Share

Part 6 : Dream?

Mobil Shine melaju mulus menuju ke sekolah, beberapa kali mereka mendapatkan kemacetan dijalan. Tetapi bukan itu yang Shine pikirkan.

Wajah mungil Shine tertekuk, bibirnya mengerucut dan ia melipat tangannya ke depan dada. Sesekali ia menghentak-hentakkan kakinya ke bawah, membuat kedua bodyguardnya yang duduk di kemudi depan menengok, mengintip melalui kaca depan mobil. Mereka jelas tau apa yang membuat mood Shine begitu buruk.

Nona mudanya itu baru saja resmi menjadi nyonya Daffa.

Iya, mereka baru saja melangsungkan pernikahan sekitar 45 menit yang lalu, dan kini Shine harus menuju ke sekolah untuk menuntut ilmu.

Shine mencebik. Ini adalah hari istimewanya, tapi apa yang ia dapat?

Ema membangunkan Shine pagi-pagi buta untuk bersiap-siap, ia menikah tepat pukul 5:30, hanya disaksikan oleh ayah, ibu, Darren dan beberapa pembantu serta bodyguardnya, bahkan Rendy pun turut hadir untuk menjadi saksi pernikahan mereka.

Secara hukum mereka telah sah menjadi suami istri.

Tapi tak berapa lama, Daffa memaksa Shine untuk mengganti baju kebayanya yang cantik dengan seragam sekolah.

Dan Shine dipaksa untuk pergi ke sekolah.

Pernikahan macam apa ini?

Ema memang sudah memberikan pengertian pada Shine, jika memang resepsi akan diadakan setelah Shine lulus.

Masuk diakal juga. Apa kata orang-orang nanti jika Shine menikah dalam status pelajar?

Mereka pasti akan mengira Shine hamil diluar nikah. Apalagi suaminya adalah kakaknya sendiri.

Tapi yang membuat Shine kesal adalah sikap Daffa yang datar, biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa, wajahnya pun datar-datar saja, tidak menyiratkan kegembiraan.

Justru, setelah dinyatakan sah, Daffa langsung masuk ke kamar untuk mengganti bajunya dengan baju kantor, dan langsung pergi bekerja.

Ini benar-benar bukan pernikahan impian Shine!

Jika saja Ema dan Brata tidak berjanji akan mengadakan pesta besar-besaran untuknya dan Daffa setelah lulus nanti, Shine pasti sudah menangis meraung-raung dikamarnya dan tidak ingin pergi ke sekolah.

Shine menampar-nampar pipinya pelan dengan kedua telapak tangan.

Tapi ini bukan mimpi kan?

Dia baru saja menjadi seorang istri sah Daffa Revano Abrata.

Wajah gadis itu bersemu merah, menebak-nebak apa yang akan terjadi setelahnya.

Malam ini adalah malam pertamanya.

Apa yang akan terjadi malam ini? Shine bahkan tidak bisa membayangkan.

Lamunan Shine buyar ketika salah satu bodyguardnya berdeham. Ia menatap pria besar itu yang memasang tampang heran. Kemudian Shine tersadar jika pasti baru saja wajahnya terlihat sangat aneh, lebih tepatnya mesum. Shine melotot ke arah bodyguardnya yang sedang terkekeh.

"Selamat atas pernikahan anda, nona Shine, kami turut bahagia." ucapnya tulus.

"Terima kasih." Shine membuang wajah cuek dengan pipi yang masih memerah.

.

"Apakah kau tidak terlalu kejam?" Rendy tertawa-tawa disebelah Daffa yang sedang fokus menyetir.

Melihat Daffa tidak meresponnya, ia kembali bersuara.

"Oh, ayolah Daff, ini hari pernikahanmu, ambillah cuti, satu atau dua hari tidak masalah." lanjutnya menggoda. Mereka sedang bersama-sama menuju kantor Daffa untuk pertemuan proyek kerjasama mereka.

"Hentikan mengolok-olokku, Ren. Kau pikir pernikahan ini sungguhan?"

"Tentu saja, kalian sudah sah menjadi suami istri secara hukum. Pernikahan kalian bukannya pernikahan kontrak, seperti dalam drama."

Daffa mengangkat sedikit kepalanya, melonggarkan dasi yang ada dikemejanya dengan sebelah tangan. Dasi itu terasa mencekiknya. "Menurutku tidak lebih dari itu, aku hanya perlu berakting hingga saat itu tiba, ketika Shine sudah dewasa dan dapat mengambil keputusan sendiri."

"Sudah ratusan kali kau mengatakan hal itu padaku Daff."

"Lalu kenapa kau masih bertanya?"

"Aku hanya senang menggodamu." tukas Rendy kemudian tertawa. "Omong-omong, bukankah kau harus mempersiapkan pesta pernikahanmu?"

"Ren... kau..." Daffa menekan suaranya, lelah.

Rendy kembali tertawa melihat sahabatnya itu tersiksa.

"Kali ini aku serius Daff, kau dengar sendiri bukan, jika ibumu berjanji akan mengadakan pesta pernikahan yang megah untuk Shine."

Daffa memijat keningnya. Ia baru ingat bujukan ibunya pada Shine tadi, ketika dengan berat hati dan sedikit paksaan gadis itu harus kembali ke aktivitas hariannya.

"Ya, aku akan segera menyiapkan pernikahan impian Shine, begitu ia lulus, dunia akan tau jika aku adalah suaminya. Begitupun dengan Lionel, dia akan tau jika dia tidak mungkin dapat memanfaatkan Shine." ucap Daffa, kali ini dengan senyuman penuh makna pada Rendy.

"Tak ku sangka kau sedikit menyeramkan Daff."

Kali ini Daffa yang tertawa.

"Bukankah kau tau itu sejak dulu?"

"Kalau begitu, kau akan lebih dulu menikah daripada Darren."

"Aku sudah menikah lebih dulu daripada dia." ralat Daffa.

"Bukankah pesta pertunangan Darren akan diadakan di Singapura?"

"Ya." jawab Daffa singkat, sembari memposisikan mobilnya di lobi yang seterusnya akan diparkirkan oleh karyawannya. Ia mengajak Rendy untuk segera keluar.

"Baguslah, setelah itu mari kita pikirkan kejutan untuk Mikaela."

.

Shine menekuk tangannya menopang dagu. Sejak tadi ia hanya diam dikelilingi para sahabatnya yang juga terdiam menatapnya, menunggu Shine membuka suara.

Baru saja Shine sampai ke sekolah, teman-teman tak tau dirinya itu sudah mengerumuninya dan menyerangnya dengan berbagai macam pertanyaan. Tentu saja, Shine tidak merahasiakan pernikahannya dengan Daffa dari mereka. Ia sempat mengirimkan pesan singkat kepada Sophie yang kemudian diteruskan kepada yang lainnya bahwa ia akan menikah hari ini. Dan teman-temannya itu mengira bahwa Shine tidak jadi menikah karena kehadirannya di sekolah.

Mood gadis itu benar-benar tidak baik, sudah Daffa mengabaikannya, pernikahan dadakan yang tidak seperti ia bayangkan, dan wajah-wajah menyebalkan para sahabatnya yang sangat ingin tau apa yang terjadi, menyambutnya pagi ini.

"Kau benar-benar akan diam saja?" tanya Vonie kesal.

Shine hanya mengangguk-angguk.

"Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa ada disini? Kau bilang.... " Jane yang berbisik tidak menyelesaikan ucapannya.

"Apa kau tidak jadi menikah?" timpal Sophie dengan wajah sumringah.

Ingin rasanya Shine melempar Sophie dengan buku fisika tebalnya saat ini juga. Tapi untuk berkedip saja, Shine cukup malas.

"Sayang sekali, padahal aku sudah menyiapkan hadiah untukmu." Sophie memasang tampang pura-pura sedih.

Vonie meletakkan tangannya pada pundak Shine lalu menggoyang-goyangkan pundak itu. "Ah, aku bisa mati penasaran. Cepat ceritakan pada kami!" rengeknya.

"Kau tidak tampak bahagia." komentar Jane. "Mungkin benar kata Sophie, kau tidak jadi menikah, ya?"

Kedua pipi Shine mengembang, menampilkan senyum yang sengaja ia buat semanis mungkin. "Tebakan kalian salah, sa-lah. Aku sudah menikah." ucapnya mantab setengah berbisik.

"APA?" teriak Sophie sambil berdiri yang kemudian ditarik oleh Jane untuk duduk kembali.

"Kau terlalu berlebihan Soph, kau orang yang pertama tau jika Shine akan menikah."

Sophie mencebikkan bibir ke arah Jane. "Lalu kenapa kau ada disini?" tanyanya makin penasaran."

"Itulah yang membuatku kesal Soph. Kami baru saja menikah dan dia menyuruhku datang ke sekolah untuk belajar." jawab Shine malas.

Tawa teman-temannya pecah, hingga beberapa orang menengok ke arah mereka. Sophie mati-matian menahan tawa.

"Apa yang terjadi? Kau benar-benar menikah bukan? Tidak pura-pura menikah?" Jane memelankan suaranya masih sambil terkikik. "Seharusnya kau absen untuk beberapa hari, dan bagaimana dengan pesta pernikahanmu? Kau bahkan tidak mengajak kami untuk merayakannya."

"Ibu mengatakan jika resepsi pernikahan kami akan diadakan setelah aku lulus, supaya tidak mengganggu pendidikanku."

"Sepertinya ibumu benar."

"Tentu saja, aku tidak akan mau menikah tanpa acara yang super mewah. Dan tentunya tanpa kalian."

"Omong-omong...." Sophie menggantung ucapannya.

"Ada apa lagi?" ketus Shine.

"Kau kan sudah resmi menikah.."

"Lalu?"

"Kau harus mempersiapkan dirimu nanti malam." tukas Sophie dengan senyum yang menggoda Shine.

Mulut Shine menganga, kemudian ia mengibas-ibaskan tangan, yang disambut oleh teman-temannya.

Mereka seperti heboh sendiri.

"Benar, kau akan... aaaaaaakkk aku tidak bisa membayangkannya!" seru Vonie.

Wajah Shine memerah. Tadi pagi saja ia sudah memikirkan hal itu, ditambah para sahabatnya yang kembali mengingatkannya.

Sophie melipat tangannya di atas meja. Dengan lemas ia menutup wajahnya lalu melirik Shine. "Apa sekarang kau sedang memikirkan tubuhnya yang sangat indah itu Shine?" tebaknya.

Shine menjadi salah tingkah dan memukul lengan Sophie. "Apa yang kau katakan, tentu saja tidak." sanggahnya.

"Diwajahmu sudah tercetak jelas." timpal Jane yang juga dihadiahi pukulan pelan oleh Shine.

Gadis itu tidak membayangkan bagaimana lengan kokoh Daffa akan memeluknya malam ini. Tidak!

.

Dan kenyataannya dia memikirkannya sepanjang hari.

Shine menelan salivanya berkali-kali, dengan gugup ia berjalan mondar-mandir menanti seseorang pulang. Tiap menit Shine menengok ke arah pintu, berharap bel akan berbunyi atau pintu akan terbuka dengan sendirinya.

Sedangkan Ema dan Brata yang  bersantai di ruang keluarga memandang Shine dengan heran sejak tadi.

"Ada apa denganmu Shine? Kau terlihat gelisah." tanya Ema menutup tabloid bulanannya dan melipat kakinya.

Shine hanya menggeleng lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Brata menyesap teh dicangkirnya sambil memandang Shine. "Kau menunggu Daffa?"

Shine kembali menggeleng cepat. "Aku menunggu kak Darren. Kenapa dia belum pulang juga?"

"Kau lupa Shine, Darren sudah kembali ke Singapura siang tadi."

"Benarkah? Kenapa dia tidak memberitahuku Bu?"

Ema bangkit dari sofanya berjalan mendekati Shine. Ia membenarkan anak rambut Shine dan meletakkannya ke belakang telinga.

"Tidurlah, ini sudah malam sayang." Ema mengelus rambut Shine sambil menunjuk ke arah jam besar yang ada di ruangan itu.

Shine baru akan menuruti perintah ibunya ketika bel pintu rumahnya berbunyi nyaring, Shine refleks menengok, dilihatnya salah seorang pembantu berjalan untuk membukakan pintu.

Buru-buru Shine mencegah. "Aku saja bi!" Ia sedikit berlari menuju pintu dan dengan cepat membukanya.

Seseorang yang sudah ia tunggu berdiri diambang pintu.

"Kau belum tidur?"

"Kau pulang cepat?"

Ucap mereka berbarengan.

Daffa tersenyum, memang hari ini pekerjaannya tidak terlalu banyak sehingga ia dapat pulang lebih awal.

Pukul sembilan kurang, tentu jam pulang yang awal untuk Daffa, biasanya ia akan kembali ke rumah diatas jam sembilan.

Daffa melangkah masuk, tapi langkahnya terhenti ketika dengan sigap Shine memegang lengannya.

"Bi..biar aku yang membawakan tasmu kak." ucapnya tergagap.

Ya, tentu saja tindakannya itu hasil dari ucapan sahabat-sahabat Shine di sekolah tadi, bahwa istri harus melayani suaminya dengan baik, seperti menyiapkan segala keperluan Daffa, suaminya.

Daffa menatap Shine heran. "Tidak perlu, aku akan membawanya sendiri Shine." tolaknya mengacak rambut gadis itu.

Shine pasrah, mungkin tindakannya terlihat aneh karena tidak seperti biasa dan tiba-tiba. Atau mungkin teman-temannya sedang membohonginya?

Daffa melanjutkan langkahnya diikuti Shine.

Ketika pria itu akan naik ke tangga menuju kamarnya, ia menoleh ke arah Shine sambil mengerutkan dahi.

"Aku ingin ke kamarku dan mandi Shine."

Gadis itu mengangkat alis serta bahunya tidak paham.

Bukankah mereka sudah menjadi suami istri? Mereka akan berbagi kamar bukan? Batin Shine.

Terdengar suara Ema tertawa renyah disamping Brata.

"Shine, kembali ke kamarmu dan cepatlah tidur, ini sudah malam, besok kau harus sekolah." tutur Ema yang sepertinya tahu maksud Shine.

Anak gadisnya itu hanya menurut, menuruni beberapa tangga dengan langkah pelan.

"Shine."

Suara Daffa memanggilnya. Dengan cepat Shine menengok.

Daffa terlihat ikut menuruni tangga dan mendekatinya.

Pria itu pasti akan mengajaknya bersama-sama ke kamarnya. Iya kan?

Shine tersenyum sumringah.

Daffa menarik belakang kepala Shine untuk mendekat, dan mengecup keningnya. "Selamat malam." ucap pria itu kemudian dengan santai kembali menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya.

Shine menganga.

Tidak ada yang akan mengajaknya ke kamar bersama.

Kecupan selamat malam seperti biasanya.

Daffa masih kakaknya.

Shine tersadar dan berjalan cepat ke kamarnya sendiri. Ia menutup pintu kamar dengan sedikit keras.

Apa ia hanya bermimpi tadi pagi? Kenapa ia bertingkah bodoh dan aneh?

Sebenarnya apa yang terjadi hari ini!!

Jerit Shine dalam hati.

Related chapters

DMCA.com Protection Status