Share

Part 5 : Doubt

Semua terdiam.

"Aku bersedia menikah dengan kak Daffa." ucap Shine sekali lagi dengan pancaran kebahagiaan yang tentu tidak dapat ia tutupi.

Ema mendekati Shine dan mengelus rambutnya lembut. "Ganti bajumu dulu Shine, kita akan membicarakan hal ini nanti setelah kau mengganti baju, dan kita akan makan bersama sekarang." tuntun Ema ke kamar Shine.

Gadis itu hanya menurut, ia tersenyum ke Ema sebelum menutup pintu kamarnya yang dibalas dengan cubitan di pipinya. Ema kemudian kembali meninggalkan putri kesayangannya itu ke ruang keluarga.

"Jangan ada yang mengatakan sepatah katapun tentang rencana ini padanya, aku akan menceraikan Shine setelah usianya genap 25 tahun, setelah ia matang, dan dapat mengambil alih perusahaannya sendiri." tegas Daffa sekali lagi pada semua anggota keluarga sebelum Shine kembali.

"Tujuh tahun ya? Semoga saja rencanamu dapat berjalan mulus selama itu." Darren hanya berdecak memandang Daffa, kemudian meninggalkan mereka ke ruang makan, diikuti Brata dan Daffa, sedangkan Ema masih menunggu Shine yang sedang berada dikamarnya.

.

"Seriously?"

"Jangan terlalu terkejut seperti itu."

"Kau sangat mengejutkanku Daff, ini sangat tiba-tiba, ada apa?"

Daffa meneguk sampanye digelasnya, ia tidak langsung menjawab pertanyaan Rendy, sahabatnya sejak menempuh pendidikan dulu.

Mereka sedang bersantai di ruangan Rendy, disalah satu lantai gedung perusahaan mewahnya.

"Oh come on, kau bisa membuatku mati penasaran." desak Rendy. "Dia.. tidak sedang hamil bukan?" tebaknya kemudian mengingat bagaimana pergaulan Shine dengan teman-temannya yang Daffa ceritakan beberapa hari lalu.

Daffa tertawa, menendang sofa sandaran Rendy sehingga membuatnya sedikit goyah. "Jangan sembarangan bicara, aku bisa membunuh pria yang sanggup menghamilinya itu jika benar terjadi."

Bukannya merasa bersalah, Rendy ikut terkekeh. "Lalu?"

"Kau memang selalu ingin tau apa yang aku lakukan." ejek Daffa, sebelum ia menceritakan semuanya pada Rendy dengan wajah yang santai.

Daffa menceritakan tentang Lionel yang ingin mengambil hak asuh Shine dari keluarganya, tentang maksud terselubung Lionel tentunya, dan tentang lamarannya terhadap Shine.

Rendy hanya menganggukkan kepalanya mendengar apa yang Daffa katakan.

"Ini menyangkut hidupmu Daff, apa kau tidak ingin berpikir kembali? Tujuh tahun bukan waktu yang singkat."

"Aku tau." Daffa menggoyang-goyangkan gelas sampanyenya, memandang kota dari balik gelas itu.

"Dan kau ingin menjalaninya tanpa cinta?" tanya Rendy lagi menyakinkan.

"Aku menyayangi Shine."

"Sebagai adik, ya aku tau itu Daff, kau tidak akan memikirkan akibatnya nanti?" Rendy menaikan alisnya, mempertegas wajah tampan yang ia miliki sejak dulu.

"Maksudmu?"

"Bagaimana jika Shine jatuh cinta padamu?"

"Ucapanmu seperti Darren dan ayahku saja." Daffa terkekeh menanggapi ucapan Rendy yang ia anggap sebagai guyonan.

"Yah, tipikal wanita itu sangat mudah jatuh cinta. Kau harus berhati-hati dengan hal itu Daff."

"Aku tau. Tidak semua wanita seperti itu." Daffa kembali menyesap isi gelasnya, dan mengalihkan pandangannya dari Rendy ketika ponsel pria itu bergetar.

Rendy bangkit dan memutar kearah mejanya untuk mengambil ponselnya. Ia tersenyum lembut. Menggoda Daffa untuk bertanya.

"Teman kencanmu?" tanya Daffa penasaran.

"Tentu saja bukan."

"Lalu?"

Rendy kembali mendekat pada Daffa dan menunjukkan layar ponselnya, dan itu sukses membuat Daffa ikut tertawa.

Disana terlihat poto seorang gadis, dengan wajah yang sengaja ia buat jelek dan aneh.

"Kau merindukannya?" tanya Rendy.

Daffa hanya tersenyum menatap lantai. "Apa kau juga merindukannya?" tanyanya balik.

"Ya, aku akan menemuinya di ulang tahunnya yang ke-24 nanti. Sudah satu tahun aku tidak pernah mengunjunginya." jelas Rendy.

"Setelah pertunangan Darren?"

"Ya, sepertinya begitu. Apa kau mau ikut?"

"Hmm, setelah aku menikah. Boleh juga."

Rendy tertawa, kali ini dengan kepasrahan Daffa. Tentu saja, menikah mungkin pilihan Daffa untuk tetap mempertahankan seseorang yang ia sayang. Dan Rendy menghormati keputusan sahabatnya itu.

Daffa menghela napas sebelum mengucapkan kalimat berikutnya. "Aku tidak menyangka, kau yang menyembunyikannya dari kami. Aktingmu benar-benar bagus."

"Kau sedang menyindirku atau memujiku Daff?" Rendy menoleh, menghentikan tawanya.

"Well, terima kasih sudah membawanya pergi jauh dari kami, karena jika aku menjadi dirimu, aku pasti akan melakukan hal yang sama."

"Dia sangat rapuh waktu itu, aku hanya berusaha melakukan kemungkinan yang terbaik, lagipula dia tidak punya siapa-siapa lagi. maafkan aku Daff." ucap Rendy tulus.

"Sudahlah, sudah tujuh tahun berlalu, dan kau masih membahas masalah ini? Lagipula aku sudah berkomunikasi dengan Mikaela sejak kau mempertemukanku dengannya. Kami sudah menjadi teman."

"Apa kau senang Daff?"

"Ya, aku senang." Daffa berucap sambil memutar tubuhnya dan membuang napas. "Tapi setelah ini aku akan menikah dan tidak mungkin setelah tujuh tahun nanti dia tidak akan punya kehidupan yang baru."

Rendy menatap pemandangan gedung-gedung pencakar langit di depan melalui jendela ruangannya. "Kita tidak tau apa yang akan terjadi besok dan setelahnya." ucapnya sendu, lalu ikut memutar tubuhnya ke arah Daffa dan mengulurkan tangannya. "Congratulation atas pernikahanmu Daff."

Daffa menatap tangan itu kemudian menatap wajah Rendy yang terlihat menunggu sambil tersenyum jahil.

Ia menepis tangan Rendy cukup keras.

Rendy makin terkekeh.

"Ini hanya bagian dari drama hidupku Ren."

"Baiklah, baiklah, kapan kau akan menikah?"

"Mungkin lusa."

"What? Daff?"

.

"Hentikan ini Shine! Hentikan!"

Sophie merengek menarik-narik tubuh Shine.

"Tolong batalkan." Pintanya putus asa.

Shine hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kalau begitu, kau bisa memukul kepalaku agar aku terbangun dan mengatakan kalau ini hanya mimpi?"

Vonie terkekeh melihat Sophie yang nampak depresi mendengar ucapan Shine bahwa ia sudah menyetujui untuk menikah dengan Daffa.

"Kau jahat Shine kau jahat!"

Shine tau Sophie hanya mendramatisir keadaan. Dia tidak akan goyah dengan pilihannya.

Ia akan mencoba menjadi istri Daffa.

"Sophie, hentikan ini, aku lelah mendengar rengekanmu." keluh Vonie mengorek-ngorek telinganya.

"Vonie benar." dukung Jane. "Mungkin sudah takdirnya, jodoh Shine adalah kak Daffa, kakaknya sendiri, tidak lain dan tidak bukan." tambahnya sedikit menyindir dalam nada candaan.

"Tapi..tapi.. ini terlalu mendadak, hatiku tidak siap." Sophie tetap mendramatisir. "Lagipula.. apa kau benar-benar mencintainya Shine?"

Shine memandang Sophie, tidak tau ingin menjawab apa.

"Cinta itu bisa tumbuh dengan seiringnya waktu." Jane mengambil alih memberi jawaban.

"Apa kau yakin akan hidup bersamanya selamanya?" tukas Sophie lagi memajukan tubuhnya dan menguncang-guncangkan tubuh Shine.

Gadis itu memegang tangan Sophie dan menjatuhkannya ke bawah. "Untuk saat ini aku memang tidak yakin, tapi satu-satunya lelaki yang aku yakin dapat membahagiakanku adalah kak Daffa."

.

Shine berdiri di balkon rumah, ia masih memikirkan ucapan teman-temannya tadi. Ucapan mereka membuatnya lemah. Muncul pertanyaan-pertanyaan dibenaknya, antara kepastian dan keraguan.

"Apakah keputusannya sudah tepat?"

"Apakah benar ia akan menikah dengan Daffa?"

"Apakah ia akan bahagia nantinya jika menikah dengan Daffa?"

"Apakah ia bisa mencintai pria itu?"

Dan masih banyak keraguan-keraguan yang lainnya. Tetapi ia tidak akan tau jika tidak mencoba. Kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya.

Daffa adalah tipe idealnya.

Daffa menyayanginya.

Daffa yang selama ini selalu ada disampingnya.

Dengan siapa lagi Shine harus menghabiskan hidupnya jika bukan dengan Daffa? Bahkan Shine tidak bisa membayangkan akan hidup dengan pria lain.

Mungkin saja Daffa sebenarnya mencintai Shine. Buktinya Daffa selalu menjaga Shine dengan baik, memperlakukan Shine dengan baik walaupun Shine bukan adik kandungnya. Bukankah itu cinta?

Ya, Shine sudah membuat keputusan yang sangat tepat untuk menikah dengan Daffa. Pasti.

Dibawah, Daffa baru saja pulang dari kantor beberapa menit yang lalu. Hari ini ia pulang cukup larut karena banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Ia melepaskan kancing kemejanya dan melihat arlojinya sekilas. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sudah dipastikan ayah dan ibunya sudah tertidur pulas dikamar mereka, padahal ia ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan orang tuanya menyangkut pekerjaan.

Karena itu, Daffa memutuskan untuk mandi air hangat saja lagipula udara malam ini cukup dingin.

Setelah mandi, Daffa turun ke bawah untuk mencari beberapa camilan didapur karena perutnya kosong. Ia meneguk segelas air sebelum mulai menggigit rotinya. Tapi mata Daffa terfokus pada pintu kamar Shine yang terbuka.

Pria itu mendekat sambil mengunyah rotinya untuk mengecek apa yang Shine lakukan semalam ini. Ia sedikit was was jika saja Shine tidak ada di kamarnya dan kabur secara diam-diam seperti malam itu.

Ternyata benar, kamar Shine kosong, Daffa mulai khawatir dan mencari Shine ke semua ruangan.

Ia dapat bernapas lega ketika melihat sosok Shine sedang berdiri memunggunginya di balkon atas. Gadis itu terlihat mengusap-usap lengannya yang hanya menggunakan piyama lengan pendek.

"Apa yang kau lakukan Shine?" tanya Daffa membuat Shine sedikit terkejut dengan kehadirannya.

Shine menengok sekilas lalu kembali ke posisi awalnya, ia menatap ke langit hitam pekat dengan hanya beberapa bintang yang menghiasi.

"Aku sedang melihat bintang."

Daffa mendekat dan berdiri disampingnya, memperhatikan Shine yang wajahnya nampak cemas masih sambil mengusap-usap lengannya.

Melihat itu Daffa menarik Shine ke dalam dekapannya, ia memeluk Shine dari belakang, melingkarkan tangannya ke leher Shine.

Gadis itu terkejut dengan perlakuan Daffa. Tapi ia tetap menerimanya tanpa berniat melepaskan rengkuhan itu.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Daffa dengan suara berat. Seperti biasa, suara yang sangat Shine sukai, suara lembut Daffa.

Shine mengangguk dalam dekapan Daffa. Tangannya naik untuk menggenggam lengan pria itu yang nampak besar dilehernya.

"Belum terlambat untuk membatalkannya jika kau belum siap." Ujar Daffa kembali, maksudnya tentang rencana pernikahan mereka.

Shine menggeleng.

"Lalu apa yang kau cemaskan?"

"Aku... aku.. tidak tau apa yang aku cemaskan. Hanya saja..."

"Aku menyayangimu Shine."

Kini keraguan Shine benar-benar hilang ketika Daffa mengucapkan tiga kata itu. Shine berbalik dan langsung memeluk Daffa erat. Ia tersenyum lebar dibalik dada Daffa. "Ini seperti mimpi kak, kau akan menjadi suamiku." ujarnya.

Daffa ikut tersenyum dan mengelus-elus rambut Shine tanpa mengucapkan sepatah katapun. Membuat Shine memeluknya lebih dalam.

Maafkan aku Shine, suatu saat kau akan mengerti, jika aku hanya ingin melindungimu dan menjagamu. Batin Daffa.

Related chapters

DMCA.com Protection Status