Share

6. Ketemu Dia Lagi

Rutinitas Laura kembali seperti sedia kala. Tidak ada obrolan lanjutan mengenai pembahasan perjodohan di rumah. Bahkan Mama dan Papa juga tidak memaksakan kehendak mereka lagi pada anak semata wayangnya. Sepertinya tindakan Laura hari itu telah membuka mata kedua orangtuanya. Laura teringat apa yang Mama dan Papa katakan.

“Mama sayang sama kamu, La. Mama hanya ingin yang terbaik untukmu. Mama nggak mau kamu salah langkah. Tapi nyatanya Mama yang selama ini telah salah langkah.”

“Papa juga, Nak. Papa juga salah karena nggak bisa menghentikan Mamamu. Maafin Papa ya, La.”

Timbul perasaan bersalah pada diri Laura. Ia tidak bisa melihat kedua orangtuanya seperti ini. Sejak dulu Laura selalu menjadi anak yang penurut. Laura akan senantiasa menurut apa yang orangtuanya suruh. Apapun itu. Terlepas suka atau tidak dirinya. Semuanya akan selalu Laura lakukan dengan suka cita. Tapi tidak untuk yang satu ini. Pertama kalinya Laura mati-matian mempertahankan egonya. Walaupun Laura tahu itu menyakiti hatinya sendiri.

“Mama dan Papa nggak salah. Kita yang kurang saling mengerti. Laura juga mau menikah, Ma, tapi Laura mohon jangan lagi memaksa Laura menikah dengan orang yang nggak Laura kenal. Nggak salah kalau Mama dan Papa mau menjodohkan Laura, tapi tolong kasih Laura jeda.”

“Nggak, La. Papa dan Mama sepakat nggak akan memaksamu lagi. Karena kebahagiaanmu itu jauh lebih penting dari segalanya.”

Pembahasan mengenai perjodohan berakhir dalam damai. Intinya baik Laura maupun kedua orangtuanya sama-sama kurang berinteraksi satu sama lain. Kesibukannya di kantor memang membuat benteng tak kasat mata di antara mereka. Laura yang terlalu sibuk membuat Mama beranggapan kalau anaknya terlalu acuh dengan masalah mencari pendamping hidup. Mama tidak tahu kalau sebenarnya Laura juga pusing memikirkannya.

Laura mematikan notebook dan bersiap-siap meninggalkan meja kerjanya. Ia meregangkan punggungnya sejenak. Tugasnya sebagai sekretaris perusahaan akhir-akhir ini menyita banyak waktu pribadinya. Laura bahkan tidak sempat pulang ke rumah untuk beberapa saat dan lebih memilih menumpang di apartemen Freya karena seringnya pulang malam. Untungnya Freya tidak keberatan sama sekali.

Clara muncul dengan tergesa-gesa ketika pintu lift hampir tertutup. Napasnya ngos-ngosan, tapi kemudian dia malah tertawa.

“Untung masih sempat,” celotehnya. Clara menatap ke arah Laura yang masih kaget dengan aksinya barusan. “Kaget, La?”

“Gila kamu ya, Cla! Gitu kalau kamu kejepit gimana?” sahut Laura. “Iya sih itu nggak mungkin, tapi tetap saja bahaya.”

Clara tertawa sembari mengibaskan tangannya. “Itulah teknologi, La. Jam segini kamu mau langsung pulang? Having fun dulu yuk. Aku yang traktir.”

Having fun yang Clara maksud tentu saja adalah clubbing seperti waktu itu. Dan benar tinggal tunggu waktu saja kapan ia akan mabok kalau terus bergaul dengan Clara.

“Aku skip dulu deh. Ada yang mau kukerjakan dulu sambil menumpang wifi di seberang.”

Clara mengangguk pelan. Kemudian mereka berdua pun berpisah saat pintu lift terbuka. Laura mempercepat langkahnya menuju coffee shop yang terletak di seberang gedung kantornya. Semerbak wangi kopi menusuk hidung Laura ketika ia membuka pintu. Laura bukan pecinta kopi, tapi ia paling suka menghabiskan waktu di sini. Kenapa? Karena chocolate frappe di sini benar-benar membuat Laura kecanduan.

Laura mengambil posisi duduk paling ujung sembari membawa chocolate frappe disebelah tangannya. Notebook kembali Laura nyalakan dan mulailah pekerjaan yang sempat ia tunda. Detik demi detik, menit demi menit, hingga jam demi jam. Tiga jam tidak terasa telah berlalu. Laura meraih ponsel yang ia abaikan di meja sembari meluruskan punggungnya sejenak. Ada beberapa notifikasi yang ia dapatkan saat mengecek akun instagram. Seseorang yang tidak ia kenal mengiriminya DM. Seseorang yang tiba-tiba saja sudah duduk di depannya.

“Masih ingat denganku? Aku Danesh. Kita pernah ketemu baru-baru ini.” Senyuman laki-laki itu membuat Laura tertegun. Siapa sih yang tidak kaget di dekati laki-laki tampan selarut ini?

“Ingat Abe? Atau Abraham? Aku adiknya.”

Oh adiknya dia toh, batin Laura.

Laura akhirnya mengangguk. “Sori ya aku memang payah mengingat wajah orang apalagi kita baru ketemu sekali. Mas Danesh apa kabar?”

“Aku baik. Sori juga ya mengganggu waktunya. Jam segini masih sibuk sama pekerjaan? Kerja keras sekali kamu ya.”

“Sudah tuntutan, Mas. Kebetulan saja jadwalnya memang lagi padat. Suka minum kopi di sini juga ternyata.”

“Ya, lumayan suka juga,” sambut Danesha masih dengan senyumnya. “Boleh nggak kita bicara sesuatu yang lebih private?”

Laura menatap Danesha datar. Sepertinya ia bisa menduga apa yang akan Danesha tanyakan padanya nanti. “Aku selesaikan ini dulu ya, Mas. Keberatan nggak kalau menunggu tiga puluh menit? Soalnya ini pekerjaan penting.”

“No problem, La. Aku akan duduk diam di sini selagi menunggu. Anggap saja aku nggak ada.”

***

Kerutan didahi Laura semakin dalam. Ia masih mencoba memahami maksud dari perkataan Danesha. Kecurigaan Laura ternyata membuahkan hasil. Semua pernyataan Danesha seolah menyangkut-pautkan dengan keputusannya menolak perjodohan tempo hari. Padahal semua itu murni atas kesepakatan bersama antara ia dan Abraham. Tapi kenapa sikap laki-laki ini seolah semua adalah kesalahannya? Seolah Laura tidak punya andil menentukan apa yang ia mau.

“Itu sudah kesepakatan kita berdua, Mas. Kok malah Mas yang kebingungan? Coba deh kalau posisinya dibalik. Mas mau dijodohkan? Lagipula tindakan Mas sekarang ini sama saja dengan menjatuhkan harga diri kakak Mas itu loh.”

“Makanya kita buat kesepakatan, La. Jangan sampai Mas Abe tahu.”

“Kesepakatan seperti apa?!?” Nada bicara Laura tanpa sadar meninggi. “Kalau memang ada kesepakatan, maka itu murni terjadi antara Mas Abe denganku. Bukan dengan Mas Danesh.”

“Kesalahan Mas Abe hanya karena dia nggak bersikap jujur, La. Masa hanya karena itu kalian membatalkan perjodohan? Kekanakan sekali.”

“Kekanakan?!?” Laura kembali meninggikan nada bicaranya. Membuat beberapa pengunjung mulai mengalihkan pandangan ke arah mereka. “Hubungan itu dibangun atas dasar kejujuran, Mas. Apalagi membangun rumah tangga.”

“Aku tahu, La. Tapi—”

“Stop!!” potong Laura tiba-tiba. “Obrolan ini nggak akan pernah ada habisnya, Mas. Masalah perjodohan ini sudah selesai. Dan keputusanku tetap sama.”

Laura tidak lagi menghiraukan Danesha yang masih mematung di tempatnya. Laura capek. Ia ingin segera pulang dan istirahat. Kehadiran Danesha yang entah disengaja atau tidak benar-benar telah mengganggunya. Laura menoleh sekilas. Laki-laki itu masih di tempat yang sama. Danesha belum beranjak satu senti pun dari tempatnya. Menit kemudian Danesha berpaling, tapi Laura memalingkan wajah. Laki-laki itu aneh. Padahal itu bukanlah porsinya. Dan ... ah, Laura menepis pikirannya cepat-cepat.

Malam pun semakin larut. Dan pengunjung cafe berangsur-angsur mulai sepi. Taksi online yang Laura pesan terparkir di depan cafe tidak lama kemudian. Laura membuka pintu mobil setelah menyapa sopir taksi online itu ramah.

“Laura ....”

Seseorang memanggil Laura dan tiba-tiba saja menariknya paksa agar turun dari dalam mobil. Tidak hanya Laura yang terkejut. Sopir taksi online itu juga sama terkejutnya. Laura menoleh. Gavin berdiri tepat dibelakangnya dengan napas terengah-engah.

“Kita perlu bicara,” katanya lagi.

Laura menggeleng. Tapi semakin Laura menolak, maka semakin kuat pula Gavin menariknya agar turun dari mobil.

“Pak, maaf. Saya cancel ya. Ini kompensasi dari saya,” kata Laura kemudian memberikan uang lembaran lima puluh ribu pada sopir taksi online itu. Gavin membawa Laura ke parkiran mobil di mana mobilnya ia parkirkan. “Di sini saja, Vin. Tolong bicara cepat,” kata Laura kesal. Kesal karena perbuatan Gavin. Kesal karena harus dua kali bertemu dengan laki-laki aneh. 

“Kita pindah tempat ya, La. Nggak enak bicara di sini.”

“Di sini atau aku pulang? Mau bicara sekarang atau nggak sama sekali. Tinggal pilih.”

“La ....”

Laura menepis tangan Gavin yang mencoba menyentuh pundaknya. “Then, I’m leaving.”

“Ok, di sini. Aku akan bicara di sini,” cegah Gavin saat melihat Laura beranjak dari tempatnya.

Laura melihat Gavin menyandarkan diri di depan kap mobil. Laki-laki itu melipat kedua lengan didada. Tatapan matanya seolah menembus ke dasar hati Laura. Seakan Laura adalah mangsa yang sudah diincarnya sejak lama. Laura bergidik. Sejujurnya ditatap dengan tatapan seperti itu malah membuat dirinya semakin tidak nyaman. Malam-malam di parkiran. Di tempat sepi pula.

“Aku mau kita kembali kayak dulu.” Gavin mendekat ke arah Laura kemudian memberanikan diri memeluknya. Aroma citrus menusuk hidung Laura dan memaksanya memanggil semua memori lama ketika ia masih berstatus kekasih laki-laki itu. “Aku ingin kita memulai semuanya lagi dari awal, La. Aku ingin kita sama-sama lagi,” lanjut Gavin lagi.

Laura mendorong pelan tubuh Gavin sembari menggeleng. “Telat, Vin. Aku sudah nggak ada rasa apa-apa lagi sama kamu. Aku sudah terlanjur kecewa.”

“Tapi aku masih sayang sama kamu, La.”

“Kalau kamu sayang sama aku, kamu nggak akan pernah mengambil keputusan seperti waktu itu. Kamu akan lebih memikirkan aku. Tapi apa? Apa, Vin? Kamu hanya peduli dengan dirimu sendiri. Hanya ada kamu dan nggak pernah ada aku.”

“Laura, kamu nggak mengerti.”

“Kamu yang nggak mau mengerti!!” Gema suara Laura membuat Gavin terpana. Ini pertama kalinya ia mendengar Laura meninggikan suaranya.

Selama berpacaran dengannya, Laura tak pernah sekalipun berkata kasar. Selalu bertutur kata santun malah. Membuat kedua orangtua Gavin amat sangat menyayanginya. Namun lihatlah sekarang. Lauranya telah hilang. Dan itu adalah kesalahannya. Gavin meremas pundak Laura perlahan, tapi lagi-lagi Laura menghindar. Ia benar-benar telah ditolak oleh perempuan yang masih dicintainya.

“Aku mau pulang,” kata Laura.

“Aku antar ya. Plis kali ini saja jangan menolakku lagi, La.”

“Nggak ....” sahut Laura singkat.

“La ....” Gavin menarik salah satu lengannya yang membuat tubuh Laura mundur ke belakang.

“Jangan nekat. Aku bisa teriak kalau aku mau.”

“Ada apa ini?” Laura dan Gavin menoleh bersamaan.

Sosok laki-laki menegur mereka berdua dengan suara beratnya. Laki-laki itu berdiri tepat di bawah bayangan lampu yang membuatnya terlihat misterius. Laura menarik lengannya paksa dari genggaman tangan Gavin ketika sosok laki-laki misterius itu mendekat ke arahnya. Laura terpana. Demikian juga laki-laki itu. Abraham menjulang di sana. “Mas Abe mau pulang juga? Aku ikut dong.”

Abraham bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Belum sempat ia memahami apa yang terjadi di depannya, tapi Laura sudah lebih dulu menyapanya. Terlebih dengan kata-kata yang sengaja dibuat-buat pula.

“Boleh deh, kalau kamu mau ikut. Temanmu ditinggal nggak apa-apa nih?” balas Abraham.

“Nggak apa-apa kok, Mas. Kita sudah selesai bicara.”

Laura melenggang mendekati Abraham tanpa mempedulikan Gavin yang masih terpaku. Ia mengikuti ke mana Abraham menuntunnya menuju mobil yang bahkan baru sepuluh menit yang lalu ia parkirkan. Laura melirik Abraham dari sudut matanya. Begitu pun juga laki-laki itu. Tak perlu waktu lama Abraham telah melarikan mobilnya menuju rumah Laura.

***

“Kenapa Dokter bisa ada di sana? Dokter menguntitku lagi?”

Abraham tertegun. Ya, ia kehabisan kata-kata lebih tepatnya. “Tolong kalau ngomong yang jelas. Untungnya apa buatku menguntitmu?”

“Mana aku tahu. Itu kan hobi Dokter. Bisa-bisanya muncul di sana dan membuatku terpaksa harus bermain peran.”

Apa? What did she say? Batin Abraham.

Tanpa kata-kata Laura keluar begitu saja dari mobil Abraham. Sungguh perbuatan yang tidak bisa ditolerir olehnya.

“Tunggu!!” cegah Abraham kemudian ikut turun dari mobil. “Tidak ada ucapan terima kasih setelah memaksaku mengikuti skenario ini?”

Sebelah alis Laura terangkat. “Untuk apa?”

“Untuk apa katamu?!” Abraham meninggikan nada bicaranya. Pertama kalinya dalam sejarah, Abraham dibuat malu oleh seorang perempuan yang bahkan baru dikenalnya bulan lalu. Dan perempuan itu adalah calon pilihan ibundanya. Untung saja perjodohan itu tidak benar-benar terjadi. Punya istri dengan tabiat seperti ini? Mana mau Abraham. Apa kata dunia?

“Dasar perempuan alien!” kata Abraham lalu melarikan mobilnya tanpa mempedulikan Laura yang menahan kesal dengan tangan mengepal.

Dasar kampret, umpat Laura.

Related chapters

DMCA.com Protection Status