Bab 2 Wanita yang Selalu Sial dengan Pria

“Selamat pagi!” sapa seorang wanita berambut pendek pada Risa yang baru saja duduk di kursi kerjanya

“Pagi!” balasnya dengan senyum cerah, tapi begitu wanita tadi berlalu, wajahnya seketika ditekuk suram.

Suasana kantor pagi itu masih terbilang sepi, perempuan ini memang terbilang paling rajin jika soal mengejar masa depannya.

Sejak kecil, Risa selalu berusaha yang terbaik, termasuk juga masalah percintaannya. Namun, Tuhan sepertinya berkehendak lain.

Mau sekeras apapun ia berusaha sama seperti ia belajar mati-matian dan mengejar karirnya, tetap saja kisah cintanya selalu gagal. Dan kini, ayahnya datang dengan proposal perjodohan demi menolong perusahaan mereka yang hampir bangkrut.

Sebenarnya, Risa enggan melakukan perjodohan itu, tapi jika ia tak melakukannya maka seluruh karyawan perusahaan keluarga mereka pasti akan terancam diberhentikan tanpa pesangon. Jika sampai kejadian, bisa-bisa akan terjadi kerusuhan dan mungkin rumah dan anggota keluarga mereka akan jadi sasaran kemarahan tiada habisnya.

Membayangkan hal itu saja sudah membuat Risa berkecil hati dan hilang semangat. Nasib banyak orang ada di tangannya, termasuk keluarganya sendiri.

Ia menelungkupkan badannya di atas meja kerja, menatap malas buku-buku kecil yang berisi perencanaan kerjanya yang sangat rapi dan terarah untuk bulan ini.

Andai saja kisah percintaannya bisa semudah itu dikendalikan....

Tanpa sadar, Risa tertidur di mejanya.

Selama hampir satu jam, Risa tenggelam ke alam mimpi. Kemudian, seseorang membangunkannya ketika ruangan kantor mereka mulai ramai.

“Ris? Risa? Bangun, dong!” tegur suara seorang wanita.

Risa membuka mata dengan sorot mata tidak fokus. Air liurnya menetes di salah satu sudut bibirnya dan membasahi meja.

“Bangun! Nanti bos melihatmu tertidur, kan, gawat!”

Suara cemas itu membuat mata Risa terbelalak hebat.

Buru-buru ia pun menegakkan badan dan menghapus air liur di sudut bibirnya.

“Oh! Terima kasih, Vera!” ucapnya pelan, dengan perasaan kacau karena dipaksa bangun.

Vera, teman kerjanya adalah seorang wanita dengan tubuh semampai dan rambut sebatas bahu yang diikat satu. Ia mengenakan sifon hitam sebatas siku dan rok merah cerah.

“Apa kau sudah menyelesaikan materi presentasi kita hari ini?”

“Uhm! Sudah,” jawabnya cepat, dan segera mengaduk-ngaduk isi tasnya. Ia mengambil sebuah Flashdisk merah dan menyerahkannya pada perempuan bernama Vera.

“Astaga! Kau yang terbaik, Risa!” pujinya dengan wajah berseri-seri, meraih flashdisk itu dan mencubit-cubit gemas kedua pipi lawan bicaranya.

Risa hanya tersenyum cengengesan diperlakukan gemas seperti itu.

“Ok! Kalau begitu aku akan segera menyiapkan materi rapat kita sore ini!”

Vera melambaikan tangan dan bergegas menuju meja kerjanya, satu baris dengannya tentu saja, cuma berjarak agak sedikit jauh 3 orang darinya.

Risa bertopang dagu geli menatap semangat teman kantor sekaligus merupakan teman kuliahnya dulu.

Keluarga Abdullah memang memiliki sebuah perusahaan, tapi itu adalah perusahaan yang tidak sesuai dengan apa yang ingin Risa tekuni.

Ayahnya, Abdullah Sucipto, mendirikan sebuah perusahaan makanan dan minuman yang terbilang cukup sukses. Bisa dibilang, Keluarga Abdullah adalah keluarga yang cukup kaya dan terkenal di kalangan para pebisnis ulung. Tidak ada satu pun teman kantornya yang tahu ini, kecuali wanita tadi. Bisa heboh kantornya kalau sampai tahu ada anak orang kaya bekerja di perusahaan mereka. Dan Risa tidak suka disorot oleh banyak mata.

Ayahnya ingin sekali agar dirinya menjadi tumpuan untuk melanjutkan bisnisnya, karena Raza, putra satu-satunya keluarga mereka ingin sekali menjadi dokter dengan kecerdasan dan bakat yang dimilikinya.

Walaupun ditentang oleh keluarga dan tak mendapat dukungan apa pun, tapi dengan kemampuan otaknya yang luar biasa, maka ia pun mendapat beasiswa penuh dan menunjukkan kemampuannya sebagai calon dokter yang sangat menjanjikan.

Ketika Raza lulus dengan nilai yang memuaskan dengan gelar terhormat, serta banyak yang menawarinya pekerjaan di berbagai rumah sakit sebelum lulus, kedua orang tuanya pun tidak bisa melakukan apa-apa lagi.

Oleh karena itu, ayahnya menyerah dan berharap anak perempuan satu-satunya itu menjadi penerus bisnisnya. Sayang, ternyata Risa lebih keras kepala hingga ia memilih sebuah perusahaan iklan yang kini menjadi tempatnya mengejar karir impiannya.

Hari itu, selama kerja, Risa hanya bisa melamun seperti orang yang kehilangan kemampuan berpikirnya, bahkan saat rapat presentasi pun, beberapa kali bosnya menegurnya sampai semua mata para tim di rapat itu menatapnya dengan tatapan penuh selidik, sangat tidak biasa.

Wanita berambut hitam ini bengong hampir seperti orang yang berada di rumah sakit jiwa, alih-alih berada di kantor kesayangannya.

Untung saja dia bisa berkilah dengan alasan kurang tidur akibat menyiapkan materi selama seminggu ini. Sebuah alasan yang bisa cepat diterima mengingat proyek kali ini memang cukup berat dari perusahaan kelas atas.

“Kau ini kenapa, sih? Tidak biasanya bersikap tidak profesional seperti ini,” keluh Vera ketika mereka berdua kini sudah berada di dapur kantor, sibuk di depan mesin pembuat kopi. “Untung kita semua maklum.”

Risa menghela napas lelah, wajah muram, terduduk di sebuah meja dengan kedua bahu melorot. Membalas hal yang tidak ada kaitannya dengan topik itu.

“Kau bilang akan menikah akhir tahun ini, kan?”

Vera mengangguk cepat dengan wajah berseri-seri, lalu memberikan segelas kopi untuknya.

“Kenapa? Apa pacarmu sudah mau melamarmu? Kali ini sudah tidak gagal lagi, kan? Aku tidak tahu kau pacaran lagi. Siapa dia kali ini?”

Risa muram menatapnya, mata mendatar kesal.

“Apaan? Sepertinya aku kena kutuk, deh. Kenapa setiap pacaran semuanya gagal mulu! Kau tahu, kan, sudah berapa kali aku patah hati gara-gara pria-pria tidak berakhlak itu? Aku sudah jomblo sejak awal tahun. Sudah muak menjalin hubungan yang tidak ada harapan sama sekali.”

Dengan ganas, Risa meniup kopi panas di gelas plastik putihnya, wajah terlihat menggemaskan meski mendung memikirkan kisah cintanya yang lebih parah daripada tragedi kapal yang tenggelam.

Sebelah kening Vera terangkat penasaran.

“Lalu? Untuk apa tanya-tanya soal pernikahan?”

Keringat gelisah menuruni wajah Risa, mulut ditutup rapat-rapat, kalau sampai wanita di depannya ini tahu dia sudah putus asa mencari cinta sejati, maka pasti kena omelan luar biasa dengan keputusannya menikah bak beli kucing dalam karung.

“Kenapa matamu menghindar begitu?” sindir Vera tajam, mulai mengendus sesuatu yang tidak bagus, alarm sensitifnya mulai beraksi.

“Tidak. Tidak apa-apa, kok. Aku hanya penasaran sedikit dengan pernikahan kalian nanti. Bukankah kalian baru kenalan 1 bulan, kan?”

Vera tertawa bangga, begitu cerah.

“Lama atau tidaknya kenal itu, kalau sudah cinta, ya, langsung nikah, dong! Buat apa pacaran lagi, kan? Lagian, aku tidak mau bernasib sama sepertimu, wahai temanku! Umur kita sekarang hampir 30, sudah siap untuk punya anak!” dengan satu tangan menepuk pundak Risa, mata Vera tersenyum senang.

Risa sedikit panas dibuatnya, tapi hanya bisa mengalah.

Benar.

Dia punya prinsip ingin mengenal para calon suaminya dulu alias para mantan pacarnya. Tapi, semuanya belum genap setengah tahun, sudah kandas di tengah jalan. Berbagai kejadian dan alasan mewarnai tragedi cintanya, mulai alasan klise seperti orang ketiga, selingkuh, sampai dijadikan tameng sebagai penutup kelainan s*ksual seseorang.

“Terus, kenapa kau selama ini mengomporiku soal pacaran?”

“Risa, Risa. Kau tidak mengerti. Aku dan Hadi itu sudah merasakan getar-getar cinta sejati sejak pertama bertemu, jadi buat apa pacaran jadi prinsip kami? Kau, kan, beda.”

Tiba-tiba Vera terdiam dengan muka pucat, sepertinya sadar sudah mengatakan hal yang tidak boleh dikatakan.

Wajah lawan bicaranya jadi menggelap mengerikan, mata menyipit seperti kucing ganas.

“Maksudmu aku beda karena suka bertemu pria-pria aneh?”

Keringat dingin menuruni pelipis Vera, berdeham canggung, “bu-bukan begitu.”

“Sudahlah, aku juga mengakui hal itu,” jelas Risa dengan helaan napas berat, lalu meminum kopinya meski masih panas menyengat bibir.

“Risa! Itu masih panas! Kau gila?!”

“Ini bukan apa-apa!” ujar Risa dengan mata dipejamkan menahan rasa terbakar di dalam mulutnya, karena di hatinya lebih panas dari ini!

Sebentar lagi hidupnya untuk selamanya akan berada di tangan pria asing yang tak dikenalnya sama sekali!

Kertas plastik kosong itu diremas kuat, wajah merajuk sedihnya mengeras menahan rasa kesal dan frustasi. Mulut dimajukan.

“Risa? Kau sungguh baik-baik saja?”

Vera menatapnya penuh prihatin.

Dengan isakan kecil, Risa pun menjawab dengan nada sedih, memelas tak berdaya menatap meja di depannya, “sebenarnya, aku dijodohkan oleh ayahku.”

Vera mematung hebat.

“APAAAAA?!” serunya dengan kedua bola mata membesar kaget, spontan berdiri dari kursinya dengan kabar sangat mengejutkan itu.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status