Share

3. Kita Putus

Minggu pagi adalah waktu yang tepat bagi seorang Laura untuk bersantai. Jarang sekali ia mau diganggu. Laura lebih memilih menghabiskan waktunya di rumah saja daripada pergi hangout ke Mall bersama teman-temannya, tapi tidak untuk hari ini. Laura sudah terlanjur membuat janji dengan dokter gigi pribadinya untuk rutin kontrol kawat gigi yang telah lama melekat digiginya sejak satu setengah tahun yang lalu.

Laura mematut dirinya berulang kali di depan kaca sembari memulas wajahnya dengan rangkaian skincare dan lipstik. Hari ini Laura ingin tampil senatural mungkin. Tanpa alas bedak hingga benda apapun yang dapat mengubah penampilannya. Rambut panjangnya ia ikat ekor kuda agar terlihat fresh. Mama menatapnya heran saat Laura menuruni tangga.

“Tumben hari Minggu keluar rumah,” tanya Mama yang tengah menikmati secangkir kopi.

“Kontrol gigi seperti biasa, Ma. Mama juga kok tumben nggak menemani Papa gowes?”

Empat bulan terakhir ini Papa sedang gandrung-gandrungnya gowes keliling bersama teman seusianya. Setiap Sabtu malam ketua squad akan mengirimkan lokasi tujuan dan di mana titik kumpul ke dalam grup Whatsapp. Gowes ini sifatnya santai dan menyenangkan. Karena beberapa anggotanya adalah para bapak-bapak pensiunan yang ingin menikmati hari tua mereka setelah lelah bekerja. Jadi Laura juga ikut senang Papanya punya kesibukan. Mama kembali menatap Laura.

“Sudah kamu pikirkan permintaan Mama kemarin?”

Laura mengangkat bahu. “Permintaan yang mana, Ma?”

Laura bukannya tidak tahu maksud pertanyaan Mama. Ia hanya tidak mau merusak harinya dengan perdebatan yang tidak ada ujungnya ini.

Lagi-lagi perjodohan, batin Laura.

“Kapan kamu bisa ketemuan? Dalam bulan-bulan ini bisa kan ya,” desak Sang Mama.

“Lihat nanti deh, Ma. Kerjaan Laura lagi sibuk-sibuknya. Laura pergi dulu ya. Dah, Mama.”

Laura terburu-buru pamit sebelum Mamanya sempat berkomentar.

***

Laura menggeser tombol hijau saat panggilan telepon Gavin muncul dilayar ponsel miliknya. Suara Gavin terdengar serak diseberang. Seketika Laura mengernyitkan dahinya.

“Kok kamu belum bangun?” tanya Laura penuh penekanan. “Katanya mau antar aku kontrol. Gimana sih kamu?” tambahnya semakin kesal.

“Hah? Pagi ini? Jam berapa sekarang? Aku ke sana sekarang ya.”

“Nggak usah!” potong Laura cepat. “Aku sudah di klinik dari sepuluh menit yang lalu. Payah kamu. Selalu mengentengkan janji.”

“Aku beneran lupa, La. Nanti pasti aku jemput. Kita sekalian keluar makan, ok?”

Begitulah Gavin. Seenaknya melanggar janji, tapi seenaknya juga menyelesaikannya. Ia sama sekali tidak memikirkan perasaan orang yang membuat janji. Semua dianggapnya enteng. Termasuk janjinya pada Laura.

Klinik dokter terlihat sepi dari biasanya. Tidak tahu kenapa dokter yang biasanya menangani Laura mengubah janji menjadi hari ini. Padahal dulu seingatnya tidak pernah ada jadwal kontrol setiap hari Minggu. Sepertinya khusus untuk hari ini ada pengecualian. Nama Laura pun dipanggil masuk. Laki-laki tanpa snelli menyambutnya dengan senyum ala-ala iklan di televisi. Laura tertegun sejenak sebelum melontarkan tanya.

“Dokter nggak salah menghubungi pasien?” tanya Laura to the point. “Selama ini saya biasa sama Dokter Galileo.”

“Kebetulan satu minggu ini Dokter Galileo sedang ada keperluan di luar kota. Dan saya yang akan menggantikannya untuk sementara waktu. Maaf juga karena memajukan jadwal Anda. Perkenalkan, saya Abraham Wibisana.”

Laura mengangguk pelan. “Saya Laura, Dok.”

Proses pemeriksaan rutin selesai lima belas menit kemudian. Benar-benar rekor tercepat menurut Laura. Dokter Wibisana menentukan tanggal kontrol bulan berikutnya dan dengan cepat Laura catat dalam menu planner di ponselnya. Tak lama kemudian mobil Gavin sudah terparkir manis di depan klinik. Gavin tengah bersandar di depan kap mobil sambil berkutat dengan ponsel di tangan ketika Laura menyapanya. Senyumnya benar-benar sumringah.

“Kita jalan sekarang ya,” katanya dan dijawab anggukan oleh Laura.

Cafe bernuansa sangkar burung selalu menjadi tujuan mereka disaat menghabiskan akhir pekan. Disamping makanannya yang terkenal enak, tempatnya juga sangat nyaman. Banyak area-area spot untuk berswafoto baik bersama teman atau pasangan sembari menunggu pesanan yang dipesan datang. Ditambah lagi begitu banyak kenangan Laura yang terjadi di sini bersama Gavin. Laura menatap Gavin lekat-lekat sembari meremas lembut salah satu tangan Gavin yang bebas. Lagi-lagi Gavin mengumbar senyumnya.

“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Laura lembut namun tegas.

“Boleh dong, Sayang. Kamu mau tanya apa?” Gavin balas bertanya. “Kok tumben pakai izin segala.”

Laura menelan ludah. Tiba-tiba saja ia teringat obrolannya dengan Freya waktu lalu.

“Kita ini apa, Vin? Maksudku apa selamanya kita akan seperti ini terus? Aku perlu tahu akan dibawa ke mana hubungan kita ini nantinya.”

Mimik muka Gavin seketika berubah. Laura merasakan Gavin menarik tangannya paksa.

“Aku nggak tahu, La. Kita jalani saja apa adanya sama seperti sekarang.”

“Tapi hubungan kita sudah berlangsung selama dua tahun, Vin. Kita sudah harus memikirkan masa depan. Kita sudah bukan anak ABG lagi yang hanya ingin having fun saja. Kamu paham maksudku, kan?”

Tidak ada tanda-tanda Gavin akan menjawab pertanyaan Laura. Gavin hanya berdiam diri bersandar pada punggung sofa sembari menatap ke arah luar jendela. Sejujurnya Laura tahu akan jadi seperti ini. Bukan hanya satu kali ini saja Gavin mengalihkan pandangan saat Laura bertanya, tapi berulang kali. Dan topik ini seakan menjadi topik tabu di antara mereka.

“Gavin ....” panggil Laura.

Masih tidak ada jawaban atas panggilan Laura itu.

“Gavin ....” panggil Laura sekali lagi.

Gavin menoleh tanpa mengubah posisi duduknya. “Aku belum siap, La,” katanya kemudian. “Aku belum siap untuk menikah.”

Laura tertegun. Padahal Laura sudah tahu jawabannya, tapi masih saja ia ingin mencobanya lagi dan lagi.

“Nggak apa-apa. Tapi paling nggak kamu sudah punya planning tentang masa depan, kan?”

Gavin menggeleng. “Aku nggak tahu. Aku nggak pernah berpikir masa depan denganmu.”

Mendengar pernyataan Gavin membuat aliran darah Laura mendidih. Ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan amarahnya.

“Sialan!!” Laura mengumpat lantang. “Jadi selama ini kamu anggap aku apa, Vin? Hubungan kita selama ini apa nggak ada artinya sama sekali buatmu? Dua tahunku yang berharga habis dengan percuma bersama laki-laki yang nggak punya tujuan? Betapa bodohnya aku selama ini.”

“Nggak gitu maksudku, La,” sanggah Gavin tiba-tiba. “Menikah bukanlah suatu hal mudah yang bisa kita anggap remeh. Kita nggak bisa memaksa seseorang untuk menikah jika belum siap. Aku nggak mau jika nantinya aku menyesal karena terburu-buru menikah. Coba kamu berpikir diposisiku juga, La­­­­­­—”

“Kalau gitu lebih baik kita akhiri saja,” kata Laura menyela. “Percuma. Sudah nggak ada lagi yang bisa kita pertahankan. Kamu yang masih ingin bebas tanpa ikatan nggak akan mengerti posisiku yang butuh kejelasan.”

“La ....”

“It doesn’t work, Gavin. We’re done.”

Laura menggigit bibirnya. Ia kecewa. Keinginannya yang ia gantungkan setinggi langit kandas dalam hitungan detik. Hati Laura sakit sekali. Bahwa apa yang ia lakukan selama ini sia-sia saja. Semuanya sudah berantakan. Laura tidak menyangka sebuah kata pisah menjadi bom atom yang menghancurkan hidup dan masa depannya. Apalagi disaat Gavin mengiyakan ajakannya itu sungguh sudah tidak bisa terbendung lagi gejolak yang Laura rasakan. Bahwa selama ini perasaannya dipermainkan oleh laki-laki itu.

Tak ada sepatah kata pun yang terucapkan. Laura hanya mematung sesaat kemudian pergi meninggalkan laki-laki paling jahat yang ia kenal di muka bumi ini. Berulang-ulang kali Laura meremas dadanya. Rasa sesaknya masih terasa dan bercampur kesal menyatu dalam darah. Laura kesal. Benar-benar kesal. Laura pikir ia akan menangis sejadi-jadinya. Namun ternyata tidak. Laura memang menangis, tapi masih dalam batas kewajaran. Ia jauh lebih tegar dari yang ia bayangkan.

Laura mengambil ponsel miliknya dari dalam tas. Semua yang berhubungan dengan Gavin dengan segera terhapus dan terblokir tanpa meninggalkan jejak. Dimulai dari nomor telepon serta kenangan di setiap momen berdua yang sempat tersimpan di ponsel, Laura bersihkan sebersih mungkin. Semua sudah tidak diperlukan lagi.

I don’t need this anymore, batin Laura.

Laura melempar tas yang dibawanya ke sembarang tempat. Ia ingin istirahat sejenak setelah mengalami perjalanan yang cukup melelahkan bersama ojek online menuju rumah. Laura menyapa Mama saat tanpa sengaja berpapasan dengan Sang Mama di ruang tamu. Mereka terlibat obrolan sejenak.

“Kamu yakin?” kata Mama antara percaya dan tidak.

Laura tahu kalau ini terdengar konyol. Padahal baru tadi pagi ia menghalau jawaban yang mengundang opini Mamanya mengenai perjodohan. Tapi sekarang malah Laura sendiri yang memulainya. Sepertinya otak Laura memang perlu direparasi. Buktinya saja ia begitu nekat mengabulkan permintaan Mamanya itu dengan emosi yang tertinggal perkara Gavin.

“Kamu nggak berbohong sama Mama kan, Laura? Kamu beneran mau ya?”

See? Wajah Mama benar-benar terlihat senang. Mama benar-benar mengharapkannya.

“Laura hanya bersedia bertemu dengannya, Ma. Nggak lebih,” pungkas Laura menekankan.

Mama sama sekali tidak mendengarkan perkataan Laura lagi. Bagi Mama kata ‘bersedia’ dari mulutnya benar-benar mengandung arti sesungguhnya. Dan sekarang malah Laura berbalik menyesali tindakannya itu.

 

Related chapters

DMCA.com Protection Status