After We Kissed
After We Kissed
Author: Gitapuccino
1. Laura Wilona

Hingar bingar gemerlapnya dunia malam benar-benar membuat pusing yang dirasa Laura sejak siang kian menjadi-jadi. Semua ini karena obrolannya bersama Sang Mama lewat telepon yang membuat Laura tidak bisa tidur hampir semalaman. Padahal besok harinya ia harus datang ke kantor lebih pagi dari biasanya. Perkataan Mama bagaikan bom Hiroshima dan Nagasaki yang meluluh lantakkan gendang telinga.

Menikah.

Satu kata ajaib yang seketika membuat Laura badmood. Bukan kali ini saja Sang Mama ingin ia segera menikah diusianya sekarang. Laura tahu betul betapa kedua orang tuanya itu merindukan seorang cucu di dalam rumah, Laura pun demikian. Ia menginginkan seorang anak yang akan melengkapi hidupnya kelak. Tapi, tentu saja bukan seperti ini caranya. Tanpa sepengetahuan Laura, Mama menjodohkannya dengan anak dari teman masa kuliahnya dulu. Wajar saja kan kalau Laura murka? Seharusnya Mama tahu jika ia paling tidak suka dipaksa. Apalagi dipaksa menikah. Sejenak Laura teringat kata-kata Mamanya semalam.

“Kamu belum apa-apa sudah menolak. Ketemu dulu baru ambil keputusan,” bujuk Mama.

“Nggak mau, Ma. Karena kata ‘iya’ Mama dan Laura itu berbeda.”

“Loh? Apa salahnya sih?” sahut Mama keukeuh. “Mama nggak mungkin menjerumuskanmu, Nak. Percaya sama Mama. Dia calon terbaik yang Mama pilihkan.”

Mendengar itu jujur saja Laura ingin membanting ponsel ditangannya sekarang juga.

“Terbaik menurut Mama belum tentu terbaik untuk Laura.”

Begitulah. Hasil perdebatan singkat antara Laura dengan Sang Mama. Karena setelah itu Laura menonaktifkan ponselnya sepanjang hari dan baru mengaktifkannya sekarang. Dan sungguh melegakan karena tidak ada pesan masuk dari Sang Mama. Itulah kenapa Laura bisa berada di sini. Ajakan teman sekantornya siang tadi disambut Laura tanpa harus berpikir dua kali. Karena Laura tidak punya keberanian untuk menginjakkan kaki sendirian kemari. Apalagi tanpa alasan.

Pergi sendirian ke club malam?

Bisa dikira aku perempuan nggak bener, batin Laura.

Kerasnya detuman musik seolah membuat resonansi tersendiri untuk jantungnya. Ini adalah kedua kalinya bagi seorang Laura Wilona kembali mengerti seperti apa rasanya berada ditengah-tengah meja yang dikelilingi oleh berbagai jenis dan warna minuman. Laura bukan tipikal perempuan penikmat dunia malam. Tapi bukan pula tipikal perempuan kuno yang anti dengan hal-hal berbau alkohol. Laura mungkin ketinggalan jaman jika dibandingkan generasi millenial sekarang yang sudah terlampau terbiasa dengan dunia malam. Sesekali have fun bersama teman tidak masalah selagi tetap berada pada jalur yang aman. Setidaknya begitulah prinsip Laura. Biasanya ia hanya akan duduk menjaga tas-tas yang ditinggalkan, memandangi sekitarnya, sembari menikmati musik yang dimainkan DJ. Walaupun Laura sendiri tidak yakin ia benar-benar menikmatinya.

Laura memandang layar ponselnya kembali. Tidak ada tanda-tanda kekasih yang telah dipacarinya hampir dua tahun itu membalas pesan yang telah dikirimnya. Jujur, Laura sendiri tidak mengerti kenapa masih saja mempertahankan hubungan yang terbilang berat sebelah itu. Padahal kapan pun jika Laura mau, ia bisa saja mengakhirinya dan berpaling dengan yang lain. Sayangnya Laura tidak sejahat itu. Dan sayangnya lagi Laura terlanjur mencintai laki-laki itu. Meskipun hingga sekarang Laura tidak tahu akan dibawa ke mana hubungan ini nantinya.

“Kamu nggak ikutan turun sama anak-anak ?” sapa Clara, Si Ratu Clubbing. Dialah cikal bakal yang mengundang hampir setengah dari karyawan kantor untuk ke club malam ini. Dan tentu semua bill dia yang menanggung. Anak orang kaya sih bebas.

Laura menggeleng pelan. “Aku di sini saja. Kalian nggak ada yang mabok, kan?”

Clara menggeleng. “Nggak tahu. Mudah-mudahan saja nggak ada. Aku sudah mengancam mereka satu per satu. Besok meeting koordinasinya jadi jam 10, kan?”

“Dimajukan jadi jam 9. Katanya biar cepat selesai sebelum jam makan siang.”

Clara tampak mengecek planner di menu ponselnya kemudian menghela napas.

“Baguslah kalau begitu. Habis makan siang aku sudah keburu ada meeting dengan vendor. Eh, itu bukannya pacarmu, La?”

Laura menoleh. Ya, itu memang Gavin. Dan Gavin juga melambaikan tangan pertanda melihat dirinya. Dengan gesture tubuh bak top model papan atas Gavin menghampiri Laura. Tak lupa pula senyuman mautnya menghiasi wajah tampannya.

“Halo, Clara, “ sapa Gavin. “Seneng banget ya kamu mengajak pacarku clubbing hampir setiap malam?”

“Nggak usah lebay. Yang penting nggak sampai mabok, kan?” balas Clara.

“Mabok atau nggak tinggal masalah waktu saja, Cla. Laura itu berbeda denganmu.”

Clara berdecak. Terlihat sekali jika ia menahan amarah.

“Dengar ya!” kata Clara. “Hari ini aku lagi nggak mood buat meladenimu. Tolong lebih sopan kalau bicara.”

Clara pun berlalu. Meninggalkan Laura dan Gavin yang menjadi penghuni satu-satunya meja bar sekarang. Laura menatap Gavin tanpa berkata-kata. Bukan sekali ini saja Gavin bersikap seperti itu pada Clara. Bahkan sejak perkenalannya setahun yang lalu.

“Kamu bisa nggak sih bersikap ramah sedikit sama Clara? Dia punya salah apa sama kamu?”

Gavin tertegun sembari mengangkat bahu. “Apa untungnya buatku, La? Kalau nggak suka ya kenapa juga aku harus bersikap ramah.”

“Iya tahu. Tapi segala sesuatunya jelas ada alasan dong.”

Gavin menggeleng pelan kemudian menegak habis gelas berisikan softdrink yang sedari tadi dipegang Laura.

“Ini yang aku suka darimu. Nggak peduli mau di mana pun kamu berada selalu minuman softdrink yang kamu pesan.”

“Memangnya salah? Kamu tahu kan kalau aku nggak bisa minum alkohol.”

Gavin mengangguk. “But you’re in the club, Babe. Tempatnya bersenang-senang.”

“Bersenang-senang bukan berarti harus mabok kan, Gavin,” balas Laura tak mau kalah.

Gavin terkekeh. Ia tidak menyangka akan mendapat sanggahan menggemaskan seperti itu.

“Selalu di luar dugaan. Kita jadi pulang sekarang?”

Sepinya jalan membuat perjalanan pulang Laura cukup lancar. Bahkan Laura dan Gavin pun tidak sempat menikmati perjalanan karena terlalu lancarnya. Mereka hanya mengobrol sesekali sampai akhirnya tidak ada satupun yang mengawali obrolan lagi. Pukul setengah dua belas malam mobil Gavin tiba di depan pagar rumah Laura. Rumah minimalis itu tampak sepi.

“Aku nggak mampir ya,” kata Gavin memulai. “Jangan main hape dan langsung tidur.”

“Aku nggak janji kalau itu,“ balas Laura penuh tawa. “Tapi akan kuusahakan.”

“Dasar!”

Kecupan lembut mendarat dipucuk kepala Laura yang disambut dengan dekapan Laura pada tubuh atletis Gavin sebelum laki-laki itu kembali mengecup pucuk kepalanya lagi.

“Aku sayang kamu, La.”

            Bullshit, batin Laura.

***

Dengan tatapan heran Freya menatap Laura. Ketidakhadiran Laura sebagai divisi keuangan di meeting pagi tadi mengundang tanda tanya. “Kenapa tadi nggak ikut meeting?”

Laura menatap Freya dalam diam. “Bukankah sudah ada Mbak Evi yang mewakilkan?” jawab Laura tanpa berniat mengalihkan fokusnya pada layar notebook di depannya.

“Iya tapi ini aneh. Tidak seperti biasanya kamu seperti ini. Kamu nggak mabok karena clubbing bareng Clara semalam, kan?”

Laura menghela napasnya cukup berat. Mood swingnya memang sedang tidak bagus sedari pagi. Ditambah karena pengaruh ungkapan receh Gavin kepadanya semalam semakin membuat Laura tidak bisa berkonsentrasi dalam pekerjaan.

“Gavin lagi?” tembak Freya dan langsung mendapat anggukan kepala karena tepat sasaran.

Gavin, Laura, dan Freya adalah teman sejawat satu alumni. Mereka bertiga menjadi dekat sejak berada di dalam satu kelompok KKN kala itu. Dua perempuan diapit seorang laki-laki tentunya menuai begitu banyak cibiran teman-teman seangkatan mereka. Apalagi ketika Gavin akhirnya menjalin hubungan dengan Freya, cibiran itu malah semakin menjadi-jadi. Dan untungnya baik Gavin maupun Freya tidak peduli dengan omongan para netizen dan bersikap seperti biasa pada Laura.        

Sangat disayangkan hubungan Gavin dan Freya harus kandas satu tahun setelahnya. Gavin memutuskan melanjutkan studinya ke Jerman. Lantas, bagaimana ceritanya Gavin bisa berpacaran dengan Laura? Entah. Semua berjalan begitu saja. Laura bahkan tidak tahu sejak kapan. Lupa lebih tepatnya.

Jam istirahat memenuhi cafe langganan Laura dan Freya siang itu. Untung saja Laura telah melakukan reservasi dua jam sebelumnya.

“Kalau kamu rasa putus adalah jalan terbaik ya putusin saja, La. Kalian berdua nggak jelas juga kan mau lanjut ke jenjang serius atau nggak,” pungkas Freya.

Laura tak bergeming. Masih berputar dengan pikirannya.

“Kamu itu perempuan cerdas, La. Dua tahun kalian pacaran apa pernah menyinggung soal pernikahan? Nggak, kan? Jangan buang-buang waktu untuk laki-laki seperti itu, La. Masih banyak laki-laki di luaran sana yang lebih menjanjikan.”

“Contohnya dengan menikahi laki-laki yang nggak kamu kenal, gitu? Aku memang ingin sekali menikah, tapi aku nggak akan mengambil langkah segila itu, Frey.”

“Siapa yang bilang, wait ....” Freya meletakkan sendoknya dan mencondongkan tubuhnya ke Laura. Dahinya lalu berkerut. “Apa maksud kata-katamu tadi?”

Giliran Laura yang meletakkan sendoknya. “Mama menjodohkanku. Dan kali ini dengan anak teman sekampusnya dulu.”

“Lagi?!?”

Anggukan kepala Laura membuat Freya menghela napas. Laura tahu sahabatnya itu pasti juga ikut bosan mendengar curhatan yang selalu didominasi dengan perjodohan sebelah pihak dari Mamanya. Yah, mau bagaimana lagi. Beginilah nasib perempuan mapan secara finansial dan cukup umur, tapi belum memiliki pendamping hidup.

“Untuk sekarang ini Mama sulit sekali diajak kompromi, Frey. Sepertinya pencapaian terbesar Mama tahun ini adalah melihatku menikah. Firasatku juga mengatakan perjodohan kali ini akan berhasil jika aku bersedia menemui laki-laki itu.”

Freya terdiam. Berusaha mencerna perkataannya. “Dengan kata lain mau menemui berarti setuju dengan perjodohan, gitu?”

Laura kembali mengangguk.

“Artinya kamu menikah atas dasar keterpaksaan, La. Akan jadi seperti apa keluarga kecilmu nanti?” sahut Freya tidak terima. “Hidupmu adalah milikmu. Kamu yang menjalaninya bukan orang lain.”

Laura bersandar dipunggung kursi. “Menurutmu apa aku bisa berkata seperti itu ke Mama?”

Freya kembali terdiam. Perkataan Laura barusan seolah mencubit dirinya. Tentu saja Laura tidak akan mungkin berkata seperti itu pada Mamanya. Sekesal apapun suasana hatinya.

“Jadi apa rencanamu sekarang? Mencoba membujuk Gavin untuk menikahimu? Setidaknya hanya itu satu-satunya jalan daripada harus menghabiskan hidup bersama orang yang nggak dikenal, kan.”

Laura menghela napas. Tatapannya beralih pada padatnya mobilitas kota Surabaya ditengah terik matahari dari balik kaca cafe.

“Kenapa nilai seorang perempuan harus diukur dengan pernikahan ya, Frey?” katanya tanpa mengalihkan pandang. “Padahal ini hidupku, tapi seperti bukan aku yang menjalaninya. Aku kesal. Nggak Mama. Nggak juga Gavin. Dua-duanya punya pemikiran sendiri. Mereka seolah nggak peduli dengan pemikiranku.”

“La ....”

“Frey, kamu sahabatku satu-satunya. Dan aku mempercayaimu. Menurutmu apakah Gavin adalah laki-laki yang tepat untuk kuajak berkomitmen?”

Dahi Freya berkerut. “Kok tanya aku? Harusnya kamu yang lebih tahu dong, La.”

Laura beralih menatap Freya kemudian tersenyum selebar mungkin. Freya benar. Kenapa ia malah bertanya seperti itu. “Aku hanya bercanda kok. Ayo kita makan!”

Obrolan serius itu berakhir begitu saja. Sebenarnya bukan penyelesaian yang Laura inginkan. Ia hanya ingin berbagi cerita dengan sahabatnya. Tentu saja keputusan akhir akan selalu ada pada kendali Laura beserta resiko yang dialaminya nanti. Baik atau buruknya itu sudah bukan kuasa Laura lagi. Karena semua itu sudah tertulis dalam lembaran kontraknya dengan Sang Pencipta jauh sebelum ia dilahirkan ke dunia. Tidak banyak yang Laura inginkan selain diberi kesiapan hati jika suatu saat apa yang ia takutkan benar-benar terjadi.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status