Share

5. Rahasia Terungkap

Jovita berkaca di depan cermin dengan perasaan yang tidak dapat diidentifikasikannya. Ia belum menemukan kosa kata yang sesuai untuk menggambarkan apa yang dirasakan saat ini. Sesuatu yang belum pernah dirasakannya seumur hidup. Seperti ada yang mengimpit dada sekaligus membuatnya seolah tak dapat berpijak. Satu hal yang bisa ia identifikasikan dengan jelas hanyalah bahwa suaminya berkhianat, melanggar sumpah suci perkawinan mereka, menghancurkan kepercayaan yang telah ia titipkan selama ini.

Pagi ini, ia sengaja bersiap pergi lebih cepat dari biasanya, menghindari konflik dengan Ezra yang dapat berujung dengan kekerasan fisik. Disiapkannya semua keperluan Ezra hari itu. Dasi yang senada dengan kemeja, celana panjang, pakaian dalam, hingga kaus kaki. Ia mengamati isi lemari suaminya, mencari apakah ada hal baru yang berbeda dari seleranya selama ini. Tidak ada sesuatu yang berbeda.

Ezra terlihat menggeliat, terbangun dari tidurnya. Ia mengusap wajah, melirik ke arah jam di atas nakas, lalu beranjak.

"Morning, Honey," sapa Ezra begitu melihat Jovita yang telah rapi dan siap beraktivitas. Ia menghampiri istrinya. "Kamu sudah akan berangkat jam segini?" Ia memeluk dan mencium dahi Jovita.

Jovita mendadak merasa muak dan jijik dengan semua kemesraan yang berusaha diumbar Ezra.

"Ya, aku harus mempersiapkan kelas pagi," sahut Jovita, berusaha menjaga agar suaranya tidak bergetar karena menahan emosi. Ia segera merapikan tempat tidur, mengalihkan energi dan fokusnya.

"Apakah jadwalmu padat hari ini?" tanya Ezra.

"Lumayan."

"Apa saja?"

"Seharian ini aku ada kelas public speaking untuk pejabat pemerintah," jelas Jovita. "Apa saja kegiatanmu hari ini?" Sebuah pertanyaan terlontar dari mulut Jovita, pertanyaan yang selama ini belum pernah diajukannya. Ia terlalu percaya bahwa Ezra setiap hari hanya berjibaku dengan urusan klien.

"Hanya ada sidang pagi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan bertemu dengan klien yang akan mengajukan banding," jawab Ezra. Tebersit rasa kaget karena Jovita menanyakan akivitasnya hari ini, hal yang tidak pernah dilakukan istrinya. "Tadinya aku ingin mengajakmu makan siang, tapi ternyata kamu padat sekali."

Jovita tersentak. Ia baru menyadari mengapa Ezra selalu menanyakan aktivitasnya setiap hari. Pertanyaan yang selama ini dianggapnya sebagai bentuk kepedulian, bisa jadi itu adalah cara suaminya untuk mencari celah agar bisa memadu kasih dengan si Aein itu.

"Kalau begitu kita makan malam bersama saja, setelah aku selesai di Kementerian," usul Jovita yang sebenarnya hanya merupakan b**a-basi.

"Ah, I can't, Honey. Aku mau ke gim. Sudah seminggu ini absen," sahut Ezra sambil membuka kaosnya, memperlihatkan lekuk otot perutnya. Ia melangkah menuju kamar mandi.

Jovita kembali tersentak. Ia ingat betul, tiga hari lalu, Ezra beralasan berlatih di gym sehingga pulang larut, sedangkan barusan berkata sudah seminggu tidak berlatih. Pembohong memang sering melupakan kata yang pernah dilontarkan. Kekesalannya memuncak. Ia segera mengambil tas Balenciaga-nya.

"Aku pergi dulu." Jovita membuka pintu kamar. "Sampai nanti, Chagia!" pamitnya dengan sindiran. Ia lalu menutup pintu, bergegas turun ke lantai bawah.

Ezra terperanjat mendengar kata yang disebut Jovita untuknya barusan. Sejenak dipastikan pendengarannya. Ia segera menghambur ke pintu, menuruni tangga, berusaha mengejar istrinya.

Di lantai bawah, terlihat istrinya setengah berlari menuju Mercedes-Benz GLA 200-nya yang sudah siap di depan pintu depan rumahnya. "Honey!" panggilnya seraya berlari mengejar.

Jovita bergegas masuk mobil. "Jalan sekarang, Pak!" perintahnya kepada Joko yang segera dipatuhi oleh sopir pribadinya itu. Dadanya bergemuruh penuh amarah. Ia memejamkan mata, bayangan kehancuran rumah tangga menari-nari di pelupuknya.

Getaran ponsel memaksa Jovita mengambil alat komunikasi itu dari tasnya. Tulisan "Bear" terpampang. Dibiarkannya ponsel itu mati dengan sendirinya. Berulang kali Ezra berupaya menghubungi, tapi tetap dibiarkan. Ia melemparkan pandangan ke luar jendela mobilnya. Matanya mengamati jalan Gerbang Pemuda yang pagi itu masih lengang, tapi pikirannya jelas tidak ditujukan ke pemandangan yang dilihatnya. Ia kemudian teringat sesuatu dan segera mengetik sebuah pesan di ponsel. Setelah menunggu jawaban beberapa menit, sebuah pesan balasan masuk. Lengkung tipis tercipta di bibir Jovita.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, Jovita sudah berada di Stariffic Public Speaking School yang terletak di salah satu gedung perkantoran kawasan strategis Sudirman Central Business District (SCBD) Jakarta Selatan. Stariffic adalah lembaga yang didirikan Jovita 5 tahun silam bersama tiga temannya, yaitu Albert, Rania, dan Monica.

Setelah meraih gelar Master di bidang Global Media Communication, Jovita diterima dalam program Management Trainee salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang fast moving consumer good¹. Management Trainee (MT) adalah sebuah program yang dirancang oleh perusahaan untuk membekali karyawan baru agar lebih siap dalam menjalankan pekerjaannya sekaligus mendidik calon pemimpin perusahaan di masa mendatang. Program MT di perusahaan Jovita berlangsung selama 30 bulan yang dirotasi ke 5 fungsi berbeda. Di setiap fungsi, para peserta program ini harus membuat proyek yang dievaluasi oleh manajemen. Jovita menunjukkan performa yang cukup menonjol dibanding rekan-rekannya di setiap fungsi yang dimasukinya. Setelah dinyatakan lolos dari program MT, ia langsung mengisi posisi sebagai Public Relation Manager, sebuah pekerjaan yang sangat disukainya karena mampu mengekplorasi segenap potensi diri.

Jovita dengan berat hati mengundurkan diri dari pekerjaan yang baru digelutinya selama 3 tahun itu setelah menikah dengan Ezra. Kendati sangat mencintai pekerjaannya, ia ingin lebih leluasa membagi waktu untuk karir dan rumah tangga. Salah satu seniornya semasa kuliah S1 - yang pernah sama-sama aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa - Albert Gontha, mengajaknya untuk mendirikan lembaga pelatihan Public Speaking. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Jovita. Albert pun menggandeng dua temannya, yaitu Rania yang saat itu berprofesi sebagai penyiar radio dan Monica yang terkenal sebagai News Anchor², untuk merintis Stariffic.

Jovita menghempaskan tubuh di kursi kerjanya. Ia memejamkan mata sejenak, kemudian bangkit dan berjalan menuju sisi ruangannya yang terbuat dari kaca stopsol³. Di depan dinding kaca yang menyajikan pemandangan kepadatan ibukota, ia berdiri tegak, kedua tangannya memegang pinggang, mengangkat dagu, dan mengatur napasnya. Superman pose, sebuah sikap yang diyakini meningkatkan kepercayaan diri. Jovita sangat memerlukannya untuk menjalani hari ini.

Ketukan pintu dari Agus, pesuruh kantor, menghentikan aktivitasnya.

"Bu Jo, tamu Ibu sudah datang," ujar Agus seraya membuka pintu setelah melihat anggukan kepala Jovita yang memperbolehkannya masuk. "Saya antar ke sini?"

"Oh, boleh, Gus." Jovita berjalan ke arah mejanya kembali. "Tadi Pak Joko sudah memberikan bubur ayam kepadamu?"

"Sudah, Bu."

"Nanti tolong bawakan dua ke sini, selebihnya dibagi-bagi buat yang lain. Kamu jangan lupa ambil satu, ya."

Agus tersenyum lebar mendapatkan rejeki sarapan pagi. Jovita adalah orang yang paling sering memberikan sarapan gratis buat para staf. "Terima kasih, Bu. Apakah perlu dibuatkan teh atau kopi buat tamunya, Bu?"

"Boleh, nanti ditanyakan saja dia maunya minum apa."

"Baik, Bu. Saya panggil sekarang ya, Bu."

Jovita mengangguk. Ia lalu merapikan rambut dan bajunya setelah Agus menutup pintu.

Tidak berapa lama, Agus kembali bersama seorang pria berkacamata dan mengenakan setelan jas berwarna gelap.

"Pagi, Bu Jovita," sapa pria itu begitu ia memasuki ruangan. Seorang pria dengan postur padat berisi dan sedikit lebih tinggi dibanding Jovita. Wajahnya dihiasi senyum sejak memasuki ruangan itu.

"Pagi, Pak Bayu. Akhirnya bapak pejabat ini bisa punya waktu untuk main ke kantorku," sambut Jovita. Ia mengulurkan tangannya. "Bagaimana kabarmu?"

"Baik." Pria yang dipanggil Bayu itu menyambut uluran tangan Jovita. "Bagaimana denganmu?"

"Baik," jawab Jovita. Ia kemudian mempersilakan Bayu duduk di arm chair berwarna hijau tua yang terletak di salah satu sudut ruangan berdekatan dengan jendela.

Mata Bayu menyapu seluruh ruangan Jovita yang didesain bergaya minimalis dengan kombinasi warna putih dan sage green atau hijau keabu-abuan, menghadirkan kesan simpel, natural, dan menenangkan. Meja kerja terbuat dari akrilik dengan kursi kerja berwarna hijau yang ergonomis⁴, berhadapan dengan dua buah kursi berwarna sama, tapi berukuran lebih kecil. Sebuah lukisan kontemporer berukuran besar menggantung di dinding berwarna sage green persis di belakang posisi kursi kerja Jovita. Keberadaan tanaman hias memberikan efek rileks. Foto dan dekorasi minimalis diletakkan bersama dengan beberapa buku mengenai Komunikasi dan Public Speaking di sebuah rak putih. Dua buah arm chair berwarna hijau tua – salah satunya yang ia duduki – berada di sudut ruangan dengan dinding kaca di sebelah kanan. Meja kecil yang terbuat dari akrilik berada di tengah kedua kursi.

"Ruangan kerja ternyaman yang pernah kumasuki." Bayu berdecak kagum. "Benar-benar mencerminkan seleramu, Jo."

"Rumah kedua harus dibuat senyaman mungkin," sahut Jovita dengan senyum lebar.

Almarhum ayah Bayu, Idris, adalah mantan sopir pribadi keluarga Hengkara. Idris telah bekerja sejak kedua orang tua Jovita menikah hingga akhir hayatnya. Bagi Irwan – ayah Jovita – Idris bukan hanya berperan sebagai sopir, tetapi juga orang kepercayaannya. Ketiga anak lelaki Idris, yaitu Bayu, Reza, dan Gilang, juga sering bermain bersama Jovita dan Davina, sehingga hubungan antara mereka terjalin layaknya saudara. Irwan bahkan membiayai sekolah ketiganya hingga ke perguruan tinggi. Gilang, anak bungsu Idris, saat ini merupakan salah satu General Manager di ANARA Grup milik Irwan.

Bayu berusia tiga tahun lebih tua dari Jovita. Bayu yang tidak memiliki adik perempuan dan Jovita yang tidak punya kakak, membuat keduanya merasa saling melengkapi. Bayulah yang mengajari Jovita mengendarai sepeda hingga mobil, berenang, dan bermain bola basket. Saat ini Bayu bekerja sebagai Staf Ahli di Badan Intelijen Negara.

Agus masuk kembali ke ruangan membawa dua bubur ayam dan dua teh hangat.

"Bubur Senopati?" tanya Bayu dengan wajah sumringah.

"Tepat sekali!"

"Memang kamu sudah bisa makan ini?" tanya Bayu lagi. Ia teringat dulu mengajak Jovita makan bubur ayam ini dan berakhir dengan diare yang diderita perempuan itu.

Jovita tergelak. "Dulu aku diare karena baru pulang dari Melbourne langsung kamu ajak sarapan ini. Kalau sekarang hampir seminggu sekali ini jadi sarapan wajib, jadi perutku sudah kebal."

"Aku selalu tertawa mengingat kejadian itu setiap kali makan bubur ini."

Tawa keduanya memenuhi ruangan mengingat peristiwa tersebut.

"Bagaimana kabar Sarah dan anak-anak?" Jovita menanyakan kabar istri Bayu.

"Baik, sehat semua. Tadi Sarah menitipkan salam untukmu." Bayu memandangi Jovita, lalu bertanya. "Bagaimana kabar Ezra dan Vanya?"

"Baik." Jovita menjawab dengan cepat sambil mengaduk buburnya. "Terima kasih sudah mau datang ke sini meski baru tadi pagi kukontak."

Bayu mengangguk. Ia tentu akan melakukan apa pun permintaan keluarga Hengkara, utang budinya terlalu besar kepada keluarga itu. "Kebetulan jam 9 nanti aku ada rapat di Polda Metro Jaya, jadi searah dengan ke sini. Lagi pula aku belum pernah mengunjungi kantormu ini."

Jovita tersenyum lebar.

"Apa yang bisa kubantu?" tanya Bayu.

Jovita tertawa. "Tidak perlu b**a-basi lebih lama kamu bisa tahu bahwa aku memerlukan bantuanmu."

"Itulah yang membuat kita semua akrab selama ini, bukan? Saling membantu." Bayu tersenyum lebar.

Jovita mengeluarkan secarik kertas kecil bertuliskan serangkaian nomor. Ia kemudian menyodorkan kepada Bayu. "Aku perlu tahu tentang orang ini, tapi hanya ini yang kupunya."

Bayu mengamati deretan angka di kertas itu, lalu memandangi Jovita. "Sudah berapa lama?"

Jovita tercengang. "Maksudmu?"

"Sudah berapa lama Ezra menjalin hubungan dengannya?" Bayu menguraikan pertanyaannya. Ia tersenyum melihat Jovita tampak terkejut karena kesimpulannya. "Hal yang membuat seorang wanita cemas biasanya adalah perselingkuhan suami."

"Entah. Aku baru tahu semalam," sahut Jovita.

"Sejak kapan Ezra melakukan tindak kekerasan padamu?"

Jovita kembali terperanjat. Sepertinya ia sudah menutupi semua bekas pukulan Ezra. "Bagaimana kamu tahu?"

Bayu tersenyum. "Ada bercak merah di mata kirimu, pendarahan subkonjungtiva yang salah satunya disebabkan pemukulan. Riasan di bawah mata kirimu itu sedikit lebih tebal dibanding yang kanan, kamu berupaya menutupi memar akibat pukulannya. Saat aku menanyakan kabar Ezra, kamu langsung mengaduk bubur, padahal kamu tidak pernah menyukai bubur yang dicampur, itu menggambarkan keresahanmu dengan hubungan kalian."

Jovita berdecak kagum. Ia sering lupa dengan keahlian Bayu mencermati detil. "Aku lupa bahwa aku bicara dengan intel," ucapnya terbahak.

"Kamu tidak bisa menganggap remeh tindak kekerasan, Jo!" Bayu memperingatkan.

"Dua kali ia memukulku. Lalu kutemukan ini semalam," ujar Jovita lirih. "Dia mulai memukul seminggu yang lalu."

Bayu menghela napas. "Klise. Selingkuh dilanjutkan dengan KDRT. Lambat laun tindakan kekerasannya akan lebih parah dan lebih sering. Kamu harus waspada."

Jovita mengangguk. "Semua masih seperti kepingan puzzle bagiku. Aku belum mendapat gambaran apa yang sesungguhnya terjadi."

"Aku akan mengabarkan semua yang kudapat segera." Bayu melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku.

"Terima kasih, Bay. Aku sebenarnya tidak mau memanfaatkan posisimu, tapi aku tidak tahu lagi harus meminta tolong kepada siapa. Kamu adalah orang pertama dan satu-satunya yang kuberitahu tentang hal ini. Aku tidak mungkin menceritakan hal semacam ini kepada siapa pun. Kamu tahu orang seperti apa mertuaku." Jovita mengungkapkan kesungkanannya meminta bantuan Bayu. Namun, hanya Bayu satu-satunya orang yang dapat dipercaya. Hubungan antara mereka yang sudah seperti kakak adik membuatnya lebih nyaman mengungkapkan masalahnya.

"Aku justru senang kamu langsung memintaku. Tidak perlu merasa sungkan. Aku ingin kamu mengabariku juga bila ada hal yang tidak biasa," ucap Bayu. Sejak dahulu, ia selalu berusaha melindungi Jovita dan Davina, terutama dari para lelaki nakal yang berusaha mendekati kedua perempuan yang sudah seperti adik kandungnya sendiri.

"Ini saatnya kamu mengatakan 'Kubilang juga apa' bukan?" Jovita tersenyum masam. Ia teringat Bayu pernah memperingatinya tentang beberapa perilaku Ezra saat ia memutuskan menerima lamarannya.

Bayu tersenyum. Dahulu ia mengetahui bahwa Ezra mencampakkan tunangannya demi mendapatkan Jovita. Sewaktu menjalin hubungan dengan Jovita, Ezra sempat menjalin hubungan dekat dengan wanita lain, tapi kemudian diakhiri dengan melamar Jovita. Ia - yang dalam bekerja dididik untuk memprediksi perilaku - mengendus pola perilaku negatif pada Ezra dan segera memperingatkan Jovita. Akan tetapi, Jovita yang telanjur jatuh hati pada Ezra - yang memang secara fisik menjadi magnet bagi kaum hawa – menolak untuk melihat bukti dan prediksi yang berusaha dipaparkannya.

"Aku tidak akan berkata seperti itu. Kamu pasti punya pertimbangan lain saat menerima lamarannya. Sudah takdir Tuhan juga kalian bersatu. Hal yang penting sekarang adalah memikirkan solusi ke depan," hibur Bayu.

Jovita mengembuskan napas, menyandarkan punggung ke kursi. Saat dahulu Bayu mengungkapkan pola perilaku Ezra, ia justru mengartikan bahwa dirinyalah pemenang persaingan. Tidak saja sewaktu Ezra mencampakkan tunangannya, tapi juga ketika suaminya itu sempat berpaling ke wanita lain kala mereka berpacaran dan kemudian justru memutuskan untuk melamarnya. Ia melihat itu sebagai tanda bahwa dia adalah wanita terbaik pilihan Ezra. Ia mengabaikan kecenderungan Ezra untuk tidak setia dan mudah pindah ke lain wanita. Perilaku yang kembali ditunjukkan Ezra sekarang.

-----

¹ Fast moving consumer goods: produk-produk yang dapat terjual secara cepat dengan harga yang relatif murah dan biasanya merupakan kebutuhan sehari-hari.

² News Anchor: jurnalis radio/TV yang membawakan materi berita dan harus berimprovisasi memberikan komentar dalam siaran langsung. Tugasnya tidak sebatas membacakan berita, tapi juga terlibat dalam penulisan dan/atau penyuntingan berita bagi program mereka sendiri.

³ Kaca stopsol: jenis kaca yang sering digunakan pada konstruksi bangunan, terutama gedung perkantoran atau bangunan tinggi.

⁴ Ergonomis: bersifat nyaman dan aman.

Comments (2)
goodnovel comment avatar
Yanti Aching
edan... nemu novel bagus banget.. dari penulisannya, bahasa nya, semuanya enak dibaca.. keren.. tq author utk karya se kece ini
goodnovel comment avatar
zara
tulisanmu sejauh ini bagus, author. aku penasaran, kenapa tulisan "b**a-basi" nya di sensor
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status