Share

4. Pertemuan (1)

Hidup memang tidak seindah novel harlequin yang biasa Laura baca. Romansa yang ada tidak semanis yang Laura jalani pula. Kandasnya hubungan Laura dan Gavin buktinya. Di saat sebuah keseriusan dipertanyakan malah kekecewaan yang ia dapatkan. Laura bukanlah perempuan yang terburu-buru dalam pernikahan. Bukan. Ia hanya ingin sebuah kejelasan dalam hubungannya. Laura hanya menuntut label sah atas siapa pemilik dirinya. Sayangnya Gavin tidak sependapat dengannya.

Berita itu akhirnya sampai juga ke telinga Freya, sahabat terdekat Laura. Senyuman Freya merekah saat itu. Sahabatnya itu benar-benar lega atas keputusan yang ia ambil. Sejak dulu Laura sebenarnya tahu jika Freya menentangnya berpacaran dengan Gavin. Freya lebih banyak menghindar. Freya lebih sering menjauhinya. Salah Laura juga kenapa menerimanya. Jelas-jelas Laura sadar akan ada perasaan seperti ini nantinya.

“Gimana respon Si Gavin?” tanya Freya setelah mencomot kentang goreng pesanannya. “Dia nggak ada pembelaan apa gitu?”

Laura menggeleng. “Dia setuju tanpa perlawanan. Nggak asik, kan? Itu yang membuatku kesal sampai sekarang. Selama ini dia sama sekali nggak ada pikiran buat ke sana. Sia-sia aku menunggunya selama ini.”

“Nggak dong. Kamu hanya berusaha sesuai dengan kemampuanmu. Kalau hasilnya memang seperti ini ya sudah. Kamu sudah mengambil keputusan yang bagus sebelum terlambat. Tapi gimana rasanya jadi perempuan yang minta dinikahi duluan?”

Kata-kata Freya terdengar mengejek sekali di telinga Laura. Apalagi senyumnya yang juga tertahan semakin menambah kekesalannya. “Aku nggak mikir sampai sana, Frey. Kemarin itu yang ada dipikiranku cuma kesal dan kesal. Kalau dipikir-pikir nekat juga ya aku.”

Freya tertawa. Kali ini tertawa lepas tanpa menahannya. “Nekat adalah salah satu kelebihan yang kamu punya, La. Terkadang kita perlu nekat untuk berubah.”

Laura mengangguk tanda setuju. “Kamu benar.”

Pembicaraan mengenai Gavin berakhir begitu saja. Dimulai dari topik obrolan ringan yang hampir tidak pernah mereka bahas terjadi. Termasuk siapa yang sedang dekat dengan Freya sekarang. Sahabat Laura itu memang agak tertutup dengan masalah pribadinya. Freya memang blak-blakan soal apapun, tapi masalah percintaan ia akan menutupnya serapat mungkin. Berbeda dengan Laura. Laura jauh lebih terbuka dengan masalah percintaannya, tapi sebaliknya akan menutup rapat mulutnya kalau sudah menyangkut kehidupannya. Untuk itulah keduanya ditakdirkan bertemu satu sama lain. Mereka bisa saling mengerti.

Selang beberapa lama seorang laki-laki muncul dihadapan mereka berdua. Laki-laki dengan potongan rambut short dan spiky menyapa meja mereka. Laura bergantian pandang dengan Freya yang sudah lebih dulu menarik laki-laki itu menjauh dari mejanya.

“Sebentar ya, La.”

Laura mengikut Freya dengan matanya. Freya terlibat obrolan cukup serius dengan laki-laki itu di kejauhan. Pertama kalinya Laura melihat sahabatnya itu bersama seorang laki-laki. Perempuan berparas cantik seperti Freya sungguh tidak mungkin jika ia masih sendiri sampai sekarang. Pasti akan ada satu atau dua laki-laki yang mencoba mendekatinya. Dan omongan Laura terbukti.

“La ....” panggil Freya.

Laura menoleh dan mendapati Freya sudah ada di depannya bersama laki-laki maskulin tadi. Freya mengambil tas tangan disamping kursi lalu melingkarkannya di salah satu bahunya.

“Maaf ya nggak bisa menemanimu lama-lama. Aku harus pergi sekarang.”

Laura mengangguk. “Tapi boleh dong aku dikenalin sama yang bening ini dulu.”

“Tentu boleh dong,” kata Freya penuh tawa. “Sayang, ini Laura. Laura ini Bryan.”

Sayang? Wow, batin Laura.

“Boyfriend?” tanya Laura saat menyambut uluran tangan Bryan. Bryan mengangguk penuh keyakinan lalu berkata. “Nice to meet you.”

Walaupun singkat, tapi Laura cukup senang hari ini. Tidak sia-sia ia mengajak Freya quality time bersama sambil belanja di Mall selepas kerja. Dengan begitu Laura bisa tahu siapa laki-laki yang tengah dipacari sahabatnya itu meski tidak sengaja.

Perjalanan pulang menuju ke rumah sedikit terlambat dari biasanya. Hujan lebat tiba-tiba menerjang ketika Laura keluar dari gedung Mall. Jalanan jelas macet. Bahkan taksi online juga sulit dijangkau karena antrian permintaan yang tinggi. Ditambah lagi baterai ponsel Laura menipis. Lengkap sudah.

Laura mengambil payung lipatnya dari dalam tas. Setelah terbuka dengan sempurna, Laura melarikan kakinya menjauhi gedung Mall. Seingat Laura ada minimarket tidak jauh dari sini. Dan tebakan Laura benar. Letak minimarket itu memang tidak jauh, tapi cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Laura terpaksa kemari mengingat di sini ia bisa mengisi daya ponselnya yang hampir mati.

Untung saja minimarket yang Laura datangi tidak terlalu sepi. Ada banyak pejalan kaki yang berteduh di sana. Laura mengambil posisi paling pojok dekat dengan mesin ATM berburu stop kontak listrik untuk segera mengisi daya ponselnya. Suara derasnya hujan membawa Laura pada lamunan. Perjodohan.

Apa iya aku harus menerima perjodohan itu? Batin Laura.

Laura tidak membenci namanya perjodohan. Ia hanya tidak ingin dipaksa saja. Buktinya saja ia selalu menurut jika Mama mengenalkannya pada laki-laki mana pun. Tapi tidak untuk kali ini. Kali ini Mama benar-benar akan menjodohkannya suka ataupun tidak.

Tepukan lembut dipundak membuyarkan lamunan Laura. Seorang laki-laki yang baru saja ia temui beberapa hari yang lalu menyapanya dengan senyuman.

“Dokter Wibi? Sedang berteduh juga?” tanya Laura seketika.

“Oh, kalau saya....” Abraham menunjukkan kantong plastik ditangannya. “Membeli pesanan orang rumah. Sedang apa kamu di sini malam-malam? Berteduh?”

Laura mengangguk. “Sekalian mengisi daya ponsel. Mau pesan taksi online ponsel tiba-tiba mati, Dok.”

“Kamu tinggal di mana? Saya di daerah Darmo. Mari saya antar pulang daripada di sini.”

“Nggak apa-apa nih, Dok. Rumah saya jauh loh.”

Abraham tertawa. “Saya kan mengantar naik mobil bukan jalan kaki. Jadi tidak masalah buat saya.”

***

Cara Laura pulang ke rumah benar-benar tidak disangka-sangka. Bisa diantar dokter tampan tentu tidak ada dalam kamus besarnya. Laura melirik sesekali pada laki-laki tampan di balik kemudi. Sungguh indah sekali ciptaan-Nya, begitu pikir Laura.

“Boleh saya bertanya agak sedikit pribadi?” tanya Abraham membuka obrolan. “Maaf bukan maksud saya ingin mengorek kehidupan pribadimu. Saya hanya ingin mendengar pandangan dari orang luar.”

Laura terdiam sesaat. “Bagaimana? Nggak keberatan?” ulang Abraham lagi.

“Kalau dengan mengobrol dengan saya bisa membantu Dokter, maka saya ikut senang.”

“Menurutmu pernikahan dikatakan ideal itu pernikahan yang seperti apa?” tanyanya tanpa mengalihkan fokusnya pada kemudi. “Apakah harus dengan orang yang saling mencintai?”

Laura menyandarkan punggungnya. Tatapannya ikut teralihkan pada guyuran hujan yang membasahi jalanan di balik kaca mobil.

“Menurut saya nggak harus, Dok,” kata Laura setelah beberapa saat berpikir.

“Alasannya?” Abraham balas bertanya. “Jawabanmu cukup menarik perhatian saya.”

Laura tersenyum banyak arti. “Cinta saja nggak cukup memuaskan segalanya, Dok. Karena bagi saya cinta itu hanya sebagai pelengkap.”

Abraham tertegun. “Pelengkap? Layaknya cakue di atas bubur ayam, gitu?”

Laura tertawa mendengarnya. “Perumpamaan yang bagus sekali, Dok.”

“Jadi menurutmu apa yang membuatnya menjadi ideal?”

Laura kembali tertawa. “Dokter sedang melakukan survey pranikah dengan saya ya?”

Abraham tampak salah tingkah ditanya seperti itu. “M-Maaf kalau saya terlalu ingin tahu.”

Laura menggeleng lalu beradu pandang dengan laki-laki disebelahnya. “Menikahlah dengan perempuan yang satu frekuensi, Dok. Karena itu adalah modal membina rumah tangga.”

“Meskipun tanpa cinta?” lanjut Abraham.

“Cinta akan hadir karena sebuah kenyamanan. Lagipula yang dibutuhkan dalam pernikahan adalah sebuah kesetiaan. Kalau Dokter bisa menjaganya, maka cinta pun juga akan terjaga.”

Obrolan berakhir ketika tanpa terasa mobil Abraham berhenti di depan rumah Laura. Laura mengucapkan terima kasih kemudian masuk ke rumah setelah mobil Abraham hilang dalam radius pandangnya. Laura tidak tahu kenapa ia bisa bicara blak-blakan seperti itu. Padahal tidak dijawab serius pun seharusnya bisa Laura lakukan. Tapi entah kenapa topiknya pas sekali dengan apa yang menimpa Laura sekarang.

“Pulangnya malam sekali,” sapa Mama yang tiba-tiba muncul dari arah dapur. “Kamu sudah makan malam?”

Laura mengangguk sembari menenggak segelas air putih dingin yang diambilnya dari kulkas.

“Mama sudah menghubungi pihak sana. Mereka setuju kalau pertemuannya akan dilakukan di rumah kita hari Sabtu mendatang.”

Air putih yang tengah Laura minum menyembur keluar karena kaget. “Apa, Ma? Sabtu ini? Kok Mama nggak diskusi dulu sama Laura? Kalau di hari itu Laura ada acara bagaimana? Kenapa sih Mama selalu maunya serba terburu-buru.”

“Terlalu lama kalau Mama harus tanya kamu dulu. Kamu selalu banyak alasan. Lebih cepat lebih baik, La. Pokoknya Mama sudah sampaikan sama kamu ya. Pastikan saja hari itu kamu nggak ke mana-mana.”

“Tapi, Ma?”

“Nggak ada tapi-tapian, La. Semua sudah diputuskan.”

Laura hanya tertegun menatap Sang Mama. Lagi-lagi Laura tidak memiliki kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status