuan Om padanya.”

Perkataan tersebut membuat Galih tidak berkutik. Karena ia bisa melihat kesungguhan dalam sorot mata Aio yang penuh dengan percaya diri. Setelah mengatakan hal itu, Aio tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama di kantor Galih karena ternyata dirinya harus segera menuju tempat di mana akan diadakan rapat. Aio pamit dengan sopan dan beranjak pergi meninggalkan kantor dan gedung perusahaan milik keluarga Heidi tersebut. Saat di dalam mobil yang melaju menuju tempat rapat, Aio menatap jalanan yang ia lewati sembari menyeringai.

“Dia menyebut dirinya sebagai ayah yang sangat menyayangi putrinya?” tanya Aio dalam gumaman yang bahkan tidak bisa didengar oleh asistennya yang tengah mengemudikan mobil.

Aio berdecih pelan dan berkata, “Omong kosong. Dia bahkan tidak mengenal putrinya sendiri dengan baik. Beraninya ia mengatakan jika dirinya sangat menyayangi Tessa. Kalau begitu, akan kutunjukkan seperti apa yang disebut sebagai tindakan penuh kasih dan perhatian.”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status