Share

BAB 5. MANAGER HAVANA CLUB

Albin tersedak, beberapa detik setelah menghabiskan minuman yang terakhir. Dia hampir terjatuh ke belakang, aku menahannya, menariknya ke dalam pelukanku.

Uang yang kuberikan tadi, dia kumpulkan di atas meja. Jatuh berhamburan ke lantai saat gelas yang dipakainya untuk menahan uang itu terjatuh terkena tangannya.

Aku memeluk Albin dengan erat, dagunya tepat betopang di pundakku. Kuhirup aroma harum dari rambutnya, sesuatu yang hangat lembut dan kenyal menempel tepat di dadaku.

Kesadaranku seakan lenyap beberapa saat, aku terdiam karena merasakan sesuatu yang tidak pernah aku rasakan lagi sejak hampir 16 tahun yang lalu.

Aku menikmatinya. Menikmati wangi rambut dan tubuh Albin. Menikmati rasa hangat yang menyentuh dadaku bahkan sepertinya tubuhku menuntut lebih.

 Kesadaranku kembali saat melihat orang berlalu lalang di depan meja kami dan melangkahi uang yang kuberikan untuk Albin.

Perlahan kulepaskan perlekatan tubuh kami. Kusandarkan tubuh Albin di sandaran kursi. Aku berdiri kemudian mengambil uang yang berserakan di lantai, memasukkan kembali uang itu ke dalam dompet.

Aku menyalakan pemantik memanggil waiter sambil melihat ke arloji di pergelangan tangan kiri. Waktu sudah menunjukkan pukul 2:30 dini hari, kurasa klub ini akan segera tutup tidak lama lagi.

Seorang waiter mendekat, dia mendekatkan telinganya ke wajahku, "Dia bisa dibawa pulang?" tanyaku kepadanya. Sebagai sesama lelaki pasti dia paham maksudku.

"Setahu saya gak bisa," ucap si waiter dengan nada penuh keyakinan.

         “Panggilkan aku manager dan bawakan bill-nya,” kataku kepada waiter itu.  Dia mengangguk pelan.

Seorang lelaki berperawakan gagah serta memiliki wajah sangat menarik mendekati meja kami. Dia mengenakan kemeja slim fit, celana hitam dan juga dasi melingkar di lehernya.

“Halo, saya Irwan. Saya manger Havana Club. Ada yang bisa saya bantu?” Irwan menyurungkan tangan kepadaku. Aku menyambut tangannya, dia menarik kursi lalu duduk.

“Aku mau membawanya pulang, apa ada biaya yang harus dibayarkan? Atau berapa yang harus kubayar selama dia bersamaku,” tanyaku kepada irwan.

Di tempat hiburan lain begitu, ada biaya yang harus dibayarkan untuk seorang wanita yang menemani duduk di klub malam. Apalagi jika membawanya keluar, tentu biayanya lebih besar.

“Jadi gini, Mas. Albin dan teman-temannya bukan perempuan yang digaji untuk menemani pelanggan. Mereka bekerja sebagai viar atau PR (public relationship) untuk membantu pelanggan mendapatkan apa yang mereka butuhkan selama berada di Havana Club.

Mereka tidak memiliki kewajiban untuk menemani pelanggan berjam-jam saat berada di sini. Mereka free, boleh tetap menemani atau meninggalkannya saat pelanggan sudah mendapatkan apa yang mereka butuhkan, jika sedang ramai, mereka tidak boleh hanya berada di satu meja, karena pelanggan lain juga membutuhkan mereka.” Irwan menjelaskan panjang lebar.

Itu artinya Artinya Albin menyukaiku hingga dia duduk dan menemaniku? Pikiran itu membuat bibirku mau tidak mau tersenyum manis dan lebar.

"Oh begitu, jadi aku boleh membawanya pulang dan gak kena charge."

"Maaf, Mas. Gak boleh. Kami gak bisa izinkan pegawai kami dibawa pulang."

"Gak kok, aku cuma mau mengantarkan dia pulang. Masa gak boleh?"

"Saat keadaan Albin mabuk parah seperti ini, kami tidak mengizinkan. Sudah peraturannya seperti itu demi menjaga keselamatan pegawai kami."

"Kata kamu tadi dia free, berarti dia bebas dong mau pulang sama siapa aja?"

"Betul, tapi itu dia yang memutuskan, bukan dari pelanggan atau dari kami."

Aku menghela napas panjang saat mendengar dia bicara, tak lama kemudian seorang waiter datang membawa nampan berisi tagihan yang terselip di sampul buku terbuat dari kulit berwarna hitam pekat.

Aku membaca rincian yang harus kubayar serta jumlah totalnya, ada tulisan "PR, Albin" lalu ada tulisan 10% dan rincian sejumlah uang.

Aku paham sekarang, jadi Albin mendapatkan 10% dari setiap harga minuman yang dibayarkan. Pantas saja dia minum dengan senang. Aku mengangguk pelan. Berarti misi Albin dan teman-temannya mengeluarkan minuman sebanyak-banyaknya.

Apa aku terlihat seperti orang pelit yang perhitungan? Memperhatikan begitu rupa padahal banyak uang?

Aku harus melakukannya, karena tidak sedikit klub malam yang nakal, sebenarnya itu oknum, tidak mungkin management club malam yang berbuat seperti itu, karena hal itu adalah kebodohan yang berlipat-lipat. Jika melakukannya nama baik mereka dipertaruhkan. Jadi pasti oknumnya yang berbuat.

 Mereka membuat tagihan lebih dari yang seharusnya saat melihat pelanggan terlalu mabuk untuk memeriksa tagihan. Jadi pastikan jangan sampai terlalu mabuk saat sendirian. Tidak sedikit teman-temanku yang terkena kasus semacam itu.

Aku menyerahkan kartu di atas nota tagihan untuk melakukan pembayaran.

"Albin, mau kuantar pulang?" tanyaku di telinganya.

Albin tidak merespon. Aku bertanya berulang kali sambil mengguncang tubuhnya.

Albin membuka mata, dia memandangiku lekat-lekat, "mau kuantar pulang?" tanyaku lagi.

Dia mengangguk dengan cepat sambil melingkarkan kedua tangannya di tubuhku. Albin memelukku semakin erat.

"Pak Irwan, Albin mau kuantarkan pulang. Kurasa tidak ada masalah sekarang." Aku kembali menghirup aroma harum dari rambut Albin.

"Maaf, Mas, gak bisa. Albin sepertinya terlalu mabuk. Dia tidak bisa memutuskan dengan baik. Kami punya mobil operasional untuk mengantarkan pekerja kami pulang saat mereka terlalu mabuk seperti ini."

Irwan menyalakan senter kecil berwarna merah dan mengarahkannya ke langit-langit mematikan dan menyalakannya berulang kali. sepertinya dia memanggil seseorang.

Benar saja, beberapa saat kemudian waiter mendekat, dia mendekatkan wajah.

"Panggil Gina dan Rosi, suruh mereka bawa Albin ke ruang istirahat." Irwan bicara dengan nada nyaring sehingga aku bisa mendengarnya. Waiter itu mengangguk lalu pergi.

Aku menggelengkan kepala kesal, "Ini kartu identitasku, kamu bisa cek di internet siapa aku. Aku gak akan macam-macam. Kamu bisa tanya Albin besok kalau dia kerja. Kalau terjadi sesuatu kamu bisa menuntutku.”

Irwan mengambil kartu identitasku, dia mencariku di Internet dan terlihat fokus memperhatikan layar ponselnya.

Dia mengembalikan kartu identitasku, "Terima kasih, Pak Jovan. Kami merasa tersanjung Bapak meluangkan waktu untuk mampir ke tempat kami," ucap Irwan.

Hum … tuh 'kan gaya bicaranya jadi berubah, aku tersenyum.

"Tapi maaf, kami tetap tidak bisa mengizinkannya," ucapnya lagi. Membuat senyuman di bibirku langsung memudar.

Aku berdecak kesal sambil merogoh dompet di saku belakang celana. Kumasukkan kembali kartu identitasku. "Ini …" ucapku sambil menyurungkan uang 100 $ US di atas meja, "sebaiknya kamu simpan sebelum teman-teman Albin datang," tambahku dengan nada cuek.

Irwan menatapku lekat-lekat lalu memperhatikan Albin yang terlihat begitu nyaman menyandarkan kepalanya di dadaku, "Terima kasih," ucapnya sambil mengambil uang itu lalu memasukkan ke dalam saku bajunya.

Kenapa aku berikan uang dollar bukan rupiah? Jujur saja aku tidak banyak pegang uang rupiah. Hanya tiga ratus hingga empat ratus ribu saja di dompetku, tapi aku selalu memiliki beberapa puluh lembar uang dollar. 

Saat aku harus membayar tagihan, aku tinggal menyerahkan kartu saja,  jadi aku tidak terlalu membutuhkan uang cash, tapi … dollar sepertinya bahkan lebih tidak terpakai 'kan?

Dalam lingkungan sosialku bersama teman-teman, kami menggunakan dollar, baik itu pinjam uang atau saat harus melakukan sesuatu yang diperlukan menggunakan uang, contohnya saat harus memberikan uang kepada Irwan. Kenapa? Karena dollar lebih sedikit lembarannya tapi jauh lebih besar nilainya sehingga dompetku tidak kepenuhan dengan uang

Gina dan satu orang lagi wanita mendekati kami, aku membaca tulisan di dadanya "Rosi".

 "Ada apa, Pak?" tanya Rosi.

"Albin, dia mau pulang sama pelanggan kita," ucap Irwan sambil memandangi kedua pegawai wanitanya.

"Tapi, dia terlalu mabuk," ucap Rosi dengan nada keberatan setelah melihat keadaan Albin.

"Iya, tapi Albin yang memaksa," ucap Irwan lagi. Aku tersenyum miring melihat dia.

"Albin, pulang sama kita, yuk." Gina menarik lengan Albin, berusaha melepaskan pelukannya dari tubuhku.

Albin menyentakkan tangan Gina, "Gak mau," ucap Albin, dia justru semakin mengeratkan pelukannya.

Gina, Rosi dan Irwan saling pandang beberapa saat, "Biarkan dia," ucap Irwan dengan nada pasrah.

Tidak berselang lama, waiter datang mengembalikan kartu-ku dan menyerahkan nota pembayaran. Aku memasukkan kembali kartuku ke dalam dompet. Irwan, Gina dan Rosi masih memperhatikan kami.

"Albin, ayo pulang," ucapku di telinganya.

Lampu club malam semuanya dinyalakan, keadaan menjadi terang benderang, musik menghentak dimatikan, berganti dengan musik slow, itu artinya Havana Club sudah tutup.

Para pengunjung mulai berjalan ke arah pintu keluar, para waiter berbondong-bondong ke tengah ruangan, mereka membersihkan semua meja dan sebagian lainnya menyapu lantai.

"Albin," panggilku sambil menggoyangkan lengannya.

Albin menarik kepalanya dari dadaku, dia membuka mata menatap lekat ke arahku dengan matanya yang sayu, "Hummm," ucapnya dengan gumaman yang terdengar parau.

"Ayo kita pulang," ucapku menatap lekat ke dalam matanya yang berwarna biru.

"Sama kamu?" tanya Albin sambil tersenyum. Wajah kami hanya berjarak beberapa inci. Dadaku berdebar lebih cepat.

"Iya," kataku sambil mengangguk pelan.

"Ok," ucap Albin sambil tersenyum, dia kembali memejamkan mata.

Mata Albin terpejam, bibirnya tersenyum dan sedikit terbuka, membuat tubuhku tiba-tiba meremang. Aku ingin sekali melumat bibirnya. Aku menelan ludah berkali-kali. Albin kembali menempelkan kepalanya di dadaku.

Aku mencoba mengalihkan sensasi rasa yang tiba-tiba membuat napas dan celanaku terasa sesak. Aku memandangi Rosi, Gina dan Irwan, "Kami pulang sekarang," ucapku kepada mereka.

"Ya, hati-hati di jalan," ucap Irwan dia mengangguk pelan, "Gina bawakan sekalian barang-barang Albin, ya.

"OK," jawab Gina, dia mendekati Albin lalu merogoh saku blazer-nya, dia mengambil kunci kecil, "tunggu sebentar, ya, Mas. Saya ambilkan tas Albin di locker-nya."

"OK. Kutunggu di depan pintu masuk," ucapku sambil menarik pinggang Albin agar dia berdiri bersamaku.

"Kamu bisa jalan 'kan?" tanyaku, "Albin, kamu bisa jalan?" ulangku lagi.

Albin mengangguk, aku melingkarkan tangan di punggungnya sementara Albin melingkarkan kedua tangannya di tubuhku sambil menyandarkan kepalanya di dadaku. Kami berjalan bersisian. Aku berjalan perlahan mengikuti langkahnya yang terseok

Aku berdiri di samping pintu masuk sambil menyandarkan tubuh di dinding menunggu Gina datang membawakan tas Albin. Setelah beberapa saat menunggu akhirnya dia datang.

"Mari saya bawakan tasnya ke mobil," kata Gina.

Aku mengangguk, "Terima kasih." Tentu saja sulit bagiku jika harus membawa serta tas Albin, sementara aku harus berjalan sambil menopang tubuhnya agar dia tidak jatuh.

Aku berbincang ringan bersama Gina ketika kami berjalan menuju parkiran. Aku menanyakan alamat Albin, dia mengatakan alamat lengkap kontrakan Albin setelah membaca kartu identitas Albin. Dia menjelaskan serinci-rincinya yang mana rumah Albin, karena Google Map hanya bisa menunjukkan alamat jalan dan posisi perumahan saja, aku harus mencarinya untuk menemukan rumah Albin.

Sesampainya di mobil aku meletakkan Albin hati-hati di kursi depan lalu memakaikannya sabuk pengaman. Matanya masih terpejam.

 Gina melambaikan tangan kepadaku, aku pun mengangguk dan tersenyum kepadanya lalu menutup jendela mobil kemudian memasang sabuk pengaman

Aku memandangi Albin, meneliti rambut, wajah dan tubuhnya dengan saksama. Tatapan mataku terpusat pada bibir, dada dan pinggangnya.

"Sial! Sial!!!" Aku menggerutu di dalam hati. Bagaimana bisa Albin berkata tidak memiliki sihir apa pun? Bahkan pikiranku tak bisa lepas darinya.

Aku … aku tidak bisa menolak keinginan ini, aku begitu ingin merengkuhnya ke dalam pelukanku, menarik pinggangnya merapat ke tubuhku. Melumat bibirnya penuh gairah. Kepalaku berdenyut kuat. Perasaan ini sudah lama sekali tidak pernah aku rasakan. Aku bahkan lupa tepatnya, mungkin terakhir kali saat aku berusia delapan belas tahun.

"Tidak, aku tidak boleh melakukannya, Albin tidak sadar," aku menolak keinginanku kuat-kuat.

Aku kembali memandangi Albin lekat-lekat dan terdiam beberapa saat.

Kulepaskan sabuk pengaman yang sudah terpasang di tubuhku kemudian mencondongkan tubuh mendekati Albin, mendekatkan wajahku ke wajahnya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status